
“Kau akan mengundang perhatian banyak orang disana. Berhenti!” perintah Dewa Ker, menghentikan waktu agar para manusia tak terlibat dalam adu mulutnya kali ini.
“Kita bisa memanipulasi ingatan mereka dengan kekuatan yang kita miliki. Untuk apa kau melarangku menemui Bell?”
“Tidak dengan Petra. Kau bisa memanipulasi manusia lain tapi tidak, dengan Petra. Dia manusia penyerap! Kekuatan kita tidak bisa mempengaruhi otaknya” Dewa Ker berkata apa adanya.
“Aku tetap harus melihat apakah Bell baik-baik saja atau tidak?!”
“Petra akan bertanya kenapa kau, masih bisa hidup dengan normal padahal dia sedang babak belur sampai tak sadarkan diri di rumah sakit ini. Apa jawabanmu padanya?”
“Kenapa kau baik-baik saja tanpa ada goresan sedikitpun pada tubuhmu? Bahkan kau, masih bisa menjenguk Bell”
“Kau sudah...menyiapkan penjelasan yang masuk akal untuknya?” tanya Dewa Ker menghujani Noah dengan rentetan pertanyaan demi pertanyaan.
“Beri aku pilihan lain untuk bisa menemui Bell. Apa kau pun, sudah menyiapkan pilihan kedua untukku?” Noah kini bicara bukan atas namanya. Tapi atas keinginan Eros dalam dirinya.
“Kau belum mengingat segalanya atau pura-pura melupakan tentang kontrakmu, dengan kami sebagai jiwa bernama Noah? Meski kau tidak mau mengingat sekalipun, kau telah terikat sejak terlahir ke dunia” Dewa Ker berusaha memperingatkan.
Mendengar peringatan keras Dewa Ker, degup jantung Noah berdetak begitu cepat. Ya, ketika Dewa memperingatkan seorang manusia, (dalam hal ini Noah) maka manusia tersebut akan spontan merespons (meski ada Dewa Eros bersemayam dalam tubuhnya).
“Aku tidak bisa mengabaikan Bell. Kau tahu berapa lama aku menantikan kami bisa bersama?!”
“Kau terlahir sebagai Noah bukan tanpa alasan”
“Petra. Alasanmu adalah menyingkirkan kekuatan si penyerap. Ingat baik-baik misimu turun ke dunia” Dewa Ker ingin mengembalikan tujuan Dewa Eros sesuai suratan takdir.
“Akan kulakukan. Jadi biarkan aku menemui Bell”
“Tidak. Bell melemahkanmu. Bahkan dia bisa membunuh Noah perlahan” suara Dewa Thanatos menggelegar tak jauh dari posisi Dewa Eros dan Dewa Ker berada.
“Aku tetap bisa menaklukkan si penyerap dengan atau tanpa, Noah” jawab sang Eros keras kepala.
“Tapi keadaan Bell saat ini, berbeda dengan keadaan ketika ia masih menjadi seorang Aislin” Dewa Gazleil tak gentar memberi peringatan.
“Aislin tahu Eros adalah Robert dan siapalah itu. Yang jelas, dua identitas palsumu tersebut tidak lain adalah Dewa Eros. Bagaimana dengan Bell?” Pertanyaan ini sukses menghentikan langkah sang Dewa Cinta.
Eros membalikkan tubuh ke belakang, menatap tajam Dewa Thanatos dan Dewa Ker. Ia mengepalkan kedua tangan hingga seluruh tubuhnya bergetar hebat.
Benar juga...Bell tidak mengenal siapa itu Eros. Kalau Noah mati, Bell akan kesulitan mengenaliku batin Eros tak kuasa menahan emosi lebih jauh lagi.
“Jadi kau hanya punya dua pilihan”
“Pertama. Kau bebas menemui Bell saat ini. Tapi dikemudian hari Petra akan menyulitkan Bell, hingga terpaksa kau, akan terus berusaha menolong Bell” kata Dewa Thanatos.
“Wah, padahal Noah jangka hidupnya akan terus menerus berkurang jika waktunya selalu digunakan untuk menolong Bell” sahut Dewa Ker menekankan setiap ucapannya.
“Kedua. Kau pergi ke Jerman bersama Dadmu, meninggalkan Bell sekarang juga” tambah Dewa Thanatos membuat hati Noah sakit tak berdarah.
“Kau memberiku pilihan yang menurutku sama sekali tidak ada untungnya untukku!” protes Eros semakin kesal.
“Ada. Ketika kau meninggalkan Bell, maka Noah masih bisa bertahan hidup” sang Dewa kematian lembut itu menaikkan salah satu alisnya sedang mengajukan penawaran.
__ADS_1
“Aku lebih peduli dengan hidup Gadisku” kekeh Eros.
“Kalau kau pergi, kemungkinan Bell hidup akan bertambah besar”
“Baru saja kau bilang apa? Bukankah itu artinya nyawa Bell dalam bahaya?!” Eros menggunakan kekuatannya untuk menarik kerah Dewa Thanatos dari jarak jauh sehingga sang Dewa terseret mendekat pada Dewa Eros.
“Aku berkata seperti itu lantaran hanya agar kau, tidak perlu khawatir tentang keadaan Gadis itu”
“Kau!!” teriak Dewa Eros naik pitam.
“Dewa tidak mungkin berbohong” desis Dewa Thanatos.
Dewa cinta akhirnya melepaskan Dewa Thanatos karena Eros lebih mengutamakan keselamatan Bell. Masa seperti ini harus segera di manfaatkan Eros. Lagi pula, Petra sedang tak sadarkan diri entah sampai berapa lama. Maka, selama itu pula, Eros berpikir akan bebas menemui Bell.
“Dengarkan nasihat kami!!” teriak Dewa Ker hingga gedung rumah sakit bergetar hebat.
“Aku hanya akan menemui Bell sebentar saja. Selama Petra tak sadarkan diri. Seharusnya kalian menganggap ini aman” jawab Eros sesantai mungkin.
“Bell butuh waktu dua tahun untuk bisa sembuh seperti sedia kala. Tapi, jika kau pergi ke Jerman bersama Dadmu, Bell hanya butuh tiga hari masa pemulihan” Dewa Ker memberi penawaran namun bagi Eros adalah sebuah ancaman.
“Sebegitu inginnya kalian memisahkan kami?!” Eros memberi tatapan membunuh.
“Yang tidak menepati janjinya padamu adalah Psikhe, bukan kami. Maka seberapa banyak Psikhe bereinkarnasi, jalannya untuk dapat bersamamu tidak akan mudah” Dewa Gazleil menunjukkan wujudnya kini begitu menyadari ada kekuatan Dewa yang sedang bertumbukan di dalam bumi.
“Jadi Bell, tidak akan mati terbunuh? Jawab saja pertanyaan ini Gazleil!!” tuntutan Eros membuat sang Dewa melirik ke arah dua Dewa lainnya.
“Tidak. Tapi Noahlah yang akan meregang nyawa jika terlalu lama bersamanya” Dewa Gazleil memperingatkan.
“Justru itu menjadi masalah bagi kami” tiga Dewa kompak menjawab Eros.
Tak ingin mendengar perlawanan dari Eros, akhirnya Dewa Gazleil menggunakan kekuatan untuk menidurkan Dewa Eros. Sebagai gantinya, Noah terbangun.
“Paling tidak Eros si pemilik kekuatan tertidur” bisik Dewa Gazleil pada dua Dewa lainnya yang hendak protes melihat sang Dewa justru membangunkan Noah.
Memang, Noah dan Eros adalah satu. Perbedaannya hanya Eros memiliki kekuatan Dewa sementara Noah hanyalah manusia biasa. Oleh karena itu, untuk mengalahkan manusia penyerap, Noah membutuhkan ingatan dan kekuatannya sebagai Eros.
“Bell!!” pekik Noah begitu tersadar berada di koridor rumah sakit, bergegas mengarah ke ruang rawat Bell. Keadaan sudah normal kembali ketika ia tersadar bahkan tiga Dewa yang menyertainya tadi sengaja tak menampakkan diri dihadapan Noah.
Pria muda tersebut hanya terdiam berdiri didepan pintu ruang rawat Bell. Keinginan kuat masuk, memeriksa keadaan Bell memang ada. Tapi ingatan Dewa Eros tentang nyawa Noah dalam bahaya jika berada di sekitar Bell, membuat langkahnya tertahan.
Di waktu yang sama, meski si penyerap tak sadarkan diri, namun separuh kekuatan Dewa dalam dirinya mulai berubah menjadi kekuatan hitam, keluar dari dalam raga Petra. Kekuatan hitam ini meluncur meninggalkan ruang rawat Petra, dan berhenti di depan pintu ruang rawat Bell, mengawasi Noah yang hanya diam tanpa berbuat apa pun.
Kekuatan hitam dapat melihat secara langsung isi kepala Noah. Kekuatan yang berbentuk awan hitam ini akhirnya membesar, terus membesar, makin besar, dan akhirnya berubah menjadi dua sosok yang berbeda.
Ya, kekuatan Dewa bisa menjadi negatif jika terpendam dalam tubuh manusia yang memang bukan jelmaan Dewa. Perlu diketahui juga, kekuatan Dewa dalam tubuh manusia, bisa memiliki dua sisi berbeda akibat gesekan antara sifat Dewa dan Manusia.
Seperti saat ini dua sosok kekuatan sang penyerap telah berubah menjadi Malaikat dan Iblis. Perlahan Malaikat melangkah hingga berdiri di sebelah kanan Noah sementara Iblis, di sebelah kirinya.
“Cinta itu melihat...bukan buta Noah..., nyawamu sangat berharga jangan kau, sia-siakan hanya untuk Gadis di dalam sana” Iblis berbisik.
“Kau tidak ingin melihat keadaannya? Bagaimana kalau dia tidak akan pernah bangun? Kau harus masuk sebelum terlambat” Malaikat mencoba membuat teguh tekad Noah.
__ADS_1
“Dia akan baik-baik saja tanpamu. Dia bisa hidup sampai tua. Lalu apa kabarmu?” Iblis melirik kesal pada Malaikat.
“Kau tahu bagaimana nasib Eros dengan Aislin? Apa kau ingin mengulang kesalahan yang sama? Dengan Bell?” Malaikat menggeram membalas.
“Omong kosong!! Kalau kau memaksa menemuinya, nasibmu akan sama seperti Eros yang ditinggal menikah Aislin dengan Pria lain. Apa kau, punya cita-cita mengulang rasa sakit yang sama? Di kehidupanmu kali ini?” Iblis berteriak di telinga Noah hingga anak muda ini menutup kedua telinganya rapat-rapat dengan kedua tangannya.
“Noah, kau baik-baik saja?” tanya seseorang tepat di belakang Noah. Ketika Noah membalikkan badan untuk melihat siapa yang menyebut namanya, Iblis dan Malaikat telah menghilang entah kemana.
“Kepalaku terasa berdenyut itu saja”
“Batalkan keinginanmu keluar dari rumah sakit ini. Kita harus tahu apa...”
“Tidak Dok. Aku tidak merasa harus dirawat karena kepalaku berdenyut bukan karena sakit tapi terlalu banyak pikiran” tegas Noah berusaha mengelak.
“Kau memikirkan orang di dalam? Gadis yang kau selamatkan dari kecelakaan itu?”
“Aku yang menyelamatkannya?” tanya Noah dengan ekspresi penuh tanda tanya. Lalu sekelebat ingatan tentang dirinya yang berubah menjadi pribadi lain terbayang di benaknya.
“Kau bilang baik-baik saja tapi ingatanmu bermasalah” si Dokter melipat kedua tangan di dada.
“Aku sudah mengingat peristiwa itu sekarang. Ini bukan masalah besar Dok. Kau tahu bagaimana perkembangan Bell?”
“Nona Bell butuh waktu beberapa bulan lagi untuk pemulihan”
“Apa yang terjadi pada Bell?”
“Kau akan jauh lebih tenang kalau mengunjungi Nona Bell secara langsung. Masuklah” perintah Dokter itu sambil tersenyum lembut.
Noah berbalik menghadap ke arah pintu lagi. Tangannya mencengkeram kuat knop pintu tapi tak mencoba membukanya.
“Kau tidak siap atau takut melihat keadaan Bell?” terdengar suara Ibu Bell tak jauh dari tempat Noah berdiri.
“Kau bisa mengunjungi Bell besok setelah menenangkan dirimu terlebih dahulu” Ibu Bell mencoba memahami reaksi Noah kali ini.
“Bukan maksudku tidak ingin bertemu dengan Bell hanya saja...”
“Kau tidak melakukan kesalahan apa pun Noh” potong Ayah Bell yang mendadak muncul.
“.......”
“Kau justru menolong Putri kami hingga membahayakan nyawamu sendiri. Terima kasih nak,” tambah Ayah Bell tulus meski ia tak mendengar jawaban apa pun dari Noah.
“Justru..., aku yang terlalu egois Paman” lirih Noah sambil menundukkan kepala. Ya, Noah jelas berpikir bahwa dirinya egois karena sempat hanya memikirkan nyawanya sendiri. Sementara Bell masih berjuang melawan rasa sakit di dalam sana.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
woro2....teman2, Kirana Marinta sedang ikut kontes cerita horror nih, trus, akhirnya mendaftar. Tekan like sama vote yah, di judul novel :
1) Jangan Lupa Tidur
2) Red Water Park
__ADS_1
nantikan kisah Rain Bow Of Destiny selanjutnya yah, cup cup mwaaah