Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
TERPERDAYA


__ADS_3

Noah membaca tanpa ada satu pun huruf terlewatkan matanya.


“Benang berwarna putih pasir itu bukanlah...ikatan takdir. Tapi pengubah identitas?” gumam Noah mengerutkan kening kebingungan. Ia memilih kembali membaca karena rasa penasaran di benaknya, sudah meronta meminta penjelasan.


“Benang seputih pasir hanya bisa diciptakan oleh manusia. Manusia tersebut terlahir karena, Dewa yang terkena hukuman, diturunkan ke dunia untuk terlahir menjelma menjadi manusia”


Hey, sebagai manusia titisan Dewa, pasti sulit bagimu mempercayai kenyataan bahwa kau, adalah diriku. Tapi aku bersyukur kalau kau, bisa membaca catatan rahasia ini. Dan itu artinya waktu kita tidak banyak lagi jadi ingatlah baik-baik.


Biasanya saat seorang titisan Dewa terlahir, di saat itu juga muncullah kelahiran manusia penyerap. Seharusnya ini tidak pernah terjadi tapi, karena aku Eros mengubah takdir seorang manusia bernama Aislin, hukuman itu pasti akan dijatuhkan langsung kepadaku. Aku berharap kau tidak perlu mengalami masalah dengan benang seputih pasir itu.


“Terlambat. Bagimu dia Aislin dan bagiku dirinya adalah Bell. Siapa pun dia tetaplah orang yang sama. Sama-sama kita cintai. Jadi Eros, beri aku petunjuk bagaimana cara menyelamatkan cinta kita” gumam Noah setelah membaca.


Aku benci menulis yang ini tapi harus kutuliskan karena jika sampai kau membaca sepanjang ini, artinya Cuma satu. Si penyerap menyerangmu dengan benang itu. Kalau tebakanku benar, artinya setelah benang tersebut muncul, keesokan harinya identitas kalian akan ditukar. Kau menjadi dia sebaliknya, diapun menjadi dirimu.


“Katakan kalau kau sedang menceritakan sebuah lelucon bung, kau pikir aku akan percaya kami akan tertukar? Jadi maksudmu jiwa kami bertukar tubuh?” gumam Noah kesal hampir saja ia ingin melemparkan saja catatan rahasia Eros ke lantai.


Sudah tidak ada cara lagi untuk mencegah. Tapi kau harus terus berada di sekitar Bell dengan begitu ingatan Bell bisa kembali sewaktu-waktu. Ingat hanya identitas kalian yang ditukar bukan raga kalian.


“Hanya ini?! Sial!!” teriak Noah geram bukan main.


“Kembalilah” ucap Noah sambil melempar catatan rahasia ke udara.


Dengan sendirinya catatan rahasia itu menggulung rapat dirinya, lalu terbang kembali ke rak buku ke seribu. Noah berlari keluar dari perpustakaan pribadinya.


“Kau baru saja tiba. Beri sedikit waktu untuk Mom bisa bersamamu Nak,” tegur Dewi Afrodit melihat Putranya berlarian.


“Aku harus pulang”


“Eros. Ini adalah rumahmu yang sesungguhnya”


“Bukan. Rumahku, ada di bumi. Di dalamnya ada Mom dan Dad yang menyayangiku” Noah menatap emosi pada Dewi Afrodit. Sebelum ada perdebatan selanjutnya, Noah lebih memilih terbang meluncur turun ke bumi.


Noah mendarat di halaman belakang rumahnya menatap rumah yang selama ini menaunginya sejak kecil. Ada rasa sedih dalam hati Noah karena jika sampai malam ini menjadi pagi, kebahagiaan bersama kedua orang tuanya hanya akan menjadi kenangan.


“Noah, kemana saja? Kau membuat kami panik” sang Ibu rupanya tak sengaja melihat Putranya berada di halaman rumah ketika ia sedang menyapu ruang tamu. Tentu saja sebagai seorang Ibu yang anaknya baru...saja sadarkan diri langsung berlari menghampiri.


“Dari mana saja kamu? Baru saja sadar, tapi kelayapan entah kemana?!” sang Ayah memukul punggung Putranya dengan sapu yang tadinya di pegang si Ibu.


“Auch Dad, itu sakit” pekik Noah meringis.


“Honey!! Apa kau gila?! Putra kita baru hari ini sadar. Apa kau berencana membuat Noah kembali tak sadarkan diri?” protes sang Ibu sambil mengusap pada bagian yang dipukul si Ayah.


“Hey, hanya memukul bagian punggung ini,” Daniel langsung memukul punggung Noah dengan tangan kanannya berhubung sapu sudah direbut Istrinya.


“Maaf dan terima kasih” pekik Noah, memeluk Ibu dan Ayahnya bersamaan.


“kau sudah makan?” kekeh Ester sambil mencubit pipi Putranya.


“Aku sangat lapar Mom,” jawab Noah mengecup kening Ibu kesayangannya.


“Kalau begitu ayo kita masuk”


“Sebentar. Noah masih ingin memeluk kalian. Orang tua terbaik dalam hidup Noah” si Putra kesayangan mengeratkan pelukannya.


“Terbaik? Dia?! Baru saja dia memukulmu,” goda Ester menunjuk batang hidung Suami sendiri.


“Itu karena Noah nakal Mom,” kekeh Noah sambil menatap sedih kedua orang tuanya.


“Wah, lihat? Dia sudah mengakui kesalahannya. Memang begitu seharusnya anak laki-laki” potong Daniel menepuk-nepuk bahu Putra tercinta.


“Bagus. Ini baru Putraku” Daniel menyatakan dengan bangga.


“Hey, dia juga Putraku jangan lupakan itu”


“Tanpaku kau, tidak akan memilikinya” jawab Daniel besar kepala.


“Ya ampun orang tua ini, hey, kau hanya mengirim pesan sponsor, aku yang mengandungnya sampai sembilan bulan” protes Ester tak mau kalah.


“Honey, kalau kamu tidak aku setrum, Noah tidak akan pernah lahir” jawab Daniel berdehem geli.

__ADS_1


“Ya ampun Mom....Dad, bisa kah kita makan saja sekarang? Jangan bersikap kekanakan di depan anak. Mengerti?” protes Noah geli sambil menggiring keduanya masuk ke dalam rumah.


Di ruang makan, Ester dan Daniel merasakan ada sesuatu yang berbeda dari Putra mereka tapi mereka hanya bisa diam dan saling menatap satu sama lain. Noah makan lahap, dan tidak mengizinkan baik Ester maupun Daniel meninggalkannya.


“Noah, apa ada hal yang ingin kau bicarakan dengan Mom, dan Dad?” pertanyaan Ester justru membuat Noah tersedak. Ester menyodorkan segelas air mineral agar Putranya segera meminumnya.


“Kenapa tiba-tiba Mom menanyakan hal itu?”


“Hari ini sikapmu tidak biasa nak, hanya itu yang membuat kami mengkhawatirkan keadaanmu” sahut sang Ayah menatap Noah penuh perhatian.


“Tidak. Aku hanya...” Noah meletakkan sendok dan garpunya ke atas piring sambil menatap kedua orang tuanya ragu-ragu.


“Hanya teringat kejadian mengerikan yang menimpa aku dan Bell. Terus terang Noah hanya takut tak bisa lagi bertemu kalian. Takut kehilangan kasih sayang kalian. Hanya itu, Dad, Mom, jangan berpikir ada hal lebih buruk terjadi padaku kali ini” jawab Noah tersenyum hambar.


Suasana hening seketika. Ester justru menahan tangis mendengar Putranya mengatakan hal yang tak terduga. Mata Ester pun berkaca-kaca. Sementara Daniel sibuk menenangkan Istrinya. Tapi perhatian Noah teralihkan karena di piring yang sudah kosong tepat di hadapannya, muncul pesan singkat.


Tiga jam setelah Iblis itu terlepas dari Bell, sekarang Bell sudah sadarkan diri. Kau tidak ingin menemuinya? Sebelum mata hari terbit?


Noah tersenyum mendapat berita baik soal Bell yang mulai siuman.


“Mom, Dad, ada berita baik. Bell sudah siuman” ucap Noah tersenyum girang.


“Kapan berita itu sampai padamu?” Daniel mengerutkan kening. Kalau dari tadi dia sudah tahu, kenapa baru disampaikan sekarang kepada kedua orang tuanya?


“Baru saja” Noah kelepasan bicara.


“Baru saja? Noah, ponselmu ada di kamarmu. Dari tadi kau bersama kami. Lalu siapa yang memberi tahukanmu kabar gembira ini? Hmm?” tambah Ester keheranan.


“Maksud Noah..., tadi ditengah perjalanan pulang Noah berpapasan dengan teman sekelas kami. Kemudian dia memberi tahu kabar baik ini” jawab Noah sambil berdiri.


“Dad antar kau kesana” Daniel ikut berdiri.


“Jangan. Dad pasti sudah kelelahan menjagaku. Tenang saja, Noah bisa berangkat sendiri” sang Putra malah menolak.


Ya, tentu saja ditolak membayangkan naik mobil bersama Dadnya saja, Noah yakin pasti butuh waktu untuk sampai ke rumah sakit sementara jika dia berangkat sendiri, cukup satu kedipan mata saja ia sudah ada di depan Bell.


“Biar Dad panggilkan Taxi”


Di sebuah rumah sakit, tepatnya ruang rawat Bell, ruangan itu tampak sepi. Rupanya kedua orang tua Bell sedang mencari makan diluar. Noah muncul dihadapan Bell, ketika gadis malang ini tertidur lelap.


“Terima kasih sudah kembali” Noah menggapai tangan kanan Bell, menggenggam tangan mungil dalam genggamannya itu erat. Perlahan kedua mata lentik Bell terbuka.


“Noah, kau tidak apa-apa? Sebenarnya apa yang terjadi?”


“Aku baik-baik saja. Petra membuat kecelakaan beruntun sehingga kau harus mengalami ini”


“Terima kasih. Kalau bukan karena kau, mungkin aku akan ma...” sebelum Bell sempat mengucapkan kata mati Noah sudah menyumpalkan sepotong jeruk kedalam mulut Bell. Gadis cantik itu segera mengunyah dan menelan cepat isi mulutnya lalu terkekeh kecil.


“Ya ampun, kau terlalu normal untuk menjadi Dewa yang agung” kata-kata Bell membuat Noah menegang.


“Sejak kapan kau tahu aku ini titisan Dewa?” Noah mengerutkan kening. Otaknya mulai menyadari bahwa pasti Bell sudah membaca artikel Petra mengenai reinkarnasi sampai tuntas. Tapi..., tidak ada bagian artikel yang menunjukkan ciri-ciri Dewa.


“Yah, kalau bukan karena kecelakaan ini, sampai sekarang mungkin aku tidak akan menyadari kalau kau, berbeda. Dan sekarang aku sangat bersyukur karena hal buruk ini, maka muncul juga hal baik. Akhirnya aku tahu bahwa kau berbeda. Aksi heroikmu jelas memberi tahuku bahwa kau bukan manusia. Kau adalah Dewa” balas Bell sesantai mungkin.


“Kenapa Dewa? Aku bisa menjadi sesuatu yang lain. Mungkin aku Iblis?”


“Iblis mana yang berbuat baik?”


“Aku tidak berbuat baik, aku hanya menyelamatkan Gadis yang kucintai”


“Kenapa kau menyembunyikan identitasmu padaku? Kalau orang diluar sana, pasti sudah berpikir kau, seperti super hero yang pernah mereka tonton di televisi. Supermen..., Spider-Man...”


“Kau harus merahasiakan pada siapa pun. Rahasiakan ini oke,”


“oke, rahasiamu aman bersamaku” Bell menjawab sepenuh hati.


“Hey, kenapa kau...” Bell kebingungan begitu Noah memeluknya erat.


“Sebentar saja. Mungkin akan lama kita tidak dapat bersama” lirih Noah mengeratkan pelukannya ketika Bell bergerak.

__ADS_1


“Apa? Kau mau pergi kemana? Kau sungguhan ingin ke Jerman?“


“Tidak sejauh itu”


“Hmm? Lalu kemana?”


“Lupakan”


“Noah, aku benci ada rahasia di antara kita” sungut Bell melepaskan diri dari pelukan Noah dan melirik Noah kesal.


“Noah, Kapan kau datang?” tiba-tiba masuk kedua orang tua Bell dengan ekspresi terkejut.


“Belum lama ini” jawab Noah menyeringai kuda.


“Kalau begitu aku beli makanan lagi. Kau makanlah dulu dengan Noah” si Ayah menyerahkan kantung belanjaan berisi makanan untuk dua orang.


“Tidak perlu. Saya sudah makan dirumah tadi. Kalian makan saja” kata Noah menolak terang-terangan.


“Noah langsung menemuiku setelah makan Mom, Dad” tambah Bell. Noah melirik ke arah jendela tepat di samping kiri Bell terbaring lemah. Lagi-lagi ada pesan hanya kaum Dewa yang dapat membaca.


Dasar Dewa bodoh! Kau mau saja terperdaya oleh Petra! Bangun!!


Tulisan itu semakin lama semakin bersinar membuat mata Noah silau dan akhirnya menutup mata. Begitu ia membuka mata, ternyata Noah berada di meja makan rumahnya. Kemudian ia menyadari ada hal yang sempat ia lupakan. Ester dan Daniel bukannya orang tua Bell?


“Kau baru sadar tipu daya Petra, agar kau tidak bangun sampai pagi menjelang?” tegur Dewa Ker dengan ekspresi mengejek.


“Itu tadi alam mimpi yang sengaja Petra ciptakan untukku?”


“Dan bodohnya kau mempercayai keanehan yang diciptakannya. Bagaimana bisa kau tidak sadar bahwa Ester dan Daniel adalah orang tua Bell? Bagaimana bisa tiba-tiba mereka menjadi orang tuamu?” Dewa Ker mengolok-olok.


“lupakan itu bagaimana keadaan Bell sekarang?”


“Dia sudah membuka matanya tapi tidak bereaksi. Bell dalam pengaruh Petra”


“Aku sulit membedakan yang mana mimpi dan mana kenyataan. Semenjak tubuh manusia ini memerangkapku” keluh Noah mengacak-acak rambutnya.


“Kalau kau masih ingat. Saat kau berhasil mengambil alih sebagian kecil kekuatanmu yang diubah Petra menjadi Iblis,“


“Ya, bukannya aku setelah itu pulang ke rumah?”


“Benar. Tapi kau hanya sampai di halaman rumahmu”


“maksudmu?”


“Kekuatan Dewan baru saja bangkit. Tentu saja tubuh manusiamu butuh adaptasi. Karena itulah kau kehilangan banyak tenaga dan tertidur di halaman rumah”


“Bagaimana aku bisa sampai ke meja makan?”


“Kami mendeteksi ada kekuatan Dewa yang berusaha menyerang pemiliknya sendiri. Tentu saja kami langsung paham Dewa bodoh mana yang bisa mengalami kemalangan semacam itu” Dewa Thanatos muncul duduk di samping Noah secara tiba-tiba.


“Itu..., tidak diragukan lagi. Begitu kami datang kau sudah terkapar di halaman rumahmu. Dan bermimpi yang indah” kekeh Dewa Ker mencibir.


“Kenapa kalian tidak langsung membangunkanku?!” protes Noah makin geram.


“Itu akan membunuh Noah meski tidak mungkin membunuh Eros tapi, kami membutuhkan Noah sebagai titisan Eros” jawab Dewa Ker dan Dewa Thanatos bersamaan.


“Kami membawamu ke meja makan ini karena kami ingin membawamu kembali ke kenyataan. Menyadarkanmu, bahwa mereka bukan orang tua aslimu di dunia.”


“Karena mereka memang telah lama kau sayangi maka kami dengan mudah dapat menyeretmu kembali. Berterima kasihlah pada kedua orang tua Noah dan Bell didunia. Secara tidak langsung merekalah pintu utama kau bisa pulang” jawab dewa Thanatos kalem.


“Ngomong-ngomong, waktumu untuk bisa menjadi Noah asli sudah habis. Sebentar lagi matahari terbit. Salahkan dirimu, yang sulit dibangunkan” Dewa Ker memberitahu sekaligus menyindir habis-habisan.


“Petra sialan!!” umpat Noah marah besar. Waktu sempitnya tak bisa dikembalikan lagi.


“Segeralah bergegas ke rumah Petra” Dewa Thanatos mengingatkan.


“Aku ingin menemui Mom dan Dad dulu”


“Kau tidak bisa mengerti arti kata terlambat Noah?” Dewa Ker menimpali, tatapan matanya tajam menusuk mata hati Noah.

__ADS_1


“Kau hanya akan menerima penolakan mereka bahkan diusir dari rumah ini. Kau, menginginkan hal itu terjadi? Padamu? Itu akan jauh...lebih menyakitkan hatimu” geram Dewa Ker sebenarnya ia sangat memperhatikan perasaan Noah tapi yang dijaga hatinya sibuk memikirkan egonya.


__ADS_2