
Grey menggelengkan kepala perlahan. Ia menghela nafas dalam sebelum mengatakan sesuatu.
“Kau sudah siap?” tanya Grey menepuk bahu Noah dengan kedua tangannya.
“Siap untuk?”
“membaur dengan keluargamu. Ku harap kau tidak berbuat ulah lebih besar lagi setelah ini”
“Bukankah kau memaksaku kemari? Jelas dengan sangat terpaksa aku ikuti kemauanmu” masih setengah hati Noah menanggapi pertanyaan Grey.
“ayo” tanpa banyak bertanya lagi Grey berdiri, membawa Noah masuk ke dalam rumah bagai Istana.
“Grey”
“ya,”
“aku belum siap bertemu mereka. Bisa kau antar aku langsung ke kamar?”
“Wow, akan sulit melewati mereka. Karena kamarmu dan dua saudaramu ada dilantai dua. Sementara tangga menuju lantai dua melewati ruang keluarga. Apa masalahmu?”
“Kepalaku tiba-tiba terus berdenyut. Rasanya ingin tiduran” lirih Noah memijat pelipisnya masih berjalan mengekor pada Grey.
“Temui saja mereka dulu, nanti akan kubantu membebaskanmu dari mereka” bisik Grey berhenti sejenak menunggu orang yang berjaga di depan pintu membukakan pintu.
Grey dan Noah berjalan melewati ruang tamu yang luas. Tepat di samping pintu masuk ada banyak guci mahal dengan beraneka ragam ornamen. Setelah kira-kira tiga puluh langkah dari pintu, perhatian Noah langsung tertuju pada Concert Grand Piano besar, megah, dengan suara menggelegar. Berukuran panjang 274 cm.
Di sebelah kiri, tak jauh dari piano, ada sofa dan meja menyambut kedatangan mereka. Tak lama kemudian muncul Ibu Petra dari balik pintu tembusan menuju kolam renang.
“Kau menemukan Putraku, oh Grey..., terima kasih banyak” terlihat rona wajah lega sekaligus bahagia di wajah Ibu Petra saat melihat Noah tak jauh dari Grey berdiri.
“Aku tahu kau akan menolak pelukan Mom. Tapi tolong biarkan aku memeluk Putraku ini sebentar saja” lirih Ibu Petra setelah memeluk erat Noah. Awalnya Noah ingin melepaskan pelukan canggung ini, namun niatan tersebut diurungkan karena ia merasa kasihan pada Ibu Petra.
“Bibi, sebenarnya Petra belum lama ini mengalami kecelakaan. Lebih baik kau biarkan Petra beristirahat di kamarnya” Grey menyela sesuai dengan janjinya pada Noah.
“Kecelakaan?!” panik sang Ibu lalu dengan lincah sibuk memeriksa tiap bagian tubuh Noah.
“Dokter bilang aku hanya butuh istirahat saja” Noah berusaha menjelaskan sebelum lebih banyak lagi pertanya.
“Grey panggil Dokternya kemari sekarang”
“Untuk apa? Dia sudah bilang tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi,” potong Noah panik.
“Kenapa panik? Honey, Mom sangat hafal dengan sifatmu ini oke, kalau kau tidak kabur dari rumah sakit, untuk apa panik seperti sekarang?” tantang Ibu Petra.
“Seburuk apa pun sifatku dulu, bukan berarti aku tidak bisa berubah. Apa kau benar Momku?” tandas Noah setelah itu ia langsung berjalan kearah tangga.
“Suasana hati Petra sedang buruk Bibi. Tolong maklumi dia” bisik Grey pada Ibu Petra merasa tidak enak hati harus mendengar pertengkaran antara anak dan Ibu di depan matanya. Grey langsung berlari menyusul Noah menaiki anak tangga.
“Apa seperti itu cara anak bicara pada Momnya sendiri?” tegur Grey memimpin Noah menuju kamar Petra.
“Aku hanya ingin memperingatkan pada semua orang disini bahwa Petra, yang sekarang, bukanlah Petra di masa lalu kalian” jawab Noah bersungguh-sungguh.
“Cukup dimulai dari perubahan sikap. Bukan dengan cara seperti tadi” tandas Grey menekankan setiap nasihatnya.
“Ini kamarmu” kata Grey membuka pintu sebuah kamar yang di dominasi warna hitam dan putih.
“Grey” panggil Noah ketika laki-laki muda bernama Grey itu berbalik untuk turun ke lantai bawah.
“Kenapa kau sangat peduli dengan Petra dan keluarganya?” tanya Noah setelah Grey menoleh padanya.
“Balas budi”
“Apa yang dilakukan keluarga Petra untukmu?”
“Aku tahu kau kehilangan ingatanmu broo, tapi sungguh aku sangat geli mendengar seorang Petra menyebut namanya sendiri seperti ini. Kau tahu? Tidak cocok untuk ukuran orang sepertimu”
“Aku akan membiasakan diri untuk itu, tapi jawabannya?”
“Kau yang masih kanak-kanak sungguh berbeda dengan dirimu yang sekarang. Karena Petra di masa kanak-kanaklah aku membalas budi sampai sekarang”
“Memang apa yang kulakukan sampai kau merasa harus berutang budi denganku?”
“Kau membawaku, dan adikku masuk kedalam lingkungan keluargamu. Sampai Dadmu memutuskan mengangkat kami menjadi anak asuhnya”
“Meski aku berbuat keterlaluan terhadapmu? Apa kau masih mau melanjutkan niatmu membalas budi?”
“Ya. Tuan Antony juga menjadi penguat keinginanku membalas budi”
“Antony?”
“Itu Dadmu”
“Oh, hanya karena dia mengangkatmu menjadi anak asuh?”
“Ayolah, hubunganku dengan keluargamu tidak sedangkal itu”
“Ada alasan lain? Apa itu?”
“Justru aku ingin bertanya padamu. Kalau kau tidak ku paksa tinggal disini, lalu kau mau tidur dimana?”
“Entahlah” jawab Noah kembali bermuka masam.
“Cepatlah beristirahat agar ingatanmu cepat kembali” Grey sadar pertanyaannya membuat Noah bersedih.
__ADS_1
Setelah pintu kamar tertutup, Noah tak bergeming dari tempatnya berpijak. Diedarkan pandangannya keseluruh penjuru kamar.
“Apa yang tidak ada di hidupmu tapi ada di hidupku hingga kau rela menukar keluargamu dengan keluargaku? Harus segera kutemukan jawabannya” gumam Noah lirih.
Noah berjalan ke arah kaca besar dan membuka kordennya lebar-lebar. Dari kamar Petra, Noah bisa melihat betapa luas kolam renang milik keluarga Petra. Pandangan Noah tertuju pada kaca kamar yang ada di seberang kolam renang. Ia melihat seseorang sedang menatapnya dari balik kaca itu. Menyadari intaiannya di ketahui oleh target, Gadis itu segera menutup kaca kamarnya dengan korden.
“Apa dia Eliza?” gumam Noah.
“Tentu saja siapa lagi?” suara Ibu Petra mengagetkan Noah hingga terlonjak.
“Kapan kau datang?” tanya Noah sambil menepuk-nepuk dada.
“Belum lama ini. Apa kau mau menemui Eliza, bersama Mom? Sudah lama kau tidak mengunjungi Eliz” Ibu Petra mencoba membujuk.
“Dia terlihat tak ingin bertemu denganku”
“Tentu saja dia bersikap seperti itu, kau lupa? Kau sendiri yang bilang padanya tidak ingin melihatnya lagi”
“Pasti dia sangat membenciku karena itu”
“Tidak. Dia selalu menanti kapan kau akan memaafkannya, menantikan kapan kau berkunjung ke kamarnya” tegas Ibu Petra kesal.
“Nanti saja. Suruh dia makan siang bersamaku”
“Benarkah?” sambut sang Ibu tersenyum riang.
“Kurasa sudah mengatakannya dengan jelas. Apa ada bagian yang kurang dimengerti?”
“Mom hanya ingin memastikannya honey. Ingat ya, janji sudah diucapkan. Tidak bisa ditarik kembali”
“Biarkan aku istirahat sekarang atau Mom ingin aku berubah pikiran?” jawab Noah jengah. Terpaksa ia memanggil Ibu dari musuh bebuyutannya sebagai Ibu.
“Istirahatlah, semoga cepat sembuh nak,” sambut Ibu Petra kembali memeluk Noah saking bahagianya. Setelah itu bergegas meninggalkan kamar Putranya, sambil tersenyum riang pada Putranya yang lain tepat di ambang pintu kamar Petra.
“Kau salah minum obat atau apa?” ejek laki-laki muda di ambang pintu sambil berjalan mendekat ke arah Noah.
“Yang satu pergi, muncul satu lagi pengganggu. Astaga...” gumam Noah menjatuhkan tubuhnya yang letih diatas tempat tidur.
“Maksudku, kenapa sekarang dengan mudah kau mau menemui Kak Eliz? Dad tidak sedang dalam perjalanan pulangkan, hari ini?” pertanyaan saudara laki-laki Petra mengingatkan informasi akurat yang diberikan Grey padanya sebelum memasuki rumah mewah ini. Bahwa Petra yang asli, tidak akan sudi menemui saudarinya Eliza, kecuali jika Ayahnya pulang ke rumah.
“Kau tidak memprotes sikapku pada Eliza? Dia saudari kita Allan” tiba-tiba pertanyan ini meluncur begitu saja dari mulut Noah.
“Hari ini kau kenapa? Jelas kau yang menanam bibit kebencianku pada Eliza”
“Aku hanya berpikir sebaiknya kita akhiri saja permusuhan ini kepadanya”
“Mengakhiri? Hey, justru kau orang di dalam rumah ini yang paling anti dengan Eliza”
“Aku saja mau berdamai padanya. Kenapa kau keberatan?”
“Kau belum dapat kabar dari Grey maupun Mom? Belum lama aku mengalami amnesia. Jadi memang ada ingatan yang hilang dari kepalaku” jawab Noah sambil memperagakan gerakan menembak pelipisnya dengan jari.
“Ah, jadi itu jawaban dari Keanehanmu hari ini. Dan Mom memanfaatkan situasi ini” Allan menyimpulkan dari sikap Ibunya sendiri ke pada Petra.
“Baiklah, kalau begitu tidak ada yang bisa kita bicarakan lagi. Istirahatlah” Allan malah tidak melanjutkan kata-katanya lagi. Ia berbalik lalu berjalan menuju pintu keluar.
“Karena aku tidak lagi ada dipihakmu, jadi kau memilih mengabaikan pertanyaanku? Allan?”suara Noah sempat menghentikan langkah Allan tepat diambang pintu. Allan menoleh ke belakang, wajahnya berekspresi datar.
“Hanya sekedar informasi untukmu Kak,” Allan menggapai knop pintu.
“Akulah yang selalu ada di pihakmu. Coba pulihkan ingatanmu perlahan” tambah Allan setelah itu menutup pintu kamar Petra.
“Masalahnya aku bukanlah Petra. Tapi semua orang menyuruhku mengingat kejadian yang bukan bagian dari diriku” gumam Noah melempar bantal ke arah pintu. Betapa susah mengusut akar permasalahan antara Petra dengan Eliza.
Tak terasa siang telah tiba. Noah membuka mata, dan duduk perlahan masih di atas tempat tidur.
“Padahal berharap ini mimpi tapi tetap saja aku masih terperangkap dalam rumah besar ini” gumam Noah gusar sambil memijakkan kaki ke atas lantai.
Tok
Tok
Tok
“Siapa?”
Krieeeek
“Tuan muda Petra,” seorang pelayan muda berusia sekitar 21 tahun muncul setelah membuka pintu.
“Nyonya memanggil Anda, untuk makan siang”
“Apa Eliza sudah bersama dengan Mom?” tampaknya Noah harus terbiasa memanggil Wanita asing itu sebagai Ibunya.
“Ya,”
“Sebentar lagi aku kesana. Pergilah” perintah Noah.Sang pelayan cantik berbalik hendak menutup pintu kamar.
“Sudah berapa lama kau melayani keluarga ini?” pertanyaan Noah menghentikan tangan si Pelayan, menutup pintu.
“Satu tahun, Tuan”
“Apa kau juga melayani Eliz?”
__ADS_1
“Ya, untuk beberapa hal saja”
“Setiap hari berada di sisi Eliz?”
“Ya, Tuan” jawab Pelayan mulai terkesan gelisah.
“Bagaimana hubungan antara Eliz dan Allan selama ini?”
“Tuan Muda Allan selalu berada di sisi Tuan Muda Petra sepanjang hari. Beliau tidak pernah mengunjungi Nona muda”
“Bagaimana hubunganku dengan Mom?”
“ya?” si Pelayan merasa keheranan untuk apa Tuan Muda Petra menanyakan hal yang semestinya tanpa bertanya pun, semua orang sudah tahu.
“Itu....,”
“Siapa namamu? Sepertinya kau sedang ketakutan? Apa itu karenaku?” Noah dengan santai bertanya memperhatikan pelayannya berkeringat dingin.
“Me-Megan” Pelayan mengucapkan namanya terbata-bata.
“Dengar. Aku mengalami amnesia. Keadaanku seperti ini membuatku bingung. Kau hanya perlu mengatakan apa pun dengan sejujurnya. Aku jamin tidak akan berbuat jahat padamu” Noah tak ingin semakin menakuti Gadis tersebut.
“Baik. Hubungan Tuan Muda dengan Nyonya tidak terlalu dekat karena Tuan Muda selalu menghindar dari Nyonya setiap hari”
“menghindar dari Mom dan Eliza? Tapi kenapa aku melakukan hal itu?”
“Maaf. Hanya Anda yang bisa menjawab pertanyaan yang satu itu”
“Pergi dan katakan aku akan kesana sebentar lagi. Terima kasih banyak Megan” kata Noah dengan senyuman manis.
Setelah Megan keluar dari kamar Petra, wajah Gadis cantik ini cenderung kearah kebingungan.
“Sedang apa kau di depan pintu kamar Tuan Muda Petra? Kau sudah menyampaikan pesan Nyonya?” tanya Pelayan lain yang usianya jauh lebih tua.
“Sssst” Megan menggeret Pelayan itu ke arah balkon lantai dua.
“Kau pernah mendapatkan senyuman ramah, dari Petra?” Megan mengucapkan dengan mata melebar.
“Anak kurang ajar, katakan Tuan Muda! Untung disini hanya ada kita berdua” omel si Pelayan paruh baya sambil memukul lengan kiri Megan.
“Auch, Annie, jawab saja pertanyaanku” pekik Megan mengelus-elus lengannya yang sakit.
“Mengharap Tuan Muda tersenyum pada Pelayan macam kita, seperti mengharap ada matahari terbit di malam hari” kekeh Annie sambil berdecak dan menggelengkan kepala.
“Baru saja Tuan Muda tersenyum padaku Annie,”
“Apa?!” Annie memekik hingga suara tinggi melengking terdengar keras. Annie menyadari suaranya bisa terdengar sampai kamar Tuan Mudanya jadi Annie menutup mulutnya dengan kedua tangan. Tapi, tak lama setelah itu, ia membuka bekapan tangan dari mulutnya. Dia mendekat ke arah Megan.
“Apa ini pertanda kiamat sudah dekat?” bisik Annie membuat Megan terkekeh kecil.
“Seharusnya kau senang mendengar berita baik Inikan? Kurasa bagus juga dia menderita amnesia. Aku berdoa agar Tuan Muda tidak pernah ingat masa lalunya”
“Doamu terlalu kejam. Kau yakin beliau benar-banar amnesia? Dari siapa kau tahu?”
“Dari orangnya langsung”
“Hey, kau tahu Tuan Muda sering sekali mengerjai kita semua kan? Kau yakin itu bukan akal-akalannya?”
“Entahlah, kurasa aura penindas yang selama ini menguar dari tubuhnya tidak terasa lagi olehku, hari ini” jawab Megan mengingat perbincangannya dengan sang Tuan Muda.
“O ya? Aku juga dengar dari Juana yang tidak sengaja melihat Nyonya, dengan leluasa memeluk Tuan Muda” Annie akhirnya ikut bergosip juga.
“Benarkan? Amnesia Tuan Muda membuat sikapnya jadi melembut hari ini. Semoga hari ini...dan seterusnya...tidak ada yang kena jebakan jahat Tuan Muda” tambah Megan menengadahkan tangannya berdoa.
“Jadi begini kelakuan Pelayan rumah ini saat tidak dalam pengawasan tuan rumah? Hmm?” tegur seseorang di balik pintu memperhatikan kedua Pelayan itu.
“Tuan Grey” Megan dan Annie terkejut hanya bisa memberi hormat pada anak angkat Tuan Besarnya.
“Aku tidak akan melaporkan kejadian ini pada kedua orang tuaku. Asalkan sekarang juga kalian kembali bekerja” Grey mengusir Megan dan Annie secara halus. Tentu saja kedua Pelayan di hadapannya segera bergegas pergi setelah mendapatkan peringatan.
“Grey, kau disini?“ suara Noah memanggilnya dari kejauhan membuat lamunan Grey terpecah. Grey berbalik, menghampiri Noah.
“Mommu mencarimu. Kau terlalu lama di dalam kamar”
“Aku sudah meminta Megan mengatakan aku sebentar lagi turun”
“Megan? Kalau begitu dia tidak segera mengerjakan perintahmu. Tadi aku melihatnya dengan Annie sedang bergosip di balkon sana” Grey menunjuk ke arah dimana Annie dan Megan berada tadi.
“Ayo turun” jawab Noah berjalan ke arah tangga.
“Kau sedang memikirkan hukuman untuk mereka?”
“Aku masih ada urusan yang jauh lebih penting” Noah menjawab saat kakinya mulai menuruni anak tangga.
“Itu terdengar seperti bukan Petra yang ku kenal”
“Petra yang kau kenal? Anggap sudah mati. Kau lebih suka yang mana?”
“Yang mana apanya? Petra sudah mati atau belum?”
“Kau lebih menyukai Petra yang dulu atau sekarang?” Noah menimpali.
“Oh, itu. Aku belum ingin memutuskannya sekarang” kekeh Grey disamping Noah.
__ADS_1
Tak lama kemudian mereka melangkahkan kaki ke anak tangga terakhir. Grey mengisyaratkan agar Noah mengikutinya menuju ruang makan. Mereka berjalan melewati pintu tembusan ke arah kolam renang. Jika lurus bisa menikmati keindahan kolam renang dan taman, tapi kalau berbelok akan melewati koridor yang hanya bisa dilalui tiga orang sekaligus. Koridor itulah penghubung menuju ruang makan sekaligus dapur.