Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 15


__ADS_3

“Apa Paman bisa melangkah tanpa bantuan?” tanya Daniel seraya membantu Ibunya berjalan menuju kursi rodanya.


“Tentu, tentu saja aku masih sangat bugar bahkan tenagaku layaknya Pemuda 17 tahun. Jangan meremehkanku anak muda” kekeh Eros yang harus menyamar sebagai Robert kali ini. Diam-diam, Aislin melirik Robert memberi kode agar berperilaku seperti usia yang terlihat.


“Hah hah hah” Robert hanya melangkah sekitar...tiga langkah tapi dia sudah merambat ke tembok kamar Aislin. Wajahnya mulai memucat.


“Apa Anda lelah? Sebaiknya duduk sebentar di sofa oke, kursi roda Bibi bisa Paman pakai nanti” respons Ester dari ambang pintu. Gadis itu baru saja tiba, dan melihat si Kakek tua hampir pingsan sambil merayap di tembok.


“Aku pikir...aku sekuat saat umurku masih 17 tahun” kekeh Robert menerima tawaran bantuan dari calon menantu dari kekasihnya Aislin.


Mereka benar-benar bergantian menggunakan kursi roda, mengantre agar dapat segera sampai di meja makan.


“Apa Dad pernah mengenal Paman Robert?”


“Tidak. Aku hanya mengenal Mommu” senyum Robert sekilas memandang Aislin.


“Jadi, kalian teman satu agensi model? Teman kuliah? atau..., Sekolah?” Ester ikut bertanya.


“Tetangga sebelah” kedua orang tua itu kompak menjawab.


“Kami sering mengumpulkan teman sekolah, teman kuliah, ke satu lingkungan dimana terdapat sebuah taman favorit, tak jauh dari rumah. Dengan begitu kami juga akan tetap sering bertemu dan selalu bertambah kenalan baru” tambah Robert seolah benar-benar memiliki kenangan tersebut.


“Bagaimana dengan cinta pertama Paman?”


Uhuk


Uhuk


Ester mengerutkan kening penuh tanda tanya. Ketika pertanyaannya meluncur, tiba-tiba saja si calon Ibu mertua terbatuk-batuk.


“Mom, makan pelan-pelan...” sahut Daniel sambil menyeka makanan yang berlepotan di mulut sang Ibu. Sementara Ester menyodorkan segelas air mineral.


“aku cuma tersedak, sudah cukup. Lanjutkan makan kalian” kata Aislin salah tingkah. Aislin hampir memasukkan sesendok makanan ke dalam mulut tapi akhirnya diurungkan karena mendengar kembali pertanyaan yang sama di lontarkan Ester pada Robert.


“Jadi, apa Paman memiliki cinta pertama?”


“Tentu saja. Setiap anak muda pasti memiliki kisah klasik macam itu. Kau, tidak berpikir wajahku setua ini sejak lahirkan?” kekeh Robert sesekali membersihkan mulut dengan serbet di atas meja.


“Kami ingin mendengarkannya. Bolehkah?” Ester nampak bersemangat. Matanya berbinar-binar sambil menatap Robert.


“Kenapa kau ingin mendengarkan hal remeh temeh seperti itu? Apa kau sedang ingin mengenang cinta pertamamu?” protes Daniel mengerutkan kening kesal bukan main.


“Daniel, ini bukan tentangku oke, ini tentang Paman” rengek Ester tak sabar menanti jawaban dari seberang.


“Apa kalian sudah melupakan peraturannya, anak-anak?” Aislin angkat suara menatap tegas kedua muda mudi itu.


“Tidak boleh bicara saat makan” tambah Aislin tegas mengingatkan.


“Sudah lama kita tidak membicarakan masa lalu Aislin. Apa masa laluku begitu mengusikmu? Hmm?” goda Robert sambil meletakkan dagu diatas tangan kirinya.

__ADS_1


“Ya ampun, apa kau bercanda? Untuk apa aku terusik hanya karena masa lalu?!” jawaban Aislin mengindikasikan kegugupan berlebihan.


“Lalu kenapa kau melarang mereka mendengarkan jawabanku?”


“Ini waktunya makan sa....” Aislin tercekat dan kini lebih memilih menutup rapat rahangnya.


“Sa?” Ester mengangkat kedua alisnya, mereka-reka kelanjutan kalimat Aislin yang terpotong begitu saja.


“Aku mendengar suara hatinya tadi. Apa kalian percaya?” kekeh Robert meletakkan pisau di tangan kirinya.


“Apa?” kedua muda mudi tersebut merasa penasaran.


“Di akhir kalimatnya. Ya ampun, itu terdengar seksi” goda Robert menyeringai lebar.


“Habiskan makananmu, dan diam” sungut Aislin sambil melemparkan serbet ke wajah nakal Pria tersebut.


“Ayolah..., akui saja toh kau harus terbuka pada anak-anakmu juga suatu saat nanti” kekeh Robert membuat jantung Aislin keluar dari tempatnya.


“Robert, jangan bicara omong kosong” bisik Aislin mencubit lengan Robert super gemas.


“Tunggu dulu” kekeh Daniel memotong pembicaraan mesra pasangan lansia di seberang. Tentu kali ini Aislin jadi diam membeku.


“Terbuka tentang apa? Lebih tepatnya, apa yang sedang kalian sembunyikan dariku?” Daniel memicingkan mata penuh selidik pada Ibunya.


“Bukan menyembunyikan, lebih tepatnya..., hanya belum kami umumkan saja nak,” jawab Robert semakin berani.


“Ini belum saatnya, apa yang kau lakukan huh,” protes Aislin menggapai jemari Robert secara refleks.


“Kami menjalin hubungan. Apa itu masalah bagimu? Dan kedua saudaramu yang lainnya?” ucapan Robert kini menyebabkan seluruh tubuh Nenek cantik di sampingnya panas dingin.


“Sebentar. Sebentar. Apa aku tidak salah dengar?” Ester terkekeh tak percaya dengan apa yang ditangkap telinganya.


“Ya, kami menjalin hubungan” Robert mengulang.


“Hubungan....” Daniel mencoba memutar otak bingung.


“Apa hubungan yang sama seperti antara Pria dan Wanita? Seperti itu?” tambah Daniel menegaskan.


“Tepat sekali!!” seru Daniel menggebrak meja dengan semangat menggebu-gebu membuat semua orang di meja itu terperanjat kaget.


“Tapi belum lama ini Mom bilang kalian teman. Benarkan Mom? Mom bilang itu tadi?” kata Daniel merasa bertambah bingung.


“Itu nama lain dari menjalin hubungan. Kau bisa menyebutnya teman tapi mesra” kata Robert tanpa rasa canggung sedikit pun.


“Mom...., jelaskan dengan detail” kata Daniel mengabaikan makanan lezat di depan mata.


“Sulit mengatakan hal ini pada seluruh Putra Mom. Tapi karena Robert ingin hubungan kami terbuka saat ini...., apa boleh buat. Kalian sudah besar. Kedua Putra Mom yang tertua sudah menikah. Sekarang, Putra terkecil Mom sebentar lagi menikah”


“Mom kesepian Nak, bolehkah Mom memiliki teman hidup di sisa hidup Mom yang hanya sebentar di dunia ini?” pertanyaan Aislin membuat Daniel terkesiap. Sejenak anak itu terdiam lalu bangkit sambil memeluk Aislin penuh kasih.

__ADS_1


“Mom berhak bahagia. Kami sekarang sudah ada yang mengurus. Jadi sekarang waktunya Mom, berbahagia bersama Pria pilihan Mom” balas Daniel melepaskan pelukan pada si Wanita tua cantik.


Bruk!!


Perhatian semua orang teralihkan ke arah pintu penghubung dapur dan ruang keluarga. Dua Putra Aislin yang lainnya tiba-tiba ada di ambang pintu tersebut.


“Apa?!” pekik kedua Putra Aislin serempak.


“Mom, kenapa hanya membicarakan hal sepenting ini dengan Daniel?” protes Ken anak pertama Aislin. Lalu kedua Putra Aislin berlomba-lomba mencapai Ibu mereka.


“Tunggu sayang. Ini keputusan yang sangat tiba-tiba. Sebenarnya Mom belum siap jadi....” belum sempat Aislin melanjutkan kalimat, kedua Putranya memeluk Aislin. Melihat pemandangan tersebut, Putra terkecil pun ikut memeluk ketiganya.


“Tunggu. Apa kalian tidak keberatan?” tanya Aislin dalam pelukan mereka.


“Mom lebih tahu siapa yang bisa membuat Mom bahagia. Ken dengan senang hati menerima Dad baru” jawab Ken lembut di sambut anggukan mantap dari kedua saudaranya yang lain.


“Kalau begitu, sebelum pernikahanku berlangsung, kita atur dulu pernikahan Mom dan Paman Robert” kata Daniel sambil meminta persetujuan dari Ken, Bean dan Ester.


“Tidak perlu, kami seperti ini saja sudah bahagia” sahut Aislin. Bagi Wanita Tua cantik tersebut, pernikahan diusia nya ini, bisa dibilang sia-sia. Toh sebentar lagi kematian akan datang padanya, dia tidak akan tega membuat Pria yang dicintainya menduda sebanyak dua kali. Pertama, ketika dirinya meninggalkan Eros sebagai Psikhe, dan kedua, jika kali ini ia meninggal dunia.


“Tapi aku menginginkan pernikahan” tegas Robert menepuk bahu Aislin.


“Tidak. Kurasa ini tidak adil bagimu”


“Ini keputusanku. Kubuat atas kesadaran, dan keinginanku sendiri. Kenapa kau selalu menolak jika kita membicarakan pernikahan?”


“hidupmu masih panjang bagaimana denganku? Kalau aku mati, kau akan seperti dulu lagi. Kau akan menolak melanjutkan hidup dengan seseorang” gerutuan Aislin masih bisa di dengar dengan jelas oleh Eros yang menyamar sebagai Robert.


“Kenapa harus melanjutkan hidup dengan orang lain kalau aku tahu, kita akan terus bertemu dan saling jatuh cinta lagi? Baik dimasa lalu, masa kini bahkan masa mendatang?” bentak Robert mulai kesal. Alasan Aislin selalu berputar ke permasalahan yang sama hingga sang Dewa Cinta mulai bosan dengan alasan remeh temeh itu.


“Aku tidak peduli mau usiamu pendek ataupun panjang, karena yang aku inginkan waktu berkualitas denganmu. Aku tahu waktumu tak banyak, bukankah karena itu kita harus melakukan banyak hal bersama mulai sekarang?"


"Waktu berkualitas kita akan sangat berarti bagiku sebelum kamu benar-benar meninggalkanku” kini Robert menggenggam erat tangan Aislin, mencoba memberikan kekuatan pada Aislin untuk menjalani sisa hidupnya.


Bulan demi bulan telah berlalu kini Eros sebagai Robert, dan Aislin, telah resmi menjadi sepasang Suami Istri. Kebahagiaan kian bertambah karena hari ini, mereka pun menyaksikan pernikahan Daniel dan Ester dilangsungkan.


“Aku tidak pernah menyangka masih diberi kesempatan untuk dapat melihat Putra kecilku menikah” senyuman Aislin mengembang sempurna di wajah cantiknya.


“Berarti kita aman sekarang. Mereka akan berbulan madu 3 bulan dari sekarang, dan dua Putra kita yang lain sibuk bekerja. Bukankah ini hari yang sempurna untuk kita?” kekeh Eros dalam wujud Robert, tengil bukan main.


“Rencana yang semalam benar-benar akan kita lakukan?!” pekik Aislin tak menyangka Eros benar-benar serius.


“Ayolah, kita tidak melakukannya karena ada anak-anakmu yang selalu muncul kapan saja”


“Memang kita tidak bisa meminta ijin pada mereka berbulan madu secara terbuka? Bagaimana jika mereka kebingungan mencari kita?” bisik Aislin mencoba memberikan pengertian.


“Kau pikir mereka akan mengizinkan? Dengan tubuh kita yang menua ini? Untuk ukuran orang tua seusia kita, jelas kita tidak akan punya tenaga untuk berjalan sampai ke depan halaman rumah saja.” Eros mengingatkan penolakan apa yang hanya akan mereka dapatkan ketika permohonan itu dilayangkan langsung.


Tentu saja anak-anak mereka akan menolak keras. Berjalan sampai ke halaman rumah saja mereka sudah terlihat kelelahan luar biasa. Bagaimana jika pergi berbulan madu hanya berdua? Bisa-bisa salah satu dari anak-anak itu malah membuntuti mereka kemanapun mereka ingin berbulan madu.

__ADS_1


“Benar juga” lirih Aislin lesu.


“Kau punya Suami Dewa. Kenapa kau pikirkan hal yang kecil di mataku? Mari kita membuat waktu terasa begitu lama. Sementara waktu kita ditempat lain berjalan dengan normal. Dengan begitu, mereka akan terus sibuk bekerja dan bekerja” balas Eros memberi solusi tidak masuk akal.


__ADS_2