Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Identitas Lain Eros


__ADS_3

“Bukankah sudah ku bilang? Sampai disini, kau...tidak bisa...masuk lebih...dalam” geram Eros mendekatkan wajahnya pada wajah Aislin. Gadis itu mendorong sang Dewa cinta, lalu masuk ke dalam mobil, tancap gas pergi entah kemana. Dia melaju dengan kecepatan penuh tapi apa yang dilakukannya, tidak mengurangi rasa frustasi dalam jiwanya.


Lebih baik aku tidak memiliki kemampuan tak berguna ini...


TIiiiiiiiiiiiIIIIIiNNnnnn.....


Suara klakson truk dan mobil yang tiba-tiba saja muncul di depan Aislin.


Ckiiiiiiiiiiit......


BruUUUUush!!


Buuuuuum!!


Kecelakaan tak terelakkan lagi. Aneh, Aislin tak merasakan sakit sama sekali justru rasa nyaman dan hangat yang menyelimuti tubuhnya. Aislin mencari tahu apa yang sedang terjadi dengan membuka kedua mata. Hey, siapa yang memeluknya? Perlahan Eros melepaskan pelukan itu dari Aislin.


Sayap yang menutupi seluruh tubuh Aislin kini menghilang. Pemandangan mengerikan terlihat mobil Aislin rusak parah semua kekacauan terjadi begitu saja.


“Berpikirlah sebelum bertindak kalau tidak, hal seperti ini akan terjadi kembali.”


“Apa...apa yang terjadi dengan semua orang yang terlibat kecelakaan denganku?” tanya Aislin linglung.


“Mati” jawab Eros enteng sambil menggendong Aislin lalu terbang meninggalkan seluruh kekacauan itu.


Sesampainya di rumah kontrakan Aislin, Gadis tersebut hanya terdiam. Ia tidak menyangka tindakannya yang marah pada keadaan justru menimbulkan bencana bagi banyak orang.


“Setidaknya kau biarkan aku bertanggung jawab Eros...”


“Bertanggung jawab? Atas apa? Kau tidak melakukan apa pun”


“Aku, membuat kecelakaan beruntun!! Setidaknya aku bisa bertanggung jawab”


“Dengan cara apa? Begitu banyak korban bahkan gaji 12 Tahun yang kau kumpulkan pun, tak akan cukup membungkam seluruh keluarga mereka”


“Tidak semua hal bisa dinilai dengan uang. Aku bisa menghabiskan waktuku di dalam penjara” jawab Aislin tak mampu memikirkan ide lain untuk melawan sang Dewa.


“Tidak perlu merasa bersalah. Itu hanya ilusi yang sengaja aku buat untuk membuatmu mengerti, bagaimana bahayanya jika benar terjadi kecelakaan hanya karena seorang Gadis keras kepala yang sedang marah pada kenyataan” kata Eros bangkit dari duduknya menuju lemari pendingin di dapur. Eros membuka lemari pendingin, tapi Aislin menutupnya kembali. Ia menatap tajam mata Dewa penuh amarah.


“Terus saja mempermainkan kehidupan manusia. Bukankah itu kelebihan yang kalian banggakan?!” teriak Aislin. Sang Dewa mendorong tubuh Aislin ke depan lemari pendingin. Eros memukulkan tangannya yang mengepal kuat, tepat di sebelah kepala Aislin.


“Dan kelebihan manusia selalu mencaci Dewanya meski belum tahu alasan di balik semua kejadian yang mereka alami. Makhluk yang tidak tahu berterima kasih!!” teriak Eros lalu menghilang begitu saja. Aislin gemetaran tidak biasanya Eros melontarkan nada yang keras sekaligus penuh amarah. Ia merosot ke bawah, berjongkok sambil menangis.


Matanya menangkap dua sepatu hitam di depannya. Pria itu berjongkok dihadapan Aislin lalu menatapnya sendu.


“Maafkan aku. Tidak seharusnya aku...,menggunakan kekuatanku untuk memarahimu” kata Eros lembut membuat Aislin menatapnya sambil menangis sejadi-jadinya. Eros hanya dapat memeluk dan menepuk punggung Gadis itu untuk menenangkannya.


“Besok kau harus datang ke Galeri Del Anze. Dari pada kau terus terjebak dengan masalah orang lain. Lebih baik urus saja dirimu.” Ucapan Eros membuat Aislin melepaskan diri dari pelukannya.


“Galeri Del Anze? Untuk apa?”


“Datanglah jam sepuluh. Dan katakan kau, sudah membuat janji dengan Desainer Edward Jorgie.”


“Siapa lagi itu? Tidak biasanya kau memintaku menemui orang asing”


“Karena dia tidak asing bagimu” kalimat Eros terhenti ketika mendengar langkah kaki menuju pintu rumah kontrakan Aislin.


Eros menatap tajam dari jauh orang yang akan menekan tombol bel. Eros sengaja membuat bel itu tak berfungsi dan ketika orang tersebut akan mengetuk pintu, Eros sengaja menyihir anjing milik tetangga Aislin, untuk menyusup masuk ke halaman rumah kontrakan Aislin. Tamu Pria yang melihat ada seekor anjing bermata merah menyala, dengan air liur menetes tak terkendali itu, segera berlari meninggalkan rumah Kontrakkan Aislin.

__ADS_1


Eros terkekeh merasa menang tapi ekspresinya itu membuat Aislin mengendus hal mencurigakan dari sang Dewa.


“Eros..., kau tidak sedang menjahili siapa pun sekarang kan?” selidik Aislin menaikkan kedua alisnya.


“Tidak,”


“Tapi baru saja aku mendengar ada suara orang berteriak keluar dari halamanku sekaligus suara anjing?”


“Itu? Aku melihat ada perampok mau membobol rumah ini. Makanya dia kuusir. Atau kau memang ingin bertemu dengannya? Aku bisa...mengembalikan waktu untukmu” jawab Eros merasa tidak ada pilihan lain selain berbohong.


Keesokan hari, Aislin bersiap menuju Galeri Del Anze anehnya, Eros yang selalu mengikutinya kemanapun Gadis itu pergi, menghilang tanpa kabar.


“Kemana dia sepagi ini?” gumam Aislin keheranan. Yah, bagaimanapun dia tidak ingin membuang waktu jadi dengan mobilnya, Aislin pergi menuju Galeri Del Anze. Sesampainya di Galeri tersebut, Aislin justru kebingungan sendiri.


Sejak kapan ada Galeri di tempat itu? Bukankah tadinya ini tanah kosong? Pikir Gadis itu sambil menutup pintu mobilnya. Ia berjalan memasuki Galeri yang nampak ramai dikunjungi orang.


Fashion show baju musim panas? Eros menyuruhku untuk menonton hal membosankan ini?! Kata hatinya setelah membaca tulisan besar di depan Galeri Del Anze. Tidak akan!! Lebih baik dia menonton TV saja dirumah sampai malam tiba. Aislin baru saja membuka pintu mobilnya tiba-tiba seseorang memanggilnya.


“Aislin Wilunark? Apakah benar Anda Aislin Wilunark?”


“Ah, ya..., apa Anda... Edward Jorgie?” jawab Aislin sekedar berbasa-basi.


“Syukurlah Anda datang tepat waktu. Apa Anda sudah siap bekerja hari ini?”


“Sebenarnya saya kemari karena perintah....” belum sempat Aislin menyebut nama Eros, Pria dihadapannya langsung menutup kembali pintu mobil dan menggeret Gadis malang tersebut masuk ke dalam Galeri.


Aislin hanya menoleh ke kanan dan kekiri menatap setiap orang yang berpapasan dengannya. Dari cara mereka berjalan dan cara mereka berdandan, jelas sekali mereka ini model kelas atas. Aislin semakin bertanya-tanya kenapa dirinya di bawa sampai ke balik panggung begini.


“Keiln!! Ini model terakhir yang direkomendasikan langsung oleh Edward Jorgie!!” panggil Pria yang membawanya. Maka Pria bernama Keiln segera menghampiri Aislin.


“Jangan buang waktu ayo segera datangi make up Artis di sebelah sana” pandu Keiln ceria.


“Sudahlah, hasilnya pasti bagus” potong Keiln membalik tubuh semampai Aislin, menyetir kedua bahu Gadis itu, untuk berjalan menghampiri sang make up artis.


“Inilah model terakhir yang kita tunggu-tunggu” kata Keiln menunjukkan Aislin pada sang make up artis. Tidak ada kesempatan Aislin mengelak, bahkan kabur. Setiap gerak-geriknya selalu diperhatikan seluruh panitia penyelenggara.


Eros!! Awas kau kalau ketemu nanti!! Umpat Aislin naik darah. Setelah seluruh model sudah siap, sang Desainer terlihat berada di depan pintu menuju catwalk merapikan seluruh aksesoris yang sekiranya kurang tepat, atau justru memperbaiki setiap detail kostum yang terlihat tidak menarik.


Tiba giliran Aislin yang berada di barisan terdepan. Betapa terkejutnya Aislin, ketika menyadari bahwa Edward Jorgie adalah...Eros?! Sebelum Gadis itu membuat ulah, Edward Jorgie mendekatkan bibirnya ke telinga Aislin.


“Ini adalah bentuk penyamaranku, sekaligus profesiku di dunia manusia. Jangan pernah berpikir untuk kabur karena aku akan terus mengulang waktu, sampai kau kelelahan untuk melawan” ancam Eros sambil mengamati setiap detail dari keseluruhan penampilan modelnya.


Eros meminta aksesoris diubah pada bagian rambut, sebelah kirinya dari mengenakan mahkota ala Putri zaman Victoria, menjadi topi bulu merak, berpayet pink muda dengan gliter di setiap sudut topinya.


“Giliranmu”


“Ta...tapi...”


“Kau mau aku melakukan apa yang baru saja ku katakan padamu?” ancaman Eros akhirnya menggerakkan Aislin untuk tampil di depan umum. Aislin merasa sangat terusik melihat betapa banyaknya benang berwarna warni di sekitar para penonton. Tapi ia tidak boleh mempermalukan diri di depan umum. Ia berjalan dengan penuh percaya diri meski keringat dingin bercucuran.


“Kerja bagus” senyum Eros sambil menepuk bahu Aislin.


“Selanjutnya!!” komando Eros pada model lainnya.


“Kau sedang apa? Segera ganti kostummu” tegur Eros sebagai Edward Jorgie pada Aislin.


Di rumah kontrakkan Aislin, Gadis itu menyandarkan diri di atas sofa, meletakkan kedua kakinya di atas meja sambil memejamkan mata.

__ADS_1


“Apa selelah itu?” kata seseorang tepat disampingnya. Aislin hampir melompat kaget melihat Eros sudah duduk manis disampingnya.


“Kau..., seenaknya saja mempekerjakanku tanpa persetujuanku” ketus Aislin sambil mengingat apa yang dikatakan Eros sebagai Edward Jorgie di depan para wartawan.


Dalam ingatannya, saat hendak pulang, Aislin di cegat oleh Keiln agar mau menunggu Eros pulang bersama. Begitu Eros dan Aislin baru...saja keluar dari pintu Galeri, sudah banyak wartawan menunggu keluarnya seorang Edward Jorgie.


Mereka bertanya soal kepastian tanggal launching baju pesta malam yang akan di adakan pada awal bulan Oktober. Sang Desainer pun menjawab pada tanggal 10 Oktober lalu pertanyaan selanjutnya, pertanyaan soal siapa sajakah model yang akan di pilih Edward Jorgie? Berganti topik menjadi siapakah model yang paling mendekati sempurna menurut Edward Jorgie? Apakah model itu akan selalu ada disetiap pagelaran yang di adakan oleh Edward Jorgie?


Entah mendapat ide buruk dari mana, Eros mengatakan Aislin adalah model favoritnya yang akan selalu menyertainya dimanapun, dan kapan pun pagelaran itu diselenggarakan. Tentu saja para wartawan belum puas akan setiap jawaban yang dilontarkan Eros.


Lalu meluncurlah pertanyaan apakah Nona Aislin memiliki hubungan khusus dengan Edward Jorgie? Jawaban dari pertanyaan inilah yang menyulut kemarahan seorang Aislin. Dengan mudahnya tanpa berpikir Eros mengatakan sudah memiliki hubungan khusus dengannya selama setahun.


“Sudah ku katakan dari awal itu lebih baik, dari pada kau terus berusaha ikut campur dalam hubungan setiap manusia yang kau lihat”


“Kau juga tahu aku akan melihat banyak ikatan takdir disana bukan? Seberapa pusingnya diriku melihat itu semua pernah kau pertimbangkan? Aku nyaris pingsan”


“Itu karena kau selalu menganggap hal yang aneh bila dapat melihat ikatan takdir. Setidaknya kau bukan seorang indigo yang mampu melihat makhluk astral. Dan sikap mereka, dalam menanggapi kemampuan spesialnya adalah, menganggap dapat melihat makhluk astral itu..., adalah hal yang biasa. Jadi mereka menjalani hidup selayaknya orang normal"


"Tapi kelakuanmu dalam beberapa hari ini, sadar atau tidak sadar, akan selalu dianggap aneh oleh orang sekitarmu. Bisakah kau mengabaikan ikatan takdir orang-orang yang tidak ada hubungannya denganmu?”


“Saat kita tahu seseorang akan terputus dengan ikatan takdir kekasihnya karena kematian, kenapa tidak kita cegah? Padahal kita bisa melakukan hal itu?”


“Semua berjalan sesuai dengan takdir hidup mereka. Takdir selalu dituliskan bahkan sebelum ruh, dihembuskan pada segumpalan daging bernama janin. Jika kau, berusaha mengubah siapa yang ditentukan mati, maka akan ada seseorang yang harus menggantikannya mati"


"Jawab aku sekarang. Apa itu keinginanmu?! Menyelamatkan satu nyawa, dan mengorbankan nyawa yang lainnya?” pertanyaan Eros membuat Aislin terdiam sejenak lalu menatap sang Dewa dengan setajam mungkin.


“Apa itu kenapa kau, tidak mengizinkanku untuk meminta Carty meninggalkan Pria yang suatu saat nanti akan berselingkuh dengan Wanita lain?”


“Keadaan saat itu tidak sama seperti bayanganmu. Bukankah seluruh isi kepalamu hanya sekedar dugaanmu saja, hanya karena melihat tanda warna pada benang perjodohan itu? Kau masih perlu banyak mempelajari setiap warna"


"Cobalah membaca warna setiap benang dengan tenang tanpa emosi. Hanya dengan seperti itulah kau bisa menilai setiap hubungan dengan obyektif.” Sanggah Eros masih dengan ekspresi dingin, seolah mampu membekukan hati setiap manusia yang menatap matanya.


“Kau tidak pernah mengatakan berapa lama kontrak kita akan berlangsung. Jika..., kontraknya habis, apakah aku akan kehilangan kemampuan melihat benang perjodohan?”


“Tentu saja, kau akan kehilangan kemampuan spesial kalau kau tidak masuk ke dalam kontrakku. Mengenai berapa lama masa kontraknya..., itu tidak bisa dihitung dengan waktu di dunia manusia. Kami punya waktu sendiri menurut hukum para Dewa”


“Ya ampun, kau bisa memberi tahuku seberapa lama kontrak ini akan berlangsung. Kau kan Dewa” protes Aislin sambil menunjuk Eros kesal.


“Jadi kau menghilang cukup lama hanya demi berdebat dengan manusia itu?” tiba-tiba ada suara lain menegur Eros.


“Siapa dia?” tanya Aislin kebingungan mendapati seseorang menyelundup ke dalam rumah kontrakannya tanpa mengetuk pintu.


“Dia Thanatos. Dewa sepertiku” jawab Eros sambil berdiri mendekati Dewa Thanatos.


“Maksudmu, artinya sekarang aku tidak hanya bisa melihatmu tapi juga bisa melihat semua yang disebut Dewa?!” seru Aislin merasa ini pengalaman menakjubkan.


“Kau tidak akan senang melihatnya kalau kau tahu Dewa apa, dirinya” kekeh Eros menatap kesal Dewa Thanatos.


“Biarku katakan dengan bangga. Perkenalkan saya adalah Thanatos, dewa kematian. Tidak akan sakit sama sekali kok. Aku akan melakukannya selemah lembut mungkin” jawab Thanatos dalam seringai jahilnya.


“Apa yang membawa kalian datang kemari?” tanya Eros tanpa ekspresi. Aislin langsung berdiri bersembunyi di balik sofa melihat ada lagi satu Dewi yang datang berkunjung.


“Ini tak adil. Kau hanya memperkenalkan Thanatos? Apa kau tak menganggapku? Hey, manusia!! Tenang saja kami belum mau mengambil nyawamu” sapa seorang Dewi pada Eros juga Aislin. Sang empunya rumah kontrakan hanya bisa keluar dari tempat persembunyiannya lalu meringis semanis mungkin.


“Kau tidak mau berkenalan denganku? Aislin?” tiba-tiba sang Dewi ada di depan Aislin. Gadis itu terkejut dan hampir saja pingsan dibuatnya untung saja Eros datang dari arah belakang, menyangga tubuh kaku Aislin yang hampir tumbang.


“Dia Ker ...Dewi kematian sama seperti Thanatos. Tapi Ker mengambil jiwa dengan menyakitkan. Seperti orang yang sekarat karena pertempuran di medan perang, kecelakaan, pembunuhan atau penyakit. Ker bisa membagi dirinya menjadi banyak sesuai kebutuhan” bisik Eros membuat sang Gadis langsung bersembunyi di balik punggung Dewa cinta.

__ADS_1


"Sudah selesai basa basinya? katakan saja apa tujuan kalian sebenarnya?" ekspresi wajah Eros mulai mengeras.


__ADS_2