Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 24


__ADS_3

Episode 24


“Apa ini? Kau memintaku menahanmu? Kau ingin aku terlihat sebagai teman yang egois di depan keluargamu?!” seru Bell memukuli kedua lengan Noah.


“Teman? Siapa yang bilang aku sudi berteman denganmu Bell?”


“Kau!!” pekik Bell melepaskan diri dari rengkuhan Noah.


“Oke. Lupakan pertemanan kita. Kalau kau tidak menganggapku teman buat apa pakai acara peluk-peluk huh?!”


“Memangnya semua orang bebas memelukmu kalau berteman denganmu?” Noah memicingkan mata kesal.


“Itu hanya...” celetuk Bell dengan tertahan.


“Hanya? Jadi memang kau berencana memeluk siapa pun yang mengklaim sebagai temanmu?!”


“Memang apa salahnya? Kita semua temankan?” cicit Bell membela diri.


“Sudah kubilang aku tidak mau berteman dengan Gadis cerewet tak peka sepertimu” geram Noah sambil mencubit hidung Bell hingga memerah.


“N...No...Noah!!” pekik Bell berusaha melepaskan hidungnya dari cubitan Noah.


“Oke, kita bukan teman lagi sekarang. Aku menyesal, sudah mencarimu sampai sejauh ini tahu!! Kakiku pegal semua karenamu!! Noah tidak punya perasaan!!” omel Bell meluapkan emosinya sambil berbalik arah dimana sepedanya di parkir.


“Tidak ada tempat lain selain sahabat? Dimatamu?” pertanyaan Noah sontak membuat Bell langsung berbalik, menatap lawan bicaranya.


“Selain teman?”


“Ya, sesuatu yang...khusus”


“Aku tidak ingin punya saudara yang suka kabur-kaburan dari rumah sepertimu. Lupakan”


“Kau bodoh, atau benar-benar tidak tahu sih?” umpat Noah menyepak tanah ke arah sembarang.


Bell diam sambil berpikir sejenak. Sesuatu yang khusus, selain persaudaraan atau teman bukankah...pasangan? Entah itu Suami Istri atau kekasih?


Bell, berpikirlah yang benar! Mana mungkin seorang Noah menyukaimu?! Pekik kata hati Bell mencoba berpikir sejernih mungkin.


“Ya ampun Noah, sebenarnya apa sih maksudmu?”


“Benar kau, tidak paham apa kataku baru saja?!” balas Noah melengking frustasi berat setelah Bell menganggukkan kepala.


“Aku panik Noah karena kamu, menghilang!! Jadi menurutmu aku masih punya waktu untuk main tebak-tebakan?” keluh Bell semakin kesal luar biasa.


“Bagaimana perasaanmu, kalau kau sedang mengkhawatirkan seseorang lalu begitu bertemu dia malah membicarakan teka teki omong kosong sepertimu?”


“Omong kosong?!” semprot Noah merasa perasaannya pada Bell dianggap omong kosong. Padahal Bell, sama sekali tak berpikiran demikian.


“Ya!! Apa itu hubungan selain pertemanan dan persaudaraan? Musuh?”


“Apa hanya itu di otakmu?”


“Ada dua hal lain, tapi itu mustahil ada di otakmu Tuan Teka Teki. Sangat mustahil"


“Memang apa yang diotakmu itu sampai kau berpikir mustahil? Kau punya mulut untuk mengatakannya kan?” Noah penasaran tingkat Dewa.


“Tidak penting. Bye” Bell malah kembali melenggang kearah sepeda sewaannya tapi Noah, mengunci kemudi sepeda. Ia berdiri tepat di depan roda sepeda Bell.


“Penting bagiku,”


“Kau akan menyesal mendengarku mengatakan hal konyol itu”

__ADS_1


“Katakan”


“Tidak. Biarkan aku pergi”


“Tidak akan”


“Noah,”


“Bell, aku menyukaimu. Sangat menyukaimu”


“Aku tahu, karena kau temanku”


“Bukan. Aku bukan temanmu. Titik. Aku ingin lebih dari itu”


“Jangan membuatku berpikir kalau kau menyukaiku sebagai Wanita”


“Benar. Tepat sekali”


“Ha, apa tadi kepalamu terbentur sesuatu?”


“Sial! Kenapa kau memaksaku mengatakan hal ini” pekik Noah antara grogi sekaligus ingin sebuah jawaban.


“Benar? Aku harus pergi ke Dokter sekarang juga. Pasti ada yang salah dengan telingaku”


Mendengar Bell bersuara seolah berniat untuk menghindar membuat Noah semakin frustasi. Noah menangkup kedua pipi Bell, mengarahkan pandangan mata Bell agar hanya tertuju padanya.


“Aku hanya akan mengucapkan ini sekali lagi. Aku tidak bercanda sedikitpun, tentang ini. Aku menyukaimu, sampai tidak ingin dipisahkan jarak denganmu”


“Aku bahkan tidak tahu mulai dari kapan perasaan ini mulai terasa. Karena itu tidaklah penting. Yang terpenting adalah apa kamu, memiliki perasaan yang sama denganku?” tandas Noah lega karena telah mengutarakan isi hati tapi jantungnya masih berdetak dengan kencang. Meski Noah lega, Noah juga belum siap untuk di tolak.


“I...itu..., butuh waktu untuk menjawabnya Noah, karena aku harus yakin benar tentang perasaanku padamu” jawab Bell, melepaskan kedua pipinya dari tangan hangat Noah.


“Untuk apa masih bertanya lagi?! Siapa yang membuatku pegal hari ini?! Perlu ditanya juga?!” mendengar omelan Bell, Noah hanya tersenyum kecil lalu memberi kode agar Bell turun dari sepeda. Gadis itu tak juga bergeming hingga Noah akhirnya menarik Bell turun dsri sepeda.


“Hey!!”


“Stop protes. Kau tinggal duduk di belakang. Kurang baik apa lagi coba Noah ini?” Pria tersebut memotong Bell yang memprotesnya tanpa bertanys kenapa dia melakukan hal itu.


Bell terdiam sejenak lalu duduk di belakang Noah enggan. Memang dia tidak perlu mengayuh pedal sepeda, tapi dis merasa tidak nyaman karena jarak kakinya tidak jauh dari tanah. Terpaksa dia menahan kakinya melayang diudara.


Deru angin yang meniupkan rambut Bell, tak mampu menandingi suara degupan jantung Bell. Terlebih lagi, dia terpaksa memeluk pinggang Noah agar tidak jatuh dari sepeda. Mereka diam seribu bahasa sepanjang perjalanan sampai akhirnya tiba di depan halaman rumah mereka.


“Petra, hey..., sudah lama datang?” sambut Bell pada Petra yang sedang asyik berbincang-bincang dengan Ibu Bell.


“Baru saja, Mommu menyambutku dengan baik sebelum kau datang” Petra tersenyum ceria.


“Aku membawa sesuatu yang kau inginkan” Petra memamerkan kliping tebal dengan sampul mika berwarna hijau muda. Dikibas-kibaskannya dihadapan Gadis yang sedang penasaran itu. Saat Bell akan menggapai, Petra menjauhkan klipingan itu dari jangkauan Bell.


“Kau tidak menyuruhku masuk dulu? Kerongkonganku sangat kering” pinta Petra memelas.


“Ku rasa kau tinggal meminjamkan apa pun itu dan segera lah pulang” suara Noah terdengar kesal bukan main.


“Apa disini ada larangan orang bertamu?” tanya Petra melirik pada Bell meminta penjelasan.


“Omong kosong macam apa itu? Aku belum pernah dengar larangan semacam itu di rumahku sendiri. Ayo masuk,” sambut Bell terkekeh kecil sambil mempersilakan si tamu.


“Kau mau ikut masuk atau pulang ke rumah?” tanya Bell yang menyadari Noah hanya diam mematung di ambang pintu ruang tamu. Pria muda yang dilanda api cemburu ini langsung saja masuk dan duduk di atas sofa.


“Kenapa kau sangat tertarik dengan klipingku ini?” Petra bertanya setelah dia duduk di antara Noah dan Bell.


“Sekedar ingin tahu,”

__ADS_1


“Hanya itu?”


“Ya”


“Reaksimu tadi melihat klipingku, menunjukkan ketertarikanmu yang besar. Pasti ada alasannya” ucapan Petra membuat Bell terdiam tak menunjukkan reaksi apa pun.


“Tentu saja dia tertarik, kalau tidak dia tidak akan meminjam padamu” celoteh Noah ketus.


“Untuk ukuran orang sakit, bukankah kau terlihat sangat sehat? Noah?” Petra menyindir secara halus.


“Si.....”


“Katanya kau haus. Tunggu sebentar. Aku akan membuatkannya untukmu. Ini pajak terima kasih oke,” Bell mencoba menutup mulut Noah sebelum sahabatnya ini melanjutkan ucapannya.


Bell bergegas ke dapur sementara kedua Pria muda yang ditinggalkan diruang tamu hanya berdua, malah adu pandang. Saling melotot, mengibarkan bendera permusuhan.


“Kau pikir Bell akan tertarik padamu?” Petra tersenyum sinis, bersandar di sofa, sambil merentangkan kedua tangannya di atas sandaran sofa.


“Urusanmu apa?” kekeh Noah makin panas.


“Tidak ada, aku hanya ingin menegaskan satu hal. Tampaknya kau juga tertarik pada Bell. Kau lihat apa yang terjadi hari inikan? Ah, tapi kau tidak ada disekolah tadi ya....,”


“Kau ingin memancing kemarahanku? O..., tidak bisa” kekeh Noah berusaha menahan emosi.


“Di sekolah..., aku bisa dengan mudah berada disisinya. Karena kau yang selalu mengekorinya tidak ada. Aku harus berterima kasih soal ini. Dan..., kau juga bisa lihat sekarang kan? Hari ini aku berhasil mendapatkan alamat rumahnya, memasuki ruang tamunya” berhenti sejenak lalu menghela nafas dalam.


“Suatu hari nanti, namaku akan masuk dalam relung hatinya. Kau harus bersiap mulai dari sekarang lo,” tambah Petra sambil memainkan kunci mobilnya.


“Ada bedanya kenyataan dengan halusinasi Petra. Apa kau tahu arti dari bahasa tubuh?”


“kau bisa membedakannya?”


“Tentu saja, akan kujelaskan dengan sangat detail. Hanya untukmu” Noah menyeringai sinis.


“Cara Bell duduk tadi, menggambarkan ketidak nyamanan Bell, berada disisimu. Posisi pusar, dan lututnya tidak tertuju padamu. Sementara selama ini, Bell menunjukkan reaksi berbeda terhadapku. Apa kau, mau bukti?” tantang Noah menggertak.


“Wah, senangnya...., melihat kalian akur,” tiba-tiba Bell muncul membawa sebuah nampan dengan dua cangkir coklat diatasnya. Noah berdiri ingin membantu Bell meletakkan cangkir di atas meja tapi kalah cepat dengan Petra yang berada jauh lebih dekat jangkauannya.


“Jadi, boleh aku lihat sekarang?” kata Bell tersenyum manis sambil duduk di samping Noah.


“Sebenarnya kliping seperti yang ingin kau lihat itu?” Noah memicingkan mata heran. Ya, jarang Noah melihat Bell sangat antusias dengan kliping.


“Aku penasaran. Sangat penasaran malah” jawab Bell sambil menerima kumpulan kliping dari tangan Petra.


“Penasaran tentang....?”


“Tentang kehidupan setelah reinkarnasi”


“Ku pikir kau, tidak akan mempercayai hal konyol seperti itu” kekeh Noah keheranan. Sejak kapan Bell tertarik dengan omong kosong seperti itu?


“Tidak semua orang membaca karena dia suka dengan apa yang dia bacakan?” kata Bell enteng.


“Kalau itu bukan hal yang sangat penting dan harus dilakukan, orang lain pasti lebih memilih mengabaikannya sih,” timpal Petra menopang dagu.


“Hey, aku hanya ingin membaca, memang aku melakukan kejahatan dengan membaca hal seperti ini?!”protes Bell spontan menjewer telinga Noah dan Petra.


“Lepas!! Bell!! Sakit!” pekik Noah melepaskan diri dari tangan Bell, sambil mengusap-usap telinganya yang mulai memerah. Sementara Petra, menunjukkan reaksi berbeda. Meski ia pun mengusap telinganya yang terasa sakit, tapi bibirnya tersenyum bahagia.


“Kenapa kau senyum-senyum sendiri?!” tanya Bell heran. Bagaimana tidak? Dua orang di perlakukan sama, tapi keduanya bereaksi berbeda. Satunya menyolot kesal, yang lainnya tersenyum tak jelas.


"Tidak..., tidak apa-apa. Aku hanya sedikit teringat akan Adikku Letysa. Kalian sangat mirip" jawab Petra sekenanya.

__ADS_1


__ADS_2