Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 14


__ADS_3

Aislin gemetaran hebat melihat, ternyata Pria disampingnya telah meninggal, sementara dia baru tahu itu setelah dirinya akan keluar dari tempat tersebut.


“Kau baik-baik saja? Aislin, lihat aku” kata Eros menegakkan tubuh Aislin yang gemetaran hebat. Tanpa suara, hanya isakan tangis terdengar jelas di telinga Eros. Si Dewa cinta membuat seluruh gedung bioskop mati lampu dan begitu lampu kembali menyala, mereka berdua menghilang.


Eros membawanya pulang ke rumah tepatnya ke atas tempat tidur Aislin.


“Aku tidak tahu ini akan terjadi Aislin maafkan aku”


“Apa yang ingin kau katakan padaku sebenarnya dengan membawaku ke sana? Apa kau ingin mengingatkanku, bahwa hari terakhirku bersama Richard Louis di sana? Ditempat itu?! Aku membencimu Eros. Sangat membencimu!!” teriak Aislin marah besar. Ia langsung menutup seluruh tubuhnya kecuali wajahnya, dengan selimut.


“Bangun dan makanlah sayang. Kau belum makan malam”


“......”


“Kau boleh marah padaku, tapi tidak boleh melupakan makan” Eros melanjutkan ucapannya dengan santai lalu membuat selimut yang melingkupi seluruh tubuhnya terbuka, membuat tubuh Gadis itu terduduk dengan sendirinya.


“Keluar. Aku tidak ingin melihat wajahmu” jawab Aislin. Kini air mata si Gadis cantik lolos dari kedua kelopak matanya.


“Tentu” jawab Eros, membuat sebuah meja mungil muncul di hadapan Aislin, menutupi kedua pahanya. Lalu kedua tangan Eros tiba-tiba menyangga sebuah baki, berisikan makanan untuk kekasihnya. Ia berjalan mendekat, meletakkan baki itu ke atas meja sambil menatap hangat sang pujaan hati.


“Jika sampai saat aku, datang kembali kau tidak makan itu sampai habis. Jangan salahkan aku kalau tanganku ini memaksamu makan” kata Eros mengatakan dengan samar akan menyuapinya jika dia tak juga mau makan.


“.....” tanpa kata. Aislin menghembuskan nafas kesal setelah Eros menghilang begitu saja dari kamarnya.


“Baru saja kau membuatku bahagia seolah kita tak akan pernah berpisah Eros. Tapi. Melihat kejadian di bioskop itu justru menyadarkanku pada kenyataan"


"Suatu hari, aku akan meninggalkanmu. Akan lebih baik jika kau saja yang pergi dari hidupku. Karena jika itu terjadi tidak akan ada penyesalan sebelum kematianku tiba” gumam Aislin sambil menatap kosong makanan yang terhidang di depan mata.


Tanpa Aislin ketahui Eros berada di balik pintu kamarnya yang tertutup rapat. Mendengarkan dengan seksama apa isi hati Aislin.


Lagi-lagi air mata itu menitik hanya karena kau ketakutan dengan apa yang akan terjadi padaku kelak. Batin si Dewa cinta, menghilang dari balik pintu lalu muncul sudah dalam posisi memeluk Wanita yang di cintainya itu.


“Kenapa kau mencemaskan hal yang belum tentu terjadi padaku?” tanya Eros masih memeluk erat Gadis yang kini meringkuk dalam dekapannya.


“.....” Aislin memilih diam tanpa kata ia masih bersikeras tetap pada pendiriannya. Ya, marah tetaplah marah. Pria ini harus tahu betapa menyakitkannya memikirkan dirinya akan segera pergi meninggalkan Eros sendirian.


“Aku akan seperti makanan ini” kata Eros melepaskan pelukannya, dan segera menunjuk makanan yang sedari tadi tak tersentuh.


“Kalau kau terus ketakutan meninggalkanku, aku akan terabaikan dan menjadi dingin bahkan hambar seperti makanan ini. Kau campakkan, seolah aku ini tidak ada tentu saja nasibku akan sama dengan makanan ini” gerutu Eros seolah sedang mengomeli diri sendiri.


“Satu hal yang belum kamu tahu, tapi ini pasti. Aku akan sangat menghargai dirimu yang menghargai waktu. Waktu yang telah di berikan oleh Dewa Gazleil dan Dewa Thanatos. Waktu itu bernama ruang untuk kita bersama. Kita berdua. Hanya kita berdua sayang. Apa pun keadaan kita, bagaimanapun kita berpisah nantinya, aku sudah mempersiapkan diri.


Kau tahu kenapa? Tentu saja untuk bertemu denganmu lagi suatu hari nanti” kata Eros panjang lebar, menghapus deraian air mata yang terus saja menggenang di pelupuk mata Gadis kecintaannya itu bahkan terus menerus berderai di kedua pipinya.


“Aku menunggu persetujuanmu. Kita, akan melewatkan waktu bersama sesedikit apa pun, sesempit apa pun, tidak ada yang boleh menyerah bahkan mencoba meninggalkan satu sama lain. Toh, saat kita berpisah, kita juga akan berjumpa lagi,” kata Eros, sambil mengambil satu sendok makan, yang di arahkan ke bibir Aislin, dan membiarkan sendok itu terus terarah pada Aislin.


“Tanganku akan terus seperti ini, karena aku sekarang menunggu persetujuanmu. Dan aku akan menurunkan tangan ini, ketika persetujuan itu datang langsung darimu” tambah Eros terus berbicara tanpa bosan-bosannya membujuk Aislin.


Mata mereka bertemu, mencari jawaban dari setiap pertanyaan dalam benak mereka. Aislin mengalah dia menerima satu suapan dari Pria gigih di hadapannya. Eros tersenyum senang mendapatkan respons dari Aislin. Namun, pada suapan kedua, Aislin menahan suapan itu dengan tangan kanannya.


“Jika kau bilang akan menikah dengan seseorang, setelah aku pergi, aku tidak akan setakut ini” mendengar kalimat tersebut meluncur mulus dari bibir Aislin, Eros meletakkan sendok itu kembali ke atas piring.


“Baiklah, jika itu bisa menenangkanmu, aku juga akan memberi tahu kebenaran takdir kita. Di dunia ini, di kehidupan saat ini atau selanjutnya kita tidak ditakdirkan bersama”


“Aku tahu”


“Juga, kebenaran jika aku menikahi Gadis lain, kemungkinan besar di kehidupan selanjutnya, aku akan menjadi Dadmu” tandas Eros tajam. Seolah disambar oleh petir, Aislin menegang sekaligus memucat.


“Jika itu bisa membuatmu tak sendirian di dunia ini sambil menungguku..., aku....”

__ADS_1


“Kau yakin? Mau menerima hal itu? Benarkah? Pikirkan sekali lagi sayang. Karena ketika kau, telah menjadi Putriku, maka hubungan Dad dengan Putrinya tidak akan terputus selamanya. Sebab, sebagai seorang Putri Dewa, meski kau terlahir dari seorang manusia, kau tetaplah Putri Dewa"


"Dan takdir keturunan Dewa adalah hidup yang abadi. Kita tidak akan pernah menua, tidak akan pernah terpisahkan lagi. Sebagai gantinya, jika kita saling mencintai, maka para Dewa lainnya akan mengutuk hubungan kita itu. Putuskan segera, dan habiskan makananmu. Aku butuh sendiri” kata Eros setelah memberi peringatan besar.


Eros pergi, meninggalkan Aislin yang diam mematung. Otaknya tak dapat berpikir jernih kali ini.


“Gazleil kau disini?” sapa Aislin tanpa menoleh sedikitpun.


“Aku merasakan langit bergetar hebat. Kalian sedang menentukan masa depan kalian?” jawab Dewa Gazleil menampakkan diri, duduk di depan Aislin.


“Takdir? Kau sebut semua ini takdir? Tapi otakku bilang ini kutukan. Kenapa kalian memberikan cinta pada kami, jika kami tak pernah bisa bersama? Aku tidak akan mungkin meninggalkannya sendirian. Itu sangat tidak adil baginya. Dan kenapa katanya jika dia menikahi Gadis lain, aku justru akan terlahir menjadi Putrinya?!”


“Karena memang seperti itulah kenyataannya”


“Aku tidak ingin menjadi Putrinya mengerti?!”


“Tinggal kalian bersabar saja bukan? Matilah dengan tenang, lalu lahirlah kembali. Maka kalian akan kembali bertemu meskipun kalian tidak bisa bersama selamanya seperti saat ini”


“Apa hanya ada dua pilihan itu untuk kami?”


“Ya, maka pikirkanlah baik-baik. Kau ingin dia terluka dalam waktu lama? Sementara dia harus menunggu kelahiranmu selanjutnya? Bukankah di sini yang tampak egois adalah dirimu Aislin?” tanya Dewa Gazleil menatap Gadis cantik itu datar tanpa emosi sedikitpun tergambar dari raut wajahnya.


“Jika kau benar mencintainya, seharusnya kau tahu dia dan dirimu tidak mungkin bersama selamanya. Jika kalian memaksakan diri bersama, hanya luka yang akan menyakiti Eros di setiap kelahiranmu nantinya. Kurasa kau tidak benar-benar mencintainya"


"Karena cinta itu tidak akan saling menyakiti. Tapi saling menentramkan. Hatinya akan tenteram jika kau mau melepaskannya Aislin. Harus kau yang memutuskan lingkaran setan ini” kata Dewa Gazleil kemudian menghilang begitu saja.


Aislin menangis sambil terus menjejalkan makanan ke dalam mulutnya terus begitu sampai ia muntahkan kembali makanan itu.


Eros melangkah menuju pintu ruang tamu ingin menenangkan diri diluar tapi hatinya justru makin tak karuan ketika tangannya mulai menyentuh knop pintu.


Deg!!


“Aislin, hey, apa yang terjadi padamu?” tegur Eros, mengambil tisu kering sekaligus tisu basah. Ia melap bibir, sekaligus wajah Gadis itu satu persatu. Setelah ia mengeringkan wajah sembab di hadapannya, ia pun mengunci wajah cantik itu dengan kedua telapak tangannya.


“Kenapa kau sekacau ini? Apa karena kata-kataku tadi keterlaluan?” bukan jawaban yang di dapati Eros setelah melontarkan pertanyaan tersebut, tapi justru sebuah pelukan erat, sarat akan makna. Dalam pelukan itu, Eros dapat merasakan gejolak dalam jiwa Gadisnya. Takut kehilangan, takut tak bisa bersama, dan banyak hal lainnya yang tak terkatakan.


“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Itu janjiku”


“......” Aislin malah makin kuat memeluknya hingga Eros terbatuk-batuk dibuatnya.


“Eros, kau tidak apa-apa? Sakit?” tanya Aislin panik.


“Untuk ukuran Wanita tua kau terlalu kuat” kekeh Eros masih terbatuk-batuk. Ya, Aislin telah kembali menjadi tua sekarang.


“Waktunya telah berakhir...”


“Hey, jangan bersikap seolah tidak akan pernah ada hari esok. Besok malam, kita pergi ke tempat dimana kau inginkan” hibur Eros menepuk kedua bahu Aislin lembut.


“Aku sudah setua ini. Masihkah kau mencintaiku?” tanya Aislin merasa sangat berkecil hati. Bagaimana tidak? Prianya tak menua sedikitpun.


“Hey, aku ini Dewa. Kalau kau sekecil hati itu karena fisikku, baiklah, toh umurku ribuan tahun lebih tua darimu” jawab Eros, yang mengubah dirinya menjadi seumuran dengan Aislin.


"Jadi, jika aku melakukan hal ini, masihkah kau meragukan cintaku padamu?"


“Kau sedang mengerjaiku sekarang?! Kenapa kau tidak melakukan hal itu sejak awal!!” pekik Aislin kesal sambil memukuli lengan Eros kesal bukan main.


“Kalau kulakukan dari awal, akan sulit bagimu untuk mengenaliku. Akan sangat sulit juga mengambil hatimu kembali dalam wujud setua ini. Lagi pula Wanita mana yang bisa mencintai Pria tua ini huh?” kesal Eros sambil mencubit kedua pipi Aislin.


Krieeeeeeek

__ADS_1


Ups!! tiba-tiba pintu kamar Aislin terbuka dengan cepat!!


“Mom!! Hey, dimana Eros? Dan...siapa Kakek ini?” muncullah anak yang tidak diharapkan kehadirannya malam ini.


“Da-Daniel, honey, kau datang Nak,” kekeh si Nenek tua cantik salah tingkah. Mendorong Kakek tua di hadapannya agar menjauh.


“Apa-apaan ini Mom? Adakah yang bisa menjelaskan?” Daniel bersedekap dengan sorotan mata menuntut.


“Eros sedang membuat makanan di dapur untuk kami Nak. Aislin, apa ini Putramu?” tanya Eros sambil diam-diam memberi isyarat pada Aislin agar mengikuti permainannya kali ini.


“Ah, ya..., kenalkan ini Putra terkecilku Daniel. Dan Daniel, ini Robert” jawab Aislin sekenanya. Eros mengerutkan kening menatap Aislin.


Robert?! Kenapa seolah aku adalah bayangan dari mantan Suami sialannya itu?! Gerutu Eros dalam hati.


“Dia teman yang Mom katakan padaku di telepon?”


“Ya, kami sangat lama tidak bertemu. Begitulah hehehe” jawab Aislin menyeringai jenaka.


“Kami tadi sebenarnya merencanakan mengubah tempat makan malam dirumah Mom” kata Daniel tak enak hati jadinya.


“Ow, apa aku mengganggu kebersamaan kalian?” jawab Eros sekenanya.


“Bukan Paman, bukan begitu. Hanya saja, jika tidak keberatan Paman bisa makan malam bersama kami? Maksud saya..., Mom, Saya, Calon Istri saya, Eros, dan Paman?” tawaran mendadak Daniel membuat Eros terbatuk-batuk lagi kali ini. Bagaimana bisa dirinya memerankan dua orang di satu tempat?


“Diam, artinya...Anda setuju. Akan saya siapkan bersama Eros” tambah Daniel berjalan menuju dapur.


“Sial. Kau menggali kuburanmu sendiri Eros....” gumam Eros lalu menghilang begitu saja setelah Aislin terkekeh geli mendengarnya mengumpati diri sendiri.


Maka, sebelum Daniel tiba di dapur Eros sudah muncul di dapur dan dengan bantuan sihirnya, ia menyiapkan tiga macam menu untuk malam ini.


“Wow, aromanya..., sepertinya ini enak sekali untuk dimakan bersama” tiba-tiba Daniel muncul disampingnya. Eros pura-pura kaget tapi reaksi berlebihannya itu justru menjatuhkan panci berisi puding Vanila.


Bruk!!


Klontang!!


“Ups!! Maaf mengagetkanmu. Kau tidak apa-apa? Baik-baik saja kan?” tanya Daniel merasa bersalah karena telah membuat jerih payah Eros membuat puding Vanila gagal total.


“Tidak. Ini karena kecerobohanku aw,” jawab Eros. Tampak tangannya melepuh karena tersiram air panas.


“Ayo ku obati”


“Tidak perlu terima kasih. Bagaimana jika Anda membantuku saja? Menyiapkan semua makanan itu ke ruang makan?”


“Tidak masalah, benar tidak perlu bantuanku mengobati luka lepuhmu?”


“Tenang saja. Saya bisa mengurusnya sendiri. Ini akibat saya kurang enak badan. Jadi malam ini saya akan makan terlambat. Tidak perlu menunggu saya. Oke,”


“Kau perlu Dokter?”


“Tidak. Ini hanya masuk angin saja. Istirahat sebentar pasti langsung sembuh” jawab Eros tersenyum hambar.


“Oke, serahkan semuanya malam ini padaku. Istirahatlah yang cukup Nak,” kata Daniel membiarkan Eros masuk ke dalam kamarnya.


Saat Eros mengunci pintu kamar, ia menggunakan kekuatannya kembali ke kamar Aislin dalam wujud tuanya.


“Kau kembali kesini? Bagaimana bisa kau mengatasi masalah yang akan kau hadapi nanti? Apa kau bisa menjadi Robert sekaligus Eros?” tanya Aislin bergantian panik.


“Bersikap biasa saja oke, Eros ada di dalam kamarnya karena sakit. Jadi Robert bisa tenang berada di sisi Aislin. Ingatlah ini. Bersikaplah biasa, dan kau tidak tahu menahu soal Eros yang sakit” bisik Eros di telinga Aislin.

__ADS_1


"Kami sudah menyiapkan makan malam spesial untuk kita semua, apa kalian sudah siap?" tanya Daniel yang tak lama kemudian muncul di ambang pintu.


__ADS_2