
mweheheh menghilang beberapa hari cuy, maklum, cr wifi gmn lagi. Mau thor up cepet? Mau mau mau? bikin pembaca novel ini meroket biar thor bisa belanja pulsa cyus? mie apah? wkwk
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
“Pergi darimu. Kalau aku bisa memilih menjauh darimu, maka akan ku lakukan Eros. Semenjak bersamamu, banyak hal tidak normal susah untuk diterima oleh akal sehatku” jawaban Aislin sontak membuat Eros melepaskan pelukannya pada Gadis itu.
“Apa yang membuatmu ingin pergi dariku? Katakan?” Eros bertanya dengan tatapan terluka. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kau tidak membiarkanku melakukan banyak hal yang sangat aku inginkan. Kau membuat banyak batasan untukku, tanpa aku tahu apa sebabnya. Aku hanya sebuah boneka bagimu. Untuk itulah, aku ingin meninggalkanmu”
“Jika aku merubah kebiasaanku mengaturmu, apa kau mau tetap bersama denganku?”
“mari kita cari tahu Eros. Selama hal itu belumlah terjadi, aku tidak akan bisa menjawab dengan pasti” lirih Aislin menghela nafas panjang.
“Tapi ada satu hal yang baru kusadari Eros” tambah Aislin membuat Eros penasaran.
“Ketika kau tidak ada aku mulai merasakan bahwa aku membutuhkanmu” tambah Aislin menunduk.
“Persiapkan dirimu mulai detik ini Aislin. Berlatihlah tanpaku dan belajarlah tidak berpikir terlalu bergantung padaku hanya lantaran dengan keberadaanku hidupmu jauh dari kesulitan"
" Kau sendiri buktinya bukan? Hidup tanpa rintangan akan sangat membosankan sampai kau, bermimpi untuk membuangku” tegas Eros mengepalkan tangannya di atas meja. Sang Dewa cinta menghilang sebelum kekecewaannya terhadap Gadis itu, sempat hanya akan menyebabkan ketakutan bagi Aislin.
“Aku tidak hanya membutuhkan keberadaanmu Eros...karena aku pun mulai mencintaimu” gumam Aislin menatap tempat duduk yang kosong, tak bertuan lagi.
Eros memilih pergi ke bukit pertama kali dirinya bertemu dengan Aislin Bell Wilunark.
Ia mulai berpikir jika keadaan kacau ini bukan sepenuhnya kesalahan Eros. Sejak awal, pernikahan dan hubungan cinta antara Dewa dan manusia itu tidaklah mungkin terjadi. Tapi mengingatkan lagi masa lalu, jelas hubungan cinta antara Dewa dan manusia disebabkan kelalaiannya sendiri. Sejak awal, memang Psikhe di takdirkan menikahi seorang manusia yang memiliki kehidupan sempurna.
Berkat kecemburuan dari Ibunda Eros, akhirnya ia menukar takdir itu digantikan dengan takdir Psikhe akan menikahi seorang manusia dengan wajah paling jelek. Dan kesalahan itu pun terjadi...bukannya dia memanahkan panah tersebut ke arah Psikhe dan sang Pria buruk rupa, ia justru...menggores dirinya sendiri hingga akhirnya Psikhe malah jatuh hati padanya.
Di kehidupan Psikhe kali ini, di zaman modern sebagai Aislin Bell Wilunark, Eros tahu betul bahwa jodoh Aislin adalah Richard Louis. Pantas saja jika Gazleil marah besar dengannya. Dewa Gazleil yang menciptakan kehidupan dalam janin seorang manusia. Tiap kelahiran, telah ia tuliskan tujuan awal dan akhir hidup manusia tersebut.
Gazleil menemukan kejanggalan dengan sangat cepat karena sistem kehidupan memberinya laporan ketimpangan. Bahkan laporan bahaya tentang masa depan yang terancam tak akan pernah menjadi nyata hanya karena ulah seorang Dewa cinta.
“Kau sedang memutuskan sesuatu?” tiba-tiba Gazleil menampakkan diri duduk di samping sang Dewa cinta. Eros memilih tak menjawab pikirannya mengembara jika dirinya memulai harinya tanpa Aislin bisakah?
“Kau sangat menantikan hal ini terjadi tanpa kau harus berbuat apa pun bukan? Selamat. Kau menang telak” kekeh Eros sambil menggertakkan gigi tak senang.
“Ini demi kelangsungan kehidupan semesta Eros. Aislin harus menjalankan peranannya sebagai calon Ibu dari orang-orang besar di masa depan.” Jawab Gazleil tanpa dosa.
“Jangan khawatir semua keinginanmu akan terpenuhi Gazleil karena dia sendiri yang menginginkan kebebasan langsung, di depan wajahku sendiri. Apa kau tenang sekarang?”
“Benang kehidupan itu. Kau yakin akan membiarkannya?” lirik Gazleil ke arah jemari tangan Dewa Cinta.
“Aku memberimu tenggang waktu mengingat kau adalah rekan kerjaku. Tak kusangka kau akan menyerah lebih cepat dari yang kuduga” tambah Gazleil membuat Eros mengangkat tangannya yang terpaut sebuah benang kehidupan berwarna emas pudar.
“Apa Aislin tahu makna benang yang mengikat kalian?” tanya Gazleil lagi.
“Dia tidak melihat jelas kau tahu betul itu bung,”
“Bukan warna emas pengikat antara cinta Dewa dan manusia. Tapi soal warna baru yang muncul di situ belum lama ini. Meskipun samar, itu bisa semakin jelas seiring waktu berjalan” tegas Gazleil mengangkat tangan sang Dewa Cinta yang tersemat benang berwarna kuning.
“Wah, aku kena batunya” kekeh Eros memperhatikan warna kuning tersebut. Kuning melambangkan bahwa sang pemilik benang kehidupan itu telah mencuri jodoh orang lain.
“Ini tidak akan menjadi masalah lagi pula Aislin akan menikahi Richard Louis dengan begitu, warnanya akan menghilang” tambah Eros enteng.
“Meski itu artinya dia juga akan melupakanmu?”
__ADS_1
“Kau bertanya seolah aku punya pilihan lain. Kalau kau ijinkan kuteruskan hubunganku dengannya, maka akan ku genggam Aislin selamanya” jawab Eros putus asa.
“Aku harus menjalankan peranku sekarang. Tunggu dan jangan berkomentar apa pun karena hasilnya pasti akan memuaskanmu” kata Eros lalu menghilang begitu saja.
“Dewi Afrodit...kemalangan apa yang kau timpakan pada Putramu?” desis Dewa Gazleil marah lalu ikut menghilang.
Eros berjalan tergesa-gesa ke halaman kontrakan Aislin lalu membuka pintu tersebut tanpa permisi bagaimanapun, rumah itu sudah seperti rumahnya sendiri sekarang.
“Aislin! Sebentar lagi waktunya kau sedang apa sih?!” protes Eros yang mengetahui betul betapa senangnya Aislin begitu tahu jadwal Shooting iklan TV dua minggu lalu, di mundurkan menjadi hari ini.
Itu bukan tanpa sebab awalnya Eros sengaja mengganti bintang iklan Wanitanya lantaran cemburu berat dan..., kali ini dengan kekuatannya ia mengubah waktu menjadi mundur seolah bintang Wanita pengganti itu tidak pernah ada. Juga seolah, Shooting iklan TV dimundurkan hari ini.
“Apa penampilanku sudah menarik?!” seru Aislin berlari kearah Eros terburu-buru. Ia terpeleset hampir jatuh karena lantai ruang tamu itu masih licin setelah di pel.
“Ingat wajahmu, dan seluruh anggota tubuhmu adalah aset. Jika kau mau terus bertahan di dunia hiburan ini” Eros memperingatkan Aislin saat ia menggunakan kekuatannya untuk mengembalikan posisi Aislin yang melayang ke belakang, ke posisi normal berdiri tanpa harus mendekati Gadis itu.
“Bisa kita pergi sekarang, jangan sampai Richard Louis menunggu kita lama” sambut Aislin girang. Eros mengangkat kedua alisnya heran dengan kelakuan Aislin tapi ia tak mau ambil pusing dijentikkannya jemari tangannya, dan, mereka sudah berpindah tempat ke ruang make up artis.
Aislin mengerjapkan mata beberapa kali ingin meyakinkan keajaiban lain yang diciptakan Eros di hadapannya.
“Bagaimana mungkin? Hey, bagaimana jika ada yang tahu?!” pekik Aislin melotot jengkel pada kelakuan Eros yang tanpa pertimbangan tersebut.
“Wah, sudah ada yang datang duluan rupanya” kekeh seseorang dari ambang pintu memperhatikan Eros dan Aislin.
“Waktuku tidak banyak meladeni omelanmu jadi berkonsentrasilah dengan Shooting iklan TV perdanamu” potong Eros dingin, dengan wajah datar menatap tegas seorang Aislin Bell Wilunark. Eros berjalan melewati Aislin begitu saja dan berhenti di depan ambang pintu.
“Semoga sukses” kata Eros menatap penuh wibawa pada Richard Louis lalu meninggalkannya begitu saja.
“Apa kalian baru saja bertengkar? Oh, maaf terdengar lancang. Tapi melihat kemarin..., bukankah kalian terlihat sangat dekat,” tanya Richard memberi kata sambutan pada Aislin.
“Selamat berbahagia sayang” gumamnya lalu menggunting tali perjodohan antara dirinya dengan Aislin.
Kresh!
Dengan sekali gunting, tali perjodohan itu terputus tanpa rintangan. Eros menjatuhkan guntingnya merasakan nadi di pergelangan tangannya terasa menegang kuat tak terkendali. Terlihat nadi Eros, berdenyut tak beraturan. Warna nadi Eros berubah kemerahan dan ketika perubahan warna terjadi,
“Aaaaaargh!!” erang Eros kesakitan setengah mati. Rasa sakitnya menjalar dari nadi di pergelangan tangan, sampai ke syaraf di seluruh kepala Eros. Ia semakin berteriak kesakitan.
Bledar!!
Ctaaaaaar!
Setelah apa yang menimpa Eros, langit pun menampakkan murkanya. Semua orang yang terlibat iklan out door itu berdebar-debar sambil berdoa semoga hujan tidak turun di saat Shooting sedang berlangsung.
“Yuhuuu, senangnya semua dalam kendali, ayo segera kita mulai. Sebelum hujan benar-benar turun” Simson memanggil Aislin dan Richard setelah mereka selesai bersiap. Shooting dimulai tanpa hambatan berarti, tiga lokasi shooting eksotis menjadi tempat mereka menghabiskan waktu bersama.
Simson dan seluruh orang yang terlibat dalam iklan tersebut memutuskan untuk mengakhiri pertemuan dengan merayakan hasil kerja keras mereka semua di rumah makan di pinggir jalan.
“Kau pulang sendiri?” tanya Richard Louis mengamati Aislin yang duduk sendiri setelah semua orang bersiap-siap pulang.
“Ya,” jawab Aislin tersenyum.
“Dimana kendaraanmu?”
“Aku..., tidak pergi kesana dengan kendaraan pribadi kali ini. Sebentar lagi aku akan memanggil Taxi”
“Kau pikir ini jam berapa? Sangat sulit mencari Taxi selarut malam ini. Biar kuantarkan kau pulang” tawar Richard.
__ADS_1
Mereka akhirnya justru terjebak kemacetan total kabarnya, ada angin besar, yang akhirnya menumbangkan pepohonan di jalan raya dan menimbulkan kemacetan dimana-mana.
Seharusnya aku senang bisa lebih lama bersama Richard. Tapi kenapa rasanya jadi hambar? Apa yang...kurang? Batin Aislin merasa hatinya mulai resah.
Bingung dengan apa yang terjadi pada dirinya. Sebuah lampu dari kendaraan yang berlalu lalang membuat Aislin dapat melihat sosok Richard lebih jelas dan..., sebuah benang kehidupan terlihat jelas di jari tangan Richard yang sedang bertengger di atas kemudi.
Eh, bukankah terakhir ku lihat benangnya berwarna biru tua? Kenapa sekarang berubah menjadi warna putih? Batin Aislin keheranan.
Tunggu sebentar. Aku pernah menanyakan hal ini pada seseorang di rumahku, tapi siapa? Pikir Aislin merasa semakin penasaran.
“Richard terima kasih atas tumpangannya. Lebih baik aku jalan kaki saja. Tempat tinggalku tidak jauh dari ini” senyum Aislin sangat mempesona dimata Richard.
“Hey, apa ada hari lain yang kosong? Kita bisa bertemu di suatu tempat? Ayolah aku ini rekan kerjamu dalam beberapa kali kesempatan ini,” kata Richard merasa memiliki kesempatan untuk mendekati Aislin yang lajang.
“Mmm, oke, akan kita atur kedepannya. Kau punya nomor ponselku kan?” jawab Aislin merasa sedikit canggung.
“Kau belum memberi tahukan berapa nomormu. Ayolah. Ini bukan rencana untuk merahasiakan nomor ponselmu kan?”
“Ya ampun, aku lupa. Bukan kau yang kuberi nomorku beberapa waktu lalu maafkan aku” jawab Aislin mengulurkan tangan, meminta ponsel Richard dengan sebuah kode lirikan mata pada ponsel Android milik Richard.
“Bagus. Kita akan atur dengan sempurna pertemuan kita berikutnya. Ini pertemuan pribadi bukan karena pekerjaan seperti biasanya. Jadi berdandanlah secantik mungkin nona Aislin Bell Wilunark,” goda Richard menatap mata Aislin intens.
“Kau ini, jangan selalu bercanda. Selamat malam. Terima kasih tumpangannya” tegas Aislin setelah mengambil alih ponsel Richard, menyimpan nomor ponselnya di dalam Phone book dan memberikannya kembali pada sang pemilik.
Aislin berlari kecil mengitari jalanan padat merayap, mencari celah sekecil apa pun untuk mencapai tempat tinggalnya. Terengah-engah ia yakin betul akan ada seseorang yang sedang menunggunya di dalam sana.
Ceklek
Krieeeeek
Sunyi. Tak ada siapa pun yang menyambut kedatangan Aislin tak seperti apa dalam benaknya.
“Siapa yang sedang kupikirkan? Kenapa pikiranku sekacau ini? Apa aku sudah pikun? Dari dulu aku selalu tinggal sendirian. Ya ampun, tapi aneh, aku merasa...kehilangan seseorang” bisik kecil Aislin pada diri sendiri tak terasa air matanya menitik.
Bahkan untuk siapa dirinya menangis, Aislin tak pernah tahu. Aislin memilih untuk mandi air hangat, melenturkan otot-ototnya yang kaku. Saat Aislin selesai mandi, ia tiduran di sofa dan berpikir....
“Ya, aku bisa meminta seseorang untuk memijatku” kata Aislin riang lalu segera berubah menjadi ekspresi kecut.
“Ya ampun, mana ada salon beroperasi di malam hari begini?! Yah, baiklah, tidak masalah Aislin, semua akan baik-baik saja!! Kau sudah biasa hidup mandiri!!” seru Aislin menyemangati diri sendiri. Mandiri? Jika saja ingatannya tidak sedang di kacau Eros, pasti dia sadar bahwa dia adalah nona manja yang selalu mengekor kemanapun Eros pergi.
Mata Gadis itu menangkap sebuah buku notes berwarna pink susu. Ia langsung mengambil buku tersebut karena merasa asing.
“Eros.....” bisik Aislin setelah melihat sebuah coretan lukisan bergambarkan seorang Pria tampan sedang memeluk seorang Gadis.
“Eh, inikan mirip sekali dengan ruang makan, kalau begitu..., Gadis dalam lukisan itu aku dan...siapa Pria tampan yang sedang memelukku itu? Siapa Eros? Kenapa otakku ingin menyebut Pria ini Eros?” kata Aislin sendirian.
“Kenapa bisa ada buku asing di kamarku? Hmm, apa aku yang melukisnya? Tapi kapan?” tambah Aislin memutar otak. Ia buru-buru mencari nomor ponsel Carty teman baiknya.
“Hey, kenapa semalam ini menghubungiku? Kau ada masalah?” tanya seseorang dari ponsel.
“Tidak. Aku..., ingin bertanya. Apa kau pernah melihat seorang Pria tinggi, berwajah tirus, beralis tebal, bermata hijau pernah jalan denganku?” pertanyaan ini agak aneh di telinga Carty.
“Kau sedang membicarakan siapa? Setahuku, kau saat ini sedang dekat dengan seorang Aktor ternama, yang ketampanannya bak Dewa Yunani. Apa hubunganmu sedang renggang dengan Richard?"
"Ayolah, kalau aku dapat kesempatan bertemu Pria seperti itu tentu saja aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Akan ku pepet sampai jadi kekasihku. Haha maksimal Suami mungkin,” kelakar Carty yang berada di samping kekasihnya.
“Terima kasih atas info tak bergunanya Nona Carty, Bye” kesal Aislin memutuskan sambungan ponselnya kesal bukan main.
__ADS_1