Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 5


__ADS_3

Aislin Bell Wilunark menatap lekat wajahnya ke arah cermin. Bahkan kini wajahnya terlihat seperti bukan dirinya lagi. Rambut palsu pink susu, di tambah kostum untuk pemotretan kali ini sukses membuat Aislin merasa asing pada diri sendiri.


“Silakan ikuti saya kembali” senyum Rebeca menyambut Aislin yang telah siap dari ujung rambut hingga ke ujung kakinya. Mereka berjalan menyusuri koridor demi koridor dan berakhir memasuki sebuah ruangan yang luas.


“Nona Aislin,” sapa seorang Aktor tampan, dengan senyuman mempesona sejak lahir itu. Aislin yang mulai gugup karena baru pertama kali harus bekerja sama dengan seorang Aktor sampai gemetaran tangannya, ketika membalas jabatan tangan Richard Louis.


“Apa...aku terlalu menakutkan untukmu?” tanya Richard Louis mengernyit begitu menyadari telapak tangan Aislin yang terasa dingin, gemetaran pula.


“Tidak. Saya hanya gugup, ini pertama kalinya bekerja sama dengan Aktor kawakan seperti Anda” kekeh Aislin salah tingkah.


“Oh, aku paham. Tapi bisakah selama kita bekerja sama kau tidak perlu bicara seformal ini denganku? Anggap saja aku seperti manusia normal lainnya yang pernah kau jumpai,” keluh Richard sambil menggaruk keningnya yang tak gatal.


“Ya,” jawab Aislin singkat belum juga menanggalkan rasa gugupnya.


“Wah, kalian sudah terlihat akrab ya, bagus. Ini akan terlihat natural” kekeh sang fotografer tersenyum riang.


“Bisa kita mulai saja sekarang?” tawar sang fotografer meminta persetujuan keduanya. Aislin dan Richard hanya tersenyum membalas ajakan sang fotografer sambil mengikuti kemana langkahnya menuju.


Mereka berpose ria sambil salah satu dari keduanya membawa produk kosmetik Dandelio. Seperti pose dimana Aislin tampak berada di depan meja rias, sedang menepukkan spons bedak ke pipinya sementara di balik cermin, nampak Richard memperhatikan Aislin di atas tempat tidur. Richard melipat kedua tangannya di atas perut, sambil menatap kecantikan Aislin dari balik cermin.


Gambar kedua, adegan dimana Richard selesai membersihkan wajahnya dengan pembersih muka Dandelio untuk Pria. Begitu ia membuka pintu kamar mandi, Aislin menyambutnya dengan cubitan gemas pada kedua pipinya bahkan mereka tersenyum sambil menempelkan dahi mereka satu sama lain.


“Oke, sesi pemotretan selesai. Siapkan diri kalian besok. Semoga iklan TV besok akan jauh lebih bagus dari ini” kata sang fotografer menyudahi disambut tepuk tangan riuh dari para kru.


“Kau menyembunyikan bakatmu dengan sangat rapi Nona Aislin. Senang bekerja sama denganmu” puji Richard sambil menepuk bahu Gadis itu.


“Ini karena kau yang memberiku banyak arahan. Terima kasih atas arahannya itu sangat membantu” jawab Aislin tersenyum malu-malu.


“Edward Jorgie, lama tidak berjumpa” begitu nama itu disebut Richard Louis, Aislin langsung menoleh ke arah Eros.


“Semenjak kita tak sering bertemu kariermu, semakin bersinar saja bung,” puji Edward Jorgie sambil menepuk punggung Richard Louis yang memeluknya erat.


“Kau menemukannya dimana?” bisik Richard Louis di telinga Edward sambil memberi kode yang dimaksud adalah Aislin.


“Itu sangat rahasia bahkan kau tak akan bisa menebak dengan mudah” jawab Edward sambil mengerlingkan mata ke arah Aislin yang mulai penasaran dengan apa isi pembicaraan rahasia kedua Pria dihadapannya itu.


“Maaf. Kami masih ada jadwal berikutnya yang menunggu dan kau, pasti juga punya segudang jadwal tertunda hanya karena kita mengobrol seperti ini bukan?” kata Edward melepaskan pelukannya.


“Ya ya ya,...aku mengerti maksud terselubungmu” kekeh Richard pada Edward sambil memberi salam perpisahan pada Aislin.


“Kau harus mengundang kami makan malam di lain waktu ya, luangkan waktumu barang sedikit saja” sahut Edward meraih pinggul Aislin agar mendekat kearahnya sebelum Richard Louis pergi meninggalkan mereka berdua.


“Gantilah pakaianmu. Sekarang” tegas Eros tanpa menatap Aislin sama sekali. Gadis itu segera berjalan, mematuhi Eros kearah ruang ganti.


Perjalanan menuju 4Shoul Plaza terasa sangatlah lama berhubung Eros tak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya sibuk mengemudi, memperhatikan jalanan tak memperdulikan Gadis disampingnya.


Apa suasana hatinya sedang buruk? Dia teralu pendiam sekarang.


Apa aku melakukan kesalahan? Atau dia hanya kelelahan? Dewa macam apa punya rasa lelah?!


“keluar” kata Eros setelah menghentikan mobilnya.


Restoran? Bukankah kita mau ke 4Shoul Plaza? Kalau sekedar makan kita bisa makan saja disana kenapa harus ke Restoran ini? Pikir Aislin.


“Mau sampai kapan kau di dalam? Waktu kita terbatas” protes Eros membukakan pintu mobil untuk Aislin.


Gadis itu mengikuti kemana Eros melangkah tanpa protes sampai mereka menentukan lokasi tempat mereka duduk. Aislin membiarkan Eros memesankan menu makanan dan minuman untuknya berhubung Pria itu hafal betul seleranya. Setelah pelayan meninggalkan mereka, Aislin mulai menyadari satu hal.


Selama ia...hidup, belum pernah melihat warna benang takdir, seperti yang dimiliki Richard Louis. Sebenarnya apa makna dari warna benang takdir Aktor tersebut?


“Kau mulai memikirkan sesuatu yang terlewatkan olehmu?” tanya Eros sambil menunggu pesanannya dihidangkan di atas meja.


“Aku melihat warna tak biasa Eros. Kau tahu apa arti dari benang milik Richard Louis?”


“Warna apa yang kau lihat sebenarnya?” tanya Eros, berpura-pura tidak memperhatikan.


“Kau tidak melihat benang takdir itu?!”

__ADS_1


“Kecilkan suaramu. Kau, menarik perhatian banyak orang. Ingat kau, sedang menyamar” bisik Eros menarik tangan Gadis itu ke arahnya agar kepala Gadis tersebut mengarah padanya.


“Aku buta warna. Ada warna tertentu yang tidak bisa kulihat dengan jelas” terang Eros, mulai merancang kebohongan lainnya.


“Kau pikir aku bodoh? Seorang Desainer buta warna? Itu tidak mungkin”


“Terserah. Tapi memang aku tidak bisa melihat warna tertentu. Kau, melihat warna apa Aislin?”


“Biru”


“Biru? Kau yakin?”


“Ya”


“Hanya satu warna yang tidak bisa kulihat. Biru...tua?”


“Kau buta warna biru?”


“Biru tua. Selain itu aku masih bisa melihat jelas”


“Lalu apa arti biru tua?”


“Lebih baik kau tidak usah tahu” jawab Eros, seraya menerima pesanannya dan bersiap makan.


“Aku harus tahu Eros. Kau bilang aku harus terbiasa dengan benang-benang takdir. Biarkan aku memahami apa artinya itu” tegas Aislin merebut sendok makan di tangan Eros.


“Dia kehilangan haknya atas jodohnya di dunia” jawab Eros enteng merebut kembali sendoknya.


“Katakan lebih jelas”


“Apa lagi? Dia tidak akan menikah seumur hidupnya”


“Kenapa bisa seperti itu?”


“Sudah ku katakan. Dia telah kehilangan haknya atas jodohnya di dunia”


“Kenapa bisa sampai seperti itu? Memang apa yang terjadi pada jodohnya?”


“......” Aislin hanya terdiam sejenak, memainkan garpu dan sendok ke makanan yang ada di hadapannya.


“Kau tidak lapar?” pertanyaan Eros tak digubris Aislin karena terus terang dia sangat penasaran setengah mati.


“Kau akan kelaparan jika tidak makan sekarang. Tidak akan ada kesempatan untuk makan setelah kita sampai 4Shoul Plaza”


“Aku tidak nafsu makan. Berikan kunci mobilmu”


“Untuk apa?”


“Aku akan menunggumu di dalam mobil. Bersantailah makan oke,”


“Ayo berangkat” potong Eros, menyelipkan dua lembar uang di dalam daftar menu, lalu menggandeng Gadis tersebut menuju mobil. Di dalam mobil Aislin memilih mendengarkan musik sambil menatap jendela, sekaligus memunggungi Eros. Tiba-tiba suasana hening tentu saja Eros sengaja mematikannya.


“Kenapa benang perjodohan Richard Louis sangat mempengaruhi suasana hatimu?”


“Bahkan Richard memiliki benang di jarinya sementara aku, tidak pernah bisa melihat, di jariku sendiri” gumam Aislin lirih.


“Kau memilikinya”


“Kalau aku punya, kenapa aku tidak bisa melihat?” tanya Aislin masih memperhatikan jalanan.


“Karena hubunganmu tidak dengan manusia di bumi ini. Kau, adalah milikku jadi tentu saja kau memiliki benang khusus yang tidak akan bisa dilihat manusia” jawab Eros melirik ke jari Aislin. Ada rasa khawatir dalam suara Eros ketika melihat benang berwarna emas di jari Aislin mulai terlihat sedikit memudar.


“Kau pasti tahu siapa yang mencuri jodoh Richard. Karena kau, Eros atau kau mau aku memanggilmu Cupid?” kali ini Aislin berbalik, menghadap Eros penuh selidik.


“Memang kalau aku bilang tahu, kau akan melabrak orang itu? Begitu?”


“Jangan alihkan pembicaraan kita. Apa sulitnya memberi tahuku?” rengek Aislin penasaran.

__ADS_1


“Meskipun kau tahu, siapa orangnya, tidak akan bisa mengubah ketentuan yang telah berlaku”


“Aku tahu. Kau terlalu mematuhi ketentuan meski ketentuan itu terdengar tidak adil” gerutu Aislin.


“Besok kau tidak perlu mengikuti Shooting iklan.”


“Kenapa? Kau sendiri yang bilang akan ada penaltinya bukan?”


“Akan kuurus itu”


“Demi apa?! Ini kesempatanku untuk benar-benar diterima publik. Aku bisa membuktikan kemampuanku bukan hanya mengandalkan bantuanmu”


“Bisa kau lakukan dilain kesempatan. Asalkan bukan dengan Richard Louis”


“Richard Louis? Kau...takut aku bersinggungan dengannya? Berada di sekitarnya? Tapi kenapa?!” protes Aislin tidak terima dipisahkan dengan cepat oleh Idolanya.


“Karena aku tidak suka. Titik”


“Tidak suka. Aneh, ku lihat kau sangat dekat dengannya tadi. Jadi kenapa kau tidak suka? Sangat tidak masuk akal kalau kau, sedang cemburu sekarang. Ayolah...,kau Eros! Dewa cinta yang fenomenal tidak akan mungkin takut kehilangan Psikhe”


“Jangan membantah. Aku tidak tahu kau akan di pasangkan dengannya. Karena perjanjian awal kau dengan Karshein Slum. Tapi mendadak Karshein mengalami kecelakaan” geram Eros mempercepat laju mobilnya.


“Dia Idolaku sejak umurku 17 tahun Eros. Ini tidak adil bagiku”


“Gantilah menyukai Idola lain”


“Aku akan tetap mengikuti Shooting iklan. Titik” kata Aislin bersi keras. Tiba-tiba Eros menepikan mobil, dan berhenti begitu saja.


“Apa yang tidak kuberikan padamu selama ini? Semua yang kau mau, kau impikan, sudah kuberikan. Tapi tidak dengan Richard Louis. Hanya satu yang tidak bisa ku kabulkan. Dan kau marah hanya karena itu?” kata Eros sangat tegas matanya pun, menegaskan bahwa kali ini Aislin sangat keterlaluan terhadapnya.


“Laranganmu terasa aneh, tidak masuk akal Eros.” Kali ini Aislin memilih diam setelah mengatakannya.


Keduanya kini melangkahkan kaki ke dalam 4Shoul Plaza. Aislin hanya tersenyum hambar begitu bertemu kembali dengan Olivia dan Carmen rasanya kali ini ia enggan tersenyum pada siapa pun tapi pekerjaannya menuntut senyum selalu menghiasi wajah cantiknya.


“Ku dengar hari ini kau melakukan pemotretan untuk iklan out door dan in door? Bersama Aktor, pemeran utama film horor Don’t Forget To Sleep? Ya Tuhan..., bagaimana wajah asli Richard Louis? Apa setampan di film?” tanya Olivia yang sangat tertarik menggosipkan Aktor tersebut.


“Kurasa lebih tampan dari itu. Dia sangat ramah, dan mau berbagi ilmu dengan orang lain. Benar-benar pengalaman luar biasa bisa berada di sekitarnya bahkan bekerja bersamanya itu..., terasa bagai mimpi di siang bolong” kekeh Aislin menceritakan pengalamannya bertemu Richard Louis.


“Wah, artinya besok kau akan bertemu dengannya lagi. Kau sangat beruntung Aislin, besok akan ada shooting untuk iklan TV kan?! Aku tidak sabar melihat kalian berdua beraksi” pekik Carmen menambahi sambil berjalan membimbing Aislin menuju ruang make up sekaligus ruang ganti.


“Kurasa itu tidak akan bisa. Edward sudah membatalkannya secara sepihak tanpa persetujuan dariku” gumam Aislin kesal.


“Alasannya?”


“Dia tidak suka. Itu alasan paling konyol yang pernah ku dengar.” Geram Aislin seolah mengadu.


“Ternyata Edward punya sisi pencemburu?” kekeh Olivia yang bahkan sulit rasanya membayangkan seorang Edward Jorgie versi pencemburu.


“Kau melihat, bagaimana wajahnya yang sedang cemburu itu?” goda Carmen sambil beraksi menghapus make up Aislin.


“Ya ampun. Kalian pikir itu cemburu? Tidak mungkin pasti ada alasan sendiri” kekeh Aislin memutar kedua bola matanya serempak.


“Kenapa? Edward itu, manusia juga sama seperti kita. Tentu saja wajar, jika dia cemburu ketika melihat kau akrab dengan Richard Louis. Kau tidak melihat TV? Richard Louis di nobatkan menjadi Aktor paling diminati kaum Wanita di Negara ini” goda Olivia.


Sayangnya dia bukan manusia Olivia...geram Aislin dalam batin mencoba menahan emosi ketika mengingat larangan tak masuk akal yang dicetuskan Eros secara tiba-tiba.


“Wah, sayang sekali kalau kesempatan sebagus itu terlewatkan begitu saja. Akan ada banyak Aktris, Model bahkan ribuan Gadis yang mau menggantikan posisimu itu” gumam Carmen cemberut seketika.


“Kalian mau membantuku? Agar kesempatanku tidak ada yang mengambil alih?”


“Apa? Bagaimana bisa kami yang tidak ada hubungannya dengan mereka bisa membantumu?” kata Olivia setelah sempat beradu pandang dengan Carmen.


“Tentu saja bisa. Karena kalian ada hubungannya dengan Edward secara langsung. Besok tolong cari cara, kalian sita, waktu Edward dengan berbagai macam masalah apa pun itu, hingga aku bisa terlepas dari pengawasannya. Bagaimana? Apa kalian sanggup?” tanya Aislin mencari sekutu, secara diam-diam. Tanpa mereka sadari, Eros sedang mendengarkan pembicaraan mereka sejak awal, di balik pintu ruang ganti.


*Jika kau tahu kebenarannya, hubungan kita akan berakhir. Kau akan mencoba kembali pada Richard Louis jodohmu yang sesungguhnya di dunia ini. Tidak! Setelah sekian lama aku menantikan bertemu kembali dengan Psikhe ku, bagaimana mungkin aku merelakannya dengan Pria lain?! Jangan sampai benang emas itu berubah.


Tidak akan ku izinkan kau kembali padanya Aislin. Kau, Psikhe dan akan selamanya menjadi milikku*. Geram hati Eros mengeratkan kepalan kedua tangannya lalu pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


Kali ini Aislin nampak seperti peri salju. Gaun yang dikenakannya serba putih, rambutnya pun di cat berwarna putih. Sarung tangan sepanjang siku itu membalut manis kedua tangannya. Sebuah bunga terselip di antara rambutnya, berdekatan dengan telinganya menambah kecantikan seorang Aislin Bell Wilunark.


Untuk saat ini aku mengalah Eros, tapi aku tidak akan berdiam diri melihat impianku kau renggut dariku. Kita lihat saja, siapa yang akan menang, batin Aislin sambil berjalan anggun bersama para model lainnya, mempersiapkan diri di balik panggung.


__ADS_2