
Bau harum semerbak, beserta tiupan angin sepoi-sepoi mulai para Dewa rasakan. Mereka tersadar siapa yang datang berkunjung ke rumah Aislin dan Eros kali ini.
“Aku bisa memberi kalian solusi,” potong Dewi Afrodit, Ibu dari Dewa Eros.
“Lupakan tawarannya. Kebanyakan solusi yang ditawarkannya mengalami masalah di kemudian hari” Eros langsung mengeraskan suara, memberi peringatan kepada para Dewa lainnya.
“Kau takut aku akan kembali berusaha menyiksa Wanita ini? Hmm?” entah sejak kapan, Dewi Afrodit sudah duduk di samping Aislin tertidur pulas. Bahkan kali ini entah kenapa ia mengelus pipi Aislin yang dahulu kala, dianggapnya sebagai musuh, menggeser kedudukannya sebagai Dewi kecantikan.
“Jangan gunakan tangan kotormu untuk menyentuhnya Mom” Eros menepis tangan Ibunya dari wajah Aislin.
“Kau ingin dia menjadi milikmu seutuhnya bukan?” bukan kekecewaan yang tergambar dalam wajah sang Dewi tapi sebuah senyuman tak terkatakan. Membuat Eros merasa makin harus mewaspadai Ibunya sendiri.
“Jadi apa maksud dan tujuanmu kemari Afrodit?” tanya Dewa Gazleil siaga. Dewa kehidupan ini memang wajib siaga karena Afrodit pernah membuat kehidupan Psikhe berantakan.
Memanfaatkan Putranya Eros, untuk menikahi Pria yang seharusnya tak dinikahinya. Dan pada akhirnya, Dewa Gazleil memerintahkan bawahannya untuk menggagalkan usaha Eros dengan mengalihkan perhatian Eros. Begitu perhatian si Dewa cinta teralihkan karena kecantikan Psikhe, saat itu juga hukuman Dewa Gazleil terpenuhi.
Eros tergores panahnya sendiri dan berakhir jatuh cinta pada calon korbannya sendiri.
“Anggap saja, aku sedang berusaha..., memperbaiki kesalahanku. Apa dengan begitu kehadiranku akan diterima? Disini?” kekeh sang Dewi sambil menatap tajam Putranya.
“Aku belum menyelesaikan masalahku dengan Putraku. Karena dia untuk kedua kalinya menikahi Wanita yang paling tidak kuharapkan” ada nada emosi meledak-ledak dalam diri Ibu dari sang Dewa Cinta.
“Kalau begitu, kami akan memberi waktu kalian berbicara. Dan kau Eros, urusan kami dengan Aislin belum selesai” sahut Dewa Gazleil memperingatkan Eros di akhir kalimat.
“Tidak perlu. Kalian bisa berada disini mendengarkan pembicaraan kami. Karena pembicaraan kami juga menyangkut Aislin” tegas Dewi Afrodit mencegah para Dewa pergi.
“Kau bisa terus berada di dekat belahan jiwamu seumur hidupnya. Apa kau senang?” kekeh sang Ibu melirik Putranya.
“Tidak. Aku hanya berada di sisinya dalam sisa hidupnya yang tak akan lama lagi. Kurasa Dewi Afrodit lah yang senang bukan?” sindiran Eros tak mengubah raut wajah cantik sang Dewi.
“Maksudku, bukan sebagai Psikhe, maupun Aislin. Tapi sebagai manusia baru, di kelahirannya yang ketiga kali” Dewi Afrodit mencoba menjelaskan.
“Kau ingin menyalahi wewenangku? Dewi?” amuk Dewa Gazleil murka.
“Sudah kukatakan, Dewi Afrodit ingin memperbaiki kesalahan”
“Maksudmu? Jelaskan sekarang juga!” bentak si Dewa mencoba menetralkan emosi. Entah kenapa Ibu dan anak ini selalu membuatnya ekstra emosional setiap kali bertemu.
“Dia harus membuang posisinya sebagai Dewa. Maksudku, untuk bisa memiliki Aislin seutuhnya di kehidupan selanjutnya, dia harus melepaskan posisinya sebagai Dewa dan menjelma menjadi manusia. Yang terlahir di dunia sebagai anak manusia” pernyataan Dewi Afrodit sebagai seorang Ibu, mengejutkan seluruh Dewa yang berada di hadapannya sekarang.
“Kau ingin memperbaiki kesalahanmu dengan membuang Putramu ke dunia?!” pekik Dewa Gazleil tidak percaya.
“Aku tidak membuangnya. Dia sendiri yang selalu berinisiatif pergi ke bumi untuk menemui manusia itu. Aku sudah sangat lelah memperingatkannya untuk tidak selalu menemui manusia bernama Psikhe bahkan reinkarnasinya sekalipun!”
__ADS_1
“Tapi anak keras kepalaku memang tidak pernah mau mendengarkan Momnya. Jadi, dari pada aku harus melihatnya menderita tak bisa memiliki Wanita yang dicintainya, lebih baik dia menjelma menjadi manusia. Manusia yang kelak akan terus bersama dengan reinkarnasi Aislin” jawab Afrodit berkobar-kobar. Dewa Gazleil tertegun mendengar penuturan Dewi Afrodit.
Ucapannya, tidak sesuai dengan isi di benaknya. Gazleil bisa mencium niatan busuk terhadap Eros.
“Ide yang bagus Afrodit. Dengan begitu aku tidak perlu menciptakan manusia baru. Karena Eros yang akan menggantikannya” tak disangka Gazleil menyetujui ide sang Dewi begitu saja.
“Terjadilah!!” ucapan Dewa Gazleil tidak dapat dibatalkan kembali. Maka petir mulai menyambar langit sebagai pertanda takdir antara Eros dan reinkarnasi Psikhe telah dimulai.
Eros yang tampan kini menjelma menjadi cahaya berbentuk bulat dan meluncur memasuki rahim seorang wanita.
Sementara kini, saatnya Dewa Thanatos mengambil jiwa Aislin dalam tubuh renta. Begitu Aislin meninggal dunia, karena jiwanya telah dikeluarkan dari tubuhnya, Thanatos mengalihkan tanggung jawab kepada Dewa Gazleil.
“Tunggu. Aku ingin memastikan mereka akan benar-benar bersama atau tidak” cegah Afrodit berusaha merampas jiwa Aislin dari tangan Dewa Gazleil. Dengan kekuatannya, Dewa Gazleil memerintahkan ribuan lebah, mengelilingi Dewi Afrodit, memenjara sang Dewi.
“Kenapa kau lakukan ini?!” pekik sang Dewi marah besar.
“Kau pikir, aku benar-benar percaya bahwa Dewi Afrodit akan menyatukan mereka? Sayangnya, aku bisa mengetahui niatan busuk terhadap Putramu sendiri!” bentak Dewa Gazleil. Ini membuat dua Dewa lainnya merasa lega.
“Kau berusaha menghukum Putramu dan membuatnya menderita karena terlahir sebagai Kakak kandung dari kekasihnya sendiri. Jelas aku tidak akan membiarkanmu merusak keseimbangan dunia sekali lagi”
“Seharusnya kau berterima kasih kepadaku karena membuatnya tidak dapat mengusik reinkarnasi Aislin. Tugasmu hanya memastikan Aislin bersatu dengan jodohnya di dunia bukan? Dan selama Eros menjadi Dewa, itu tidak akan terwujud! Lepaskan aku!” teriak si Dewi teramat panik.
Tanpa di ketahui Dewi Afrodit, Gazleil mengubah jiwa Aislin dalam bentuk cahaya bulat, lalu meniupkannya ke rahim seorang Wanita lainnya.
“Tunggu. Dimana jiwa Aislin? Katakan!” raung sang Dewi merasa kalah cepat.
“Tenang. Sesuai keinginanmu mereka akan selalu bersama. Bukankah itu yang kau inginkan? Sebagai penebusan dosamu, terhadap Putramu Eros?”
“Apa maksudmu?”
“Eros, berada di dalam rahim seorang Wanita, yang nantinya, akan melahirkan jodoh bagi reinkarnasi Aislin... Bell..... Wilunark....” jelas kalimat terakhir Gazleil membuat Afrodit makin mendidih.
“Kenapa kau malah menjadikan mereka pasangan? Bukankah seharusnya Aislin memiliki jodoh yang berbeda?!”
“Aku mencontoh keahlianmu dalam memanipulasi Dewi Afrodit. Sekarang...aku pun sangat berterima kasih padamu. Akhirnya aku bisa menyelesaikan masalah dengan sangat mudah berkat pembuat masalah itu sendiri. Yaitu kau,” sindir sang Dewa membuat dua Dewa lainnya tak tahan menahan tawa. Mendengar gelak tawa para Dewa, akhirnya Afrodit menghilang tanpa jejak.
“Kisah mereka berdua terlalu menyedihkan” gumam Dewa Gazleil berduka.
“Kali ini aku tidak tahu kau sedang memberi anugerah pada mereka atau malah menciptakan kutukan baru” balas Dewa Ker sambil menepuk bahu si Dewa kehidupan.
“Apa pun yang terjadi kedepannya, itu bukan kesalahan Dewa Gazleil. Dia hanya merancang kehidupan manusia. Jika manusia itu ingin mengubah takdirnya yang buruk menjadi baik, maka bisa dianggap sebuah anugerah"
" Tapi. Jika kesempatan itu mereka gunakan untuk hal yang sia-sia dan pada akhirnya mereka memutuskan berpisah kembali, akan menjadi kutukan cinta tak bertuan” sambung Dewa Thanatos mencoba mencairkan suasana.
__ADS_1
Jiwa-jiwa yang baru dilayangkan masuk ke dalam rahim para calon Ibu yang berbahagia. Berharap kebahagiaan, kejayaan, dan kedamaian bagi calon keturunan mereka. Sembilan bulan kemudian, tiba saatnya bagi jiwa-jiwa baru ini dilahirkan ke dunia. Mereka menikmati masa kanak-kanak seperti anak pada umumnya. Sampai...ketika mereka menginjak usia 17 tahun.
Tak disangka, Aislin terlahir dari pasangan Daniel Louis dan Ester. Untuk mengenang mendiang Ibu mereka, akhirnya Daniel dan Ester memberi nama Putri mereka Aislin Belle Wilunark. Mereka mengubah kata Bell menjadi Belle untuk memberi sedikit perbedaan.
Sementara Eros sendiri, terlahir dari pasangan tetangga di sebelah rumah Daniel. Mereka tumbuh, dan bersekolah ditempat yang sama.
Pagi itu, Bell tidak ingin masuk sekolah. Ia hanya memilih bertahan untuk berdiri di taman rumah. Bahkan Daniel dan Ester tak mampu membujuknya.
“Serius tidak mau berangkat sekolah? Meski denganku sekalipun?” bujuk Noah Anderson.
“Tidak. Tidak mau. Aku melihat banyak hal, dan kepalaku mau meledak rasanya melihat itu semua” kata Bell bersikeras.
“Paman, Bibi, boleh kami bicara berdua? Kumohon,” kata Noah sesopan mungkin. Daniel dan Ester akhirnya mengalah untuk pergi meninggalkan mereka berdua.
“Seminggu Bell, kau berperilaku ganjil selama seminggu. Apa kau akan terus mengurung diri di dalam rumah lebih lama lagi? Sebenarnya apa yang kau lihat?”
“Kau pasti akan beranggapan aku halusinasi atau hampir gila” gerutu Bell memilih bungkam.
“Bell, jangan menyembunyikan apa pun dariku kalau kau tidak ingin aku juga menyimpan rahasia darimu” tegur Noah sambil menunjuk ke wajah Gadis itu.
“Aku melihat...banyak benang bertebaran di jalanan, di sekolah, di rumah. Pokoknya dimana-mana”
“Benang?”
“Tuh kan, kau pasti tidak akan mau percaya padaku” gerutu Bell sambil memalingkan wajah.
“Maksudmu yang ada di jariku dan jarimu?” pertanyaan Noah mengundang rasa penasaran begitu besar dalam benak Bell.
“Dari mana kau tahu benangmu terhubung denganku? Aku belum pernah menceritakannya padamu,”
“Karena aku melihatnya sejak kita menginjak usia 17 tahun ini. Tapi kau tadi bilang apa? Banyak bertebaran benang dimana-mana?”
“Ya,”
“Tapi aku hanya melihat satu benang. Berwarna emas, yang menghubungkan kita”
“Tepat sekali! Kau ternyata tidak berbohong padaku. Kau benar-benar melihat benang ini. Tapi kenapa hanya aku yang bisa melihat benang di jari semua orang di sekitarku?”
“Pasti ada alasannya. Kita harus mencari tahu apa artinya itu kan? Kau tidak akan mendapatkan jawaban jika hanya diam dirumah” tegas Noah bersiasat.
“Mom!! Dad!! Kami berangkat!!” teriak Bell sambil menggeret tangan Noah, berangkat ke sekolah bersama. Dan tanpa mereka sadari, ada empat pasang mata yang sedang sibuk mengawasi mereka berdua.
“Kenapa dia masih bisa melihat benang emas di jemarinya yang terhubung langsung dengan Eros?” tanya Ker kebingungan.
__ADS_1
“Meskipun tubuhnya bukanlah tubuh Dewa lagi, tapi jati dirinya adalah Putra dari Dewa dan Dewi. Aura Dewa dari Eros sendirilah yang membuat Bell dapat melihat benang emas tersebut” jawab Gazleil tersenyum penuh misteri.