Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 32


__ADS_3

Noah dan Grey tiba di sebuah ruang makan, dengan meja yang sangat panjang. Noah tak menyukai meja makan seperti ini. Meja, yang menciptakan jarak antar anggota keluarga. Titisan Dewa Eros melihat seorang Gadis cantik, yang duduk di atas kursi roda, berada di sisi paling ujung, didampingi oleh Megan. Sementara Ibu Petra, berada di tengah. Noah berdecak kesal begitu melihat Allan duduk di ujung meja lainnya.


“Mom, mendadak aku tidak nafsu makan ditempat ini. Makanlah tanpaku” tandas Noah sambil berbalik.


“Petra. Mom menagih janjimu nak,” sahut Ibu Petra menggebrak meja makan.


“Ini karena aku berada di sini Mom” suara seorang Gadis terdengar muram.


“Ijinkan aku kembali ke kamarku saja. Megan,”


“Ya, Nona”


“Aku menolak makan siang bukan karenamu Eliz. Berhenti berpikiran dangkal” sahut Noah, masih memunggungi keluarga Petra.


“Kau penyebab Eliza berpikir seperti itu” tegas sang Ibu, menatap tajam punggung orang yang dianggap sebagai Putranya.


“Penyebab aku kehilangan selera makanku, adalah meja itu”


“Apa? Meja ini sudah ada semenjak kalian masih dalam kandungan. Selama ini aku tidak pernah mendengarmu mengeluh soal ini. Tapi kenapa sekarang?” Ibu Petra menahan emosi.


“Selama ini?” Noah berbalik kembali untuk menatap Ibu Petra.


“Ingat baik-baik kalian semua, harus terbiasa dengan sifat dan sikap baruku mulai sekarang” tegas Noah kesal. Dia tidak mau berpura-pura menjadi Petra si pencuri keluarga aslinya.


“Eliza senang sekali mendengar kau, mau makan semeja dengannya. Lalu ini balasanmu?”


“Aku, tidak menolak makan bersamanya. Ada meja yang lebih normal disini? Maksudku, yang cukup untuk empat orang?” tanya Noah sambil melirik ke arah Pelayan tertua.


“Maaf Tuan Muda” jawab sang pelayan takut-takut bahkan ia memilih menunduk dalam-dalam.


“Cari tikar untuk kami makan ditaman” perintah Noah.


“Petra apa yang kau lakukan? Kau lihat keadaan Liz? Ayolah,” Grey menepuk bahu Noah sambil mengguncang perlahan.


“Apa aku harus mengulang perintahku?!” jawab Noah tapi matanya tertuju pada Pelayan tertua. Dua Pelayan menghormat lalu buru-buru mencari tikar lipat.


Noah langsung berjalan menghampiri Eliza lalu mendorong kursi roda Eliz menuju taman. Ibu Petra yang awalnya emosi berubah melunak melihat Putranya memberikan perhatian pada saudarinya. Senyuman Noah merekah ketika ia mendapati tikar lipat telah membentang di atas rerumputan. Dan di atas tikar lipat, sudah ada hidangan dan minuman menggiurkan.


“Kalian lihat? Yang seperti ini jauh...lebih menyenangkan dari pada makan di atas meja. Bukankah kita keluarga? Bagaimana bisa sebuah keluarga makan bersama, dengan jarak sejauh itu?” kata Noah sambil berjalan menghadap ke arah Eliza.


Ia membungkuk, lalu membopong Eliza dan mendudukkannya di atas tikar. Allan terbengong-bengong melihat pemandangan di hadapannya.


“Kau keberatan makan disini? Walau bersamaku sekalipun?” tanya Noah pada Allan berhubung Allan diam terpaku menatap keluarganya duduk di atas tikar lipat. Ini sejarah pertama, dalam keluarganya.


“Sudah hubungi Dokter? Seharian ini kau melakukan banyak hal mencengangkan” balas Allan ikut duduk di samping Noah.


“Lupakan saja. Mom rasa sebaiknya jangan panggil Dokter” sang Ibu menimpali sambil memberikan beberapa potongan daging ikan bakar ke piring Noah.


“Kenapa? Dia tidak seperti biasanya. Apa kau tidak mengkhawatirkan Petra?” tanya Allan kesal tapi mulutnya disumpal sang Ibu dengan satu suap nasi dan sepotong kecil daging ikan bakar.


“Mom lebih menyukai Petra yang sekarang. Karena itulah, Dokter tidak kita butuhkan. Anggap saja kecelakaan yang Petra alami membuat isi kepalanya menjadi normal” kekeh sang Ibu kini memberikan potongan daging ikan bakar ke piring Eliza.


“Bagaimana menurutmu Eliz? Aku belum mendengar komentarmu sedari tadi” tanya Noah menatap tajam Eliza.


Sebagai seorang titisan Dewa, entah kenapa ada bagian aroma dari diri Eliz, yang sama dengan aroma para Dewa dan Dewi.


“Ini menyenangkan. Sudah lama kita tak bertemu, Petra. Terima kasih” ucap Eliza canggung. Seolah dia adalah orang asing bagi Petra.


“Kita bisa lakukan ini setiap hari, dengan catatan diluar hari Dad pulang. Bisa dimengerti?” sambut sang Ibu kegirangan melihat sekaligus mendengar Eliza dan Petra berbincang untuk pertama kalinya, selama bertahun-tahun.


“Kenapa harus ada pengecualian semacam itu?” Noah mengernyit heran.


“Mom, kau lupa kepalanya bermasalah? Ceritakan tentang Dad” sahut Allan sambil mengambil kembali lauk pauk yang terdekat darinya duduk.


“Dad ingin anak-anaknya selalu berkumpul bersama di hari dia pulang kerumah. Tidak ada yang boleh keluar rumah saat itu tiba. Dad datang, selalu membawa beberapa koleganya jadi jelas kita tidak bisa menjamu mereka di tempat seperti ini” penjelasan Ibu Petra, tak membuat Noah puas. Tapi agar suasana makan siang kali ini tidak suram, akhirnya Noah menahan diri.


\*\*\*\*


Petra terbangun dari tidurnya kedua telinga Petra mendengar suara dengkuran di sampingnya. Petra mendengus kesal karena tidurnya terganggu. Tak ada yang berani mengganggu tidur nyenyaknya selama ini.


“Bagaimana keadaanmu honey? Coba kau bicara sepatah kata saja” suara Ibu Noah jelas terdengar dari arah sofa dari seberang tempat Petra terbaring.


“......” Petra berusaha bicara tapi suaranya tidak terdengar sedikitpun. Kekacauan yang dia buat belum lama ini nampaknya berefek pada pita suaranya.


“Dokter bilang kau harus diterapi setiap hari oke, jangan khawatir, Putraku akan baik-baik saja” kata Ibu Noah, berusaha menenangkan Putranya dengan sebuah pelukan. Tapi Petra menghempaskan kedua tangan Ibu Noah, sebelum benar-benar sempat memeluknya.


“Biasanya kau sangat menyukai pelukan Mom,” kata sang Ibu berekspresi keheranan.


“Mom, aku bukan anak-anak lagi oke, berhenti memeluk ku seperti memeluk anak umur tujuh tahun” protes Petra kasar.

__ADS_1


“Maaf, Mom tidak mengira kau merasakan hal seperti itu” sahut Ibu Noah, ingin mengelus kepala Putranya tapi, tetap saja Petra yang dianggap sebagai Putranya, menampik tangan tersebut.


“Eh, kau...baru saja bicara” tambah si Ibu buru-buru membunyikan bel agar Dokter maupun Suster segera tahu perkembangan Petra. Datanglah seorang Suster, menghampiri mereka.


“Ya,” Suster menunggu keluhan apa yang akan diutarakan keluarga pasien.


“Noah tadi mulai bisa berbicara lancar” jawab sang Ibu meminta Suster memeriksa perkembangan Petra.


“Coba katakan A,” perintah si Suster. Petra melakukan perintah Suster, tapi sengaja tidak mengeluarkan suara sedikitpun.


“Tapi tadi dia bicara padaku” sahut Ibu Noah kecewa. Petra bersikap seolah sedang sedih bahkan kini ia memukuli besi di sisi kanan dan kirinya.


“Ada apa dengannya?” Ayah Noah terbangun karena goyangan kuat mengusiknya.


“Tadi Noah sempat berbicara denganku” jawab sang Istri yakin.


“Itu kabar baik, coba katakan sesuatu pada Dadmu, Da da da...” kata si Ayah seolah sedang menghadapi batita, belajar bicara. Petra menyipitkan mata kesal mendapat perlakuan konyol Ayah Noah. Baginya itu sama dengan melakukan penghinaan.


“Seriuslah honey...,” potong Ibu Noah memprotes kekonyolan Suaminya.


“Tidak apa-apa. Untuk kasus yang di alami pasien seperti ini, memang butuh berlatih secara berkala” potong si Suster tersenyum.


“Aku benar mendengarnya bicara tadi”


“Apa Suami Anda juga mendengar pasien bicara tadi?” sahut Suster melirik ke Ayah Noah.


“Tidak,” sahut Ayah Noah berdehem kecil.


“Dia tidak akan mendengar apa pun kalau sedang tidur” tandas sang Istri pasrah.


“Kami akan berusaha sebaik mungkin, menyembuhkan pasien. Saya permisi dulu,” pamit si Suster dan berlalu.


“Aku ingin ke tempat Bell sekarang” suara Petra jelas di dengar kedua orang tua kandung Noah, setelah Suster pergi.


“Kau bisa bicara tapi kenapa justru menyembunyikan kenyataan?” protes Ayahnya kesal.


“Karena aku tidak boleh pulang sebelum Bell dinyatakan boleh pulang juga” kekeh Petra jahil lalu menurunkan kedua kaki di atas lantai yang terasa dingin.


“Hati-hati. Bagaimana kakimu? Bisa berjalan normal?” tanya Ibu Noah berhati-hati sambil memapah Petra agar dapat berdiri tegak.


“Bawakan kursi roda. Aku ingin ke tempat Bell sekarang” tegas Petra menatap tajam ke arah Ibu Noah.


“Meskipun kau sakit, tidak sopan memerintah orang tua tanpa mengucapkan kata tolong. Camkan itu Nak!” sahut sang Ayah setelah pergi keluar untuk menyediakan sebuah kursi roda untuk Putranya.


“Terlalu menguras tenaga di saat kau masih lemah itu bodoh namanya” nasihat Ayah Noah ketika Petra menatapnya marah.


“Bawa aku ke tempat Bell. Dad” Petra menahan emosi agar perubahan sifat anak mereka tidak terlihat begitu besar di mata mereka.


Perlahan tapi pasti Ayah Noah membawa Petra tepat di depan pintu kamar rawat Bell.


Tok


Tok


Tok


Pintu itu terbuka perlahan menampilkan wajah seorang Wanita yang masih terlihat cantik meski penampilannya acak-acakan.


“Noah, kau sudah boleh jalan-jalan?” Ibu Bell terkejut melihat kedatangan Petra dengan Ayah Noah.


“Sebenarnya tidak boleh. Tapi anak ini mengkhawatirkan keadaan Bell. Lihat saja, anak keras kepala ini ngotot minta datang kemari”


“Bell sempat tak sadarkan diri lagi setelah Noah menemuinya kemarin” jawab sang Ibu lalu membuka lebar pintu agar Petra dapat masuk dengan leluasa.


“Apa...dia sudah siuman sekarang?” tanya Petra pelan.


“Jangan khawatir itu bukan salahmu. Kondisi Bell saat itu sangat lemah. Sesuatu yang buruk bisa saja menimpanya kapan saja” jawab Ibu Bell mulai berlinang air mata.


“Masuklah, dia sedang tidur tadi” tambah Ibu Bell.


Petra di dampingi Ayah Noah mendekat kearah Bell yang sedang terlelap.


“Dokter bilang apa soal kondisi Bell?” Petra mengusap rambut Bell sambil bertanya.


“Kedua kakinya patah akibat terimpit saat kecelakaan terjadi, Trauma yang berat, Respons lambat saat diajak bicara, masih ada tiga hal lagi dan aku tak ingin menyebutkannya. Doakan saja dia cepat sembuh seperti sedia kala" sahut Ibu Bell berjuang setegar mungkin.


\*\*\*\*


Enam bulan setelah masa penyembuhan berakhir, kegiatan Bell, Noah dan Petra kembali seperti sedia kala. Kecuali, pertukaran identitas antara Noah dan Petra.

__ADS_1


Jam istirahat sekolah, Bell selalu terlihat di dampingi Petra yang berlagak sebagai Noah. Ia akan selalu berusaha mengarahkan Bell ke tempat yang tak biasanya Bell dan Noah datangi saat istirahat. Seperti sekarang, Petra langsung mengarahkan Bell ke ruang latihan basket.


Ditengah-tengah arena bermain, sudah terbentang tikar lipat yang di keliling lilin kecil, dan di bagian tengah ada makanan favorit Bell.


“Ini terlalu berlebihan Noah,” bisik Bell ketika para sahabat Noah menyelesaikan pekerjaannya, menyiapkan makan pagi romantis di tengah arena permainan.


“Kurasa tidak untuk gadis cantik sepertimu” Petra balas berbisik sambil menggandeng Bell menuju ke tempat spesial itu.


Noah sudah berubah sejak kecelakaan terjadi. Ditambah sekarang, aku jadi merasa asing dihadapannya. Aku tidak mengenalinya lagi batin Bell terpaksa menikmati makanan yang terlanjur di hidangkan Petra.


“Kau nanti pulang saja duluan oke,” kata Bell sebelum menyuapkan satu suap spageti ke dalam mulutnya.


“Kenapa?”


“Ada ekstrakurikuler yang harus aku hadiri. Kau akan bosan jika terus mengikutiku”


“Kau keberatan aku terus berada di sekitarmu?”


“Terus terang iya” kekeh Bell kecil.


“Tapi biasanya kau tidak mempermasalahkan hal ini”


“Jika ini terus berlangsung akan jadi masalah besar untuk kita” jawab Bell mulai kehilangan selera makannya.


“Kenapa jadi masalah? Sebelum kecelakaan aku terus bersamamu dan kau, tidak pernah menolak,”


“Dulu dan sekarang berbeda. Keadaan kita telah berubah,”


“apanya? Kau terkesan berusaha menghindariku” Petra tersinggung.


“Ya, Itu kan yang ingin kau dengar? Kau harus tahu kenapa aku begini ya,” akhirnya Bell meletakkan piring berisi spageti ke atas tikar.


“Setelah kecelakaan, kau berubah total. Terlalu sering memaksakan apa maumu. Aku sudah sangat muak terhadapmu Noah!”


“Apa salahnya ingin terus berada di sampingmu?”


“Sangat salah,” tegas Bell sambil berdiri menatap tajam Petra.


“Ada saatnya aku ingin bebas dari dirimu. Ada kalanya aku ingin tidak melihat Wajahmu” tambah Bell.


“Dengan kata lain kau bosan dengan keberadaanku?” Petra ikut bangkit mendekat ke arah Bell, sambil mencengkeram kuat lengan Bell.


“Kau mulai menakutkan. yang aku rasakan adalah, aku, takut, padamu” lirih Bell matanya berkaca-kaca.


“Noah lepaskan. Kau tidak melihatnya kesakitan?!” pekik Sovie mengingatkan.


“Biarkan Sov. Kurasa semenjak kecelakaan, menyakitiku, adalah kebiasaan baru Noah” potong Bell tegas membuat Petra melepaskan lengan Bell yang mulai memerah.


“Ku mohon dengan sangat Noah. Jangan, tunjukkan, batang hidungmu di hadapanku hari ini” Bell mengusap air mata, lalu pergi begitu saja menjauh dari Petra. Hati laki-laki muda ini pun dipatahkan Bell dalam sekejap.


Lega. Hanya kata lega yang sanggup menggambarkan perasaan Bell ketika meninggalkan Noah. Perut Bell yang keroncongan mengharuskannya menuju ke kantin kalau tidak, ia tidak akan dapat berkonsentrasi belajar nanti. Bell mengantri sambil melamun.


Ia terkejut ketika ada seseorang menyodorkan sepiring nasi goreng seafood dan segelas juice alpukat ke arahnya. Satu pikiran yang tergambar dalam benak Bell. Noah...


“sudah kubilang...”


“Hmm? Apa kau tidak menyukai nasi goreng dan juice alpukat?” tanya Noah mengangkat kedua alisnya.


“Petra. Maaf. Aku pikir kau seseorang yang ku kenal” sahut Bell salah tingkah.


“Maksudmu Noah?” tanya Noah santai membiarkan Bell mengambil nasi goreng dan juice alpukat darinya.


“Kau tahu rupanya”


“Bukankah kau selalu bersamanya? Tentu saja kami akan hafal diluar kepala” kekeh Noah.


“Duduklah, sebelum jam masuk kelas tiba” tambah Noah.


“Kau...tidak mau makan juga?” tanya Bell memperhatikan Noah sedang mengambil pesanannya yang lain.


“Tentu saja,” jawab Noah tersenyum manis.


“Di sana kosong. Mau makan bersama?” sambutan Bell mengejutkan Noah. Identitasnya kini adalah seorang Petra. Laki-laki yang tidak terlalu dikenal Bell. Biasanya, Bell tidak mau berlama-lama berbicara dengan orang yang tidak dekat dengannya.


“Bolehkah? Biasanya kau bersama Noah” sahut Noah ragu. Ia tidak ingin membuat keributan di dalam sekolah.


“Dia sedang sibuk dengan teman-temannya. Jadi dari pada makan sendiri, lebih baik bersamamu kan?” sahut Bell malu-malu.


Noah dan Bell berjalan menyusuri meja demi meja dan duduk di meja yang dituju.

__ADS_1


Baru kali ini aku merasa nyaman berada di dekat orang asing, batin Bell keheranan.


“Kau masih bisa melihat benang takdir?” tanya Noah tak sengaja mengutarakan rasa penasarannya. Jelas pertanyaan ini membuat Bell melotot terkejut sampai terbatuk-batuk.


__ADS_2