Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 8


__ADS_3

Aislin melemparkan ponselnya ke tempat tidur. Bukannya mendapatkan jawaban memuaskan, tapi malah mendapatkan celotehan tak penting dari sahabat dekatnya itu. Aislin mondar-mandir berpikir dan terus berpikir siapa Pria misterius yang terlukis indah di dalam buku itu?


Aislin berdecak kesal mendengar suara ponselnya berdering semakin lama semakin nyaring. Terpaksa Aislin mengambil ponselnya.


“Tidak salah? Untuk apa Richard Louis tengah malam menelepon?”


“Hello,” sahut Aislin malas-malasan.


“Aku butuh pertolonganmu. Kemacetan tadi membuatku harus berputar arah. Katamu rumahmu ada di sekitar sini kan? Bisa kau temui aku? Mobilku mogok. Maaf mengganggu. Apa kau sudah tidur?”


“Kau bisa menelepon seorang petugas bengkel Tuan Richard Louis, tolong tutup teleponnya sekarang” dengus Aislin kesal.


“Kau pikir mereka mau bekerja semalam ini? Ayolah, kau satu-satunya orang yang aku kenal di daerah sini” mohon Richard lesu.


“Kirim dimana lokasimu” jawab Aislin mengalah. Ia berlari menuju lemari pakaian mengambil sebuah jaket lalu bergegas menuju garasi. Sebuah mobil meluncur meninggalkan tempat tinggal Aislin menuju ke tempat dimana Richard berada.


“Hufff, akhirnya kau datang juga” terlihat sekali sorot mata Richard teramat lega begitu mengetahui siapa yang datang sambil melongok ke dalam jendela mobil yang terbuka lebar.


“Masuklah” sahut Aislin membiarkan kunci mobilnya terbuka secara otomatis. Tanpa basa basi Pria tersebut masuk ke dalam, duduk di atas jok depan dekat jok kemudi.


“Arah rumahmu?” tanya Aislin melirik pada sang penumpang.


“Di sekitar 4Shoul Plaza. Aku bisa pergi sendiri setelah pagi tiba kalau kau kelelahan” jawab Richard membujuk.


“Kalau kau tidak pulang kamu mau menginap dimana?”


“tempat tinggalmu, mungkin,”


“aku tinggal sendirian Tuan Richard Louis, tidak mungkin ku ijinkan” geram Aislin yang dibalas dengan seringai gemas oleh Richard.


“Aku bisa tidur di ruang tamu. Apa salahnya?”


“Tetap saja tidak”


“Baiklah kalau ada dua orang lagi Wanita mungkin aku diizinkan masuk ke tempat tinggalmu?”


“Tinggal katakan saja dimana rumahmu Richard, kenapa harus repot-repot memanggil orang?”


“Aku ingin tahu dimana rumahmu, siapa teman-temanmu, bagaimana keadaan di sekitarmu,”


“Tunggu. Kau ini aktor atau satpam? Kenapa kau sebegitu pedulinya dengan lingkunganku?”


“Aku peduli karena mulai tertarik padamu Nona Aislin. Beri aku kesempatan...”


“Kita tidak punya alasan untuk sampai saling tertarik”


“Oh ada, aku lajang, Nona juga lajang. Alasan seperti ini cukup”


“Kau memang aktor paling ku kagumi Richard, tapi hanya sampai antara fans dengan aktor. Tidak lebih, tidak kurang”


“Rasa kagum lambat laun bisa berubah menjadi cinta Nona. Kau hanya perlu terbiasa bersamaku.” Kekeh Richard bersandar santai di jok depan mobil.


“Mungkin itu bisa terjadi tapi jarang ada yang menjadi nyata. Apa harus ku turunkan saja kau tepat di depan gedung 4Shoul Plaza? Tampaknya tempat tinggalmu harus dirahasiakan bahkan dari fans sepertiku,” Aislin santai melajukan mobilnya.


“Kau ingin main ke rumahku? Wah, suatu kehormatan jika malam ini bisa kedatangan tamu spesial, ada Dad dan Momku di sana. Kau bisa langsung berkenalan dengan mereka”


“Aku hanya akan mengantarmu pulang”

__ADS_1


“Ku pikir tidak ada salahnya menemui calon mertuamu. Menurutku kamu diciptakan untukku seorang”


“Oh hallo, apa kepalamu tadi terbentur di suatu tempat?”


“Bukan kepala Nona, tapi hatiku telah terbentur olehmu dalam beberapa hari ini. Kurasa kau memang harus mempertanggung jawabkannya,”


“Ini sudah terlalu malam Richard, tidak ada waktu bagiku mendebat segala omong kosongmu. Apa kau minum tadi? Segala ucapanmu kali ini terdengar diluar kontrol. Apa kau baik-baik saja? Perlu kita pergi ke Dokter?”


“Kau sangat mengkhawatirkanku? Senangnya mendapatkan perhatian dari Gadis secantik Aislin Bell Wilunark. Serasa berada dalam surga” kelakar Sang Aktor kawakan seolah sedang terpengaruh minuman beralkohol.


“Sebentar lagi kita sudah sampai ke 4Shoul Plaza. Bersiaplah turun”


“Rumahku bukan di sana kau harus mengantarkan pulang seseorang sesuai dengan alamat tempat tinggalnya” protes Richard dengan sorotan mata mulai jauh dari kata sadar.


“Oh ya ampun, jangan hilang kesadaran sepenuhnya Richard!! Aku harus membawamu kemana? Hey!! Arrrgh....kau sangat merepotkan. Seharusnya kalau tidak kuat minum jangan sentuh minuman keras bodoh!!” teriak Aislin frustasi berat melihat Richard malah diam, memejamkan mata, tak merespons ucapannya sedikitpun.


“Apa-apaan ini? Harus ku bawa kemana Laki-laki ini huh?!” gerutu Aislin kesal luar biasa. Aislin terpaksa mematikan mesin mobilnya dan menyalakan AC karena mulai kebingungan sendirian. Kenapa juga dia mau menolong Pria yang kalau dia tahu sejak awal, tidak akan mau datang menjemputnya.


“Aku tahu kamu bisa melakukan segala hal tanpaku...tapi bisakah kamu berpikir bagaimana perasaanku padamu saat kamu mulai berusaha menghilangkan diriku dalam hidup Putrimu?” gumam Richard sambil menitikkan air mata.


“Apa dia punya masalah? Seperti sedang menderita sekali” gumam Aislin memperhatikan raut wajah sedih dari wajah tampan sang aktor mengigau dalam mimpinya.


“Pasti ada petunjuk. Aislin, jangan menyerah” tambah Aislin menyemangati diri sendiri. Ia mencoba menggeledah isi saku, dompet, bahkan ponsel Richard tapi tak ada satu pun petunjuk dimana rumah Pria tersebut berada.


“Ponselnya. Pasti ada anggota keluarganya, yang ada dalam ponselnya” gumam Aislin mencoba menggeledah buku telepon dalam ponsel Richard.


“Elsanar? Apa-apaan ini? Kenapa bisa buku telepon seorang Aktor kawakan hanya memiliki satu daftar telepon?” kernyit Aislin tak habis pikir. Ayolah..., ini bukan saatnya untuk mempertanyakan hal tidak berguna kan?! Mari telepon saja si Elsanar ini.


“Hallo, siapa ini?”


“Maaf, ini Aislin. Rekan model iklan Richard Louis baru-baru ini. Ah, maaf sudah menghubungimu selarut malam ini"


“Oh, saya asistennya. Tolong datanglah ke alamat yang akan saya kirimkan pada Anda oke, mohon bantuannya, dan terima kasih sudah repot-repot mengurus Pria menjengkelkan itu hari ini” jawab Pria di seberang super panik luar biasa.


Duh, Richard adalah aktor paling di minati dan banyak dicari. Para Wartawan akan sibuk mengusik tentang kehidupan pribadinya, kalau tahu Aslin Bell Wilunark mengantarnya pulang ke rumah. Tidak boleh ada kehebohan sebelum film baru Richard tayang di depan publik. Bisa-bisa image Pria tak tersentuh itu hilang bagaikan butiran debu.


Elsanar harus segera bertindak. Buru-buru ia mengirim alamat rumahnya sendiri bukan mengirimkan alamat rumah sang Aktor. Maklum, kali ini, banyak Wartawan yang berjaga-jaga di depan rumah Richard seperti hantu yang berkeliaran.


Elsanar harus mengurangi kontak mata dengan para Wartawan kali ini. Dari pada dia membantu Aislin menggotong Richard masuk ke rumah megah itu, dan mendapati dirinya akan dikepung ribuan kamera siap membidiknya, sebelum segala hal yang menakutinya benar terjadi, Elsanar memilih membawa Richard ke rumah pribadinya.


Ia melakukan penyamaran sebagai seorang petugas keamanan agar dengan mudah, mendapatkan akses keluar dari halaman rumah Richard tanpa hambatan berarti. Benar saja, para Wartawan tidak memperdulikan siapa pun yang mengenakan seragam keamanan. Elsanar bernafas lega setelah sampai ke rumahnya sendiri.


“Ada masalah apa di dalam lokasi Shooting sehingga Richard mendadak mabuk berat begini?” tanya Elsanar sambil membantu Aislin memapah Richard dari dua arah kiri dan kanannya.


“Tidak, tidak ada masalah apa pun disana. Mungkin ada masalah lain dalam kontraknya yang lain?” jawab Aislin terlihat sangat jujur.


“Terima kasih sudah membawanya ke rumahku nona Aislin. Bantuanmu semoga, suatu saat akan membuat kita semua dalam lindungan-Nya” kekeh Elsanar menggaruk kepalanya.


“Maksudmu? Kenapa kau bicara seolah aku akan terkena suatu masalah?” kernyit Aislin setelah berhasil membaringkan Richard di atas sofa cokelat muda di ruang TV.


“Dengar. Jangan katakan pada siapa pun, kau sempat membantunya yang sedang mabuk berat oke, ini akan mempengaruhi kariernya kedepannya nanti.” Kata Elsanar memohon dengan sangat pada Gadis muda dihadapannya.


“Aku tahu kau fans berat Tuan Richard. Tapi kalau kau masih ingin melihat kariernya tetap bersinar seperti selama ini, jangan pernah terlibat skandal apa pun dengannya"


"Itulah sebabnya aku memintamu, datang membawanya ke rumahku agar skandal itu tidak muncul ke permukaan. Ku mohon mengertilah. Kau ingin imbalan apa? Sebutkan saja oke,” tandas Elsanar membuat Aislin terbengong-bengong.


“Apa aku tampak seperti Wanita yang ingin terlihat memiliki skandal murahan dengan bosmu ini? Ya ampun..., kurasa kita harus segera meluruskan hal ini sekarang juga Elsanar” balas Aislin mulai memahami isi kepala sang Asisten Richard.

__ADS_1


“Aku memang berada di bawah puncak ketenaran Richard. Tapi, aku bukan orang yang memanfaatkan kelemahan seseorang demi kepentingan pribadi. Baiklah, cukup sampai disini pertemuan kita, jangan lupa beri dia obat pengar” kata Aislin menyodorkan sebuah sasetan minuman obat penghilang pengar akibat mabuk berat.


“Kau yakin tidak akan meminta apa pun? Kau tidak berpikiran aku ini orang yang buruk hanya karena aku harus berhati-hati pada siapa pun orang yang berada di sekitar Richard bukan?"


"Aku akui, kalau..., akibat ulahku inilah Richard mendadak menjadi Aktor terkenal yang nampak tanpa beban, dan kesepian seumur hidupnya. Aku sungguh tidak bermaksud untuk itu. Tapi..., ini demi masa depannya dia harus..., mencari Wanita yang tepat untuknya” keluhan Elsanar ini malah jadi semacam ungkapan curahan hati sang asisten dari pada mendekati kata mencoba menghilangkan kesalah pahaman.


“Kesepian? Dia dikelilingi banyak orang yang memujanya. Kenapa dengan orang sebanyak itu dia masih merasakan kesepian?”


“Sudahlah. Ini juga bukan urusan kita. Lupakan apa pun yang terjadi malam ini Bye. Sekali lagi terima kasih” salam perpisahan menjengkelkan tersebut meluncur mulus dari bibir Elsanar lalu masuk dalam rumahnya meninggalkan Aislin begitu saja.


“Baik Tuannya, sampai Asistennya sekalipun, juga mengalami kepribadian ganjil. Ya Tuhan..., kenapa malam ini terjadi?!” pekik Aislin mengumpat di tengah kesunyian malam. Hah, sudahlah, lebih baik dirinya sibuk berkonsentrasi mengemudikan mobilnya pulang dengan selamat.


“Aku lupa kehabisan bahan makan malam. Untung ada mini market disini” gumam Aislin melirik sebuah mini market tak jauh dari dia berdiri. Aislin baru saja melangkah, memasuki ruangan itu tapi perhatiannya langsung tercuri pada seseorang. Sosok seseorang dalam tayangan TV yang ditayangkan malam ini.


Bukankah dia...Pria dalam lukisan dirumahku? Edward Jorgie? Batin Aislin terus memandangi layar TV. Tak terasa bulir air matanya menitik. Hatinya seolah sedang merindukan Pria tak dikenalnya itu.


“Hanya ini?” tanya orang yang melayani Aislin, dengan ramah sambil memperhatikan raut wajah sendu Aislin.


“Ya,” jawab Aislin datar.


“Ini gratis. Tampaknya kau sama sepertiku haha” kekeh Pria dihadapannya sambil menyodorkan barang belanjaan Aislin yang tak seberapa.


“Kau fans berat Desainer itu bukan?” tandas sang Pria sambil menunjuk sosok Edward di layar TV.


“Ah, ya, dia sangat luar biasa. Dia begitu berbakat aku mengaguminya sejak pertama kemunculannya” kekeh Aislin malu-malu kucing menyadari arah pembicaraan mereka, sambil menyeka air matanya.


“Banyak orang bermimpi bisa memakai gaun rancangannya, apa kau juga sama?”


“Itu impian semua orang. Gaun yang dia buat tidak pernah tidak langsung terjual habis” jawab Aislin berkobar-kobar.


“Kalau begitu permisi, pulang dulu...,” pamit Aislin ramah setelah mengambil barang belanjaannya.


“Kenapa juga aku menangis setelah melihat Edward Jorgie? Seolah...ada perasaan khusus untuknya di dalam sini” gumam Aislin menepuk kecil dadanya setelah keluar dari dalam mini market.


“Edward....Jorgie. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?” gumam Aislin lagi sambil berjalan menuju arah mobilnya.


“Eh, benangku. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama menghilang dari pandanganku, benang takdirku sendiri terlihat. Putih? Tu....tunggu!! Kenapa warnanya sama dengan warna benang milik Richard?!” gumam Aislin memperhatikan tiap sisi benang di jemarinya.


“Putih adalah suci Nona. Mungkin itu tanda kesucian hubungan yang akan mulai terjalin,” tiba-tiba seorang Pria yang sedang merokok, dan membawa banyak kardus yang akan di bawanya masuk ke dalam mini market. Betapa terkejutnya Aislin melihat kehadiran Dewa pencipta kehidupan muncul secara tiba-tiba dengan menggunakan sosok manusia biasa.


“Maaf,”


“Kau sedang melihat benang di jemarimu itu kan? Pria yang memiliki benang sama sepertimu pasti memang diciptakan untuk bersama” jawab si Dewa lantang.


“Anda..., juga bisa melihat benang kehidupan?”


“Ya, aku punya kemampuan khusus sepertimu nona. Dan..., satu lagi. Pria yang kau tangisi, maksudku..., Pria yang kau lihat di layar TV tadi, pasti sangat berarti bagimu ya, sampai menangis seperti itu"


"Bagaimana kalau kalian bertemu? Pasti mengharukan seorang fans dengan idolanya” jawab sang Dewa berusaha menghapuskan kecurigaan di mata Aislin.


Jangan sampai, karena ucapannya Aislin malah sibuk mencari keberadaan Eros padahal dia harus segera bertemu dengan Richard jodohnya. Richard dan Aislin harus saling jatuh cinta tapi, jika diantara mereka ada sosok seperti kerikil bernama Eros, atau bisa kita panggil juga Edward Jorgie, bisa jadi Richard akan kembali kehilangan haknya sebagai jodoh dari Aislin.


“Mungkin terlalu terharunya dengan tiap prestasi yang telah dicapainya. Bukankah keren, dalam usia semuda dia tiga tahun yang lalu, dia berhasil menjadi Desainer ternama? Lupakan saja. Mari, saya pulang terlebih dahulu”


“Tunggu”


“Ya,” jawab Aislin berbalik menatap si Dewa.

__ADS_1


“Apa Pria yang memiliki benang sama denganmu itu..., sedang berusaha mendekatimu? Merayumu mungkin?”


“Kalau itu..., pasti efek minuman yang dia konsumsi hari ini. Biasanya dia tidak pernah bicara melantur seperti tadi” kekeh Aislin malu-malu. Tunggu dong, kenapa juga Aislin harus malu-malu begini kalau kenyataannya Pria bernama Richard itu, merayunya karena mabuk?!


__ADS_2