Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
KELUARGA PETRA 2


__ADS_3

Meski waktu berjalan


secepat kilat,


namun waktuku bersamamu


teramat berharga.


Kita tak mungkin bersama selamanya,


Karena di dunia tidak ada yang abadi.


Jika aku pergi,


semoga kau akan tetap bahagia.


Jika kau yang pergi,


Aku berusaha tetap bahagia demi pengorbananmu,


Untukku.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


“Jangan menyerangnya lebih dari itu. Bell dengarkan aku!!” teriak Noah melihat Bell akan segera menyerang kembali Petra.


Bell tetap melancarkan serangan kedua, mengalirkan seluruh air di bawah tanah, naik keluar hingga menyembur tubuh Petra dengan sangat kuat.


Tubuh Petra bukannya terpental tapi seolah tenggelam di dalam semburan air yang mengalir deras. Padahal aliran airnya tidak merembet kemana-mana karena Bell, sengaja memusatkan serangan hanya pada Petra.


Noah berlari mendekati Bell. Ia menatap marah, sekaligus panik. Perasaannya kini terasa campur aduk. Noah membalik tubuh Bell, agar menghadap ke arahnya.


“Hentikan itu” Noah memperingatkan karena melihat ada ruam keunguan muncul di bagian pergelangan tangan Bell.


“Dia yang menyebabkanku terperangkap di dalam mobil dan hampir terpanggang” desis Bell mengaburkan niatan hati sebenarnya.


“Biar aku yang mengurusnya untukmu. Pergi dan kembalilah ke rumah sakit” geram Noah mendengar alasan Bell menyerang Petra.


Kini warna ungu tersebut merambat sampai ke siku Bell. Noah tak mau tinggal diam. Karena ruam warna ungu tersebut adalah pertanda racun Petra telah diaktifkan bukan hanya ditujukan padanya saja, tapi juga pada Gadis yang ia cintai.


Noah menekan air agar masuk kembali ke dalam tanah, mengubah kekacauan yang dibuat Bell seolah tidak pernah ada. Kini Petra terbanting ke atas tanah, karena air yang mengepungnya mulai surut.


“Pergi!!” gertak Noah berusaha menyingkirkan Bell tapi Bell tetap diam mematung.


“uhuk uhuk” Petra terbatuk-batuk.


“Padahal aku hanya akan memindahkan seluruh racunku pada Noah. Tapi kau malah mengambil alih separuh” geram Petra setelah kuat berdiri. Meski ia berdiri sempoyongan.


“Bukan saatnya bertengkar honey, justru kita harus bekerja sama” bisik Bell ke Noah.


“Kembali ke rumah sakit akan jauh lebih membantuku. Dengarkan aku Bell!” Noah berteriak saat Petra tiba-tiba menggandakan jumlah pohon apel. Manusia penyerap pandai memainkan ilusi.


“Maafkan aku” gumam Noah yang sangat terpaksa membuat tubuh Bell terbelenggu dengan tanah hisap ciptaannya.


“Noah!!” teriak Bell baru menyadari ini kerjaan Noah. Ia tak boleh bergerak serampangan agar tak tenggelam ke dalam tanah hisap. Meskipun hal itu tak akan mungkin dibiarkan Noah terjadi.


Petra memusatkan kekuatannya pada seluruh buah apel yang ada di perkebunan apel. Kemudian melemparkan ke satu titik yaitu Noah. Si titisan Dewa Eros begitu melihat ratusan buah apel terlontar ke arahnya, menciptakan angin besar yang kecepatan anginnya mampu membelah apa pun yang dilewati.


Ketika angin ini mulai mendekat ke arah Petra, muncullah Eliza berlari menghambur ke arah Petra berdiri.


Zrrrrrssss


Noah terkejut ketika angin ciptaannya malah membelah tubuh Eliza menjadi dua. Noah segera menghilangkan angin itu. Tubuhnya limbung ke belakang, dan jatuh bersimpuh. Melihat kondisi jazad Eliza yang kini tak bernyawa.


“Agh!” pekik Petra yang tiba-tiba merasakan kakinya mati rasa. Petra terkapar di atas tanah, dengan rasa panik luar biasa. Muncul Dewa Asklepios dengan wajah sedih bercampur marah yang sudah mencapai ubun-ubun.


“Seorang saudari meregang nyawa di hadapanmu tapi kau malah sibuk panik dengan keadaan kakimu sendiri?” tanya sang Dewa bernada datar.


“Itu bukan kesalahanku. Dia yang memilih menggantikanku mati” gumam Petra.


“Dari pada itu Noah membuat kakiku mati rasa. Bukankah Dewa tidak boleh menyakiti manusia?” tambah Petra membuat Dewa Asklepios mengepalkan tangan.


“Seharusnya kau lumpuh seumur hidup”


“Apa?” Petra mengerutkan kening.


“Karena kasih sayangnya padamu. Eliza kecil mau menerima kemalanganmu menjadi kemalangannya” geram Dewa Asklepios menatap tajam kedua bola mata Petra.


“Tapi kau malah menyalahkannya karena sebuah kecelakaan yang kau sendirilah penyebabnya!” teriak sang Dewa.


“Dia membuat kakiku patah! Kau tahu apa hah?!” amuk Petra tak terima.


“Tapi kau bisa kembali berjalan setelah beberapa bulan kemudian bukan? Sementara dia tidak”


“Seharusnya kau yang mengalami kelumpuhan seumur hidup!! Itu takdirmu bukan takdirnya!!” bentak Dewa Asklepios.


“Kau menghukumku karena membiarkan Eliza mati menggantikanku? Dan sekarang kau membuatku lumpuh?!” raung Petra tak mau kalah.


“Kau masih belum menyadari kesalahanmu?!” teriak Noah yang mulai dapat menguasai diri.


Petra memusatkan energi untuk menyerang pembunuh saudarinya tapi ternyata tak satu pun kekuatan keluar.


“Seluruh energi Dewa yang kau serap sudah kembali pada pemiliknya” kekeh Dewa Asklepios puas melihat kepanikan Petra.


“Eliza...ini semua karena dia menukar nasib kami bukan? Dia membuatku cacat sementara dia tadi berlari!” teriak Petra. Akal sehatnya mulai terganggu.

__ADS_1


Dewa Asklepios memancarkan cahaya putih ke arah kepala Petra melalui ujung jarinya. Ingatan dimana kecelakaan yang menimpa Petra dan Eliza terputar di kepalanya. Petra melihat dirinya semasa kecil terjatuh dari kuda, saat kuda yang ia tunggangi melompati sebuah pohon yang tumbang menghalangi jalan.


Kaki Petra kecil tertimpa kudanya, bahkan anak malang itu diam tak bergerak.


Eliza kecil berteriak melihat Petra tak sadarkan diri. Dia mencoba melewati pohon tumbang yang menghalangi jalan. Gadis kecil tersebut meskipun juga terjatuh dari kudanya, berusaha keras menyeret kakinya yang retak, menghampiri Petra yang masih tidak bergeming.


Eliza berusaha membuat kuda yang menimpa kaki Petra, berdiri tapi ia masih terlalu kecil. Untung saja ada warga desa setempat melihat Eliza sedang panik.


“Tolong! Kuda itu menimpa saudaraku” tangis Eliza kecil begitu tiga warga desa setempat menghampirinya.


Petra dan Eliza dirawat dirumah sakit yang sama. Saat itu, Eliza tidak ingin berbaring tapi ingin tetap berada di samping saudaranya Petra. Kedua orang tuanya hanya bisa menuruti keinginan Eliza dan membiarkannya hanya berdua dengan Petra. Tak lama kemudian, ada yang datang.


Eliza heran dari tadi ia tidak mendengar ada orang membuka pintu. Dia berpikir mungkin karena dia sempat tertidur. Orang asing tersebut mendekatinya, berjongkok, dan akan meraih kakinya yang di gips.


“Apa yang ingin kau lakukan?” tanya Eliza was-was. Orang yang diajak bicara tertegun menatap gadis kecil di hadapannya.


Laki-laki asing ini mencoba menggapai kaki Eliza sekali lagi tapi Eliza justru menampik tangannya. Terkejut dengan apa yang dilakukan si gadis kecil, Dewa Asklepios menatapnya ragu.


“Kamu bisa melihatku?”


“Tubuh sebesar Paman, bagaimana aku bisa tidak melihatmu?” sahut Eliza berkecak pinggang.


“Kau...bahkan bisa menyentuhku” gumam si Dewa tak habis pikir.


“Kenapa Paman tertarik dengan kakiku? Apa kau tertarik dengan gambar beruang di gips ku?”


“Sssst jangan ribut. Hanya kau yang bisa melihatku” jawab Dewa Asklepios memperingatkan.


“Kau mau sembuh?”


“Tentu saja. Dia juga harus sembuh” jawab Eliza menunjuk ke arah Petra kecil.


“Aku hanya akan menyembuhkanmu”


“Kenapa begitu? Bukankah Dokter tidak boleh pilih kasih? Petra juga pasien disini”


“Aku? Tunggu. Kau pikir aku ini Dokter?” kekeh Dewa Asklepios terhibur.


“Kalau Paman bukan Dokter, bagaimana bisa Paman menyembuhkan kami?”


“Sudah kubilang. Hanya kau yang boleh kusembuhkan”


“Tidak mau! Sembuhkan Petra juga Paman!”


“Biarkan Petra diobati oleh Dokter oke, ayo berikan kakimu sekarang”


“Apa Petra akan sembuh?”


“Tentu. Setidaknya dia tidak akan mati”


“Dia tidak akan bisa melakukannya. Karena dia hanya akan mampu duduk dan tidur seumur hidupnya”


“Apa itu maksudnya?” Eliza mengerutkan kening setelah mulutnya terbebas dari tangan sang Dewa.


“Artinya, dia lumpuh seumur hidupnya. Dia tidak akan mampu berjalan, berlari, bahkan berkuda sekalipun”


“Bagaimana denganku?”


“setelah kau sembuh, kau bisa melakukan banyak hal yang kau inginkan. Bersabarlah” sahut Dewa Asklepios menggapai kaki Eliza.


“Kemarikan kakimu. Aku harus mengobatimu”


“Kau tidak mau menyembuhkannya?”


“kalau aku melakukannya aku akan mendapatkan hukuman” Dewa Asklepios santai menjawab sambil berkonsentrasi menyembuhkan Eliza.


“Siapa bos Paman? Apa dia orang jahat?”


“Hanya kau yang beranggapan begitu”


“Orang ingin berbuat baik, kenapa dilarang? Bukankah jahat, kalau orang yang berbuat kebaikan seperti Paman malah kena hukuman?”


“Kau sangat mirip dengan kesayanganku” kekeh Dewa Asklepios sambil menggelengkan kepala.


“Anak Paman?”


“Bukan. Dewa tidak akan memiliki anak seberisik dirimu” kekeh Dewa Asklepios setelah selesai mengobati Eliza.


“Lalu aku mirip siapa?”


“Aku punya peliharaan, seekor burung Beo” sahut sang Dewa, beralih ke arah Petra kecil, bersamaan mimik jengkel Eliza karena di samakan dengan seekor Beo.


“Dia harus sembuh juga Paman, tolong, tolong,” kata Eliza mengulang kalimat tolong dengan nada sangat manis.


“Biarkan dia tidur lebih lama lagi” kata Dewa Asklepios berbalik ke arah Eliza, berjongkok di hadapan si gadis kecil.


“Dokter, memberinya obat, agar dia tidak merasakan sakit. Dia akan baik-baik saja” tambahnya mencoba meyakinkan Eliza.


Hari demi hari berlalu. Akhirnya Eliza dan Petra dibolehkan rawat jalan. Di hari kedua setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, Petra berteriak. Ia menangis, sambil memukuli kedua kakinya.


“Petra, jangan pukul kakimu. Nanti sakit...” kata Eliza mendekati Petra. Gadis kecil ini ikut menangis.


“Pergi!! Aku benci Eliz!! Karena Eliz sekarang, kakiku tidak bisa berjalan lagi!! Pergi!!”


“Kamu yang memerintah kudamu melompati pohon tumbang, bukan aku yang menyuruhmu kan? Kenapa jadi itu salahku?”

__ADS_1


“coba kalau Eliz tidak mengajakku berkuda. Aku pasti masih bisa berlari sesukaku”


“Kalau kamu tidak melompat kecelakaan itu tidak akan terjadi”


“Pergi!! Aku benci Eliz!!”


“Aku harus bagaimana supaya kamu mau memaafkan aku”


“Buat aku bisa berjalan lagi!! Aku ingin bisa berlari lagi!!” raung Petra kecil yang sedang putus asa.


Eliza mundur ketika Petra melemparinya bantal. Gadis kecil malang itu hanya bisa terisak lalu berjalan susah payah, menghindari amukan Petra mengandalkan dua tongkat di lengan kanan dan kirinya.


Eliza tidak kembali ke kamarnya. Ia berniat menurini 25 anak tangga tanpa pengawasan dari orang yang lebih tua.


“Dimana orang Dewasa? Mereka membiarkan anak kecil yang pincang menuruni anak tangga sendiri” suara Dewa Asklepios membuat telapak kaki Eliza tidak jadi menapaki anak tangga didepannya.


“Paman tahu rumahku dari siapa?” Eliza memekik kecil mendapati tubuhnya melayang dengan sendirinya, sambil mengapit kedua tongkatnya, ke arah sang Dewa.


Dewa Asklepios menjentikkan jemari, maka dua kruk itu sudah menghilang dari genggaman tangan Eliza. Sebagai gantinya, kini Dewa Asklepios menggendongnya.


“Tunjukkan kalau kau anak yang kuat. Hapus air matamu” kata si Dewa, setelah menghilang kemudian muncul di kamar Eliza.


“Petra marah padaku” adu Eliza setelah Asklepios mendudukkannya di atas tempat tidur.


“Kau tidak berbuat kesalahan. Dia yang membuat dirinya sendiri menjadi seperti ini”


“Paman, Petra menangis setiap hari. Bahkan, dia tidak sudi melihatku sekarang”


“Nanti juga dia akan tenang sendiri”


“Dia tidak bisa kemana-mana seperti dulu lagi. Petra sangat tersiksa Paman, tolong sembuhkan Paman Dewa,”


“Kalau dia sembuh, harus ada yang menggantikannya sakit”


“Biar Eliza saja,”


“Kau? Pikirkan baik-baik. Kau tidak akan bisa berjalan sampai kau dewasa. Tidak bisa sekolah seperti anak-anak lain, tidak punya teman bermain, kau akan lebih sering di dalam rumah dari pada diluar”


“Akan ada banyak hal tidak bisa dilakukan orang yang kakinya lumpuh seumur hidup” tambah si Dewa.


“Eliza paham, kalau Petra lumpuh, dia tidak...akan punya teman. Tapi Eliza, masih punya Paman” kata Eliza tanpa sedikitpun keraguan.


“Tidurlah. Aku akan menganggapmu tidak pernah mengatakan hal itu”


“Paman!!” teriak Eliza begitu melihat sang Dewa menghilang begitu saja.


Beberapa bulan kini telah terlewatkan. Eliza sudah dapat berjalan dengan normal sementara Petra, hanya bisa duduk di atas kursi roda. Petra terus memusuhi Eliza dan memilih mengurung diri, dari pada di paksa menemui saudarinya itu.


Suatu malam, Eliza mengalami demam tinggi. Dokter pun kesulitan melakukan perawatan karena semangat hidup Eliza mulai menipis.


“Eliza. Buka matamu. Aku tahu kau mendengar suaraku” suara Dewa Asklepios membangunkan si kecil Eliza.


“Kau mau menyembuhkanku lagi?” tanya Eliza terbata-bata. Ia menggigil kedinginan.


“Kau tidak ingin bertemu dengan teman sekolahmu lagi? Kalau kau sakit, teman-temanmu akan sedih. Karena kamu beberapa hari ini tidak masuk sekolah”


“Petra juga sama”


“Kau tidak ingin sembuh karena Petra memusuhimu?”


“Sembuhkan Petra Paman, supaya kami bisa berdamai”


“sudah kubilang harus ada yang menggantikannya”


“gantikan saja dengan ku. Kalau Paman Dewa tidak mau mengabulkannya, aku mati saja”


“Eliza. Hanya Dewa yang bisa menentukan kapan manusia hidup dan mati”


“Aku, mau Petra sembuh” tandas Elisa. Kesadarannya mulai berkurang.


“Eliza. Berjanjilah. Kalau aku sembuhkan Petra, kau harus berpura-pura mengalami kelumpuhan kaki. Tidak ada yang boleh tahu kalau kau sedang berpura-pura” buru-buru Dewa Asklepios mengajukan penawaran agar Eliza tetap stabil kesadarannya. Sang gadis kecil hanya sanggup mengangguk pasrah.


“Biarkan aku menyembuhkan demammu dulu” kata Dewa Asklepios mengusap kening Eliza.


“Sekarang, kau baik-baik saja. Tapi manusia yang menyentuh tubuhmu, akan tetap merasakan suhu panas”


“Haruskah?”


“Sekarang, kau coba gerakkan kedua kakimu”


“Paman, sulit digerakkan” Eliza panik saat ia tak merasakan apa pun pada kedua kakinya.


“Maaf. Ini untuk meyakinkan Dokter dan kedua orang tuamu. Bahwa karena demammu yang tinggi, syaraf kakimu tidak berfungsi normal”


“Apa sekarang Petra akan bisa berlari?”


“Tidak hari ini nak,” Asklepios menepuk-nepuk kepala Eliza lembut.


“Tapi aku berjanji, dia akan sembuh setahap demi setahap. Kalau dia sembuh sekarang, sementara kau tiba-tiba sakit, itu akan menimbulkan kecurigaan.


“Sekarang, kami akan berdamai. Terima kasih Paman Dewa” tawa Eliza sambil memeluk sang Dewa.


“Jangan takut. Setelah matahari terbenam, kakimu akan normal seperti biasanya. Dan saat mereka semua terlelap, kau akan ku ajak berjalan-jalan kemanapun kau mau” tambah Dewa Asklepios.


“Bukankah harus ada yang menggantikan Petra? Kalau kita lakukan itu, bagaimana kalau ketahuan? Aku tidak mau Paman dihukum karena ku,”

__ADS_1


“Kita lakukan secara diam-diam. Eliza bisa menjaga rahasia?”


__ADS_2