
“Siapa kau berani-beraninya menyumpahi kami untuk berpisah?” tegas Noah mulai terusik dengan kedatangan si tamu tak diundang.
“Anggap saja aku yang melukis kisah kalian”
“Kau menyamakan dirimu dengan Tuhan? Pergi!! Aku tidak punya banyak tenaga meladeni Pria gila sepertimu” kekeh Noah prihatin.
“Namamu Noah Louis. Nama Dadmu...,William dan Mommu Raina. Nama Gadis yang tertidur disampingmu adalah Aislin Belle Wilunark. Untuk mengenang Grandma nya Aislin Bell Wilunark. Nama Momnya Ester dan Dadnya Daniel. Sampai disini apa aku salah?” pertanyaan Dewa Gazleil yang menyamar menjadi manusia itu membuat Noah langsung mencengkeram kerah bajunya.
“Kenapa kau, memata-matai kami?! Apa motifmu mendekatiku?!” Noah menggeram tak suka. Sangat tidak menyukai Pria asing dihadapannya itu.
“Aku selalu tahu apa yang kalian semua alami karena akulah yang telah melukisnya dengan indah”
“Indah?! Sejak kapan perpisahan itu indah? Pergi dan jangan menampakkan batang hidungmu lagi!!” maki Noah sambil mendorong sang Dewa hingga terdorong ke belakang sejauh 10 jengkal.
“Kenapa? Kau terkejut dengan kekuatanmu sendiri?” kekeh si Dewa sesantai di pantai.
“Kenapa...” kalimat Noah tertahan merasakan sebuah tangan menepuk bahunya.
“Kau ini apa? Kenapa tiba-tiba bisa jadi sedekat ini?” pekik Noah mulai semakin ketakutan.
“Kau takut? Lebih takut mana? Bertemu denganku, atau berpisah dengan Bell?” tanya Pria tak dikenal tersebut, dengan seringai penuh ancaman.
“Perpisahan...apa kau berpikir aku akan membunuhnya? Menculiknya?”
“Katakan saja apa maumu” desis Noah tak kehilangan kegarangannya dalam menghadapi sang Dewa.
“Tidak ada, aku tidak menginginkan apa pun, karena segalanya sudah sempurna. Bukankah baru saja aku mengatakan bahwa akulah, yang melukis?”
“Tujuanku datang padamu karena aku hanya ingin memperingatkanmu. Bahwa kalian akan segera berpisah”
“Tidak, jika aku bilang tidak, akan, pernah...” Noah kembali menunjukkan penolakannya.
“Bukankah manusia punya waktu terbatas? Tentu saja kalian akan terpisahkan. Cepat...atau lambat”
“Bukan kuasaku untuk mengubah hidupku dan hidupnya menjadi abadi. Kami tidak akan bisa berbuat apa pun untuk mendapatkan keabadian itu”
“Aku bisa mengabulkannya. Aku tinggal berkata jadilah!! Maka apa pun yang aku katakan akan terwujud. Jika kau bisa membujuk Bell untuk menemuiku bersamamu dengan tujuan hidup abadi, maka temuilah aku” sahut si Dewa tersebut, berbalik arah, lalu berjalan meninggalkan Noah yang hanya diam mematung.
Kalau Eros sudah mengingat siapa jati dirinya, habislah aku kekeh Dewa Gazleil dalam batinnya.
“Dia hanya orang gila. Tidak. Aku tidak perlu menanggapinya serius. Jangan ikut menjadi gila Noah....!!” pekik Noah mencoba tidak terlalu memikirkan omong kosong seorang yang hilang akal.
Bresssssssss
Hah
Hah
Aaaargh!!
Noah terbangun dari mimpinya.
Hah, jadi tadi itu mimpi? Terasa begitu nyata. Sangat nyata. Batin Noah yang masih gelagapan karena guyuran air hujan yang datang tiba-tiba. Noah menoleh ke arah Bell yang masih asyik bermimpi.
“Kau, masih bisa tidur dalam situasi seperti ini di atas lenganku? Ck. Kau manusia atau Koala? Dasar tukang tidur” kekeh Noah sambil menoleh ke arah Bell. Dengan sangat hati-hati Noah mengangkat tubuh mungil itu, memasuki tenda yang telah dihuni Ayah dan Ibu Bell.
Noah tak ingin mengganggu tidur mereka tapi itu tidak akan mungkin terjadi karena satu gerakan tirai di tenda tersebut saja, mampu membangunkan Ayah dan Ibu Bell.
“Bell, kenapa?” bisik sang Ibu Bell pada Noah. Pria itu hanya memberi kode, agar mereka tidak banyak membuat suara terlebih dahulu.
__ADS_1
“Dia tadi keluar, mengeluh tidak bisa tidur. Jadi kami mengobrol diluar sampai Bell tertidur” bisik Noah setelah berhasil membaringkan Bell di pojokkan tenda. Sang Ibu mengangguk memahami situasi lalu mengizinkan Noah kembali ke tendanya sendiri.
“Ada hal menarik diluar? Honey?” Noah terkejut mendengar Ibunya ternyata tidak tidur. Sang Ibu duduk bersila, menggenggam ponselnya, sambil menatap penuh selidik ke arah Noah.
“Mom...tidak tidur?”
“Apa Mom bisa tidur, mengetahui Putranya diam-diam kelayapan diluar?”
“Aku hanya keluar dari tenda Mom, dan tidak keluyuran kemanapun oke, aku hanya duduk di depan. Hanya itu” tegas Noah membela diri.
“Hanya itu? Yakin?” sang Ibu melotot tak percaya pada Putra semata wayangnya.
“Kau dengar itu Dad? Betapa payahnya Putramu. Ya Tuhaaaan,” pekik sang Ibu. Spontan sang Ayah yang sedari tadi pura-pura tidur membuka mata dan duduk dengan mimik bersungut-sungut.
“Ayolah, kau tidak bertemu atau berbicara dengan seseorang?” sambung sang Ayah menelisik apa Putranya sedang menyembunyikan sesuatu atau tidak.
“Tidak sengaja berpapasan dengan Bell” jawab Noah sambil merebahkan diri berusaha mengabaikan percakapan tidak penting baginya ini.
“Lalu, apa kalian berbicara hal serius?” si Ayah menepuk-nepuk pipi Putranya agar Noah kembali membuka kedua matanya.
“Tidak ada yang perlu ditakutkan. Ini hanya soal mimpi buruk Bell” Noah mengerang kesal karena usahanya tidur malah di usik Ayahnya sendiri.
“Kalau soal mimpi Bell, Mom tahu kau bisa menenangkannya. Maksud Mom dan Dad, kalian tadi membicarakan hal serius lainnya tidak?” kata sang Ibu mulai kesal. Putranya sudah tumbuh dewasa apa lagi, dia dikelilingi teman Gadis yang cantik-cantik. Bagaimana bisa Pria muda tampan seperti Putranya, masih betah sendiri? Bukankah itu ketidak mungkinan yang hakiki?
“Apa ada hal serius lainnya yang Mom ingin dengarkan dariku?”
“Kau benar-benar tidak tertarik dengan Bell?” pertanyaan sang Ibu membuat Noah tidak jadi mengantuk.
“Minimal, teman sekolahmu? Teman lesmu?”
Jadi Mom hanya ingin tahu apakah aku sedang jatuh cinta atau tidak? Haaah syukurlah. Mom tidak menebak aku menaruh hati pada Bell. Kata hati Noah sangat lega.
“Mereka...cantik,”
“Mereka semua terlihat sempurna”
“Kau tertarik dengan salah satu dari mereka?”
“Tidak”
“Jantungmu. Minimal jantungmu berdetak keras saat tidak sengaja selalu berjumpa dengan seseorang di suatu tempat,” sang Ibu mencoba memancing.
“Tidak. Aku tidak pernah merasakan itu” sahut Noah menghela nafas kuat-kuat
Memang. Kenyataannya, jantung ini tidak pernah berdetak kencang. Selama Bell tidak berada di hadapanku. Lagi-lagi Noah membatin.
“Kau benar tidak tertarik dengan siapa pun?” tanya Ayah Noah di jawab anggukan enggan dari Noah.
“Termasuk Bell?”
“Ya. Apa kalian puas? Aku ingin tidur sekarang” jawab Noah asal-asalan.
“Bagus. Kalau begitu keputusan kita mengirimnya untuk kuliah sekaligus bekerja di Jerman” kata sang Ayah pada Ibu Noah.
“Apa?! Kalian memutuskan masa depanku tanpa bertanya padaku terlebih dahulu?!” geram Noah tak terima.
“Justru Mom dan Dad baru saja ingin mengatakannya padamu” kekeh sang Ayah sambil menggaruk kepalanya merasa bersalah.
Tapi suatu saat kau dan Bell akan berpisah. Cepat atau lambat Noah tiba-tiba teringat ucapan dari Pria dalam mimpinya. Tidak...dia tidak bermimpi. Si Dewalah yang membuatnya seolah sedang bermimpi.
__ADS_1
“Aku tidak akan kemanapun”
“Kau harus meneruskan perusahaan Dad disana cepat atau lambat. Jadi kau tidak boleh menolak”
“Aku tidak ingin pergi”
“Tidak ingin pergi? Tidak ada Gadis yang kau inginkan di sini bukan? Lalu ada alasan lain?”
“Bell. Aku tidak tahu kenapa aku merasa, tidak ingin pergi karena ada Bell disini. Yang aku tahu, aku tidak bisa meninggalkannya”
“Kenapa kau tidak bisa meninggalkannya? Bukankah menurutmu kalian hanya sekedar teman?” sang Ibu ikut mendukung Ayah Noah.
“Memang teman tidak boleh berharap bisa selalu bersama?”
“Suatu hari kau dan Bell akan memiliki kehidupan masing-masing. Kepentingan sendiri-sendiri. Bahkan kebutuhan yang berbeda-beda”
“Kami pasti bisa mengatasinya bersama” jawab Noah berkobar-kobar.
“Tapi kalian tidak akan dapat bersama setiap saat Nak, karena suatu hari nanti Bell akan menikah. Memiliki anak, dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama Suaminya dari pada bersama sahabatnya” ucapan sang Ibu membuat Noah kian memucat.
Deg....
Entah kenapa ucapan sang Ibu seolah sedang menamparnya telak. Ya, Bell akan menikah suatu saat nanti. Jika Noah masih berkutat dengan zona persahabatannya, suatu saat nanti Bell akan benar-benar direnggut darinya.
“Aku akan pergi jika hari itu tiba”
“Noah, kau tahu kapan waktunya tiba? Jangan kekanak-kanakan. Setelah kau lulus dari Sekolah Tinggi, kau harus melanjutkan ke Universitas yang Dad tentukan sekaligus bekerja di perusahaan Dad” sang Ayah mulai bersikeras.
“Ini masa depanku biarkan Noah yang menentukan masa depan Noah sendiri” tentang Noah bersungut-sungut.
“Kau!!” teriak sang Ayah tapi si Ibu menahan Suaminya, agar tidak melanjutkan pembicaraan. Ketiganya memilih untuk tidur.
Pagi mulai menjelang keributan telah dimulai. Orang tua Noah kebingungan tidak melihat Noah dimanapun.
“Noah menghilang? Tapi kenapa?” Bell ikut kebingungan.
“Semalam kami bertiga sempat bertengkar. Noah tidak setuju melanjutkan pendidikan ke Universitas sekaligus, bekerja menggantikan Dadnya di Jerman” penjelasan Ibu Noah membuat Bell merasa lemas seketika.
“Bell!! Mau kemana?! Kau harus bersiap ke sekolah!!” seru Ester melihat Bell berbalik arah dan berlari menjauhi halaman rumah.
“Maaf Mom!! Aku harus menemukan Noah!!” teriak Bell tanpa menoleh. Ia berlari dan berlari tanpa tentu arah. Dia tidak tahu harus mencari sahabatnya Noah kemana.
“Memang kau tahu kemana Noah pergi?” suara seseorang yang sangat asing bagi Bell membuat Gadis itu berhenti berlari dan menoleh. Memperhatikan pemilik suara Bariton tersebut. Rambut ikalnya sepanjang telinga, jaket kulit coklat muda yang mulai luntur, celana jeans yang memiliki lubang ventilasi cukup banyak, membuat penampilan Pria itu terkesan orang yang hidup bebas.
Kenapa dia mengenal Noah? Dari penampilannya..., tidak mungkin Noah mengenal orang seperti itu. Batin Bell memperhatikan si Pria asing dari ujung Rambut hingga ujung kaki.
“Apa Anda tahu dimana Noah berada sekarang?”
“Tidak”
“Kalau begitu saya permisi” pamit Bell akan melanjutkan perjalanannya tanpa arah.
“Tapi kau tahu dimana dia berada” ucap Pria aneh tersebut sebelum Bell benar-benar berlari meninggalkan tempat itu.
“Omong kosong macam apa ini Uncle? Kalau saya tahu dimana Noah berada, saya tidak akan sepanik ini mencarinya”
protes Bell kesal.
“Hatimu bisa mengetahui keberadaannya. Maka gunakan hatimu untuk mencarinya. Bukan dengan ini” jawab si Paman asing, sambil mengetuk-ngetuk keningnya, dengan jari telunjuknya.
__ADS_1
Deg!
Ya, Paman itu benar. Aku bisa menemukannya karena kami terikat dengan benang berwarna keemasan ini. Batin Bell menyadari petunjuk yang terabaikan olehnya. Sambil melihat jemarinya yang masih terikat dengan benang emas.