
Bell makan satu suap...dua tiga suap lalu tertahan sejenak. Ada sesuatu menarik perhatiannya. Noah menyadari kebiasaan Bell satu ini tidak pernah berubah sama sekali. Noah menoleh ke arah pandangan Bell tertuju.
Benang pertanda mencuri jodoh orang lain? Batin Noah terkejut. Lalu melihat ke arah orang yang satu meja dengan Gadis itu.
Benang laki-laki itu tertuju pada... Batin Noah merunut ke arah benang berwarna ungu yang berada di jemari laki-laki itu. Sebenarnya ada dua benang terpasang di jemarinya. Benang ikatan takdir dengan Gadis semeja dengannya, dan satu lagi benang tertuju pada Gadis lain. Noah menutup kedua matanya mencari menggunakan penglihatan Dewanya.
Noah kini membuka mata dengan ekspresi sangat terkejut.
Apa ini karena kekuatanku menurun semenjak dicuri Petra? Sehingga kemampuan Bell masih bekerja sampai sekarang? Noah melirik ke arah Bell tanpa disadari gadis cantik itu.
Padahal tanda terputusnya hubungan antara aku dengannya sudah terjadi. Apa mungkin karena bukan aku yang memutuskan? Jadi Bell masih memiliki kemampuan itu? Kalau tidak ku tanya, aku tidak akan tahu. Keraguan Noah saat membatin hal ini sangat jelas terlihat.
“Kau masih bisa melihat benang takdir?” tanya Noah sengaja mengutarakan rasa ingin tahunya. Jelas pertanyaan ini membuat Bell melotot terkejut sampai terbatuk-batuk.
“Terima kasih” Bell segera mengambil gelas juice alpukat yang disodorkan Noah padanya.
“Hanya Noah dan aku yang tahu tentang benang takdir. Bagaimana kau...bisa?”
“kau melihat kedua orang di meja sana” Noah mendongakkan dagu ke arah dua sejoli yang ditunjuk.
“Lalu?”
“Ya, aku melihat benda dua warna di jemari laki-laki yang sibuk kau perhatikan”
“Serius?!” pekik Bell mengejutkan semua pengunjung kantin.
“Hanya Kau, dan Noah yang tahu soal ini kau bilang?” kini Noah berpura-pura terkejut.
“ya, Kupikir Noah yang membocorkannya padamu” kekeh kecil Bell memelankan suara.
“Artinya kau tidak mempercayai Noah”
“bisa dibilang....begitu” Bell menunduk menyesali jawabannya ini.
“Itu terdengar kejam. Kalian sudah lama saling mengenal bukan?”
“Ya, kami bersama sejak lahir ke dunia. Bagaimana cara aku bicara padamu ya,” Bell terdiam sejenak mencari kata paling tepat untuk menggambarkan perasaannya.
“Aku sangat mempercayainya lebih dari diriku, itu sebelum kecelakaan yang kita bertiga alami”
“Maaf. Karenaku kalian harus ikut menderita”
“Aku sudah tidak mempermasalahkan kejadian itu. Lagi pula sudah berlalu”
“Maksudmu...Noah berubah? Setelah kecelakaan itu terjadi?”
“Ya,” singkat saja Bell menjawab tapi sorot matanya sendu.
“Apa kau dan Noah sering membicarakan soal benang takdir bersama? Boleh aku bergabung?”
“Tidak. Setelah kecelakaan terjadi, aku merasa dia berbeda dari Noah biasanya”
Jelas. Karena Petra bukan aku. Seberapa keras usahanya menjadi diriku, dia tidak akan mampu.
“Kau tidak berpikir dia bukanlah Noah yang selama ini kau kenal?” tanya Noah setelah membatin soal Petra.
“Akhir-akhir ini ya. Dia seperti orang yang berbeda. Padahal satu orang” sahut Bell memainkan makanannya dengan garpu.
Kau tidak berpikir seperti yang ku pikirkan Bell...
“Perubahan sikap dan sifat tidak hanya dialami Noah saja. Jangan khawatir” Noah berusaha setenang mungkin. Biarkan Bell tahu dengan sendirinya siapa Noah sesungguhnya.
“Kau juga mengalaminya?”
“Ya”
“Bagaimana reaksi keluargamu?”
“Mereka buru-buru ingin membawaku kembali ke Dokter. Tapi lambat laun mereka bilang lebih menyukai sifatku yang baru. Lucu sekali” kekeh Noah agar suasana tidak terlalu tegang.
“Berbanding terbalik dengan keluarga Noah” jawaban Bell membuat Noah makin penasaran.
“Apa yang terjadi?”
“Mom Noah datang ke rumahku. Dia menumpahkan segala kekhawatiran bahkan kekecewaan terhadap Noah kepada Momku”
“Apa katanya?”
“Noah berubah menjadi kasar, egois, segala hal yang dulunya aku benci karena sifat itu melekat padamu, kini justru menjadi bagian dari sifatnya. Sangat menyebalkan”
“Seburuk itu aku dimatamu?”
“Itu dulu. Aku senang kau akhirnya berubah” sambut Bell tak enak hati.
“Boleh kutebak?”
“Maksudmu?”
“Kalian sedang bertengkar. Benar?”
“Belum lama ini. Terlihat jelas ya?”
“Mungkin bagi orang lain, mereka tidak akan sesensitif aku. Tidak perlu khawatir orang lain juga tahu” sahut Noah tak enak hati.
“Coba pikirkan lagi. Mungkin Noah yang sekarang hanya berpura-pura”
“Pura-pura untuk?”
__ADS_1
“cari jawabannya sendiri. Masuklah” jawab Noah berdiri, begitu mendengar bel masuk kelas.
Bell berdiri setelah menghabiskan juice nya lalu melangkah keluar dari kantin bersama Noah.
“Kau tidak merasa aneh?” Noah bertanya sambil berjalan menuju koridor sekolah.
“Soal?”
“Benang yang tersambung antara kau dengan Noah. Bukankah seharusnya berwarna emas? Maaf. Seharusnya aku tidak ikut campur. Sampai jumpa” bisik Noah ke telinga Bell lalu masuk ke dalam kelas Petra.
Bell menghela nafas panjang sebelum masuk ke dalam kelasnya karena lagi-lagi Ia harus menemui laki-laki muda yang ia anggap sebagai Noah. Bell menenggelamkan diri dalam setiap tugas yang diberikan guru tak menghiraukan tingkah Petra.
Benang yang tersambung antara kau dengan Noah. Bukankah seharusnya berwarna emas? Bell terngiang ucapan Noah. Mata Bell kini tertuju pada jemari tempat benang takdir Bell terkait.
Kau tidak merasa aneh? Suara Noah terngiang lagi.
Suara Bel pulang sekolah berdering. Lamunan Bell terpecah pikirannya tertuju pada ekstrakurikuler yang akan diikutinya.
“Bell. Ikut aku” Petra mencengkeram pergelangan tangan Bell sebelum Gadis cantik ini melewati pintu keluar.
“Tidak. Aku akan terlambat”
“Membolos sesekali tidak akan membuat nilaimu turun”
“Ini yang aku benci. Noah yang aku kenal, tidak akan mengajariku membolos” protes Bell melepaskan diri dari kungkungan Petra.
“Kurasa kau yang berubah Bell”
“Baik orang tuaku maupun sahabat dekatku lainnya tidak ada yang mengeluhkan tentang perubahanku” tegas Bell menunjuk hidung sendiri.
“Sebaliknya. Aku, selalu menerima keluhan dari orang-orang terdekatmu tentang perubahan drastismu” kini Bell balik menunjuk ke arah Petra.
“Kau tidak memberiku alasan? Kenapa benang kita berubah warna?!”
“Benang? Benang apa maksudmu?”
“benang takdir kita bodoh!” teriak Bell kesal.
“Ka-kau bisa melihat benang takdir kita? Sejak kapan?” Petra mulai panik mendengar informasi mengejutkan tersebut.
“Entah kenapa. Aku selalu berpikir kau bukan Noah yang selama ini ku kenal”
“Kenapa kalau aku berubah? Setiap orang bisa berubah” Petra tak ingin identitas aslinya terbongkar meski itu tidak mungkin terjadi. Bukankah dia sedang memanfaatkan kekuatan Dewa dalam dirinya?
Hah?! Apa yang terjadi? Ini...tidak mungkin pikir Bell menyadari ada benang lain di jemarinya berwarna keemasan baru saja muncul.
Kalau yang putih tertuju pada Noah, siapa lagi yang berjodoh denganku? Apa orang ini Dewa? Tapi...mana mungkin ada dua Dewa dalam hidupku?! Bell makin tak mengerti.
Dalam ingatannya yang tak sengaja kembali, ke masa dimana dirinya masih seorang Aislin, Bell tahu benang takdir berwarna keemasan hanyalah milik Dewa. Bell berjalan mundur menjauhi Petra.
“Benang ini jauh lebih jujur darimu Noah,” sahut Bell, mengangkat telapak tangannya ke samping telinga, menunjukkan benang keemasan tersebut. Ia berlari ke arah Petra, tapi terus berlari melewati Petra.
“Dewa sinting itu sedang mengibarkan bendera perang? Pada Petra?” geram Petra berbalik badan melihat sosok Bell menghilang di tikungan.
Bell berlari dan terus berlari mengikuti arah benang tersebut berujung.
Inikan...Bell menyadari, si pemilik benang ada di dalam gedung, tempat lesnya akan dimulai. Bell menghela nafas panjang, menghembuskan perlahan, lalu melangkah memasuki gedung Teater sekolah.
“Bell!!” teriak seorang gadis di atas panggung melambaikan tangan girang.
Ini semua karena Noah sialan. Aku jadi terlambat. Gerutu Bell dalam hati, berlari kecil menghampiri teman sekolahnya itu.
“Apa Noah menyulitkanmu lagi untuk datang kemari?” bisik gadis disamping Bell.
“Seperti biasa. Sudah jangan dibahas. Aku ingin bernafas tanpanya. Sumpah” kekeh Bell menikmati atmosfer baru dalam ruangan yang belum pernah ia pijaki semenjak kelas satu.
“Bagaimana dengan Petra? Hmm?” goda teman Bell menyenggol lengan Bell iseng.
“Bagaimana apanya?” Bell berlagak mendengarkan apa yang dibicarakan guru padahal dia sedang bergosip dengan teman disebelah.
“Ku dengar kau melewatkan makan bersama dengan Noah, hanya untuk makan bersama dengan Petra,”
“Hey, kami bertemu tidak disengaja. Siapa sih penyebar gosip murahan seperti itu” gerutu Bell sambil melirik kesal teman di sebelah.
“Petra selalu dikelilingi banyak gadis. Bahkan sebelum kecelakaan yang menimpa kalian, dia sudah sangat terkenal”
“Apa urusannya denganku?”
“Jangan jatuh cinta padanya. Semenjak Petra mengalami kecelakaan, banyak gadis patah hati padanya”
“Kenapa?”
“Dia bilang, dia sudah menambatkan hatinya pada satu gadis”
“Wah, itu kemajuan”
“Hey, menurutku itu tidak masuk akal bodoh, Petra terkenal dengan sebutan Play Boy abadi. Menurutmu kenapa dia bisa bilang begitu?”
“Dia ingin jadi lebih dewasa lagi”
“Ya ampun Bell, apa kau sepolos itu? makanya kau jangan mendekati dia lagi. Bisa-bisa kau jadi korban patah hati keseribunya”
“Itu terlalu kejam. Dia jauh lebih baik dari sebelumnya, menurutku”
“Dengar. Dia akan bilang, kalau sudah punya gadis yang dicintainya, hanya pada gadis yang menurutnya membosankan. Sudah cukup lama aku bermain dengannya...sudah waktunya aku buang mainan lamaku”
“Terlalu frontal. Hati-hati Kalau orangnya mendengar” potong Bell memperingatkan.
__ADS_1
“Dan kau?”
“Aku? Apa?”
“Dia baru hari inikan, mendekatimu?”
“Sudah ku bilang itu tidak sengaja”
“Dia akan berkata pada calon mainan barunya. Kalau saat ini, kaulah satu-satunya gadis yang ia cintai” potong teman Bell.
‘Wah, cantiknya Bell dia benar-banar tipe mainan favoritku. Polos, cantik, dan berpikiran positif. Tidak akan mudah mendapatkannya, tapi aku pasti bisa. Karena aku Petra” tambahnya.
“Diam. Kita sedang memulai ekstrakurikuler jangan membuat kita dalam masalah di hari pertama” protes Bell mencubit pipi teman di sampingnya.
“Bell. Maju ke depan. Aku perhatikan kau yang paling bersemangat membicarakan materi kita hari ini” tiba-tiba Mr. Agneil mengundang Bell ke depan.
Yah, mau tidak mau Bell maju kedepan, berdiri di samping Mr. Agneil.
“Coba katakan, nama tokoh dongeng yang paling kau sukai”
“Tidak ada Sir”
“sungguh? Alasannya?”
“Karena dalam kenyataan, kisah cinta tidak akan berjalan seperti di negeri dongeng.”
“Menurutmu, dongeng mana yang paling tragis?”
“Romeo dan Juliet”
“Tapi kisah cinta mereka abadi sepanjang masa”
“Menurutku, kisah cinta yang sangat bodoh dan dangkal”
“Menarik. Kenapa demikian?”
“yang satu menyiksa diri dengan meminum racun berharap saat membuka mata ia bisa menghilang bersama Romeo, dan yang satunya lagi, memilih mengakhiri hidupnya.”
“Kalau aku tidak salah, pada akhirnya Romeo dan Juliet sama-sama mati konyol. Itulah sebabnya saya bilang bodoh dan dangkal”
“Kau punya pemikiran lain? Jika kau yang menjadi Juliet saat itu? Untuk menghindari pernikahan dengan Pria yang tidak kau cintai? Apa yang akan kau lakukan?”
“sungguh Anda ingin tahu?”
“Kau sudah punya ide?”
“Ya, semenjak saya membaca buku tentang dua orang bodoh itu, saya memang berpikir akan saya ubah seperti apa akhir kisah mereka jika saya yang akan manjadi Julietnya”
“Jadi?”
“Juliet akan tetap menerima pernikahan itu. Dan memasukkan racun, ke dalam minuman Suaminya.”
“Bagaimana jika keluarganya tidak berpikiran bahwa Suami Juliet mati karena sakit? Kau punya alibi lain?”
“Itu...”
“Juliet tidak berfikir bisa membodohi keluarga Suaminya dengan berkata Suamiku mati karena terlalu bahagia di malam pertamanya” komentar guru seni peran itu membuat seluruh kelas terbahak-bahak karena mimik wajah lucu yang dibuat-buat saat mengucapkan kata terakhirnya.
“Tentu tidak Mr. Agneil, Juliet terlalu cerdas untuk melakukan hal konyol seperti itu”
“Kau tahu, membunuh itu dosa. Tapi Tuhan lebih membenci orang yang mengakhiri hidupnya sendiri. Jadi Juliet akhirnya membunuh Suaminya karena dia berpikir, sumber penderitaanku adalah Pria ini. Jika aku dihukum karena melenyapkannya, hukum saja aku” kata Bell tanpa berpikir.
“Kalau ceritanya seperti itu, tidak akan ada yang mengenal kisah cinta Romeo dan Juliet karena akhir ceritanya tidak menarik bagi semua orang” kekeh Mr. Agneil.
“Tapi Bell tidak mengatakan kisahnya sudah berakhir. Bagaimana Anda bisa mengatakan akhir cerita itu membosankan atau tidak, jika Bell belum mengucapkan kata tamat” suara Noah terdengar lantang. Dia maju ke depan, mendekati Bell dan gurunya.
“lanjutkan,” jawab sang guru menunggu Bell bersuara lagi.
“Ini pasti akan sangat menarik. Jika Juliet membawa Suaminya ke seorang Dokter bedah plastik. Tanpa memberi tahu Suaminya, identitas Dokter tersebut. Juliet memasukkan obat bius ke dalam minuman sang Suami. Begitu obat bius bekerja, Dokter pun bertindak cepat.” Ujar Noah mengutarakan kisah versinya.
“Juliet berdoa semoga Operasi mengubah wajah Suaminya dengan wajah Romeo berhasil. Benar saja. Operasi berjalan lancar. Juliet dan Romeo menahan Suami Juliet sampai perban di wajah keduanya boleh dibuka. Setelah perban di buka, Romeo dan Juliet dapat hidup bahagia untuk selamanya” kata Noah panjang lebar.
“Menukar identitas?” si guru cukup tercengang dengan jalan pemikiran menyeramkan untuk anak SMA seusia Noah.
Deg!!
Jantung Bell berdetak kencang saat mendengar gurunya mengucapkan kata-kata menukar identitas.
Kalau dipikir-pikir, ini cukup masuk akal kenapa tiba-tiba sifat mereka dapat berubah drastis. Seolah mereka....
Aaaah, ya ampun Bell!! Apa yang kau pikirkan?! Sempat-sempatnya kau berpikir Noah dan Petra bertukar identitas. Jelas-jelas Petra sedang membantuku menyelesaikan tantangan dari Mr. Agneil geram Bell dengan pemikiran kacaunya.
“Ya ampun. Aku langsung bergidik mendengar ide mengerikan dari seorang anak sepertimu” ujar Mr. Agneil menepuk punggung Noah keras sampai Noah terbatuk dan memutar bahunya ke depan dan ke belakang.
“Anak-anak, pemanasan sudah selesai. Bagaimana kita langsung ke inti acara kita?” ucapan Mr. Agneil di sambut sorak sorai para peserta didiknya.
Mr. Agneil memerintahkan Noah memainkan piano karena Petra dalam kepala Mr. Agneil adalah seorang anak yang sudah profesional memainkan dua macam alat musik. Pertama, piano dan kedua biola. Masing-masing anak diwajibkan menyanyi satu persatu untuk mengetahui warna suara anak didiknya.
“Kurasa warna suara Bell dan Petra sangat cocok. Mari kita dengarkan mereka” Mr. Agneil memerintahkan Noah dan Bell berada satu panggung, untuk berduet diiringi piano yang dimainkan olehnya.
Bell berdiri canggung satu panggung dengan Noah.
Mereka cukup lama berdiskusi menentukan lagu apa yang ingin mereka nyanyikan. Noah berlari kearah gurunya membisikkan sesuatu. Saat Noah berdiri di hadapan Bell, piano telah dimainkan.
Deg
Lagu ini...bagaimana Petra bisa mengetahui lagu ciptaan Noah? Bahkan Noah sendiri tak mengenali lagunya sendiri waktu itu batin Bell. Ia menatap penuh tanda tanya ke arah Noah yang sudah berdiri tepat di depannya.
__ADS_1