Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 37


__ADS_3

“Aku Mulai gila. Panggilkan Dokter. Aku mulai melihat diriku dengan pakaian yang aneh”


“Itu memang dirimu” tiba-tiba Dewa Thanatos memperlihatkan diri.


“Bagaimana mungkin? Aku tidak pernah...”


“Itu kau, di kehidupanmu yang lampau”


“Masa lalumu adalah manusia yang menikahi Dewa” tambah Dewa Thanatos.


“Mustahil. Tadi aku hanya melihat Noah, dengan pakaian yang sama anehnya dengan pakaianku. Tapi kenapa di sana Noah Suamiku?” sahut Bell sambil tersipu malu.


“Apa yang kalian lakukan? Cepat panggil Dokter, aku butuh perawatan lebih mendalam. Pasti begitukan?!” kata Bell memerintah sang Dewa.


“Kan sudah ku bilang di masa lalu kau menikahi Dewa” si Dewa tak mau kalah.


“Wah, lelucon apa lagi ini? Noah, Dewa? Maksudmu begitu?” kekeh Bell geli.


“Mendongenglah untuk anak-anak, mereka pasti akan sangat mempercayaimu” sindir Bell tak percaya.


“Bagaimana bisa kau masih hidup sampai sekarang?” Dewa Thanatos menimpali.


“Noah menyelamatkanku,”


“Kalau dia manusia biasa apa bisa mengeluarkanmu dari mobil yang kau naiki? Itu mobil yang akan segera meleleh. Suhu mobil itu terlalu panas untuk kulit manusia biasa”


“Itu...sebuah keajaiban” jawab Bell. Kepalanya dipenuhi pertanyaan demi pertanyaan karena ucapan Dewa Thanatos.


“Bagaimana bisa manusia biasa yang mengalami kecelakaan berat, langsung bisa berjalan tanpa satu luka goresan pun di tubuhnya? Sementara kau dan Petra butuh berbulan-bulan dirawat”


“Hentikan! Aku sungguh tidak ingin mendengar kenyataan konyol ini. Kalau aku mempercayainya, artinya aku benar-benar sudah gila!” pekik Bell menutup kedua telinganya.


“Terserah. Nasib Noah ada ditanganmu sekarang. Kalau kau ingin tidak melihatnya lagi seumur hidupmu, itu hak mu. Jangan salahkan kami karena keputusanmu hari ini” jawab Dewa Asklepios membalikkan badan, diikuti tiga Dewa lainnya.


“Apa maksudmu barusan?” mendengar sahutan dari Bell, para Dewa menyunggingkan senyuman puas di belakang Bell. Keempat Dewa yang tadinya akan segera pergi berbalik badan menatap serius pada Gadis di hadapan mereka.


“Dewi Psikhe, sudah saatnya kamu bangkit. Apa kau akan membiarkan Suamimu mati? Padahal dengan susah payah ia berkorban untukmu hingga bisa menjadi wujud manusianya sekarang?” suara Dewa Ker menggelegar menggetarkan hati Bell.


Dalam sekejap, Bell mengingat masa lalunya sebagai Dewi Psikhe yang sedang meregang nyawa ketika gelar Dewi dicabut darinya. Semua itu karena kotak yang diberikan Cupid padanya. Bahkan ia berusaha keras untuk kembali pada Suaminya Eros, alias Cupid tapi tak disangka Psikhe malah mati sebelum bertemu dengan Eros.


“Ternyata Eros tetap berusaha untuk kembali padaku” gumam Bell menitikkan air matanya.


“Manusia penyerap harus dilenyapkan Dewi. Dengan begitu bumi akan kembali damai” kata Dewa Gazleil mencoba mengingatkan.


Bell memusatkan pikiran sebagai titisan Dewi Psikhe. Waktu terhenti dan ia pun menghilang.


Noah terus mengejar Petra. seahli apa pun Petra menyembunyikan diri, Noah pasti akan menemukannya. Karena kekuatan Noah sebagian kecil masih ada dalam tubuh Petra, maka aroma Dewa menguar kuat. Untung saja Petra berlari menuju ke arah perkebunan. Sehingga Noah tak perlu khawatir akan menghancurkan banyak fasilitas umum.


Tanpa ragu Noah melemparkan energinya untuk menciptakan dinding yang terbuat dari tanah. Ia cukup membuat tanah perkebunan itu berguncang, lalu terbelah lah tanah perkebunan tersebut, yang kini semakin menjulang tinggi, menutupi jalan Petra.


“Kau mengejarku karena ingin merebut Bell darimu?” kekeh Petra ketika ia mulai merasa terpojok. Petra berhenti dan berbalik ke arah Noah dengan tatapan nyalang.


“Itu karena kau, selalu melukainya. Tidak bisakah kau lembut terhadap Perempuan?” balas Noah menaikkan kedua alisnya, menatap Petra masa bodoh.


“Tidak mungkin hanya karena itu. Aku pun mengambil alih keluarga tercintamu” kekeh Petra mengejek.


“Apa pun penyebabnya kau tetap harus mengembalikan semua milikku”


“Milikmu? Bukankah kau Dewa? Tempatmu tidak di bumi ini. Suatu hari kau, akan mereka tinggalkan. Lalu kau masih mau membuang-buang waktumu hanya untuk mainan dengan sisa jangka waktu hidup sesingkat ini?” terkadang Petra tak bisa memahami jalan pikiran si Dewa.


Petra terlontar membentur dinding tanah, setelah mengucapkan kata-kata keji di depan Noah.


“Mainan katamu?! Jiwa yang hidup mana bisa kau sebut mainan!” amuk Noah emosi.


“Ayolah...,Jangan sok polos. Kalian menciptakan manusia, menuliskan jalan hidup mereka semau kalian! Apa namanya jika bukan mainan?” sindir Petra setelah mengusap darah di sudut kiri bibirnya dengan lengannya.


“Semau kami? Jelas ucapanmu tidak benar” geram Noah.


“Kami menciptakan jalan hidup manusia itu benar. Tapi jika manusia mau berusaha mengubah nasibnya, kami dengan senang hati mengabulkannya” tambah Noah.


“Kalau begitu ubah takdirku. Kau yang membuatku terlahir sebagai manusia penyerap bukan? Kalau begitu selamatkan nyawaku!”


Di waktu yang sama, Bell cukup terkejut karena terlempar ke kenangannya di masa lalu sebagai Dewi Psikhe. Ia melihat takdir Psikhe setelah gelar Dewinya dicabut. Ia tetap berusaha mati-matian, berharap dapat menebus kesalahannya dengan melakukan banyak hal yang mungkin bisa mengembalikan suaminya.


“Ini kesempatan ketigamu” seseorang membisikkan sesuatu di telinga kanannya. Bell menoleh tapi tak ada satu pun orang disana.


“Apa yang kau harapkan sekarang? Melepaskan dia atau mempertahankannya?”


“Dari pada itu, aku lebih tertarik menanyakan satu hal, Dewa”


“Tanyakanlah”


“Apa Cupid mau memaafkan Psikhe?”

__ADS_1


“Dewa bodoh itu hanya kecewa pada Psikhe. Dia tidak pernah benci Istrinya”


“Kau bilang ini kesempatan ketiga bagiku. Apa Eros menginginkanku kembali padanya?”


“Si idiot memang menginginkan itu terjadi”


“Bahkan setelah aku dan dia terpisah berulang kali?”


“Ya”


“Kau pikir aku mau melepaskannya setelah dia berusaha bersamaku kembali?”


“Taruhannya adalah hidupnya sebagai Noah”


“.....” Bell terdiam. Kali ini Bell membalikkan badan mencari asal suara.


“Noah harus melenyapkan manusia penyerap. Untuk itu dia harus mempertaruhkan nyawanya demi muka bumi ini agar tetap utuh”


“Petra...akan membunuhnya?”


“Manusia penyerap tidak bisa membunuh inangnya sendiri”


“Jangan berbelit-belit!” teriak Bell tak sabar.


“Manusia penyerap terlahir karena Dewa yang melakukan kesalahan. Dewa tidak boleh menikahi manusia ketika dirinya dalam wujud manusia”


“Eros melakukan kesalahan tersebut di kesempatan keduanya”


“Jadi sebagai hukumannya, Eros terlahir ke dunia dengan membawa kutukannya sendiri. Noah terlahir maka Petra pun lahir ke dunia”


“Petra harus lenyap atau kehancuran dunia sudah pasti akan terjadi. Oleh karena itu, Noah harus melenyapkan Petra dengan tangannya sendiri. Tapi dengan ia melakukan hal tersebut, waktu hidupnya sebagai Noah akan segera berakhir juga”


“Adakah kesempatan ke empat?” potong Bell penasaran.


“Tidak. Ini kesepakatan final Eros dengan para Dewa lainnya. Kalau Noah berakhir, maka Eros tidak akan lagi kembali ke dunia”


“Apa dia akan terluka dan mati?” wajah Bell semakin pucat memikirkan hal tersebut.


“Ada zat beracun ditubuh Petra yang hanya akan aktif jika nyawanya sedang terancam”


“Artinya, Noah hanya harus melenyapkan Petra dari jarak jauh agar terhindar dari racun Petra” Bell menyimpulkan sendiri.


“Sayangnya itu tidak akan mungkin terjadi” desis seseorang di samping Bell. Dewa Ker mengizinkan Bell melihat wujudnya.


“Kenapa mustahil?”


“Tidak adakah jalan lain untuk menyelamatkannya?”


“Tidak. Eros tidak boleh terlalu lama tinggal di bumi. Sebagai Dewa, ia terlalu lama meninggalkan tugasnya. Bahkan kami terlalu baik memaklumi keadaannya”


“Bell, lupakan Noah dan hiduplah berbahagia” tambah Dewa Ker tersenyum getir pada Bell.


“Semua karena kotak yang diberikan Cupid padaku waktu itu bukan?”


“Kau mengingat apa yang terjadi saat itu? Apa yang keluar? Permintaan apa yang kau pikirkan?” Dewa Ker penasaran.


“Kotak itu ada di suatu tempat. Ya, kotak itu memiliki segala hal yang diinginkan semua Gadis di dunia. Dan saat dibuka, dari sekian banyak keinginan, hanya satu yang bisa dijadikannya nyata” desis Bell menatap kedua mata Dewa Ker penuh harapan.


“Lupakan saja itu akan sia-sia” jawab sang Dewa memucat.


“Kau takut aku akan menjadi pembuat masalah seperti Petra? Karena itu rona Wajahmu berubah? Dewa...Ker...?” kekeh Bell merasa diatas angin.


“Kau hanya akan membuat Noah semakin menderita. Hentikan dan Lupakanlah dia”


“Aku harus menemukan kotak itu” gumam Bell lalu berlari keluar dari dimensi masa lalunya.


Kini Bell kembali ke ruang rawat inapnya. Disana tampak sepi karena semua orang mengira Bell melarikan diri dari sana.


“Kau membutuhkan ini” suara Dewa Asklepios mengagetkannya. Dewa pengobatan tersebut menyodorkan sebuah pakai lengkap pada Bell.


“Sejak kapan kau berada disini?!” pekik Bell menepuk-nepuk dadanya.


“Waktumu terbuang. Kau harus secepatnya menemukan kotak itu sebelum semua terlambat” bisik Dewa Asklepios bersungguh-sungguh.


“Kenapa kau justru menolongku?”


“Aku bernasib sama dengan kalian berdua. Jadi, segeralah bertindak agar aku merasa tenang berada disisi Wanitaku” jawab sang Dewa.


Bell bergegas masuk kamar mandi dan muncul dengan pakaian pemberian Dewa Asklepios.


“Noah akan selamat. Percayalah” desis Bell pada sang Dewa. Ia meninggalkan rumah sakit tanpa ketahuan sedikitpun.


Bell kabur mengandalkan bantuan dari Dewa Asklepios. Sang Dewa mengobati ingatan Bell yang kala itu bernama Psikhe. Ingatan dimana ia mati, dalam keadaan menggenggam kotak pemberian Cupid.

__ADS_1


“Bagaimana caraku dapat menemukan kotak itu? Waktuku tidak banyak. Aku harus bagaimana?” gumam Bell kebingungan sendiri.


Tiba-tiba Bell merasakan ada kekuatan, yang menciptakan dimensi lain, dan menempatkannya berada di sebuah terowongan bawah tanah.


“Aku bisa menolongmu” kata seseorang yang muncul secara tiba-tiba dihadapan Bell.


“Kau...”


“Bukan. Kaulah Psikhe”


“Lalu kau siapa? Wujudmu, pakaianmu, sangat mirip dengan Psikhe”


“Kau dalam pengaruh kekuatanmu sendiri. Aku adalah kepingan ingatanmu karena itu aku adalah dirimu di masa lalu. Kau harus segera menemukan kotak itu. Ayo ikuti aku” ajak kepingan ingatan Psikhe, sambil berjalan mendahului Bell.


Mereka berjalan menyusuri lorong demi lorong.


“Kenapa lorong ini terasa tiada ujung?”


“Kau harus memecahkan ingatanmu yang menghilang agar kita bisa sampai ke ujung lorong lebih cepat” tegas si petunjuk jalan.


“Dan satu lagi. Sebagai Dewi, Dewi Psikhe dapat menggunakan seluruh kekuatannya di tempat ini. Manfaatkan hal itu” tambah kepingan ingatan Psikhe pada Bell sambil terus berjalan.


“Kau mengolokku sekarang? Bagaimana caraku mengetahui kekuatan macam apa yang kumiliki?” protes Bell.


Seketika banyak kelelawar beterbangan menuju ke arah Bell. Saat gerombolan kelelawar mendekat, Bell tercengang melihat tidak ada angin tidak ada hujan, gerombolan kelelawar tersebut langsung berjatuhan ke tanah.


“Lanjutkan perjalanan kita”


“Kau yang membunuh mereka?”


“itu kau. Tiruan tidak akan mampu menyamai yang asli” sahut kepingan ingatan Psikhe.


“Berhenti” tambahnya.


“Ada masalah?” Bell menuruti perintah si petunjuk jalan.


“Dengar. Mulai sekarang kau harus melanjutkan perjalanan sendiri. Aku akan membukakan ingatan masa lalumu jauh lebih dalam dari sebelumnya”


“Aku tidak mengerti kenapa, Tapi tidak ada waktu untuk berdebat cepatlah. Noah harus diselamatkan” sambut Bell.


Kepingan ingatan Psikhe menutup kedua matanya setelah duduk bersila diikuti Bell. Tubuh kepingan ingatan tersebut kian lama kian menghilang dari pandangan. Lalu berubah menjadi cahaya yang menyilaukan mata.


Klotak!


Dari cahaya terang tersebut, jatuhlah sebuah kotak, setelah itu cahayanya mulai meredup dan lenyap.


“Hey, kau dengar itu?” Bell berbisik mengajak seseorang berbicara namun tidak seorang pun menyahut.


“Kau baik-baik saja? Apa boleh aku membuka mata sekarang?” bisik Bell sekali lagi.


Rasa penasaran Bell sangat kuat hingga ia akhirnya membuka kedua mata dan menoleh ke samping.


“Hey! Kau meninggalkanku begitu saja tanpa petunjuk?!” keluh Bell kesal.


“Eh, apa ini?” gumam Bell menatap ke arah bawah, tempat kotak yang dicarinya terjatuh tadi. Bell segera memasukkan kotak ini ke kantungnya. Bell berdiri dan berlari menyusuri lorong ke arah cahaya terang di ujung lorong.


Ia menghilang dan muncul tepat di tempat dimana Noah dan Petra akan segera bertarung.


“Kalau begitu ubah takdirku. Kau yang membuatku terlahir sebagai manusia penyerap bukan? Kalau begitu selamatkan nyawaku!” teriak Petra terdengar jelas ditelinga Bell.


“Kenapa dia harus menyelamatkan nyawamu?” tegas Bell yang muncul tak jauh di belakang Noah.


Petra sekuat tenaga melesat melarikan diri dari cengkeraman tangan Noah dan meraih Bell masuk ke dalam sekapannya.


“Dari mana kau tahu aku kemari? Kau melarikan diri dari rumah sakit?” geram Noah pada Bell marah. Kalau saja Bell tetap diam di rumah sakit, masalahnya dengan Petra akan segera selesai. Tapi Bell justru mengacaukan segalanya.


“Asklepios memberiku petunjuk” jawab Bell tenang. Jika dia Bell yang dulu, pasti sekarang dia hanya bisa menangis ketakutan. Kali ini berbeda. Ia tahu jati dirinya sekarang.


Bell menggunakan kekuatannya untuk membuat Petra pingsan karena lemas.


Brugh!!


Benar saja Petra ambruk ke tanah begitu saja. Melihat musuhnya tak berdaya Noah kebingungan.


“Psikhe...” gumam Noah melihat keadaan Petra yang secara tiba-tiba tak berdaya.


“Kau sudah tahu jati dirimu?”


“Ya” Bell tersenyum mendapati ekspresi tak percaya dari Noah nya.


Noah segera menggunakan kekuatannya untuk menarik Bell kearahnya tapi muncul akar pohon yang membelit kedua kaki Bell, hingga gadis itu tak dapat ditarik Noah.


“hahaha apa kau pikir aku masih lemah? Bell?” kekeh kecil Petra menyadarkan Bell dan Noah, kalau Petra sedang berpura-pura terpengaruh kekuatan Bell.

__ADS_1


“Jangan menyerangnya lebih dari itu. Bell dengarkan aku!!” teriak Noah melihat Bell akan segera menyerang kembali Petra.


Bell tetap melancarkan serangan kedua mengalirkan seluruh air di bawah tanah, naik keluar menyembur tubuh Petra dengan sangat kuat.


__ADS_2