Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 23


__ADS_3

“Kau ingin menemuinya sekarang? Dalam keadaan sekacau itu?” si Pria asing bertanya sesekali bersiul. Bell memutuskan untuk tidak mendengarkan apa kata si Paman misterius. Ia bersiap untuk berlari tapi sebuah tangan sedang menahan bahunya erat.


“Kau benar-benar mengenal Noah?”


“Ya. Gadis kecil, sebaiknya kau masuk ke rumahmu, dan segera berangkat ke sekolah”


“Hey, Noah menghilang. Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?”


“Tidak. Dia sangat menjaga diri demi bisa menjaga sumpahnya kepada seorang Gadis. Jadi pergilah sekolah, sepulang dari sekolah kau boleh segera menemuinya”


“Uncle, bukankah kau mengenalnya? Kenapa kau tidak mengkhawatirkannya sedikitpun?!” protes Bell bersungut-sungut mendapatkan larangan dari mana-mana.


“Justru karena aku mengenalnya aku tahu dimana dia berada sekarang. Jadi kau, pergilah belajar sekarang” si Paman tak dikenal memutar tubuh Bell ke arah dimana rumah Bell berada.


“Aku mengkhawatirkannya”


“Kau bisa menemuinya sepulang sekolah. Karena kau tidak perlu peta ataupun GPRS untuk mengetahui lokasi tempatnya berada. Bukankah benang ditanganmu bisa menuntunmu untuk menemukan Noah?”


“Apa?! Uncle..., bisa melihat benang di tanganku?!”


“Benang itu berkaitan dengan Noah, gadis kecil. Bisa dibilang benang itu adalah ikatan perjodohan antara kalian. Jadi kemanapun dia pergi, kau hanya perlu mencari ujung benang yang satu lagi”


“Bagaimana kalau sepulang sekolah benangnya menghilang?”


“Tidak akan. Kecuali,”


“Kecuali apa?”


“Kecuali ada yang sengaja memutuskan ikatan tali itu atau salah satu dari kalian mati”


“Anda mempermainkan saya? Tentu saja takdir yang akan memutuskan kapan salah satu dari kami mati. Sudah tentu kami akan terpisah. Apa Uncle menyalahkan Tuhan, karena sengaja memutuskan ikatan kami?”


“Gadis kecil yang keras kepala” si Paman tak diketahui identitasnya tersebut mengacak-acak rambut Bell gemas.


“Untuk apa aku menyalahkan Tuhan?” jawab si Paman.


Karena aku ini Dewa, untuk apa aku melakukannya? Batin sang Dewa Thanatos.


“Aku hanya berpikir, jika kalian akan terpisah suatu saat nanti. Jadi, di hari itu salah satu dari kalian akan dengan sengaja memutus ikatan perjodohan kalian” tambah Dewa Thanatos mencoba memberi tahu kenyataan. Bukan kenyataan di masa sekarang. Tapi di masa lalu yang bahkan Bell dan Noah tak mengingat sama sekali.


“Jangan bersikap seolah Uncle tahu segalanya. Aku sungguh tidak punya banyak waktu menghabiskan waktu untuk bermain-main kata dengan Uncle!” seru Bell luar biasa kesal.


Bell tak mau mendengar lagi. Dia tetap melangkah, berlawanan arah dengan rumahnya berada meski tadi si Paman tak jelas asal usulnya itu, memaksanya masuk sekolah.


“Aku akan terus mengikutimu kalau kau tidak mematuhi perintahku Bell!!”


“Bagaimana bisa Uncle tahu namaku?” Bell menghentikan derap langkah kakinya, menoleh penuh tanda tanya.


“Mudah. Apa pun yang berhubungan dengan Noah, aku pasti tahu. Segalanya” jawab Dewa Thanatos. Si Dewa berpikir keras melihat Bell akan melanjutkan perjalanannya.


“Dia butuh waktu sendiri untuk sementara waktu. Kalau kau menemuinya sekarang, masalah tidak akan pernah selesai!!” teriak si Dewa. Bell lagi-lagi terpaksa mengikuti anjuran dari sang Dewa. Dan berakhir masuk ke rumahnya kembali. Sementara Dewa Thanatos tetap diam berdiri di satu titik yang sama.


“Dewa Gazleil...kenapa kau berada disini? Bukankah kau sendiri yang berinisiatif mengawasi Noah?” tanya Dewa Thanatos kepada Dewa Gazleil sementara matanya, tak lepas memandang rumah Bell.


“Ada hal yang luput dari pengawasan kita Thanatos”


“Apa itu?” kini perhatian Thanatos tertuju hanya pada Dewa Gazleil.

__ADS_1


“Keputusan kita melempar Dewa Eros ke bumi agar menjelma menjadi manusia, menyebabkan elemen negatif dari bumi terserap oleh seorang anak manusia lainnya. Yang juga terlahir di waktu yang sama dengan Noah dan Bell” Gazleil mencoba menjelaskan duduk perkaranya.


“Ini tidak baik. Rencana kita mengabulkan doa Noah akan terhambat karena manusia itu” geram Dewa Thanatos.


“Kita harus cepat bergerak” Gazleil menepuk bahu Thanatos meminta dukungan. Kemudian mereka menghilang tanpa jejak.


Di sekolah, saat istirahat baru saja berbunyi...Bell lebih banyak berdiam diri meskipun ada banyak teman yang mengelilinginya, mengajaknya berbicara. Hatinya resah...terlalu resah sampai tak ada keinginan untuk sekedar tersenyum, meski senyuman palsu sekalipun.


“Bell, kenapa aku tidak melihat Noah di sekitarmu?” terdengar suara seseorang membuyarkan lamunan Bell.


“Dia sakit. O ya Petra, ku dengar kau adalah orang yang sangat gemar membuat kliping bukan?”


“Ya, tapi hanya kliping yang membahas kasus tertentu saja”


“Memang kasus apa itu?”


“Tentang kehidupan di masa lalu”


“Manusia purba?”


“Hahahaha aku tidak punya ketertarikan dalam hal itu. Mau jus? Kebetulan aku memesan jus alpukat dua” tawar Petra, setelah pelayan kantin menyodorkan pesanannya ke atas meja.


“Kau sedang menunggu seseorang?” tanya Bell mengerutkan kening.


“Tidak. Ini hanya kebiasaanku. Aku termasuk orang yang banyak minum” kekeh Petra sambil menyodorkan segelas jus Alpukat di depan Bell. Tak perlu berpikir panjang, Bell pun menerima kebaikan Petra.


“Lalu kau tertarik dalam bidang apa?”


“Kamu”


“Kurang tepat. Karena hanya satu Gadis yang mendapatkan kehormatan seperti itu dariku”


“Ayolah..., jangan membuatku bingung” kekeh Bell sambil menopang dagunya di atas meja.


“Maksudku, aku ini sangat tertarik dengan apa itu reinkarnasi. Apakah hal seperti itu ada? Apakah orang yang mengalami hal itu bisa mengetahui kebiasaan mereka di kehidupannya yang lalu? Atau malah melupakannya? Yah, sederhananya seperti itu” jawab Petra panjang lebar.


“Wow..., kau memulai kliping hal semacam itu sejak kapan?”


“Ah, kau pasti tidak akan mempercayainya”


“Tapi aku ingin tahu ayolah....,”


“Sejak aku bisa membaca dan menulis. Awalnya aku hanya membaca apa pun. Surat kabar, majalah, buku komik, artikel di internet dan lain-lain. Sampai di sebuah majalah aku menemukan kasus seorang anak sekolah dasar yang berpikir bahwa di kehidupan masa lalunya dulu, dia adalah pembunuh bayaran. Dia melihat kenangan di masa lalunya” jawaban Petra ini, membuat jantung Bell berdegup kencang.


“Ya, sejak itulah aku mulai membuat banyak kliping soal itu” tambah Petra berkobar-kobar.


“Boleh aku membaca klipingmu?”


“Tentu saja, tapi aku tidak pernah membawanya ke sekolah”


“Tapi..., sepulang sekolah aku ada keperluan. Lain kali saja aku akan datang ke rumahmu bersama Noah” sambut Bell sedikit kecewa.


“Atau aku bisa datang ke rumahmu untuk meminjamkannya padamu?”


“Bisakah? Aku akan sangat senang kalau kau mau meluangkan waktumu” senyuman Bell kembali merekah indah.


“Oke, aku akan kesana sekaligus menjenguk Noah”

__ADS_1


“Tidak perlu. Noah butuh istirahat yang cukup lama. Kalau ada tamu datang ke rumahnya..., itu bisa memperburuk kondisinya” cegah Bell membuat Petra kebingungan.


“Wah, seburuk itukah keadaan Noah? Memang dia sakit apa sampai tidak boleh dijenguk?”


“Dia..., mengalami gangguan tidur!! Ya, gangguan tidur yang mulai sering terjadi dalam tiga hari ini. Jadi..., lebih baik kau tidak perlu menjenguknya”


“Tapi kenapa..., aku merasa justru kau lah yang mengalami gangguan tidur?”


“Sok tahu ah, dari mana kau bisa mendapatkan kesimpulan itu huh?” Bell mulai berkelit.


“Kau tak menyadarinya? Ada lingkar hitam di daerah sekitar matamu. Kau tampak seperti Panda” kekeh Petra sambil menunjuk ke arah mata Bell. Untung bel tanda masuk mulai berdering. Bell menghembuskan nafas lega ketika Petra berpamitan, segera bergegas masuk ke kelasnya.


Ya ampun, apa terlihat sekali lingkar hitam di mataku?! Batin Bell buru-buru mengambil cermin kecil di dalam saku bajunya.


“Sial!! Aku harus menutupinya sekarang” gerutu Bell, memasukkan kembali cermin kecil ke saku bajunya, lalu bergegas masuk kelas.


Di dalam kelas, Bell kembali teringat Noah tidak ada di sisinya. Bangku di sebelah Bell yang kosong, membuat Gadis itu kembali tak bersemangat.


“Kau tak menyadarinya? Ada lingkar hitam di daerah sekitar matamu. Kau tampak seperti Panda” tiba-tiba suara Petra terngiang kembali di telinga Bell.


Ia jadi teringat akan penampilan buruknya hari ini. Bell mengambil bedak powder dari dalam tasnya, berusaha menutupi lingkar mata yang menghitam.


“Nona Bell, ini waktunya kelas bukan bersolek. Letakkan kosmetikmu di sini,” tiba-tiba suara Mrs. Miah menyadarkan Bell bahwa gurunya telah masuk kelas sedari tadi.


“Tapi....”


“Lakukan perintahku, atau kau akan mendapatkan hukuman sepulang sekolah?” tegas Mrs. Miah menunjukkan bahwa perintahnya adalah mutlak.


Bell tidak ada pilihan lain. Kalau dia sekali lagi mencoba mencari alasan, bisa-bisa Bell gagal mencari keberadaan Noah karena kelelahan Akibat berlari 30 kali putaran, mengelilingi lapangan belakang sekolah, yang dikhususkan bagi Atlit lari jarak jauh.


Sepulang sekolah, Bell memutuskan untuk tidak pulang terlebih dahulu. Toh dia sudah bicara pada kedua orang tuanya untuk mencari Noah. Bell memutuskan untuk menyewa sepeda, sambil terus merunut kemana ujung benang emas itu membentang.


“Bukit? Kenapa Noah kemari?” gumam Bell, menghentikan laju sepeda, menuntun sepedanya menuju Noah.


“Kenapa kau bisa kemari? Aww!!” kaget Noah, mengerang kesakitan akibat punggungnya di lempar buku pelajaran yang tebal.


“Rasakan!! Kau tahu tidak semua orang panik mencarimu? Termasuk aku tahu?!” protes Bell kesal.


“Kamu tidak tahu masalahnya” sahut Noah, memilih untuk berpaling ke arah lain.


“Mommu bilang padaku. Kalau kau tidak ingin pergi ke Jerman” ucapan Bell, kini mampu mendapatkan perhatian penuh dari Noah.


“Jadi bagaimana menurutmu?”


“Pergi saja, toh ini demi masa depanmu. Kau bisa mengambil libur, dan kembali kemari semaumu,”


“Setahun sekali. Aku hanya akan bisa menemuimu setahun sekali. Dan itu terasa berat bagiku”


“Memang kenapa bertemu setahun sekali? Dari pada kita tidak akan bertemu selamanya?” Bell berusaha sekuat batu karang. Tapi air matanya justru keluar tanpa permisi.


“Tidak apa-apa? Sungguh?” Noah bertanya sambil melangkah mendekati Bell. Gadis itu malah mundur, menjaga jarak dengan Noah.


“Sungguh. Tolong jangan mendekat lebih dari itu!! Atau aku, akan jadi penghalang terbesarmu Noah” Bell memberi peringatan.


“Kalau kau bersungguh-sungguh, kamu tidak akan menjaga jarak denganku sekarang” tandas Noah malah kian mendekat dan mendekap Bell erat.


“Apa ini? Kau memintaku menahanmu? Kau ingin aku terlihat sebagai teman yang egois di depan keluargamu?!” seru Bell memukuli kedua lengan Noah.

__ADS_1


__ADS_2