Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode10


__ADS_3

Rasa bosan menyelimuti Aislin di dalam ruangan rawat inapnya. Sudah tak tahan lagi hanya diam tiduran saja akhirnya ia menyibakkan selimut, mencari kursi roda, untuk sekedar mencari udara segar di luar sana. Sebagai pasien baru saja selesai di operasi, dia tidak mau ambil pusing untuk mengikuti aturan tetap tidur dan diam ditempat.


Rasa penasaran Aislin terhadap sosok Edward membuatnya pengap berada di ruangannya. Setidaknya ia patuh, tidak berjalan kaki kemanapun dia pergi ya kan? Jadi, dia tetap dengan hati yang berkecamuk itu, menggulirkan roda di kedua sisi kanan dan kirinya menyusuri koridor rumah sakit. Ia mulai ragu melajukan kursi rodanya begitu melihat di depannya ada jalan turunan.


Yah, seharusnya ada seseorang yang berada di dekatnya, untuk turun ke sana. Ia mendesah kesal...ya sudah, Aislin berpikir akan mencari jalan alternatif lainnya.


“Apa ada yang bisa saya bantu Nona?” mendengar suara seseorang sedang menawarinya bantuan, Aislin menoleh memperhatikan si tampan yang sedang mengajaknya bicara.


“Bisakah? Maaf, ini merepotkanmu” jawab Aislin suka cita sambil meringis tak enak hati.


“Sudah tidak perlu sungkan-sungkan. Aku juga salah satu anggota keluarga pasien. Bisa jadi suatu hari nanti saudaraku yang dirawat di sini membutuhkan bantuanmu. Saling membantu, itu motoku”. Jawab Pria tersebut sangat ramah, dengan senyuman cerah mempesona.


“Sepertinya aku..., pernah melihatmu di suatu tempat” sahut Aislin sambil di dorong kursi rodanya, menuruni jalan turunan.


“Wah, aku tidak tahu kita pernah bertemu di mana. Tapi aku ini seorang Desainer mungkin saja kamu melihatku di tempat aku memamerkan semua desainku, di suatu tempat? Atau kau bisa saja melihat di Channel TV tertentu?” kekeh Pria itu sesantai mungkin sembari dengan sabar dan telaten membawa Gadis tersebut berjalan-jalan menuju taman rumah sakit.


“Di Rumah sakit ini ada dua taman. Dan..., favorit saudaraku taman belakang di sekitar sini. Apa kamu mau pergi ke sana? Atau ada tujuan lain Nona?”


“Malah tidak ada tujuan sama sekali. Aku hanya suntuk berada di dalam. Kalau kau punya sedikit waktu luang bisakah membantuku pergi kesana? Kalau kau sibuk, aku bisa kembali sendiri” Aislin meringis merasa dirinya sangat konyol.


Apa ini kebetulan atau memang sebuah takdir ya? Semalam sebelum kecelakaan menimpanya, dia hanya bisa menatap Pria itu di layar TV dari kejauhan. Dan..., sekarang? Hoki Aislin cukup besar mungkin, malah kini dirinya jadi bersyukur kejadian naas itu menimpanya. Kalau tidak, Aislin tak akan punya kesempatan bertemu Edward Jorgie seorang Desainer yang melegenda.


“Masih ada waktu sekitar...satu jam. Saudaraku sedang menjalani terapi jadi aku tidak ada kerjaan dan memilih berjalan-jalan. Lalu bertemu denganmu.” Balas Eros melirik rindu pada Aislin.


Setidaknya, meski Gadis itu tak mengenalinya lagi tapi berbicara, bertemu dengannya adalah suatu masa paling menyenangkan baginya. Menahan diri. Sudah berapa lama dan berapa kali dirinya menunggu waktu yang tepat hanya untuk menatap Aislin secara diam-diam.


“Jadi, apa rumahmu berada di sekitar sini?” tanya Edward kembali.


“Sebenarnya tidak. Jadi..., aku sedang main ke rumah sahabat lama. Lalu dalam perjalanan pulang, belum jauh dari rumahnya berada, kecelakaan itu terjadi”


“Seharusnya aku tak menanyakan hal yang mampu membangkitkan traumamu. Maaf”


“Aku yang berinisiatif menceritakan perihal kenapa aku sampai dirawat disini. Jangan merasa bersalah.”


“Bagaimana? Indah bukan?” tiba-tiba Edward menunjuk ke arah depan ke hamparan taman indah dalam rumah sakit.


“Wow, berada disini serasa sedang berwisata. Air terjun yang indah” jawab Aislin terpesona pada keindahan taman tersebut.


“Itulah kenapa saudaraku senang sekali menghabiskan waktu di sini. Dia jadi lupa bahwa dirinya seorang pesakitan” jawab Edward miris.


“Boleh aku tahu, dia...., sakit apa?”


“maaf. Ini harus dirahasiakan. Tidak ada yang boleh tahu dia memiliki masalah kesehatan. Kariernya bisa tamat kalau berita ini tersebar luas”


“Bukan maksudku mau ikut campur atas hidup saudaramu. Maaf jika ini mengusikmu” Aislin menegaskan dengan nada sehalus mungkin.


“Bukan salahmu juga Nona. Aku yang memberimu informasi bahwa ini adalah rahasia” kekeh Edward tanpa berpikir lama.


“Kenapa kau sampai kemari huh? Kau baru saja selesai operasi. Baru sadar dan ingin keluyuran? Kamu tahu, seberapa paniknya aku begitu tahu kamu menghilang dari ruanganmu?” tiba-tiba terdengar suara seseorang berlarian dan menyela pembicaraan antara Eros dan Aislin.


Pria yang masih terengah-engah itu segera berdiri di depan Aislin. Ia berjongkok di hadapan Aislin sambil mengeluarkan seluruh kecemasan yang berkecamuk dalam dadanya, menatap antara cemas sekaligus jengkel luar biasa.


“Richard? Cepat sekali kau datang?”


“Apa itu permintaan maaf? Aislin?” tegas Richard menatap penuh ketegasan.


“Maafkan aku. Yang penting, aku tidak banyak berjalan kan? Aku sudah mematuhi perintah Dokter. Aku kemari dengan kursi roda jangan panik berlebihan itu bukan gayamu Richard,”


“Ehm. Kau..., tidak mengenalkanku siapa Pria di belakangmu itu?” sindir Richard melirik pada Pria yang dengan setia masih berdiri sambil memegang kursi roda yang di duduki Aislin.


“Richard, ini Edward. Dan Edward, Pria berisik ini Richard”

__ADS_1


“Senang berkenalan dengan Anda Tuan Richard,” sapa Edward alias Eros sambil menawarkan jabatan tangan.


“Tolong lain kali kalau melihat calon Istri saya berkeliaran diluar nasihati dia untuk tidak membuat calon Suaminya ini cemas” balas Richard, ramah berlebihan kelihatan sekali keramahannya ini dibuat-buat.


Sebenarnya dia adalah calon Istriku Richard. Aku hanya mengembalikannya padamu geram Eros sambil mengangguk ragu tak lupa dengan ekspresi kebingungan. Ekspresi mana lagi yang bisa ditunjukkan Eros pada keadaan semacam ini? Tidak mungkin dirinya mengatakan kebenaran bahwa dia masih merasa berhak atas Aislin sebagai calon Istrinya.


Sementara kenyataan memang mengharuskan Aislin tidak bersamanya tapi bersama Richard. Dia tidak bisa berada di tengah antara dua sejoli ini. Hatinya akan benar-benar hancur jika melihat keharmonisan antara Aislin dan Richard di hadapannya itu.


“Karena orang yang seharusnya berada di sisimu sudah datang, aku pergi dulu” pamit Edward sambil menepuk bahu Aislin.


“Seudarmu sudah selesai terapi?” tanya Aislin tanda tanya.


“Terapinya? Kurasa masih belum selesai. Aku harus mengurus beberapa keperluannya terlebih dahulu sebelum sesi terapi keduanya selesai” jawab Edward serius.


“Semoga saudaramu cepat sembuh. Terima kasih bantuanmu Edward” tambah Aislin tulus.


“Amin” tandas Edward sambil menepuk bahu Richard berpamitan.


“Bisakah kau bersikap tak berlebihan? Kenapa juga mengaku aku calon Istrimu? Apa kau ingin membuat skandal dengan meminjam namaku? Apa pamormu sudah turun Tuan Richard? Sampai mengucapkan kata-kata yang tak biasa kau ucapkan?” protes Aislin kesal.


“Tapi aku benar-benar tertarik padamu Aislin” tegas Richard, masih berjongkok bahkan kini dia mengaitkan jemarinya, dengan jemari Aislin.


“.......” Aislin tak bisa berkata-kata.


“Beri aku kesempatan membuatmu mau menerimaku. Kau bisa menentukan batasan waktuku, untuk berusaha mendapatkan hatimu. Ini tidak adil jika kau menolakku langsung, sebelum kau berikan kesempatan terlebih dahulu”


“Kenapa kau yang tampak sedang cedera otak Richard? Padahal akulah yang kecelakaan dan di jahit kepalaku ini” sahut Aislin mengerutkan kening kebingungan.


“Sayang....aku serius. Sangat, sangat serius. Bisa jawab dengan sebuah jawaban lebih serius dari itu?” protes Richard setengah menggerutu.


“Pergilah ke Dokter. Bahkan kau panggil aku apa tadi?! Sayang??”


“ya, ada masalah?”


“Loh, justru karena aku Pria normal maka aku ini menyukaimu. Menginginkanmu menjadi Istriku. Apanya yang jadi masalah dalam hal ini? Sayang,”


“ini..., serius”


“Ya Tuhan...., iya dari tadi aku itu serius tahu,”


“Ya-yakin serius?”


“apa kau pernah melihat tampang seriusku seperti ini sebelumnya?”


“Tidak”


“Artinya aku benar serius memintamu menjadi milikku. Apa ada masalah dengan otakmu Aislin? Kau jadi lebih lambat dalam berpikir,” omel Richard ingin mencubit saja kedua pipi Aislin saat itu juga namun diurungkannya.


“Ini tiba-tiba Richard....,” jawab Aislin melotot kesal.


“Lalu? Jawabannya sayang,”


“Aku butuh waktu”


“Just yes or no baby”


“Kau bercanda?! Memang menjawab perasaan orang seperti membuat adonan kue, yang akan siap saji dalam sehari?!” omel Aislin mencibir.


“yes, or no,”


“Lupakan aku ingin kembali ke ruanganku saja bye” jawab Aislin grogi berat. Ia mengayuh roda kursi rodanya dan tibalah di tanjakan. Aislin menoleh pada Richard yang berdiri tak jauh darinya. Nampaknya Pria ini mengikutinya diam-diam tadi.

__ADS_1


“Butuh bantuan?”


“Kau tahu jawabannya Richard...,”


“Jawab dulu ya atau tidak. Apa sulitnya?” kekeh Richard. Mendengar ucapan menjengkelkan Richard, Aislin berdecak kesal. Tanpa ragu Aislin tetap mengayuh roda untuk naik ke atas. Rodanya mundur ke belakang, dan hampir saja, tangan Aislin terjepit roda yang mundur ke belakang.


Tap


Dengan sigap Richard menahan kursi roda Aislin. Tangan Gadis itu terselamatkan. Ia hampir saja terjungkal ke belakang untung saja ada Richard yang langsung menangkap kursi itu. Dalam keadaan kursi roda yang oleng doyong ke belakang, dengan bebas keduanya saling menatap satu sama lain.


“Terpesona sayang?” tanya Richard tersenyum jahil.


“Bisa bedakan antara terkejut dengan terpesona?” bentak Aislin menatap nyalang sang bintang film. Richard tersenyum puas mendapati sikap grogi yang tak sengaja ditunjukkan anggota tubuh Gadis itu. Ia tetap membantu sang Gadis menaiki tanjakan, lalu berjalan menyusuri koridor menuju kamar inap Aislin. Sesampainya di ruangan itu, dengan telaten Richard membantu Aislin berdiri.


“Auw!!” pekik Aislin memegang kepalanya yang diperban saat berusaha berdiri.


“Jangan tiba-tiba berdiri. Terlalu cepat berdiri bisa berbahaya untukmu saat ini” Richard mengingatkan setelah Aislin kembali duduk di atas kursi roda. Richard tak peduli bagaimana nanti Aislin mengomelinya yang jelas, ia hanya akan beraksi. Benar saja Richard membopong Aislin, lalu perlahan mendudukkannya di tempat tidurnya.


“Thank’s”


“sama-sama. Kenapa belum juga aku mendapatkan jawaban?” jawab Richard. Mata Aislin membulat begitu tahu, tak jauh dari tempat mereka berdiri, di ambang pintu ada kamera yang mengabadikan peristiwa itu.


“Sejak kapan para Wartawan itu ada di sekitar kita?” bisik Aislin menyadari akan ada masalah jika tidak segera membuat jawaban.


“Sejak ditaman. Jadi kau mau menjawab?” balas Richard ikut berbisik di telinga Aislin.


“Yes” terpaksa kalimat ini meluncur dari bibir mungil Aislin kalau ditolak, dia akan dibenci para fans Richard jika diterima pasti akan tetap ada omongan tak menyenangkan beredar dimana-mana. Richard tersenyum riang sambil memeluk erat Aislin.


“Jadi kita melakukan reality show setingan?” bisik Aislin dipelukan Richard.


“Aku tidak pernah melakukan hal itu sayang. Tanpa melakukan setingan bukankah aku sudah cukup dikenal? Aku benar-benar sedang melamarmu. Di depan semua orang” jawab Richard, melepaskan pelukannya pada Aislin, lalu mengecup keningnya lama.


***Benang ini. Benang ini menghubungkan kami. Dia..., benar-benar milikku? Kalau aku tak mau percaya tapi benang ini menjelaskan kebenarannya.


Sudah seharusnya aku bersyukur bukan? Orang lain tidak tahu dengan siapa mereka akan berlabuh. Tapi aku bisa melihat dengan siapa aku akan hidup bersama. Seharusnya aku bersyukur. Tapi kenapa aku menolak? Hatiku menolak***. Batin Aislin bersemu kemerahan ketika ia mendapatkan perlakuan istimewa dari sang aktor.


“Permisi...apa kalian akan begitu sampai acara selesai? Bisa kita bicara bertiga?” goda sang presenter begitu mendekat pada mereka berdua.


“Maaf. Terima kasih berkat rekan media semua, akhirnya aku bisa mendapatkan Gadis tercantik di sampingku ini” kekeh Richard sambil mengelus kepala Aislin mesra.


“Ternyata, teman-teman bisa lihat kan? Sifat romantis seorang Richard Lois itu ternyata bawaan sejak lahir bukan karena akting ya,” kata sang presenter menyimpulkan sikap Richard pada Aislin.


“Nona Aislin, sejak kapan kalian mulai saling tertarik?”


“Wah, itu akan membuatnya malu. Bagaimana jika aku yang menjawabnya saja? Apa kau tidak melihat pipinya semakin merah?”


“Tidak, tidak. Kami ingin mendapatkan jawaban dari kedua pasangan fenomenal. Jadi biarkan dia yang menjawab” protes sang presenter menggoyangkan jari tak setuju. Richard melirik Aislin tak berdaya.


Ya ampun, mana bisa dirinya dimaafkan kali ini? Sama saja dia memaksakan kehendak pada Aislin. Dia telah mempersiapkan diri sewaktu-waktu akan di tampar Gadis cantiknya.


“Ku pikir semenjak kami menjadi model kosmetik Dandelio. Kepribadiannya yang unik sangat menarik. Kurasa” jawab Aislin sambil berusaha menenangkan diri.


“Kurasa? Artinya kau tidak yakin dengan apa yang baru saja kau katakan. Apa ada pertemuan selanjutnya? Atau kalian pernah bertemu sebelum menjadi bintang iklan bersama?” pancing sang presenter sangat menaruh minat atas jawaban Aislin.


“Kami pertama kali bertemu saat menjadi bintang iklan Dandelio. Tapi pertemuan berikutnya jelas ada. Ketertarikan itu datangnya dari awal pertemuan bukan? Makanya aku bilang mungkin. Karena aku tidak yakin tertarik padanya pada waktu itu, atau setelah itu. Yang jelas dan paling penting sekarang kami mengambil keputusan bersama” jawab Aislin panjang lebar.


“Dan kau, Richard? Kau yakin pada pandangan pertama,” pancing reporter itu lagi.


“Tentu saja. Aku ingat betul bagaimana dia bisa sangat mempesona dengan balutan busana rancangan Edward Jorgie” kekeh Richard mengenang masa lalu tanpa sadar, kenangan itu pun hasil rekayasa sang Dewa cinta.


“Pertanyaan selanjutnya. Tolong jawab dengan spontan, tanpa berpikir lama oke, Lalu kalian baru dekat sejak kapan?”

__ADS_1


“Tiga minggu yang lalu” jawab Aislin dan Richard bersamaan.


“Lihat?!” seru sang reporter heboh sambil menatap ke kamera.


__ADS_2