
Noah tertegun mendengar laporan sang Ayah, bila Ibunya tak menyentuh sedikitpun makan malam, dan lebih memilih menunggu Putranya pulang, di ruang tamu hingga ketiduran.
“Mom, Mom...., bangunlah kau belum makan malam” perlahan Noah mencoba membangunkan sang Ibu dari tidurnya.
“Mmmm? Nak, kau sudah pulang?” tanya sang Ibu sambil mengelus puncak kepala Putranya. Mata sembabnya menunjukkan seberapa lama dirinya meratapi Putranya yang tak kunjung pulang.
“Makan malam bersama? Ayolah Mom, perut Noah sangat lapar” rengek Noah dibuat-buat.
“Tunggu sebentar. Kau, dari mana saja huh? Keluyuran di luar rumah, sambil membawa anak Gadis orang?!” tanya sang Ibu sambil menjewer telinga Noah.
“Aw, Mom...., itu kebalikannya. Please..., lepaskan ini...sakit” Noah meringis kesakitan.
“Apa maksudmu?”
“Aku bukannya sengaja keluyuran sampai malam Mom, tapi Putri dari tetangga kesayanganmu itulah, yang menculikku dan baru mengembalikanku padamu sekarang” sungut Noah tak terima tuduhan dari sang Ibu.
“Apa kau berharap Mom akan percaya? Kau yang jauh terlihat berbahaya untuk Bell sayang,” sahut sang Ibu tersenyum geli.
“Noaaah!! Noah!! Tolong keluarlah” pembicaraan antara Ibu dan Putranya terpotong begitu mendengar suara teriakan seseorang dari luar. Keluarga kecil tersebut saling memandang penasaran siapa yang datang sambil berteriak-teriak di depan rumah mereka malam-malam begini? Noah dan keluarganya bergegas membuka pintu rumah.
“Ester?” sahut Ibu Noah melihat dengan sangat jelas ekspresi panik Ester.
“Noah, kau bisa menenangkan Bell? Sebenarnya apa yang terjadi pada kalian di jalan? Kenapa sekarang Bell bertingkah aneh?” tanya Ester bingung, sedih sekaligus tak mengerti apa yang sedang dialami Putrinya di luar rumah tadi.
“Apa yang terjadi padanya?” Noah mengerutkan kening tak mengerti.
“Dia sempat tidur sebentar lalu tiba-tiba dia berteriak histeri. Kau mau menemuinya kan? Maafkan Bibi meminta tolong padamu malam-malam begini tapi....”
“Ayo kita menemui Bell” Noah memotong karena mulai khawatir pada Bell.
Ester membiarkan Noah menemui Bell di ruang keluarga. Ketika Noah datang, mata Gadis itu terlihat kosong. Ia hanya meringkuk di samping sofa, berjongkok dengan tubuh yang gemetaran hebat.
“Hey, Bell, kau mengenali suaraku? Ini aku. Noah” sapa Noah berusaha membuat Bell menoleh padanya. Tapi usahanya sia-sia. Bell sibuk dengan dunianya sendiri.
“Bell, kau dengar aku?” kini Noah menepuk bahu Bell. Gadis itu terlonjak kaget, menoleh pada orang yang menyeretnya kembali ke dunia nyata.
“Bell, ini aku” Noah berusaha tidak membuat serangan panik dadakan pada Bell. Gadis itu tak berucap tapi ia segera mendekat pada Noah hingga mata hijau marun milik Noah terlihat sangat jelas. Begitu indah, sekaligus mempesona.
“Kau mau membantuku?” tiba-tiba tatapan sendu muncul di kedua mata Bell.
“Kau butuh apa?”
“Mereka tidak mau pergi, tolong buat mereka pergi untuk selamanya” tangisan Bell pecah.
“Mereka? Mereka siapa?” tanya Noah kebingungan. Masalahnya, Bell menunjuk asal-asalan ke arah dinding. Pertanyaan Noah malah dijawab dengan tawa menggelegar dari Bell.
Ada apa dengan Gadis ini? Lima menit yang lalu dia berteriak histeris di hadapan Ibu dan Ayahnya. Kali ini hanya dalam lima menit berikutnya, dia Bell, menangis histeris di hadapan Noah. Dan belum lama ini, dia malah tertawa terbahak-bahak.
“Bell, hey, katakan sesuatu kau membuatku bingung” kata Noah mencoba membuat Bell memperhatikannya.
__ADS_1
“Noah, mereka mencarimu. Katanya kenapa kau hanya menyelamatkanku? Kenapa tidak menyelamatkan mereka juga” tawa Bell. Gadis muda tersebut tertawa sambil terus beruraian air mata.
Noah segera meraih kedua bahu Bell. Pria muda itu terkejut karena mendadak, kedua telapak tangannya yang meraih bahu Bell bersinar biru terang. Anehnya, tidak ada reaksi terkejut dari keluarganya maupun keluarga Bell. Seolah cahaya itu hanya Noah yang bisa melihat.
“Noah? Kenapa ada banyak orang disini?” tanya Bell kebingungan seolah dia baru sadar dari mimpi panjangnya.
“Dia sudah kembali” kata Noah tersenyum pada orang tua Bell. Dan tanpa izin memeluk Bell.
“Hey, kenapa kau disini? Jelaskan” tuntut Bell dalam pelukan Noah. Cahaya milik Noah akhirnya mampu menenangkan alam bawah sadar Bell hingga Gadis itu dapat kembali normal seperti sedia kala.
“Kami hanya mengkhawatirkan keadaanmu honey,” sahut Ester membuat Noah yang semula ingin menjawab jadi mengurungkan niat.
“Memang aku kenapa? Bukannya tadi aku tidur? Dikamar? Lalu, siapa yang memindahkanku kemari?” tanya Bell mencoba mencari tahu.
“Untuk sementara kita semua tidur di ruang tamu oke, Mom tiba-tiba teringat masa Mom dan Dad camping waktu muda. Ayolah, tampaknya ini akan seru jika dilakukan diruang keluarga kita. Bukankah ini sangat luas Dad?” sang Ibu menambahi sambil menyikut lengan Ayah Bell.
“Ya, akan sangat seru pastinya. Bagaimana? Kalian bertiga setuju bukan?” kini Ayah Bell memberi kode pada keluarga Noah meminta dukungan.
“Ya, ahahaha...yeah, sudah begitu lama kami tidak merasakan suasana camping” sambut Ayah Noah menganggukkan kepala.
“Camping lebih menyenangkan di halaman rumah Dad, kenapa juga harus disini? Kalau disini lebih baik aku kembali ke kamarku saja. Selamat bersenang-senang semua” jawab Bell sambil beranjak menuju kamarnya.
“Kita akan camping di luar rumah. Bukankah kau jago dalam membuat api unggun, sekaligus membuat jagung bakar? Aku sudah tidak sabar” potong Noah membuat Gadis itu melupakan niatan kembali ke kamar.
“Ya ampun. Benar-benar. Kalian membangunkanku hanya untuk camping semalam?” gerutu Bell disambut dengan uluran tangan Noah.
“Kau lupa besok hari apa?” tanya Noah mencari-cari alasan.
“Maksudku bukan yang seperti itu Bell...., kau benar-benar melupakannya?”
“Ini sudah terlalu malam untuk main tebak-tebakan” gerutu Bell kesal.
“Wah, keterlaluan! Teman macam apa kau ini! Hari ulang tahunku saja kau lupa?!” maki Noah kesal bukan main.
“Oh ya ampun!!” Bell memukul keningnya kecil.
“Hey, bukankah ulang tahunmu baru besok? Ini terlalu dini”
“Jam 00.00 dini hari sayang, apa kau masih tidak ingin mengucapkan selamat padaku? Aku lebih tua satu tahun darimu tahu,” Noah mengetuk-ngetuk jam tangannya kesal.
“Maaf...., selamat bertambah tua temanku tersayang....,” jawab Bell meringis kuda, lalu memeluk Noah saking merasa bersalahnya. Noah tidak pernah lupa kapan dia dilahirkan ke dunia. Tapi lihat sekarang? Bell dengan sangat santai melupakan hari bersejarah bagi Noah nya.
“Kau, bukankah seharusnya aku yang memberimu kejutan? Tapi kenapa kau yang mengejutkanku malam-malam begini” gemas Bell sambil mencubit gemas hidung mancung Noah.
“Karena daya ingatmu ini,” Noah menepuk lembut kening Bell.
“Terlalu lemah. Aku tidak ingin melewatkan ulang tahunku hanya karena ingatanmu yang di bawah standar itu”
“Noah!! Awas kau ya!!” pekik Bell berusaha memukul lengan Noah tapi Pria muda itu berlari ke halaman rumah Bell sambil bersiul riang.
__ADS_1
“Terima kasih kalian mau membantu kami” kekeh Ibu Bell pada Ibu Noah.
“lihatlah mereka. Begitu cepat tumbuh dewasa” sambut Ibu Noah menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Noah dan Bell diluar sana.
“Kami bersyukur ada Noah yang selalu mau menjaganya” senyum Ayah Bell sambil merangkul Ibu Bell.
“Maaf..., kami belum menceritakan rencana kami?” potong Ayah Noah.
“Kami akan mengirim Noah untuk kuliah di Jerman. Sekaligus melatihnya untuk bekerja di perusahaanku di sana nantinya” kekeh Ayah Noah serius.
“Kenapa tiba-tiba?” protes Ester mulai panik.
“Kami sebenarnya sudah berdiskusi bersama sejak dua bulan yang lalu. Bahkan sampai saat ini Noah belum mengetahui rencana kami untuk masa depannya” jawab sang Ayah Noah bimbang.
Sementara di halaman rumah Bell, dua muda mudi itu masih asyik berlarian.
“Stooop!! Ini melelahkan. Kau sudah membuatku mengayuh sepeda berjam-jam sekarang kau ingin memukulku?” protes Noah menjatuhkan diri ke atas rerumputan sambil melindungi diri dari pukulan Bell.
“Pasti ada alasan lain kenapa kalian tiba-tiba kompak melakukan hal ini kan?” tiba-tiba pertanyaan itu meluncur begitu saja ketika Bell memutuskan untuk duduk di samping Noah.
“Kalian sudah selesai bermain?! Bisa membantu kami membangun tenda?! Atau kalian ingin kedinginan tidur diluar sana?!” teriak Ester dari jauh, sambil membawa tenda lipat bersama Suaminya. Kedua muda mudi itu segera berdiri membantu Ester dan Suaminya membangun tenda sementara pasangan Suami Istri lainnya sibuk mencari kayu.
“Akhirnya tenda sudah siap yeeeey!!” pekik Bell ceria.
“Jangan senang dulu, aku dan Mom belum makan tahu? Itu karenamu. Bertanggung jawablah,” sambar Noah.
“Serius Bibi?” tanya Bell merasa bersalah.
“Ya, itu karena kalian...., tidak pulang tepat waktu” jawab Ibu Noah sambil menjewer telinga Noah dan Bell gemas.
“Auw, ampun Bibi!!” pekik Bell memelas.
“Jadi kau ingin menebus kesalahan kalian dengan apa?” kini sang Ibu Noah berkecak pinggang seolah sedang menantang. Melihat kelakuan si Ibu Noah, Ester dan Daniel terkekeh geli.
“Tunggu. Bell sangat ahli memasak. Jangan ragukan kemampuan Bell! Mengerti, semua?!” seru Bell sambil melipat kedua lengan bajunya seolah dia benar-benar seorang ahli.
“Aku akan...., membuatkan makanan suuuuper enak untuk Noah dan Ibunya. Tunggu sebentar,” tambah Bell bersiap masuk ke dalam rumah.
“Oy, mau kemana Bell...,” Noah menarik baju Bell hingga Gadis muda ini tak bisa bergerak.
“Memasak. Apa lagi? Kalian laparkan?” geram Bell kesal.
“Masaklah disini oke, kita sedang Camping. Kalau kau masak di dapur, maka hari ulang tahunku terasa kurang sempurna” kekeh Noah. Bell mulai bersungut-sungut. Ia injak kaki kiri Noah, hingga Pria muda ini meloncat memekik kesakitan.
“Ya tuhan..., apa kau benar-benar Perempuan?! Tidak ada sisi lembutnya sama sekali” geram Noah masih meringis kesakitan.
“Setiap permintaan memiliki risiko Noah...., dan untuk bisa ku kabulkan permohonanmu itu, kakimu harus ku injak sepuasku! Mengerti?!” jawab Bell berkecak pinggang lalu pergi begitu saja, memasuki rumahnya.
“Hey Boy, kenapa masih disitu? Pria sejati tidak akan membiarkan seorang Gadis mengalami kesulitan sendirian” tegur Ayah Noah memberi perintah agar Noah mengikuti Bell masuk. Noah menyeringai tak percaya pada apa yang ia dengar baru saja. Ayahnya sendiri, membela Bell?! jelas-jelas Bell menyakitinya belum lama ini.
__ADS_1
"Apa kami anak yang tertukar? Kenapa aku merasa menjadi anak tiri sekarang?!" gumam Noah sambil berjalan mengikuti kemana Bell melangkah.