Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 19


__ADS_3

“Bell”


“hmm?” Gadis itu masih sibuk menghapus jejak bibir Regina di pipi Noah.


“Berikan sapu tangan itu padaku. Aku bisa melakukannya sendiri”


“Sudah kubilang kau akan semakin mengacaukan wajahmu,”


“Ayolah..., kita bukan anak kecil lagi. Kau tidak boleh sedekat ini dengan sembarangan Pria sepertiku. Jadi kumohon menyingkirlah” bisik Noah sambil memperhatikan kedua mata hijau marun milik Bell.


“Kau tumbuh besar bersamaku oke, jadi kau adalah orang terdekatku. Kurasa kau tidak termasuk Pria sembarangan seperti katamu. Mengingat hubungan kita ini,”


“Semua orang menatap kita jadi menyingkirlah” perkataan Noah membuat Bell menghentikan sapuan tangannya di pipi Noah.


Kini si Gadis cantik menatap ke sekeliling kantin sekolah, mendapati semua mata memandang mereka berdua.


“Sudah kepalang tanggung. Kau ingin Regina terus menempel padamu?” kini Bell meletakkan sapu tangannya dan menjauh dari Noah.


“Apa kau bercanda?!” pekik Noah kesal.


“Kalau begitu kita bisa memanfaatkan keadaan tadi, supaya Regina menjaga jarak darimu”


“Memangnya apa yang bisa kita manfaatkan dari kejadian tadi?” kekeh Noah menggelengkan kepala, sebelum meminum juz.


“Kau pikir, apa yang bisa mereka semua pikirkan kalau ada dua orang berlawanan jenis, melakukan hal sama, seperti apa yang kita lakukan baru saja?”


“Jadi maksudmu kita benar-benar harus berpura-pura berpacaran?” tanya Noah memicingkan mata meragu.


“Pasti akan muncul ide baru kalau kita sedikit lebih keras memutar otak” kekeh Noah tak ingin ambil risiko dirinya akan semakin tertarik pada Bell.


“Oke, tapi jangan pernah meneleponku, apa lagi menyuruhku datang ke rumahmu hanya untuk mengusirnya suatu saat nanti. Mau berubah pikiran?” jawab Bell sambil meringis.


“Dia tidak akan melakukannya. Pegang kata-kataku” potong Noah ikut menunjukkan sederet gigi putihnya.


Bel pertanda jam pelajaran berikutnya telah dimulai berdering sangat nyaring. Kedua orang itu segera bergegas memasuki kelas. Begitu sampai di dalam kelas, wajah Noah mendadak memucat. Pasalnya, ada Regina duduk disebelah tempat duduk Noah, yang seharusnya diisi Bell.


“Bisakan kau mengalah? Biarkan aku duduk disamping Noel hari ini oke,” Regina mengatakan itu dengan nada menantang. Bell hanya menggelengkan kepala lalu berbalik.


“Mau kemana?” Noah malah mencengkeram pergelangan tangan Bell erat sambil menatap jengkel pada Regina.


“Berdiri kau” geram Noah sambil melotot pada Regina.


“Memang apa salahnya? Toh Bell tidak keberatan,” jawab Regina masih bertahan duduk di kursi Bell.


“Aku yang menentukan dengan siapa, aku ingin duduk berdampingan. Dan aku tidak ingin Bell bertukar....tempat duduk....denganmu. Apa itu cukup jelas?!” gertak Noah tegas.


“Memangnya ada larangan semacam itu di kelas ini? Hey, setiap seminggu sekali selalu ada pertukaran tempat duduk. Dan kalian selalu duduk di sini tanpa mematuhi peraturan. Apa itu adil? Memang yang memiliki tempat duduk ini Nenek moyangmu?!” tegur seorang Pria muda, berambut ikal pendek berwarna coklat tua. Pria itu bernama Petra. Sang budak cinta Regina.


“Aku hanya berurusan dengan Regina bukan dirimu” geram Noah lalu menggapai tas ranselnya.

__ADS_1


“Apa yang kau lakukan? Tetaplah disini” protes Regina melihat apa yang dilakukan Noah.


“Yang ku lakukan? Pergi ke tempat Bell berada. Nikmati tempat duduknya dan jangan banyak bicara” kata Noah tersenyum sinis berbalik, sekaligus berjalan sambil menggandeng Bell.


“Aku tidak akan menyerah. Aku akan tetap berusaha keras, sampai kau menyukai keberadaanku disisimu Noah!”


“Dalam mimpimu” kekeh Noah masih berjalan menuju tempat duduk barunya bersama Bell.


“Noah” panggil Regina. Meski panggilannya diabaikan, tapi Gadis cantik itu tetap berani mencekal tangan Noah yang masih menggenggam erat tas ranselnya. Pria itu menoleh, dan akan kembali meledak tapi ledakannya tertahan karena Regina segera mengucapkan sesuatu.


“Apa kau sadar? Jika kau selalu bersama dengan Bell, orang-orang akan mulai menyalah artikan hubungan pertemanan kalian. Tadi saja semua orang membicarakan kejadian di kantin sekolah. Aku hanya ingin membersihkan nama baikmu,”


“Tidak perlu repot-repot Regina. Karena apa yang mereka pikirkan tentang kami tidak sepenuhnya salah. Kami memang sedang menjalin hubungan” potong Noah, mengangkat pergelangan tangan Bell yang ia genggam erat. Mendengar itu Bell hanya terbengong-bengong sementara Regina mulai berkaca-kaca.


“Kau hanya sedang menipuku” geram Regina antara percaya dan tidak percaya.


“Jangan sentuh dia, apa lagi mendekatinya Regina,” potong Bell berusaha melepaskan tautan tangan Regina dari tangan Noah.


“Beraninya kau memerintahku!” teriak Regina murka.


“Hello...., dia milikku. Dan baru saja dengan seenaknya kau menyentuh milikku” Bell menegaskan.


“Apa dramanya sudah selesai anak-anak? Apa kalian masih ingin menonton?” tegur Mr. Steven di ambang pintu kelas, sambil menyorot tajam pada Regina dan Bell secara bergantian. Maka semua kericuhan dalam kelas berubah menjadi hening seketika. Regina tidak dapat melakukan apa pun untuk mencegah Noah pindah tempat duduk.


“Katamu kau akan mencari ide lain. Tapi sekarang kau nyatanya menggunakan ideku sebagai senjata menghindari Regina” bisik Bell mendekat ke telinga Noah.


“Dengan sangat terpaksa”


“perhatikan mata pelajarannya cerewet,” potong Noah memberi kode kalau mereka tengah di perhatikan sang Guru.


Tak terasa jam pulang sekolah tiba dan Noah, tidak ingin hal yang sama terulang kembali jadi dia dan Bell lebih memilih berjalan kaki dari pada naik bus.


“Kita menyewa sepeda. Harus” tiba-tiba Bell mengatakan itu lalu berlari masuk ke tempat penyewaan sepeda.


“Kita bisa naik Taxi, hey,” Noah ikut berlari.


“Aku ingin membuktikan padamu, kalau apa yang aku lihat tadi bukan halusinasi” jawab Bell setelah berhasil menyewa sepeda sambil menuntun sepedanya.


“Masih membahas yang itu. Ayolah...,” keluh Noah merasa usaha Bell akan sia-sia.


“Kalau kau mau pulang, tidak masalah, bye!” sambung Bell naik sepeda, lalu mengayuh sepeda sekencang mungkin.


“Anak keras kepala!” pekik Noah yang terpaksa mengikuti Bell kemanapun Gadis itu pergi.


Dua jam kemudian, akhirnya mereka tiba di sebuah tebing. Bell berjalan mendekat ke arah tebing curam yang sama sekali tanpa pembatas karena rusak.


“Jangan bodoh Bell!! Bagaimana kalau kau terperosok jatuh ke jurang?! Gunakan akal sehatmu” maki Noah menarik Bell ke arahnya lalu mengguncang tubuh mungil Bell.


“Tempat ini sama seperti apa yang kulihat di dalam bus tadi. Aku bersumpah berkata yang sebenarnya Noel. Aku tidak pernah kesini kan? Tapi aku tahu betul tempat ini” sahut Bell ingin meyakinkan Noel.

__ADS_1


“Ini aneh. Kalaupun kau, berhasil menunjukkan tempat ini, bisa jadi..., lokasinya kebetulan mirip saja dengan lokasi yang ada dalam halusinasimu” Noah masih berusaha menggunakan logika.


“Masih belum mau mempercayaiku?”


“Aku selalu mempercayaimu tapi tidak dengan yang satu ini. Ayo kita pulang” Noah menggenggam pergelangan tangan Bell berusaha membimbing Bell menjauh dari tepian tebing. Langkah mereka terhenti ketika mereka mendengar suara bergemuruh. Noah dan Bell saling menatap memastikan bahwa mereka sama-sama mendengar suara tersebut.


Suara decitan kendaraan, suara teriak belasan orang kini memekakan telinga. Sampai-sampai Noah dan Bell menutup telinga dengan kedua tangan mereka masing-masing. Gelisah, waspada dan takut itulah yang jelas tergambar di raut wajah mereka. Ada banyak suara, tapi tak ada satu pun kendaraan terlihat. Yang mereka temukan hanya deretan pohon dan tak ada siapa pun selain mereka.


“Ayo pergi. Kita bisa benar-benar gila kalau terus disini” Noah menggeret lengan Bell.


“Tunggu. Mungkin ada petunjuk kenapa kita berdua mengalami hal ini sekarang”


“Apa lagi yang bisa kita temukan ditempat ini? Tidak ada. Dengar Bell, apa yang kita alami saat ini adalah halusinasi. Kau harus meyakini bahwa ini adalah halusinasi jika tidak ingin gila”


Ckiiiiiiiiiit.........


Saat muda mudi ini sibuk berdebat, keduanya mendengar suara decitan kendaraan sangat dekat dengan mereka. Noah dan Bell menoleh, mata mereka menemukan ada sebuah bus selip, yang terseret dalam keadaan sudah oleng.


Kyaaaaaaa!!


Noah dan Bell berteriak memejamkan mata. Anehnya, tidak ada sedikitpun rasa sakit di tubuh mereka. Perlahan Bell dan Noah membuka mata, ekspresi mereka terkejut mendapati ternyata tubuh mereka tidak menghadap ke arah pepohonan lagi tapi kearah tebing. Di tepi tebing itu, mereka melihat Eros mengepakkan sayapnya menangkap seorang Gadis yang terjatuh dari tebing.


“Apa kau melihat manusia bersayap tadi?” tanya Noah tak yakin pada penglihatannya.


“Itu kau. Ketika kau dewasa”


“Kau tidak melihat sayapnya? Mana mungkin itu aku?!” elak Noah merasa hari ini terasa semakin aneh.


“Tapi wajahnya sangat mirip denganku,” gumam Noah kecil.


“Lalu siapa yang diselamatkannya tadi? Aku tidak mengenali Gadis itu tapi entah kenapa..., aku merasa sangat dekat dengannya” tambah Bell sendu.


Noah tidak ingin membuang-buang waktu lagi sebelum makin banyak hal tak masuk akal, bermunculan di hadapannya dan Bell. Ia hanya berpikir ingin melindungi Bell. Otaknya memerintahkan Noah membimbing Bell naik sepeda.


“Dengar. Sudah cukup Bell, kita harus segera pulang sebelum hari semakin gelap. Tolong dengarkan aku” bujuk Noah sambil menaiki sepeda sewaannya sendiri. Bell akhirnya menuruti permintaan Noah menyusuri setiap jalanan lengang, panjang, di apit oleh hutan.


Setibanya di kota, tak berapa lama kemudian mereka tiba juga di depan halaman rumah mereka, Noah memutuskan untuk mengantar Bell sampai depan pintu rumah.


“Kalian kemana saja? Dan kau Noah, jelaskan kenapa sampai matahari terbenam kalian baru sampai dirumah?” sambut Ibu Bell, Ester.


“Ini salahku Mom, aku bosan jadi..., kami menyewa sepeda dan berkeliling di sekitar sekolah. Maaf,” potong Bell merasa bersalah dengan Noah.


“Iya Bibi, benar apa kata Bell. Maaf sudah menyebabkan Bibi dan Paman khawatir”


“Bukan hanya kami. Mommu juga menunggumu dengan gelisah dirumah. Cepat temui kedua orang tuamu, dan sampaikan permintaan maaf dari Bibi karena membiarkan Bell menculikmu” kata Ester sambil menjewer gemas Putrinya. Spontan Noah terkekeh. Siapa yang akan percaya Gadis semanis Bell dapat dengan mudah menculik Noah?


Noah berpamitan sambil menuntun sepeda sewaannya menuju teras rumah.


“Noah, apa kau pulang bersama Bell?!” teriak sang Ayah tergopoh-gopoh mendekati Putranya.

__ADS_1


“Ya Dad, Bell sempat ingin bermain sepeda lalu kami menyewa sepeda ssmpai lupa waktu. Maaf,” sambut Noah memohon dengan sangat.


__ADS_2