Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 4


__ADS_3

Membutuhkan waktu cukup lama menggunakan gaun pengantin rancangan seorang Edward Jorgie bahkan Aislin berjuang untuk tidak tertidur sambil berdiri. Belum lagi make up yang ia gunakan dirombak ulang, dengan riasan lebih tebal, glamor sekaligus elegan. Mata Olivia dan Carmen membulat takjub melihat maha karya sang Desainer melekat indah ditubuh Aislin.


“Nona Aislin Bell Wilunark...gaun pengantin ini apa memang Edward sengaja membuatnya khusus untukmu?” gumam Carmen di respons sebuah anggukan penuh keyakinan oleh Olivia.


“Tidak. Ini untuk menghormati Psikhe. Kalian sendiri yang bilang Edward tergila-gila dengan cerita mitologi tentang Psikhe dan Suaminya” jawab Aislin sambil menatap dirinya di cermin.


“Kau membuatku iri. Apa pun yang kau pakai akan tampak bagus di tubuhmu” gerutu Olivia saat Aislin bergegas ke balik panggung. Langkah kaki Aislin terhenti. Tubuhnya terpaku dengan sosok Pria yang la lihat tepat didepan matanya.


Eros berdiri menggunakan Toga trabeq ungu, sedikit ke arah putih yang hanya digunakan oleh Raja. Toga, pakaian Pria ala Romawi kuno ini adalah sehelai kain sepanjang kira-kira enam meter (20 kaki) yang dililitkan ke sekeliling tubuh, dan umumnya dikenakan setelah mengenakan tunik. Toga terbuat dari wol dan tunik kerap terbuat dari linen.


Seluruh pandangan para model sekaligus staf Edward Jorgie mendadak hanya tertuju padanya. Pria bernama asli Eros menampakkan pesona lima kali lipat dari biasanya. Apa karena kini ia sedang memperlihatkan setengah dari wujud aslinya?


“Tunggu. Kenapa kau berpenampilan seperti kami?” tanya Aislin menunggu gilirannya.


“Karena Desainernya juga akan tampil ke atas panggung jika seluruh karyanya sudah ditampilkan.” Balas Eros tersenyum geli melihat perubahan ekspresi Aislin. Eros berjalan kearah Aislin merapikan pernak pernik gaun pengantin Aislin. Lalu dia mendekatkan diri ke telinga Gadis itu.


“Jangan berpikir jatuh cinta padaku akan mudah. Maka dari itu jangan coba mencintai Dewa Cinta” bisik Eros lalu menegakkan tubuhnya kembali.


Kau curang. Meski kau dengan mudah bisa mendengar isi hati manusia. Seharusnya kau, memberiku privasi. Jangan sembarangan mengintip hati orang!!


“wah, padahal aku hanya mendengar degup jantungmu. Suaranya terlalu berisik sehingga tak ada satu pun isi hatimu yang kudengar. Dua menit lagi giliran kita. Jangan hancurkan hari ini dengan wajah menjengkelkanmu itu” kata Eros sedingin mungkin.


“Kenapa kau tidak menjadikan Psikhe sebagai modelmu saja? Kenapa pilihanmu jatuh padaku? Menggelikan” bisik Aislin sebelum mereka naik ke atas panggung. Sorak- sorai para hadirin dan Wartawan menggema memenuhi 4Shoul Plazza. Baru saja mereka menunjukkan diri, rentetan blitz kamera terus mengikuti kemanapun mereka bergerak.


Suara sang pembawa acara menarik perhatian orang-orang memberikan waktu selama satu jam untuk tanya jawab. Aislin dengan senyuman palsunya mulai geram kenapa juga tanya jawab itu selalu berlangsung tepat di depan matanya? Ini membuat Aislin tidak dapat berkutik!


“Tuan Edward Jorgie. Melihat dari tema Anda kali ini yang berkaitan langsung dengan Pesona Dewi, saya jadi ingin tahu dari sekian banyak Mitologi Yunani, manakah yang paling menginspirasi Anda untuk karya Anda kali ini?” tanya salah satu Wartawan penasaran.


“Hmm, inspirasi ya. Seperti yang kalian lihat pada gaya gaun rancangan saya ini, jika salah satu dari Anda semua mempelajari, pasti akan dapat langsung menebak” kekeh Edward salah tingkah.


“Banyak orang yang penasaran Tuan bisakah Anda berbaik hati memberi tahu kami?!” sahut Wartawan lainnya.


“Baiklah. Tapi bagi saya ini agak sedikit..., membuat saya malu. Karena Inspirasi seorang Edward Jorgie kali ini agak sentimentil” jawab Edward gugup. Aislin dapat menangkap kegugupan Eros sambil menatapnya keheranan.


“sejak remaja saya adalah pelajar yang menyukai sejarah. Ribuan sejarah dari berbagai belahan dunia saya baca sampai habis. Lalu tiba-tiba saya tertarik pada beberapa buku yang menceritakan berbagai macam Mitologi Yunani"


"Dan sebuah buku membuat saya jatuh hati. Buku itu mengisahkan tentang Cupid dan Psikhe Istrinya” kekeh Eros merasa konyol. Untuk apa dia menceritakan kisah cintanya yang sudah dikenal mendunia itu?


“Jadi style yang kalian berdua pakai ini adalah milik Cupid dan Psikhe?”


“Bisa dibilang begitu”


“Tapi..., bukankah Cupid digambarkan sebagai seorang anak kecil bersayap?” kekeh sang Wartawan takjub.


“Jika dibutuhkan Dewa Eros akan merubah dirinya menjadi Cupid. Dan anak kecil bersayap yang barusan Anda katakan adalah bagian dari jelmaan Dewa Eros.”


“Bukankah di dalam kisah termasyhur itu di katakan Psikhe melewati berbagai rintangan untuk mendapatkan Suaminya kembali. Dan mereka berakhir bahagia karena akhirnya berkat bantuan Dewa lain, Psikhe menjadi seorang Dewi. Apa Anda berharap cinta antara Anda dan Nona Aislin abadi?” goda Wartawan lainnya.


“Sayangnya dalam perspektifku kisah mereka tidaklah abadi. Dalam perspektifku, Psikhe kehilangan haknya sebagai Dewi karena suatu hal dan mati sebagai manusia. Karena cinta Eros yang mendalam terhadap Psikhe, ia memilih menunggunya terlahir kembali selama ribuan tahun"


" Agar tidak ada Wanita mana pun jatuh hati padanya, ia selalu menampakkan diri sebagai Cupid. Itu sebabnya Cupid jauh lebih terkenal dari pada nama Eros.” Jawaban Eros membuat Aislin merasakan duka mendalam seolah, duka Eros terhubung langsung melalui debaran jantungnya. Kilatan belasan blitz kembali ditembakkan ke wajah Edward Jorgie dan Model kesayangannya.


“Jadi karena perspektif Anda yang menyedihkan itu Anda berusaha...menghidupkan sosok Psikhe dengan gaun pernikahan dan gaun terakhir yang ia kenakan sebelum kematiannya datang?”


Deg!!


Kenapa Wartawan itu mengatakan hal sensitif pada Eros yang sebenarnya adalah tokoh Mitologi yang sedang mereka gunjingkan?!


“Menghidupkan? Ah, itu salah. Lebih tepatnya saya ingin mengabadikan sosok Psikhe dalam pikiran Cupid menjadi sebuah karya seni yang dapat dilihatnya secara langsung” senyum hambar Eros.

__ADS_1


“Dari sekian banyak model cantik. Kenapa Anda memilih Nona Aislin?” pertanyaan itu jelas semacam sindiran karena dalam pernyataan Edward Jorgie sebelumnya di depan Galerinya, ia terus saja menunjuk Aislin sebagai Model pilihannya lantaran menaruh hati pada sang Model cantik itu.


“Hahaha...terlepas dari perasaan saya terhadapnya, saya sangat mengenal sosok Psikhe dengan baik melalui literatur yang pernah saya baca. Bagaimana selera modenya, gesture tubuhnya ketika berdiri, berjalan, sekaligus Attitude Psikhe, tergambar jelas dalam diri Nona Aislin Bell Wilunark"


"Bisa dikatakan saya mendesain dua desain utama saya ini untuk Psikhe. Jadi dalam memilih model pun, saya tidak mau sembarangan.” Jawab Edward Jorgie tegas.


Di Restoran Fincent gorged, Aislin memainkan sendok dan garpunya ke atas piring. Nafsu makannya sudah hilang semenjak tuduhan menjadi Super model, hanya karena ia menggunakan koneksi dilayangkan padanya.


“Makan sebelum makananmu mendingin” tegur Eros.


“Kau berhasil membuat nama baikku hancur. Dan sekarang kau masih bisa makan enak?” sindir Aislin mencibir.


“Aku sudah mengklarifikasi alasanku memilihmu. Apa itu belum cukup?” Eros berdecak kesal.


“Sudah ku katakan kenapa kau tidak menemui Psikhe saja. Dia lebih ber...” ucapan Aislin tertahan. Rasa bersalah menggelayuti hatinya kini melihat rona wajah sendu Eros ketika mendengar Aislin membicarakan tentang Psikhe.


“Maaf. Bukan maksudku menyinggungmu.” Tambah Aislin tercekat.


Kenapa seceroboh ini. Jelas-jelas Psikhe sudah meninggal bagaimana dia bisa membawanya keatas panggung!! Pekik hati Aislin memarahi diri sendiri.


“Dia hidup” jawaban Eros membuat wajah Aislin yang tertunduk menatap wajah Pria itu.


“Sebagai manusia sekali lagi. Tapi kali ini dia tidak mengenaliku”


“Kalian...,sudah bertemu? Kau tidak berusaha membuatnya ingat kembali?” pertanyaan Aislin dibalas gelengan pasrah Eros.


“Membuatnya mengingat masa lalu tidak akan merubah apa pun” Eros menatap sendu kedua pasang mata Gadis di hadapannya.


“Sebagai gantinya, aku berusaha untuk menjadikannya kembali milikku” kesungguhan hati Eros tampak jelas pada sorot mata tajamnya.


“Lanjutkan makanmu, aku ingin pulang. Hari ini cukup melelahkan” kata Aislin entah kenapa rasa sakit dihatinya tiba-tiba muncul dari pada ia memperburuk suasana hati Eros lebih baik dia menyendiri.


“Kau sudah menjelaskan alasanmu di depan para Wartawan” balas Aislin sambil melanjutkan langkah kakinya. Eros berdiri, menghampiri Aislin lalu menarik telapak tangannya keluar dari Restoran.


“Masuk” perintah Eros membukakan pintu mobil. Aislin malas memulai perdebatan baru jadi dia masuk tanpa perlawanan. Eros menuju kemudi, lalu melajukan mobil sepelan mungkin.


“Alasanku, karena bagiku, kalian sama saja. Tidak ada yang berbeda. Jadi, saat aku melihatmu itu sama seperti aku melihatnya”


“Kau sudah menemukan orang itu di dunia ini. Lalu kenapa kau masih terus menemuiku? Bukankah seharusnya kau lebih condong padanya?” kata Aislin menghela nafas berat, sambil memejamkan mata.


“Karena dia adalah kau di masa kini” kata Eros membuat Aislin menatap tak percaya pada apa yang di dengarnya.


“Maksudmu aku adalah Psikhe di masa lalu?!”


“Ya”


“Kau ingin aku percaya itu?!”


“Kenyataannya kau adalah Psikhe. Mau percaya atau tidak bukan urusanku”


“Kalau aku tidak pernah melihat sayapmu mungkin sekarang aku menyangka kau gila”


“Kalau aku tidak pernah berdiri di bibir jurang dan menyadari keberadaanmu mungkin aku harus mencarimu seribu tahun lagi. Aku sedang diberkahi” senyum Eros membuat Aislin terdiam sejenak.


Hari masih gelap ketika itu masih pukul tiga pagi. Aislin merasakan haus sehingga dengan sangat terpaksa, ia berjalan ke dapur. Kini wajah Gadis itu memucat melihat pemandangan tak biasa di hadapannya. Facum pembersih debu berjalan sendiri ia masih ingat, jadwal aktifnya pukul sembilan pagi.


Sebuah lap pembersih kaca sedang membersihkan kaca dengan sendirinya di bantu oleh botol semprot berisi cairan pembersih tak jauh dari lap. Alat pel lantai pun aktif hilir mudik di sekitar Aislin.


“Ais..., ini pasti mimpi...” gumam Aislin sambil melenggang ke dapur. Suara kegiatan memasak di dapur terdengar bahkan aroma harum yang tercium menjelaskan betapa lezatnya makanan itu.

__ADS_1


“Eros, kau kah itu?” Aislin terkejut. Banyak wadah bumbu dapur melayang di udara. Kini matanya tertuju pada sebuah gelas terbang dari dalam rak, melayang diudara, menuju coolkas.


Pintu coolkas terbuka lebar, dan sebuah botol berisi air melayang diudara, bergerak memindahkan isinya ke dalam gelas kosong tersebut. Dan..., gelasnya melayang kembali berhenti di depan Aislin. Sang Gadis mengambil gelas tersebut masih berpikir dia sedang bermimpi. Ia meminum airnya, dan dia baru sadar, airnya terasa sangat nyata.


“Aaaaa!!” teriak Aislin menjatuhkan gelas lalu berlari menuju kamarnya. Kejutan berikutnya dimulai. Sesuatu yang tak nampak sedang merapikan seprei, bantal, guling bahkan melipat rapi selimut. Melihat kejutan beruntun, Aislin jatuh pingsan di atas lantai.


Mata lentik itu akhirnya mengerjap perlahan. Aislin membuka mata selebar mungkin mengingat kejadian mengerikan terjadi di dalam kontrakannya sendiri.


“Sudah bangun Putri tidur?” sambut Eros yang duduk di atas sofa tak jauh dari tempat tidur Aislin berada.


“Mulai sekarang biasakan dirimu untuk melihat banyak hal tak biasa di sekitarmu” tambah Eros meninggalkan tanda tanya besar dalam kepala Gadis tersebut.


“Hal tak biasa macam apa?” balas Aislin mengerutkan kening.


“Seperti apa yang kau lihat hingga membuatmu pingsan tadi” jawaban Eros spontan membuat Aislin langsung bangkit dari tidur. Berjalan secepat mungkin mendekati si tamu tak diundang.


“Makhluk macam apa yang kau bawa ke rumahku? Kau saja, sudah cukup membuatku sakit kepala. Lalu sekarang kau membawa sesuatu bersamamu?” protes Aislin.


“Tenang mereka bukan jenis hantu atau apa pun yang pernah ada di duniamu ini. Mereka hidup abadi di tempatku tinggal. Mereka pembantu dirumahku” tegas Eros sambil menunjuk ke atas.


“Tujuanku membiarkan mereka berada disini karena mulai dari hari ini, dan kedepannya kau akan sangat sibuk. Tidak akan sempat mengurus rumahmu sendiri. Biarkan mereka bekerja untukmu” tambah Eros dengan wajah serius.


“Bisakah kau bicara terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu di rumahku? Kau, hampir membuatku terkena serangan jantung” omel Aislin memukul lengan Eros.


“Bersiaplah. Jam sembilan kau ada jadwal pemotretan”


“Tunggu. Pemotretan apa?”


“Kau akan menjadi model kosmetik Dandelio. Bersama bintang film Richard Louis” jawab Eros datar sambil mengambil buah apel di dalam keranjang buah yang berada di atas meja ruang tamu.


“Kau bercanda?! Richard Louis?! Pemain film horor Don’t Forget To Sleep?!” pekik Aislin tak percaya.


“Kau mendapat kontraknya. Jika kau menolak, kau bayar sendiri ganti ruginya” Eros mulai memutar kedua matanya lelah. Aislin segera berlari menuju kamar mandi di dalam kamarnya.


Dalam gedung Studio Marshal Oudito, sangat jelas terlihat kegelisahan Aislin. Ia berjalan tidak tenang di samping Eros saat menaiki lift.


“Jangan tunjukkan rasa gugupmu. Kau ini Super model di tahun ini bersikaplah senatural mungkin. Sesuatu yang terlihat meragukan dalam dirimu bisa membuat kariermu tak akan berkembang.”


Ting!!


Ting!!


“Ingat. Senatural mungkin” tambah Eros setelah pintu lift terbuka lebar. Keduanya berjalan berdampingan menuju tempat dimana proses pemotretan akan berlangsung.


“Tuan Edward Jorgie...” sapa seorang Pria muda sambil memberi sebuah tepukan di bahu Eros.


“Aku sudah membawa model yang cocok untuk proyek kita”


“Dia? Bukankah Aislin Bell Wilunark kekasihmu?” senyum Pria itu sambil menatap Aislin dari ujung kaki ke ujung rambut. Sebuah tatapan menilai.


Lihat? Aku hanya dikenal sebagai kekasih seorang Edward Jorgie. Bukan seorang Super model yang terhormat. lenguh Aislin dalam batinnya kesal bukan main.


“Ayolah. Jangan membawa urusan pribadiku ke tempat kerja. Sekarang kita bertemu secara profesional bung, jangan pernah lupakan itu” protes Eros mendengar gemuruh hati Aislin.


“Tuan Simson..., make up artis sudah siap.” Lapor seorang Wanita pada Pria yang menyambut Eros tadi.


“Nona Aislin, silakan ikuti Nona Rebeca. Senang bekerja sama dengan Anda” kata Pria bernama Simson sesopan mungkin.


“Sebuah kehormatan bagi saya Tuan Simson. Permisi” Jawab Aislin formal segera mengikuti kemana Rebeca melangkah.

__ADS_1


__ADS_2