
Deg
Deg
Deg
Jantung Noah berdetak kencang mendengar si Dokter mulai melontarkan rasa herannya terhadap kasus khusus yang dialami Noah.
"Tidak, aku tidak merasakan hal yang menyakitkan lagi. Jadi apa boleh aku pulang sekarang?" kata Noah ingin segera kabur saja dari tempat berbau tak menyenangkan ini.
"Tunggu. Untuk lebih memastiakan bahwa kau baik-baik saja, kita harus menunggu uji lab terakhir" kalimat sang Dokter membuat Noah jadi lemas seketika.
Apa mimpi itu bagian dari masa laluku sebagai Dewa? atau hanya halusinasiku? jika benar aku ini Dewa, bagaimana aku bisa lolos dari mereka?! ya ampun bagaimana cara Dewa bekerja? sial!! bahkan aku tidak mengerti cara menggunakan kekuatanku!! Ini pasti hanya bunga tidur. Maki Noah pada diri sendiri.
“Sebegitu bencinya kah kau terhadap Dewa?”
Noah menoleh pada seorang pasien yang dirawat disebelah kirinya. Pasien tersebut membuka tirai, untuk menatap Noah secara langsung. Noah mulai keheranan masalahnya, ia tak lagi mendengar suara detak jam. Dokter dan dua Suster pun tak bergerak.
“Aku tidak mengatakan apa pun,” kilah Noah. Jelas-jelas tadi ia tidak mengucapkan apa pun, dia hanya...membatin?
“Kau memang tidak bilang apa-apa, tapi aku mendengar apa yang sedang kau pikirkan” balas Dewa Gazleil yang menyamar sebagai pasien lain.
“Kecilkan suaramu. Yang lain bisa mendengar” Noah mengingatkan sambil berbisik.
“Untuk apa dia mengecilkan suaranya? Toh kami juga sudah mendengar secara langsung kata hatimu barusan” pasien lainnya membuka tirai lebar-lebar.
“Mana mungkin?” kekeh Noah merasa dipermainkan.
“Bukankah kau meragukan siapa sejatinya dirimu? Kau ini Dewa atau bukan?” balas pasien lain, siapa lagi kalau bukan Dewa Thanatos yang sedang menyamar.
“Kenapa kau masih saja merasa penglihatanmu, hanya sebuah mimpi? Bagaimana jika ternyata malah bagian dari masa lalumu?” sambung Dewa Ker melompat dari tempatnya berbaring, lalu melangkah mendekati Noah.
“Memang berapa usiaku menurut kalian huh? Aku baru saja melihat dunia. Alangkah tidak masuk akalnya jika tiba-tiba aku meyakini bahwa diriku ini adalah Dewa. Orang lain seperti Dokter ini, akan mengatakan aku sudah gila” cerocos Noah kesal. Bahkan kini ia merasa dikelilingi tiga manusia yang kehilangan akal.
“Kau bagian dari kami. Sekarang sudah saatnya kau menyadari jati dirimu yang sesungguhnya” jawab Dewa Gazleil menjentikkan jari.
Muncullah sebatang coklat di telapak tangan Dewa Gazleil. Sang Dewa memberi kode agar Noah segera mengambil sekaligus memakan coklat tersebut.
“Ini trik sulap yang paling sering ku lihat di sirkus dan TV. Jadi apa bedanya dengan trik kalian ini?“ Noah mengernyitkan kening enggan mengambil coklat dari tangan pasien lain.
“Kau akan tahu jika kau, memakannya sekarang” geram Dewa Ker.
“Kau tahu peraturannya kan? Tidak boleh menerima pemberian dari orang yang tidak dikenal” Noah menolak keras.
“Sebelum kau mengambil keputusan bodoh! Kita semua saling mengenal!” Bentak Dewa Ker merasa kesal.
“Ker, jangan memperkeruh keadaan. Eros tidak akan mau memakan coklat ini untuk memulihkan ingatannya” tegas Dewa Thanatos.
“Bagaimana kau bisa tahu nama Pria di dalam mimpiku?” Noah menatap Dewa Thanatos penuh tanda tanya besar.
“Karena Dewa Eros, adalah kau” jawab Dewa Thanatos.
__ADS_1
“Berhenti mendebat kami, jika kau ingin tahu kebenarannya. Coklat ini bisa memulihkan ingatanmu sebagai Dewa Cinta” Dewa Gazleil menimpali, sebelum Noah sempat melontarkan pertanyaan kembali.
“Dewa cinta? Cupid? Maksudmu itu Aku?” tetap saja Noah tak bisa berhenti bicara.
“Dia lebih menjengkelkan setelah melupakan segalanya” Dewa Ker menggunakan kekuatannya, memaksa Noah membuka mulutnya lebar-lebar.
Melihat usaha Dewa Ker, maka Dewa Gazleil segera memasukkan potongan coklat ke dalam mulut Noah. Dewa Ker memerintahkan Noah memakan coklatnya sampai habis.
Noah tak berdaya ia hanya sanggup menelan coklat, karena tiap Noah ingin memuntahkan coklat tersebut, yang ada coklat itu menghilang sebelum jatuh di atas lantai. Anehnya, malah kembali bersarang dalam mulutnya dan kini Noah sedang berjuang menahan rasa takut dalam dirinya.
Noah sadar kekuatan ketiga pasien tersebut, bukanlah kekuatan biasa. Ia segera menarik nafas dalam-dalam setelah selesai menelan coklat terakhir.
“Noah, kau baik-baik saja?” tanya Dokter kebingungan melihat Noah menggosok leher berulang kali.
Noah menoleh ke arah Dokter dan Suster. Mereka kembali menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Detak jarum jam di ruangan itu pun akhirnya terdengar jelas.
“Tiga pasien di sini tadi, kemana mereka pergi?“ Noah bertanya masih dengan nafas terengah-engah.
“Hanya kau yang ada disini. Tiga tempat sisanya, sudah dikosongkan sebelum kau masuk kemari” jawab Dokter di kuatkan oleh anggukan dua Suster yang menyertainya.
“Nak, ini soal kesehatanmu. Demi kebaikanmu. Kau harus di cek secara menyeluruh. Sebentar lagi tes labmu akan keluar. Tunggulah sebentar” si Dokter menepuk pundak Noah.
Noah tersenyum lalu membalas satu tepukan, di pundak sang Dokter.
“Saya hanya mengalami pingsan sekaligus halusinasi setelah terlalu lama di luar rumah. Untuk apa lagi ada tes lab?” potong Noah tidak ingin masalah bertambah rumit.
“Apa hanya sampai disitu ingatanmu Noah? Tentu saja kau harus menunggu hasil labnya kalau begini,” keluh Dokter sambil menatap panik pada Noah.
“Dokter jangan khawatir. Noah sangat suka bercanda. Dia ingat segalanya. Benarkan Noah?” tiba-tiba salah satu pasien yang tadi dilihat Noah masuk ke dalam ruangan rawatnya lengkap dengan atribut Dokter.
Begitu Noah di bolehkan keluar dari rumah sakit, Dewa Ker tak mengijinkan Noah pergi begitu saja. Ia membawa Noah ke ruangan rawat lainnya.
“Keluargamu ada yang dirawat disini?” tanya Noah setelah berhenti di depan pintu masuk kamar rawat yang Dewa Ker tunjuk.
“Kau akan tahu setelah masuk ke dalam” jawab Dewa Ker menatap tajam Noah. Sang Pria muda membuka pintu dan mendapati ada Petra, sedang terbaring tak sadarkan diri disana.
“Petra? Ada apa dengannya?” Noah kebingungan.
“Dia adalah manusia penyerap. Yang terlahir bersamaan dengan kelahiran kau dan Bell”
“Maksud dari penyerap? Lalu bagaimana kau bisa mengenal Bell?” Noah mulai waspada.
“Kalau kau adalah Cupid alias Eros, maka Bell adalah Psikhe. Manusia yang kecantikannya melebihi kecantikan Dewi Afrodit, dan berubah menjadi Dewi karena menikahi Putra Dewi Afrodit” tegas Dewa Ker.
“Kenapa Petra bisa lemah tak berdaya seperti ini?”
“Dia menyerap kekuatan Dewa dan Dewi sebelum kebangkitan mereka di mulai. Maka dia pun harus menerima konsekuensi tak mampu mengendalikan kekuatannya”
“Kalau kau tidak mengingat sebagian dari ingatanmu sebagai Dewa Eros, maka Petra bisa menghancurkan bumi ini dalam waktu singkat” jawab Dewa Ker panjang lebar.
Noah mengernyitkan kening. Sebenarnya, apa yang dia lakukan diluar sana dalam keadaan tidak sadarkan diri?
__ADS_1
“Kau seorang Dewa. Kenapa bergantung pada ingatanku? Kalian bertiga kurasa sudah lebih dari cukup untuk menghentikan Petra berbuat kekacauan” tanya Noah tak habis pikir.
“Masalahnya tidak sesederhana seperti pikiran dalam otakmu itu. Kekuatan Dewa yang diserap Petra tidak bisa dilawan dengan kekuatan sembarang Dewa”
“Hanya bisa dilawan oleh sang pemilik kekuatan asli. Yaitu Dewa...Eros yang tidak lain adalah kau, Noah” jawab Dewa Ker mulai belajar bersabar.
Tiba-tiba seluruh ingatan Dewa Eros memenuhi kepala Noah. Telinganya berdenging matanya memanas hingga Noah harus memejamkan mata lama.
“Ker...apa Bell akan baik-baik saja setelah aku mengingat segalanya?”
Dewa Ker menyadari aura Noah telah berubah kini. Noah kali ini memiliki aura Dewa.
“Senang kau kembali Eros” kekeh Dewa Ker lega.
“Panggil aku Noah. Jawab pertanyaan ku”
“Gadis itu perlahan akan menyadari siapa jati dirinya juga. Bagaimanapun dia adalah pasangan Dewa”
“Apa akan terjadi sekarang? Dia akan kesakitan sama sepertiku?!“
“Tenang. Dia tidak akan ter-sakiti dengan adanya ingatan masa lalu”
“Yang pasti, dia justru akan syok tentang kejadian tak menyenangkan di akhir hayatnya sebagai seorang manusia yang gelar Dewinya dicabut dengan paksa”
“ingatannya akan kembali hari ini atau bukan hari ini?” potong Noah semakin panik mendengar penjelasan demi penjelasan dari Dewa Ker.
“Aku tidak bisa memastikannya. Jelas bukan hari ini” jawab Dewa Ker enggan.
Dalam ingatan seorang Noah sebagai Dewa Eros, setelah Noah tidak sadarkan diri dirumah Bell, Eros mulai bangkit. Ia tidak ingin identitas sebagai Dewa terbongkar sehingga Eros menggunakan mobil Dadnya.
Masalahnya, Bell tidak mau membiarkan Eros pergi sendirian. Mengingat keadaan Noah sebelum tak sadarkan diri. Eros terpaksa mengizinkan Bell ikut atau Gadis itu akan memperlambat pergerakannya menemui sang manusia penyerap.
Sesampainya dititik dimana manusia penyerap berada, Eros melihat seluruh listrik di tempat itu padam. Bahkan manusia penyerap tersebut tak kuasa mengontrol kekuatan Dewa dalam tubuhnya sehingga seluruh benda yang terbuat dari besi, meluncur mendekat ke Arahnya berada.
“Noah!!” teriakan Bell membuat Eros membelalakkan mata. Mobil Noah terseret menuju sang manusia penyerap bersama Bell di dalamnya.
Eros harus segera bertindak cepat karena benda besi yang mendekat ke arah manusia penyerap, akan segera meleleh. Jika Bell tidak dikeluarkan dari mobil, Bell akan terpanggang bersamaan dengan lelehan panas benda besi tersebut.
Eros secepat kilat menghadang mobil milik orang tua Noah yang akan segera menabrak tubuh Petra jika tidak dihadang olehnya!
Eros menahan moncong mobil Noah dengan tangan kanan sementara tangan kiri mendorong Petra agar terlontar menjauh darinya dan Bell.
Benar saja, mobil dan Bell dapat terselamatkan sementara Petra terlontar sejauh 8 meter. Payahnya, si manusia penyerap itu tak berkutik lagi.
“Bell, kau baik-baik saja? Hey, kau dengar aku?” panik Eros saat masuk ke dalam mobil, menemukan Bell yang diam tak berkutik. Matanya terpejam cukup lama. Kepalanya memar bahkan berdarah.
“Kenapa hal yang penting menyangkut Bell, malah terlupakan olehku” geram Noah mulai tersadar dari lamunan panjangnya.
Kali ini Noah tak perlu bertanya pada Dewa Ker dimana Bell berada. Karena sebagai Dewa Eros, jelas Noah akan tahu dengan sendirinya dimana pasangannya berada.
“Kau mau kemana Eros?!”
__ADS_1
“Tentu saja memastikan Bell baik-baik saja” ketus Noah tetap berjalan menuju kearah Bell dirawat inap.
“Kau akan mengundang perhatian banyak orang disana. Berhenti!” perintah Dewa Ker, menghentikan waktu agar para manusia tak terlibat dalam adu mulut mereka kali ini.