
Bell terus menatap tak nyaman pada orang-orang yang berlalu lalang di sekitarnya. Noah menyadari hal itu belum lama. Anggota tubuhnya refleks, menutup kedua mata Gadis belia di sampingnya.
“Hey!! Apa yang kau lakukan?!”
“Diam dan dengarkan saja oke,” sahut Noah tersenyum kecil.
“Yakinkan dirimu sendiri apa yang kau lihat merupakan hal indah. Ya, hal indah, dan sangat memukau. Coba bayangkan semua warna benang yang kau lihat. Tidakkah kau bisa merasakan keindahannya? Seperti warna pelangi di langit setelah hujan menyapa bumi” Noah berusaha membuat Bell berdamai dengan suratan takdir.
“Apa kau sudah membayangkannya?”
“Ya”
“Bagaimana suasana hatimu ketika melihat pelangi di depanmu?”
“takjub”
“Kau sangat terpukau dengan pelangi itu?”
“Ya,”
“Kenapa?”
“Karena In....dah....” Bell tercekat menyadari Noah talah melepaskan tangan dari kedua mata lentiknya. Bell kini telah melihat objek yang sama, dengan sudut pandang berbeda karena sugesti yang diberikan Noah. Ya, bibir mungil namun berisi itu melengkung begitu indah dimata Noah.
Cantik....hey, ada apa denganku? Kenapa tiba-tiba aku memandangnya dengan sudut pandang berbeda? Tidak Noah, dia sahabatmu!! Kalian memakai popok bersama, bermain bersama, pokoknya dulu segalanya kalian lakukan bersama!! Noah merasakan kejanggalan pada dirinya sendiri.
“Kau benar....”
“Apa? Aku benar soal apa?” lamunan Noah terpecah begitu mendengar suara Bell.
Kenapa lagi denganku? Aku mendengar suara yang sama tapi kenapa sensasinya berbeda? Apa karena aku sudah...17 tahun? Bahkan kini Noah menyalahkan usianya yang tak berdosa.
“Hello...., Noah, apa kau masih bersamaku?!” panggil Bell sambil menjentikkan jari beberapa kali di telinga Pria muda itu.
“Hentikan, itu mengusikku”
“Kau yang sedari tadi hidup dalam lamunanmu saja. Memangnya aku sedang berbicara pada patung?” protes Bell mengerucutkan bibirnya.
“Memang apa yang kau katakan tadi huh?” tanya Noah. Matanya menangkap sebuah bus sedang berjalan menuju ke halte tempat mereka duduk.
“Terima kasih. Ku rasa aku mulai menyukai semua ini” jawab Bell cerah.
“Bus kita sudah dekat ayo bergegas” sambut Noah mengacak-acak rambut Bell lembut. Ketika Bell menginjakkan kaki di dalam bus, tubuhnya menegang seketika! Kakinya tiba-tiba melemah. Pandangannya mulai memburam.
“Kau baik-baik saja?” Noah mulai cemas karena Bell mencengkeram kuat lengan tangannya.
“Hey!! Kalian jadi masuk tidak?! Pintunya akan segera tertutup!!” panggil si Supir bus sambil melihat ke arah Bell dan Noah.
Posisi kaki Noah masih berada di lantai halte sementara posisi kaki Bell, sudah menginjak tangga masuk bus.
“Maaf menyita waktu kalian, temanku sedang kurang sehat” sahut Noah sambil membimbing Bell untuk duduk.
Setibanya di sekolah, wajah Bell yang pucat kembali normal. Meski kakinya masih berjalan terseok-seok.
“Kenapa kau tidak bilang takut mengendarai bus dari awal?” protes Noah menggandeng tangan Bell.
__ADS_1
“Aku...melihat sesuatu yang mengerikan tadi. Waktu masuk ke dalam bus” jawab Bell sambil mereka terus berjalan menuju halaman sekolah.
“Melihat apa?” akhirnya Noah memaksa Bell berhenti melangkahkan kaki. Kini mereka berhadapan satu sama lain.
“Aku melihat...kecelakaan maut yang melibatkan sebuah bus wisata dengan tiga mobil sekaligus. Lalu, seorang Gadis SMA terlontar keluar dari bus yang terguling di jalanan. Dia bergelantungan di tebing sementara teman-temannya terperosok masuk ke jurang. Bus itu...., terbakar habis” jawab Bell gemetaran hebat.
Noah memeluknya erat merasa bersalah memaksa Gadis muda itu mengingat kembali hal yang tidak ingin diingatnya lagi.
“Nak, ini masih terlalu pagi untuk melakukan hal memalukan di depan Gurumu seperti itu” tegur seseorang di belakang mereka. Refleks Noah melepaskan pelukannya pada Bell yang masih gemetaran hebat.
“Apa anak muda ini mengganggumu Nak?” tanya seorang Pria berusia 41 tahun, sambil menuding Noah karena matanya sempat menangkap tubuh Bell yang gemetaran.
“Tidak. Baru saja kami hampir mengalami kecelakaan bus. Saya masih merasa syok” jawab Bell terbata-bata.
“Kau boleh melewatkan satu jam mata pelajaran pertama di ruang kesehatan. Tenangkan dirimu di sana. Noah, antar dia ke ruang kesehatan”
“Baik Mr. Morgan”
“Dan ingat. Hanya Bell yang boleh melewatkan mata pelajaran pertama. Kau, harus tetap mengikuti jam pelajaran pertama setelah mengantarnya. Mengerti?”
“Ya,” jawab Noah sambil menggiring Bell menuju ruang kesehatan.
Sesampainya di ruang kesehatan, Noah ingin beranjak pergi dari tempat itu tapi langkah kakinya tertahan. Bell mencengkeram kuat lengan seragam Noah.
“Aku melihatmu Noah, melihatmu menyelamatkannya dari maut. Aku yakin itu kau”
“Kau harus menenangkan diri oke, jangan kemana-mana sebelum aku menjemputmu. Mengerti?”
“Aku lebih tenang kalau kamu disini”
“Kau tidak dengar perintah Mr. Morgan? Aku akan kena hukuman jika tidak mematuhinya” jawab Noah lembut memberi pengertian.
Jam pelajaran pertama berlangsung begitu lama tak seperti biasanya bagi seorang Noah. Ini kali pertamanya, ia berjauhan dari Bell.
Dia tadi mengalami halusinasi. Sampai-sampai..., dia berpikir aku menyelamatkan seseorang. Apa dia baik-baik saja sekarang? Pikiran Noah sedang mengembara entah kemana.
“Noah, selesaikan soal ini. Majulah” panggil Mr. Morgan yang mengetahui sedari tadi Noah tidak memperhatikan dirinya mengajar. Noah menghela nafas malas tapi ia tetap melakukan apa perintah Guru fisikanya. Sang Guru hanya diam terpaku. Tidak ada secuilpun kesalahan, yang dilakukan Noah selama mengerjakan soal di papan tulis.
“Lain kali perhatikan apa yang Guru sampaikan padamu”
“Maaf Mr. Morgan, saya tidak akan mengulanginya lagi” jawab Noah lesu.
“Duduklah” perintah Guru Fisika itu pada Noah. Sang Guru jengkel sekaligus takjub. Jengkel karena diabaikan, takjub karena walaupun anak itu tidak memperhatikan dirinya, tapi Noah bisa menjawab dengan sangat tepat soal yang baru saja diajarkannya di kelas itu.
Bunyi bel tanda istirahat akhirnya berdering. Noah berlari menuju ruang kesehatan dan mendapati Bell asyik berbincang dengan Mrs. Olivia.
“Kau sudah membaik?” Noah mencoba membuka pembicaraan ketika pembicaraan antara Mrs. Olivia dan Bell terhenti karena kedatangannya.
“Ya, jauh lebih baik” senyuman Bell membuat Noah merasa lega.
“Pergilah, dan isi perutmu sebelum kembali belajar. Semua akan baik-baik saja Bell, kau hanya kelelahan. Oke,” potong Mrs. Olivia mencoba menguatkan Bell.
“Oke,” sambut Bell tersenyum manis pada Wanita yang telah menjaganya setidaknya selama dua jam.
Bell dan Noah akhirnya sampai di kantin. Mereka membeli sup jagung dan juz apel. Biasanya mereka membawa bekal makanan dari rumah. Tapi terlupakan hanya karena Bell mogok sekolah.
__ADS_1
“Kau menceritakan halusinasimu pada Mrs. Olivia?” tanya Noah disela makan paginya bersama Bell.
“Itu bukan halusinasi karena aku sangat yakin itu adalah kau,” jawab Bell dengan mulut yang masih penuh.
“Kalau kau pikir itu nyata, kenapa aku masih ada disini? Seharusnya itu merupakan kecelakaan besar bukan? Kenapa aku tidak terluka dan masuk rumah sakit?” pertanyaan Noah membuat Bell terbatuk-batuk. Noah terkejut lalu menyodorkan segelas jus apel pada Bell.
“Jangan pernah mengatakan hal mengerikan seperti itu bodoh!” omel Bell setelah menghabiskan minumannya lalu memukul lengan Pria muda di sampingnya.
“Itu terdengar seperti kau, sedang menyumpahi dirimu sendiri celaka” omel Bell mencubit pipi Noah hingga Pria muda ini meringis kesakitan.
“Aku hanya ingin membuka matamu selebar-lebarnya. Kau harus bisa membedakan mana kenyataan dan mana yang bukan. Kau membuatku khawatir tahu?” erang Noel berusaha melepaskan pipinya dari tangan Bell. Sebagai balasannya, Noel menyentil kening Gadis muda itu.
“Auch!! Sakit Noaaaaah!!” protes Bell mengelus-elus keningnya.
“Apa sekarang akal sehatmu sudah normal?” ejek Noah menirukan Bell mengusap kening.
“Ayolah Noah, aku serius. Sangat, sangat serius. Yang aku lihat jelas itu kau, tapi bukan kau yang sekarang”
“Kau melihatku, tapi bukan aku yang sekarang? Kau semakin terdengar aneh Bell, berhentilah bermain-main. Isi pikiranmu semakin membuatku ketakutan” keluh Noel mengacak-acak rambutnya kesal.
“Kalian sedang asyik membicarakan apa? Boleh bergabung?” tiba-tiba muncul seorang Gadis, sangat cantik, bermata bulat, berhidung mancung, rambutnya panjang bergelombang di bagian ujung rambutnya.
“Film. Banyak film yang sangat menarik akhir-akhir ini. Iyakan Noah?” sahut Bell sambil menyikut lengan Noah, yang sepintas menatap seseorang dengan jengah.
“Ya, kami akan menonton bersama” jawab Noah sekenanya dengan senyuman teramat sangat dipaksakan.
“Wah, kapan? Aku ingin menonton bersama kalian juga,” Gadis tak diundang tersebut menyusup di tengah-tengah membatasi Noah dan Bell.
“Maaf. Terlalu banyak Perempuan saat menonton itu, akan sangat menggangguku. Kalian akan berteriak, dan memekik sesuka hati. Aku tidak ingin gendang telingaku, kalian hancurkan, hanya dalam semalam” sahut Noah yang mulai menghindari Gadis itu secara refleks.
“Kalau begitu aku janji. Tidak akan bersuara sekecil....apa pun asal nanti, aku akan duduk berdua disampingmu” Gadis itu masih berusaha meraih lengan Noah. Sementara Noah sibuk memberi isyarat meminta pertolongan pada Bell.
“Ya ampun Regina!! Kau..., melupakan sesuatu” pekik Bell yang sukses mengalihkan perhatian si Gadis bermuka tembok.
“Kau sengaja kan?” lirik Gadis bernama Regina Povstel kesal.
“Hey, aku hanya ingin mengingatkanmu. Sebentar lagi mata pelajaran Mr. Steven. Memang kau sudah menyelesaikan tugas hariannya? Bukankah kau semalaman sibuk menelpon Noah sampai lupa waktu? Oh...., ya ampun, hanya Tuhan yang tahu bagaimana nasibmu setelah jam istirahat ini berakhir” kata Bell menemukan jurus terjitu untuk mengusir Regina dari pangkuan Noah.
Ya, Noah hanya bisa diam pasrah ketika Regina tiba-tiba melompat duduk di atas pangkuannya.
“Sial, kau benar" sahut Regina sambil menatap penuh permusuhan ke arah Bell.
"Aku akan segera menemuimu lagi setelah pelajaran Mr. Steven berakhir” pamit Regina pada Noah lalu meninggalkan satu bekas lipstik yang tertinggal jelas di pipi Pria muda malang tersebut.
“Apa terlalu sulit untuk mengusirnya? Huh, kenapa kau baru menolongku sekarang” raung Noah berusaha menghapus jejak bibir Regina.
“Hey, itu....,” potong Bell menunjuk-nunjuk pipi Noah yang sedari tadi di gosok-gosok tangan Noah sendiri.
“Apa?!”
“Itu...., ada bekas Lip Gloss di pipimu”
“Ya Tuhan, tamat riwayatku kalau Mr. Steven melihat ini” panik Noah lalu berusaha menghapus dengan lengan bajunya.
“Hey, hentikan itu” Bell meraih tangan Noah lalu menepis tangan itu.
__ADS_1
“Aku yang melihat di mana letak benda merah itu berada oke, kalau kau melakukannya sendiri, benda merah itu hanya akan semakin melebar. Dan kau hanya akan menjadi badut tampan jika benar-benar terjadi”
“Akhir-akhir ini kau terlalu banyak bicara ya, kalau begitu apa yang bisa kau lakukan untuk menghapus ini?” Noah menggerutu setelah melihat Bell mengambil sapu tangannya dari saku roknya. Bell mengambil sebotol air mineral, dan menuangkan airnya ke sapu tangan tersebut. Noah tercekat saat tangan lentik Bell sibuk menyeka bekas Lip Gloss di pipinya.