
“Justru..., aku yang terlalu egois Paman” lirih Noah sambil menundukkan kepala. Ya, Noah jelas berpikir bahwa dirinya egois karena sempat hanya memikirkan nyawanya sendiri. Sementara Bell masih berjuang melawan rasa sakit di dalam sana.
“Kalau kau benar-benar egois, kau tidak perlu mempertaruhkan nyawamu untuk Putri kami” Ayah Bell menepuk pelan bahu Noah mencoba menentramkan jiwa teman masa kecil Putri tercinta.
“Bell menunggumu di dalam Noah, sebenarnya kami berharap jika Bell mendengar suaramu, anak itu mau membuka kedua matanya” kini Ibu Bell, ikut meminta Noah supaya mau menemui Bell dengan mata berkaca-kaca.
“Bell belum siuman?!” panik Noah dijawab anggukan lemah dari kedua orang tua Bell.
Tanpa Noah dan kedua orang tua Bell sadari, saat mereka asyik berbicara, Iblis memasuki ruang rawat Bell dalam bentuk asap, melewati celah bagian bawah pintu. Ketika asap hitam ini berhasil masuk, tidak ada seorang pun perawat menyadari keberadaan sang Iblis.
Ia mulai menghampiri Bell yang terbaring tak sadarkan diri. Asap tersebut kini masuk ke dalam lubang telinga Bell, mencari letak otak berada. Tiba-tiba seorang perawat berlari tergopoh-gopoh keluar dari ruang rawat Bell. Wajahnya terlihat panik. Ia berlari, menuju ke tempat Dokter berada tanpa menjawab secara mendetail tiap pertanyaan yang terlontar saat keluarga pasien menghadangnya tadi.
Satu lagi Suster muncul kali ini Noah tak menyia-nyiakan kesempatan bertanya.
“Apa yang terjadi? Ada apa dengan Bell?” Noah menghadang si Suster kedua.
“Tiba-tiba saja Nona Bell mengalami kejang. Tolong beri saya jalan agar Nona Bell dapat penanganan secepatnya” jawab Suster kedua, tegas.
Noah membiarkan si Suster pergi sementara ia berlari membuka pintu ruang rawat Bell. Mata Noah terbelalak melihat Bell kejang. Ia menyadari ada hal diluar penyakit medis sedang menjangkiti Bell. Matanya melihat butiran bubuk berwarna merah rontok berjatuhan ke atas lantai keluar dari tiap helai rambut Bell. Benang takdir berwarna emas di jari Bell, yang terhubung langsung di jarinya mulai berubah warna. Kian memudar dan anehnya, terputus.
Dua menit kemudian muncul benang baru di jari Bell yang entah terhubung dengan siapa?
“Tolong jangan masuk dulu. Pasien butuh tindakan khusus. Kalau keadaan Nona Bell sudah stabil keluarga baru boleh melihat” salah satu Suster yang berada di ruang rawat inap meminta Noah yang tengah berdiri diambang pintu meninggalkan tempat itu.
Dengan gamang Noah mundur menjauh dari pintu membiarkan Suster menutup kembali pintu. Mata Noah terpaku pada benang takdir milik Bell. Tanpa berpikir panjang lagi, Noah mengikuti kemana arah benang itu berujung. Langkah Noah terhenti setelah tiba di depan pintu ruang inap yang tertutup. Noah menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia berjalan semakin mendekat ke arah pintu, memperhatikan tulisan tertera di papan nama, yang mensmpel di pintu.
Deg
Deg
Deg
Degup jantung Noah berpacu menyadari Petra sedang terbaring di dalam sana. Noah menyentuh benang takdir milik Bell yang kini berakhir pada jari Petra. Ketika benang takdir berwarna seputih pasir lautan, tersentuh tangan Noah, dalam dua detik, benang tersebut hilang!! Berganti dengan benang berwarna keemasan yang terpaut dijarinya sendiri.
__ADS_1
Noah mengerutkan kening melihat kejadian tak biasa ini. Ingin memastikan ini bukanlah halusinasinya berhubung belum lama dia sadarkan diri, Noah mengusap kedua mata. Begitu Noah kembali memperhatikan benang takdir, benang itu kembali berwarna putih pasir, bahkan sudah tidak terpaut di jarinya tapi tetap dijari Petra. Mengetahui keganjilan demi keganjilan terjadi satu persatu, Noah mulai mau mengakui bahwa jati dirinya adalah Dewa cinta. Noah mulai menyatu dengan kekuatan Dewa Eros.
Bell dalam bahaya. Dia bisa tersiksa hingga bertahun-tahun jika kubiarkan Iblis bebas mengirim kekuatan negatifnya pada Bell. Tapi, jika aku memaksa Iblis itu mencabut kekuatannya, Sikap Bell pasti akan berubah terhadapku. Apa yang harus aku perbuat?
Saat Noah membatin, seorang Suster keluar dari ruangan itu.
“Kau saudara, atau sahabat Pasien?” tanya si Suster tak menyadari Noah pun sempat dirawat di rumah sakit yang sama dengan Petra lantaran kini, Noah tak mengenakan seragam Pasien lagi.
“Saya teman Petra Suster. Bagaimana keadaannya?”
“Pasien baru saja siuman. Mau masuk?” tawar Suster ramah tapi di balas gelengkan kepala Noah.
“Besok saja aku akan menemuinya. Lagi pula dia baru sadarkan diri” akhirnya Noah berpamitan dan segera berjalan ke koridor rumah sakit menuju tempat Bell berada.
Benang takdir tak biasa itu harus diputuskan. Jelas benang takdir tersebut bukan atas kehendakku. Tapi atas kehendak pemilik separuh kekuatanku. Batin Noah, menghentikan langkah kakinya sambil membalik badannya mengamati koridor yang mengarah ke tempat Petra.
Petra sengaja. Pasti dia sengaja melakukan hal licik ini agar aku sendiri yang memutuskan benang takdir buatannya. Dengan aku melenyapkan benang takdir yang tercipta karena kekuatanku, maka Petra dengan mudah mengendalikan pikiran Bell. Noah mengepalkan kedua tangannya geram.
Itu bisa di pikirkan di kemudian hari. Ya, kesehatan Bell jauh lebih penting. Aaaaaargh!! Apa yang akan kau lakukan sebagai Dewa cinta?! Pikirkan!! Berpikirlah Noah!! Pekik hati Noah sambil mengacak-acak rambutnya frustasi berat.
“Kembalilah ke semula” lirih Noah.
Kedua telapak tangan bercahaya terang itu menebas benang takdir berwarna putih pasir namun sama sekali tak terputus. Melihat kepanikan Noah, Petra tertawa terbahak-bahak. Noah merasakan ada tangan yang menepuk pundaknya.
“Tak seharusnya kau melakukan hal itu Eros” tiba-tiba suara Dewa Ker membuatnya menoleh.
“Maaf karena telah membawamu keluar dari ruangan Petra dengan paksa seperti ini” tambah Dewa Ker.
Jelas Noah mengerutkan kening ia menoleh ke depan, yang dilihatnya justru bukan Petra tapi pintu ruang rawat Bell.
“.....” Noah ingin menanyakan kenapa si Dewa Ker justru membawanya ke tempat Bell tapi entah kenapa mulutnya terkunci rapat.
“Waktu sudah ku hentikan. Masuk dan usir Iblis dari tubuh gadis itu” perintah Dewa Ker sambil berdehem kecil.
__ADS_1
Tanpa ragu Noah membuka pintu, memasuki ruangan Bell, mendekat ke arah si gadis cantik. Kedua telapak tangan Noah bercahaya terang mendarat di ubun-ubun Bell. Pertarungan sengit terjadi. Rambut Bell yang berada di bawah telapak tangan Noah tiba-tiba bisa menghantarkan sengatan listrik. Karena sengatan itu, Noah terlontar hingga membentur dinding. Noah menegakkan tubuhnya, memejamkan mata, berkonsentrasi pada kedua telapak tangannya.
Ia berlari ke arah Bell tangannya kembali menyentuh ubun-ubun Bell. Kali ini tubuh Bell bergetar hebat merasakan sengatan listrik pada tubuhnya sendiri. Melihat ini, Noah mempercepat pengusiran Iblis. Bell membuka kedua matanya dan tertawa tapi suara tawanya jelas bukan milik Bell.
“Dewa bodoh. Tuanku sudah mendapatkan keinginannya...” maki si Iblis lalu keluar dari tubuh Bell berupa asap hitam yang keluar dari kedua lubang hidung Bell.
Noah tak tinggal diam, bagaimanapun Iblis itu terbentuk dari sebagian kekuatannya yang di serap oleh Petra. Noah menggunakan kekuatannya agar si Iblis tidak bisa menembus keluar dari ruangan tersebut. Tidak hanya itu. Kening Noah bersinar terang sontak si Iblis berteriak ketakutan, karena kini tubuhnya terseret kearah sang Dewa cinta. Ia menyadari bahwa, si Dewa cinta sedang berusaha menguncinya dan memurnikannya kembali, menjadi bagian dari kekuatan Eros yang pernah hilang.
Sinar di kening Noah mulai pudar seiring si Iblis masuk terserap kembali ke pemilik aslinya. Lagi-lagi Dewa Ker menarik Noah kembali ke depan pintu ruang rawat Bell.
“Kau tau apa yang direncanakan si penyerap itu terhadap kalian?” tanya Dewa Ker melirik ke arah Noah.
“Tidak. Petra menciptakan pembatas pikiran. Dia penyerap sialan. Beraninya dia menggunakan kekuatanku yang ada padanya untuk memblokir pikiranku” geram Noah murka.
“Berhati-hatilah apa pun bisa terjadi setelah ini. Kekuatan si penyerap, adalah kekuatan curian. Apa lagi itu adalah milik Dewa maka kita tidak bisa sembarangan dalam menangani masalah ini” Dewa Ker memperingatkan panjang lebar.
“Sampai jumpa lagi Bell” gumam Noah lalu menghilang begitu saja.
Noah terbang hingga menuju ketempat Dewi Afrodit tinggal. Dengan langkah penuh percaya diri Noah berjalan memasuki rumahnya.
“Dewa Eros Putraku, ada apa kau datang kemari? Ah, seharusnya aku tidak menanyakan hal yang jawabannya sudah pasti. Kali ini apa yang terjadi pada Psikhe?”
“Kenapa kau baru menunjukkan kepedulian kepada Psikhe sekarang? Mom, itu sudah sangat terlambat” jawab Noah tak terlalu mempedulikan tiap pertanyaan Dewi Afrodit. Ia malah terus berjalan menuju ruang perpustakaan.
“Kau Putraku! Eros, setidaknya kau menyapa Mommu ini!” teriak Dewi Afrodit memprotes keras. Mendengar teriakan tak terima sang Ibu, Noah berhenti melangkah ia memutar tubuhnya searah Ibunya berada.
“Sudah kubilang semuanya terlambat. Sejak kau, membuatku harus melepaskan Psikhe”
“Aku tetaplah Mommu, apa pun yang terjadi” suara Dewi Afrodit terdengar gemetar karena hampir menangis.
“Kau salah. Sekarang aku memiliki Mom yang lebih pantas disebut sebagai Mom. Bahkan bagiku namaku Noah. Maka selamanya aku adalah Noah” tegas Noah memalingkan wajahnya kembali berjalan ke perpustakaan pribadinya.
Kini ia tiba di depan pintu besar berlapis emas tidak seperti dibumi. Noah tak harus membuka pintunya sendiri karena pintu tersebut tunduk pada pemiliknya. Akan membuka dan menutup hanya saat tuannya menginginkan itu. Ia sekarang melangkah memasuki perpustakaan, menjentikkan jari lalu dengan sendirinya, gulungan kertas yang tadinya berada di rak keseribu, pada bagian rak paling atas, tapi di tumpukkan gulungan kertas, paling bawah, terbang menghampiri Noah.
__ADS_1
Pria muda ini membuka gulungan dengan tak sabar tapi ia melupakan satu hal. Bahwa gulungan ini adalah gulungan dokumen keramat yang sengaja Eros segel agar hanya dialah yang bisa membaca isi dokumen keramat tersebut.