
“Oh uhm, lalu kau ingin melihat reaksiku yang seperti apa? Bell?” balas Petra menahan telinganya yang masih saja terasa berdenyut. Ya ampun, bagaimana tidak? Sekarang saja daun telinga Petra semerah tomat.
“Apa pun itu bukan urusanku, karena apa yang ku inginkan sudah ditanganku” kekeh Bell mengacungkan kliping Petra ke atas.
“Ngomong-ngomong tadi kau bilang teringat pada Adikmu, siapa tadi?“ tambah Bell bertanya penasaran.
“Letysa?” Petra mengulang.
“Ya, Letysa. Memang kau sudah lama tidak bersama adikmu? Memang dia kemana?”
“Dia...,disurga” kini tatapan Petra sendu.
“Maaf. Kenapa dia meninggal? Kalau kau tidak keberatan menjawabnya” Bell menatap Petra dengan tatapan aku turut berduka cita.
“Dia tidak sakit, tidak kecelakaan. Tiba-tiba saja dia harus pergi. Sudah takdirnya” jawab Petra dengan tatapan aku baik-baik saja.
“Bukankah urusan kalian sudah selesai sampai disini? Bisa kau pulang? Aku pasiennya sekarang” tanya Noah mengetuk-ngetuk meja tak sabar.
“Kenapa kau sangat ingin mengusirku dari rumah, yang bahkan bukan rumahmu sendiri” kekeh Petra bersiul riang.
“Kenapa kalian berdua tidak keluar bersama saja setelah menghabiskan minuman, dan camilan di depan kalian?“
ketegasan Bell membuat dua pemuda tersebut terdiam tanpa kata.
“Kau mengusir seorang Noah?” tatapan tak percaya Noah langsung terlayangkan ke wajah Bell.
“Jadi kemana perginya kepercayaan diri seorang Noah?” kekeh Petra mengejek.
“Silakan bertengkar diluar rumahku oke, keluar sekarang” Bell mulai jengah memperhatikan permusuhan antar Noah dan Petra.
“Tapi menurutmu aku sedang sakit” protes Noah berbisik pada Bell.
“Kalau begitu kau harus lebih banyak beristirahat, bukan main ke rumahku” bisik Bell balik.
“Kalian sedang merencanakan sesuatu?” Petra tak ingin berlama-lama diacuhkan begitu saja.
“Begini saja. Kau ingin Petra keluar dari rumahku?” tanya Bell merasa akan ada keributan jika tidak ia hentikan dari sekarang.
“Ya, tentu saja” jawab Noah terkekeh penuh kemenangan.
“Kalau begitu kau juga harus keluar”
“Apa?!”
“Dalam sebuah persahabatan, kita tidak boleh pilih kasih. Dan aku Bell, sedang mempraktikkannya” jawab si Gadis cantik, tersenyum kikuk.
“Kembalikan kliping itu besok saat istirahat sekolah. Aku pulang dulu” Petra tidak berusaha membantah Bell. Ia malah berjalan mendekati Noah yang bersandar di dinding, dekat arah pintu ruang tamu berada.
“Baru saja aku mendengar kau begitu yakin Bell condong hanya padamu. Wow, aku turut berduka cita, ternyata posisi kita seimbang” bisik Petra ditelinga Noah.
“Coba bersihkan telingamu supaya bisa mendengar dengan jelas. Kalian..., teman. Ya, hanya teman?“ Petra terkekeh santai sambil berlalu. Melihat Petra melenggang keluar, Noah pun ikut keluar.
“Noah”
“Bell, kau tidak lihat aku akan berjalan keluar sekarang? Apa kau tak sesabar itu untuk mengusirku dari rumahmu?” protes Noah setelah Bell memanggil. Ia menoleh ke belakang dengan raut wajah malas.
“Mom menyiapkan keripik kentang untukmu. Kalau kau ingin membawa pulang, akan kusiapkan” balas Bell santai.
__ADS_1
“Bisa aku makan saja disini? Mom akan menghabiskan keripik kentangnya sebelum sempat aku makan” Noah memelas.
“Duduk, akan ku ambilkan dulu” Bell menghela nafas tanda menyerah. Wajah Noah langsung cerah ia berjalan cepat menuju sofa ruang tamu Bell. Gadis tersebut menggelengkan kepala heran melihat tingkah Noah. Tapi ia tak mau ambil pusing segera saja ia menuju dapur.
Noah melirik ke arah Bell menghilang. Ia sangat penasaran dengan isi kliping milik Petra.
“Tentang reinkarnasi sungguhan? Ya ampun, ku kira mereka hanya mencoba menutupi hal lain” gumam Noah setelah membuka lembar demi lembar kliping yang tadinya diletakkan Bell begitu saja di atas meja.
“Aaaw” pekik kesakitan Noah membuat kliping itu jatuh dari genggaman tangannya.
Bayangan orang-orang tak dikenal bermunculan dalam otaknya. Orang-orang berkekuatan besar, sulit bagi Noah mengakui bahwa yang dirinya lihat bukanlah manusia.
“Mana ada manusia seperti mereka. Lalu mereka itu apa?” gumam Noah memijat keningnya. Tidak hanya kepala yang ia rasakan sakit. Dari pusar, sampai ujung lidahnya, terasa sangat dingin.
“Eros...,” suara asing sedang memanggil Pria bernama Eros.
Tapi entah kenapa Noah merasa dirinya terpanggil?
Noah menoleh pada suara asing tersebut. Wajahnya, senyumannya terasa tidak asing bagi Noah. Meski ini kali pertama ia melihat wajah itu. Sang Wanita menggapai kedua bahunya lalu menggoyangnya kuat.
“Noah, kau dengar aku? Hey, Noah, sadarlah!” teriak Bell mencoba menyadarkan Noah yang hampir saja pingsan.
“B-Bell...? Kapan kau kemari“ tanya Noah terbata-bata. Jelas yang dihadapannya tadi Wanita lain tapi auranya sama seperti milik Bell.
“Belum lama, lalu siapa itu Psikhe?”
“Psikhe?” Noah mengerutkan kening. Baru kali ini dia mendengar nama aneh itu.
“Ya, kau memanggil Psikhe, sambil menatapku seolah sudah lama tak bertemu”
“Aku justru mendengar seseorang memanggilku dengan sebutan Eros” potong Noah mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
“Yakin aku menyebutkan nama Psi... Psi...”
“Psikhe? Ya, nama itu jelas kau sebut”
“Dan kau memanggilku dengan panggilan Eros,”
“Tidak. Dari awal aku menyebut namamu Noah..., berulang kali, untuk menyadarkanmu” sanggah Bell menggelengkan kepala seyakin mungkin.
“Kakiku terlalu lemas untuk bisa berjalan sampai rumahku” Noah menyandarkan diri di sofa tanpa tenaga. Keringat dingin terus mengalir dari pelipisnya.
“Rebahkan diri saja di sofa. Aku tinggal sebentar” perintah Bell bergegas masuk ke dalam lagi sementara Noah menuruti perintah Bell.
“Siapa Psikhe? Apa hubungannya dengan Eros? Pria yang terlihat sepertiku” gumam Noah menutup kedua matanya dengan pergelangan tangan kiri.
Saat Noah menutup mata dengan pergelangan tangannya, muncullah sosok Dewa Gazleil mengarahkan telapak tangan ke kepala Noah tanpa laki-laki muda itu ketahui.
Noah mulai tertidur dan memimpikan sebuah rumah, yang sangat asing baginya. Tapi entah kenapa Noah nyaman, dan merindukan tempat itu. Noah membuka pintu rumah, ia berjalan sampai ke ruang TV.
“Eros, hey, kapan kau datang?” nada terkejut terdengar jelas dari Wanita itu.
“Richard!! Eros sudah sampai!! Berhenti menggoda anakmu!! Kemarilah!” tambah sang Wanita, berteriak kencang sambil mendongak ke arah anak tangga.
“Siapa kau?” Noah mengernyit keheranan karena ia dikenali ditempat itu.
“Aku? Siapa aku? Kau yakin mempertanyakanku? Aneh, apa kepalamu terbentur sebelum datang kemari huh?“ Wanita tersebut balik bertanya memperhatikan gerak-gerik Noah yang mulai gelisah.
__ADS_1
“Katakan kenapa kau, maksudku kalian, mengundangku kemari?” tegas Noah berusaha menghilangkan rasa gugup berlebihan. Berjalan menuju kaca besar yang terpasang di dinding tak jauh dari tempat Wanita itu berdiri.
Dia?! Pria dalam ingatan tak masuk akalku itu lagi?! Kenapa dia menjadi bayanganku sekarang? Sial!! Jadi Wanita ini benar-benar berpikir aku ini Eros? Kata hati Noah mulai mengerti situasi perlahan.
“Aku A...”
“Psikhe! Kau adalah Psikhe?” tebak Noah, main potong saja.
“Aku tidak ingin bermain-main denganmu Eros. Siapa itu Psikhe?”
“Wajahmu, sangat mirip dengan wajah Psikhe”
“Kau sudah bangun dari mimpimu? Atau kau datang kemari, tidur sambil berjalan? Jelas-jelas aku ini Aislin Bell Wilunark!” pekik Aislin kesal melihat tingkah Eros yang semakin janggal dimatanya.
Aislin Bell Wilunark? Tunggu. Ini nama tak asing bagiku. Ini..., bukankah nama Nenek Bell? Jadi maksudnya, Eros pernah hidup dimasa Nenek Bell muda?
“Anak? Siapa nama anak-anakmu?” Noah ingin lebih memastikan.
“Anak-anak? Wow, luar biasa. Tumben Tuan Eros peduli dengan nama anak-anakku. Putra pertamaku Ken Louis, anak keduaku Bean Louis” jawab Aislin sambil menatap heran Noah.
“Kau belum memiliki Putra ketiga?” Noah mengernyit.
“Wah, padahal ini kejutan untukmu Broo, kami mengundangmu karena kehadiran Putra ketiga kami” kekeh seseorang dari arah anak tangga.
“Ini Richard Louis, jangan bilang kau juga melupakan siapa dia. Dia aktor ternama dan kau, adalah desainer yang pernah bekerja sama dengannya Eros...,” Aislin berdecak kesal melihat sorot mata kebingungan dari Noah.
“Melupakan?” Richard menatap Aislin dan Noah bergantian.
“Sudahlah. Dia gemar bercanda jangan terlalu kau ladeni Eros. Dan ya, Eros, kau tahu akan kami beri nama siapa anak termuda kami?” kekeh Richard tidak sabar ingin mengatakan nama calon Putranya itu, sambil mengelus perut Aislin yang masih rata.
“Daniel. Daniel Louis” jawaban Noah membuat keduanya saling pandang. Diantara mereka tidak ada yang diam-diam memberi tahu kepada Eros. Jadi bagaimana Pria itu tahu nama calon Putra mereka, yang bahkan baru kemarin malam terpikirkan oleh mereka berdua.
“Maaf honey, hehehe aku yang memberi tahunya baru saja” kekeh Aislin dengan wajah yang memucat.
“Eros, aku tahu kau ini Dewa. Tapi kalau kau, terlalu sering menampakkan bahwa kau, serba tahu segalanya, cepat atau lambat identitasmu akan terbongkar” bisik Aislin ditelinga Noah memperingatkan.
“Dewa? Eros Dewa? Lelucon macam apa ini?” bisik Noah ditelinga Aislin.
Mendadak Noah merasakan tubuhnya melayang. Pandangannya jadi buram. Noah pasrah karena ia merasakan tubuhnya terpental berulang kali.
Noah mulai membuka mata dan mendapati seorang Dokter dan dua orang Suster mengelilinginya. Melihat pasien mereka membuka kedua mata, mereka segera menghentikan alat kejut jantung.
“Hallo, kamu mendengarku? Ini berapa?” tanya sang Dokter menunjukkan jarinya pada Noah.
“Tiga. Ini dimana? Kenapa saya disini?”
“Tenang. Ini Rumah Sakit. Kau tidak sadarkan diri selama tujuh jam. Dan hal inilah yang membuat kedua orang tuamu memutuskan membawamu kemari. Apa kau merasakan sesuatu?” sang Dokter mencoba menenangkan.
Penyakitku tidak akan bisa kamu sembuhkan Dok. Jelas tidak akan bisa. Noah terkekeh kecil.
“Aku sudah merasa baik-baik saja, apa kau merasa ada masalah dengan tubuhku?” jawab Noah santai.
“Inilah keanehannya. Pemeriksaan kami jelas mengatakan kau baik-baik saja tapi tubuhmu..., masih terasa dingin. Kau yakin tidak bermasalah dengan hal itu?”
"Tidak, aku tidak merasakan hal yang menyakitkan lagi. Jadi apa boleh aku pulang sekarang?" kata Noah ingin segera kabur saja dari tempat berbau tak menyenangkan ini.
"Tunggu. Untuk lebih memastiakan bahwa kau baik-baik saja, kita harus menunggu uji lab terakhir" kalimat sang Dokter membuat Noah jadi lemas seketika.
__ADS_1
Apa mimpi itu bagian dari masa laluku sebagai Dewa? atau hanya halusinasiku? jika benar aku ini Dewa, bagaimana aku bisa lolos dari mereka?! ya ampun bagaimana cara Dewa bekerja? sial!! bahkan aku tidak mengerti cara menggunakan kekuatanku!! Ini pasti hanya bunga tidur. Maki Noah pada diri sendiri.