Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 6


__ADS_3

Edward Jorgie menatap tajam sosok Aislin sesekali setelah selesai merapikan, atau mengganti aksesoris para model yang akan tampil. Hingga tiba saatnya Aislin berdiri tepat di depan Eros.


“Anggaplah selendang yang tergerai di punggungmu adalah sayapmu. Kau bisa pergi kemanapun yang kau mau tanpa ada seorang pun bisa menahanmu. Itu kan, yang paling kau...inginkan?” tanya Eros di telinga Aislin ketika mengganti liontin emas dengan kalung emas murni, berbentuk bunga mawar yang mulai merekah.


“Kau sudah tahu, apa rencanaku?” lirih Aislin membiarkan Eros mengganti anting-antingnya dengan anting-anting mungil, berbentuk kupu-kupu yang pada bagian bandulnya berbentuk dedaunan memanjang.


“Mari kita lihat, reaksi orang-orang saat menatapmu kali ini Aislin. Kepakkan sayapmu di atas panggung dan biarkan kau merasakan betapa kebahagiaan itu hanya sesaat. Karena kau, tak akan selamanya terbang” senyuman Eros membuat kening Aislin mengerut keheranan.


Yeah, Gadis ini wajib waspada pada apa yang akan terjadi kedepannya berhubung Pria di depannya kali ini adalah...Eros. Jika Eros manusia biasa, Aislin bisa sedikit bermain-main dengan otaknya untuk mencari tahu, niatan busuk Eros sekaligus memutar otak untuk membuat rencana menghindari jebakan Eros.


“Kau...,tidak berpikir aku akan membuat hidupmu menderita bukan?” tebak Eros memperhatikan sorot mata curiga di kedua mata Aislin. Gadis tersebut hanya tersenyum lalu beranjak pergi menuju panggung.


Seperti sebelumnya, ia berjalan melenggang di panggung bedanya, kali ini dia lebih menguasai panggung, lebih percaya diri dan terbiasa dengan suasana. Semua pandangan hanya tertuju pada Aislin tanpa memperdulikan model lainnya.


Kerlap kerlip orang sibuk mengabadikan sosoknya dalam kamera, tak ada hentinya. Sementara di belakang panggung, Eros menyeringai puas dengan apa yang dia rencanakan.


“Permainan baru dimulai sayang, nikmati kesibukanmu kali ini, dan lupakan Richard Louis” kekeh Eros meninggalkan kesibukan di belakang panggung, menuju mobilnya.


Aku ingin menemui Richard Louis dan bisa bekerja sama dengannya, itu saja. Tapi kenapa Eros bersikeras memisahkanku dengannya seperti ini? Apa karena benang biru tua milik Richard Louis? Langkah Eros terhenti tepat di depan mobilnya begitu mendengar isi hati Aislin.


“Kenapa kau selalu memikirkannya? Padahal aku telah memutuskan ikatan itu?” gumam Eros mengeratkan genggaman tangannya, mengepal penuh emosional.


Pria itu segera memasuki mobil, dan mengemudi dengan sangat cepat. Ia sengaja membuat waktu terhenti dan begitu ada kendaraan di depannya menghalangi jalan, ia tinggal mengedipkan mata maka, seketika penghalang jalan Eros, sudah berada di lokasi yang berbeda.


“Fiona”


“Ya,” tiba-tiba suara seorang Perempuan terdengar tepat di sebelah Eros.


“Menyamarlah sebagai Aislin dan gantikan dirinya. Mengerti?!”


“Baik” jawab Wanita itu, sebelum menghilang menuju lokasi Shooting.


Sementara di 4Shoul Plaza, Aislin disibukkan berbagai pertanyaan para Reporter. Dan, di balik panggung Eros palsu juga telah disibukkan oleh Olivia dan Carmen.


Apa-apaan ini? Bebas dari Eros bukan berarti bebas dari serbuan reporter?! Kenapa sulit sekali menerobos mereka dan melarikan diri?! Arrrgh!! Amuk Aislin dalam hati. Selesai.


Semua sudah tamat. Aislin tidak bisa lagi mempertahankan posisinya sebagai bintang iklan TV kosmetik Dandelio ini semua karena para Reporter yang bahkan tidak memberinya kesempatan untuk kabur. Frustasi, marah berkecamuk dalam diri Aislin.


“Tampaknya kau sangat mempesona hari ini Aislin, sampai-sampai kau terlihat sangat kelelahan,” kata seseorang menyodorkan minuman kaleng dingin ke arah Aislin.


“Kemana saja kau?!”


“Maaf. Kali ini aku tidak bisa...membantumu lepas dari para Reporter. Entah kenapa hari ini Olivia dan Carmen terlalu sering membuat kesalahan. Seperti bukan mereka saja” jawab Eros sambil duduk di samping Aislin. Kali ini, yang ada disamping Aislin adalah Eros asli.


“Bisa kita pulang sekarang?”


“Kenapa terburu-buru? Kau tidak ingin makan di suatu tempat? Atau sekadar berjalan-jalan? Kau butuh udara segar”


“Aku hanya butuh istirahat Eros. Kau masih mau tetap di tempat ini? Baiklah. Aku akan mencari Taxi saja” balas Aislin malas berbasa basi. Pasti sekarang Eros merasa menang karena dirinya benar-benar gagal.


Aislin beranjak dari tempat itu, menuju ruang ganti. Rasa kesal Aislin dapat dirasakan juga oleh Olivia dan Carmen. Ketika Olivia bersiap membantu Aislin untuk membersihkan make up nya, sementara Carmen bersiap membantu Aislin melepaskan gaun malam yang menjuntai memenuhi lantai, lampu mendadak padam. Eros sedang mengubah ingatan para manusia, kecuali Aislin saat itu.


Klap!!


Lampu kembali menyala, Carmen dan Olivia beraktivitas seperti semula tanpa menunjukkan gelagat aneh pada Aislin. Ketika Aislin membuka pintu ruang ganti bersiap pulang, Eros merebut ponsel Aislin dan menutup sambungan telepon.


“Eros,”


“Tidak perlu memanggil Taxi. Ayo pulang” sahut Eros tanpa ragu lalu memberikan ponsel itu kembali pada pemiliknya.


Sesampainya dirumah Aislin, Gadis itu masih juga belum terbiasa dengan kehadiran para asisten rumah tangga gaib, yang dipanggil Eros langsung dari langit. Ia masih terkejut, begitu ingin membuka pintu, tiba-tiba pintunya telah dibukakan. Lalu begitu dia masuk, rumah sudah bersih dan rapi.

__ADS_1


“Mereka sangat menyayangi Istriku Psikhe. Karena kau, adalah dirinya, mereka juga akan menyayangimu. Mintalah banyak hal yang masuk akal pada mereka, lalu lihatlah sendiri betapa kau akan dimanjakan” kata Eros meyakinkan.


“Hmm, benarkah? Aku sangat lapar, bagaimana jika aku ingin makan sup asparagus?” pertanyaan Aislin langsung dikabulkan. Suara kegiatan memasak di dapur menjelaskannya.


“Aku ingin Eros tidak berada disekitarku,” kata Aislin sangat lantang, sambil berkecak pinggang.


“Sudah kukatakan. Mintalah yang masuk akal. Mereka hanya patuh dan tunduk padaku. Memang kau pikir kenapa mereka mau bekerja untukmu? Tentu saja karena aku sayang,” kekeh Eros meletakkan kedua kakinya ke atas meja.


“Hey, lepaskan sepatumu Eros!” omel Aislin yang risih melihat sepatu kotor berada di atas meja yang bersih. Mata Aislin melotot begitu sesuatu melepaskan sepatu Eros, dan diletakkan di tempat semestinya.


“Aku akan pergi” tambah Aislin ingin melihat kehidupan normal diluar saja.


“Kemana?”


“Salon. Aku ingin perawatan” jawab Aislin sambil berjalan ke arah pintu. Tapi sesuatu menariknya memasuki kamar, membaringkannya di atas tempat tidur!! Aislin melihat ke arah meja dan disana, terdapat banyak perlengkapan facial, sekaligus perlengkapan luluran.


“Biarkan aku ke salon saja” kata Aislin duduk dari tempat tidurnya. Maka, pintu kamarnya langsung tertutup bahkan terkunci rapat.


“Kau sama keras kepalanya dengan Tuan kalian” gerutu Aislin sambil berbaring kembali. Aislin merasakan ada sesuatu yang membelit kepalanya. Handuk tipis terpasang berada tepat di area bawah lehernya. Aislin juga merasakan wajahnya di bersihkan dengan sangat lembut. Saking lembutnya, ia pun mulai tertidur pulas.


Matanya mengerjap merasakan tubuh yang letih kini kembali ringan dari ujung rambut, sampai ujung kaki. Ia memutuskan untuk tak perlu lagi pergi ke salon toh, ada yang siap melayaninya dengan gratis. Sepertinya Aislin ingin merenda mimpi kembali. Ia miring ke kiri, dan merasakan hembusan nafas seseorang di sampingnya. Tatapannya tertuju pada Eros yang terlelap di sampingnya.


“Ck. Kenapa aku lengah dan membiarkannya masuk kesini” gumam Aislin berusaha bangkit dari tidurnya. Tapi sebuah tangan menariknya kembali tergeletak tapi kali ini, leher Aislin bersandarkan lengan kekar Eros. Mereka saling menatap satu sama lain.


“Kau sudah merasa lebih rileks sekarang?”


“Siapa yang mengizinkanmu tidur di sampingku Eros?”


“Aku juga kelelahan. Kenapa? Aku tidak boleh tidur?”


“Ada tiga kamar disini” geram Aislin.


“Hey, kapan aku berganti pakaian?” gumam Aislin, lalu menatap horor pada Eros. Seolah sadar sebentar lagi akan ada bom amarah yang meledak, Eros mengangkat kedua tangannya ke udara.


“Hey, ditempat ini tidak hanya ada kita oke, mereka yang melakukannya”


“Apa semuanya Perempuan?!”


“Tidak, seharusnya kau berusaha mengenal mereka lebih dekat”


“Yang mengganti pakaianku?!”


“Bisakah kau kecilkan suaramu? Tentu saja itu pekerjaan para Gadis. Puas? Sementara para Pria sibuk melakukan pekerjaan seperti mengecek kondisi genting, listrik, gas, shower, bahkan alat elektronik yang ada dirumah ini"


"Satu hal lagi Aislin, cheef kita adalah Pedro ah, tentu saja dia Pria” tegas Eros sambil berbaring telentang, sambil menumpukan kepalanya pada dua tangannya.


“Kau bilang lapar. Karena itu aku kemari untuk membangunkanmu” tambah Eros sambil memejamkan kedua matanya.


“Sup asparagus!” pekik Aislin melupakan segala kekesalannya pada Eros dalam hitungan beberapa menit saja. Semua berkat sup asparagus. Aislin berlari keluar dari kamar menuju dapur.


Sementara di kamar Aislin, Eros segera membuka matanya merasakan kehadiran Dewa lain di samping tempat tidur.


“Ada urusan apa kau mencariku, Gazleil?” tanya Eros menoleh pada Gazleil yang menatapnya kesal.


“Kau tidak merasa bersalah padaku sedikitpun? Eros?”


“Untuk apa?”


“Untuk segala perbuatanmu. Kau mengacaukan siklus kehidupan manusia hanya karena Gadis itu”


“Aku hanya mengubah hidup satu pasangan saja. Kenapa kau, memperbesar masalahnya?” protes Eros segera duduk menghadap ke arah Gazleil.

__ADS_1


“Kau bukan anak-anak Eros. Kau tahu betul arah pembicaraanku. Aislin, seharusnya menikahi Richard Louis. Tidak hanya itu, Aislin akan memberikannya enam anak. Dan dua dari keenam anak itu akan menjadi salah satu tokoh dunia.”


“Hey, Aislin akan melahirkan Putra Dewa. Apa ada yang lebih keren dari itu?” ejek Eros menatap sinis Gazleil.


“Kau tidak hanya mengacaukan hidup Aislin dan Richard Louis. Jika anak mereka tidak terlahir, kekacauan yang lain akan segera terjadi. Akan ada enam orang yang kehilangan hak atas jodoh mereka di dunia, bahkan sebelum mereka terlahir ke dunia. Kau tidak merasa keputusanmu sangatlah egois?”


“Asalkan Psikhe menjadi milikku, aku akan terus membunuh rasa bersalahku” sahut Eros menantang.


“Ingat Eros. Enam bulan lagi, mereka harus menikah. Jika kau, berusaha menggagalkan setiap ikatan yang telah aku putuskan, kau akan menerima hukuman dari langit!” bentak Gazleil marah. Bahkan awan kian mendung seiring dengan suasana hati Dewa itu. Petir menggelegar kencang memberi peringatan untuk Eros.


Lampu berkedap kedip, kemudian Gazleil pergi begitu saja meninggalkan keresahan luar biasa di dalam dada Eros.


“Aku hanya ingin mengambil milikku. Kalau kau tahu dia milikku, kenapa kau sengaja menjodohkannya pada Pria lain sialan!!” teriak Eros membuat seluruh lampu bahkan cermin di dalam kamar Aislin pecah berserakan di lantai. Puas melepaskan amarah, Eros keluar dari kamar Aislin.


Keajaiban terjadi dalam kamar itu ketika Eros melangkah pergi. Semua pecahan cermin, dan Jendela, melayang diudara, terbang berbaris menuju sesuai dengan asalnya. Tidak sampai dua menit berlalu, kaca dan lampunya kembali seperti semula tanpa cacat.


Eros melangkah menghampiri Aislin yang sibuk makan, tidak peduli kehadirannya.


“Apa seenak itu? Sampai kau mengacuhkanku?” protes Eros menggunakan kekuatannya untuk menghambat sesendok sup asparagus masuk ke dalam mulut Aislin.


“Bisakah kau tidak mengerjaiku barang dua tiga hari saja?!” protes Aislin berusaha sekuat tenaga menggeser tangannya menuju mulut.


“Itu sangat mustahil. Aku sangat menyukai wajahmu yang galak itu. Bagaimana lagi” gumam Eros sambil duduk di samping Aislin.


“Aku sedang me....” belum juga Aislin menyelesaikan kalimatnya, Eros menggenggam tangan Aislin yang menggenggam sendok. Lalu Eros menyuapkannya ke mulut Aislin. Tak ada pilihan lain selain mengunyah dan menelan makanan lezat itu.


“Bisa aku makan tanpa gangguanmu?” tanya Aislin bersungut-sungut setelah berhasil menelan sup asparagus.


“Tentu saja,” jawab Eros, berkonsentrasi pada semangkuk sup asparagus di depan Aislin, menggeser mangkuk tersebut kearahnya. Tidak lupa merebut sendok dari tangan Aislin pula.


“Kalau kau, mengizinkanku menyuapimu” tambah Eros yang berhasil mengusai mangkuk dan sendok Aislin.


“Buatkan aku pilihan lain” jawab Aislin memutar kedua bola matanya.


“Itu juga bisa, pilihan lainnya...besok kau menikah denganku” sahut Eros enteng.


“Aaaaaaa....tunggu apa lagi? Aku lapar,” respons Aislin sangat cepat membuat Eros menyunggingkan senyuman mematikan bagi Gadis mana pun di dunia ini. Oke, yang ini berlebihan. Dengan senang hati Eros menyuapi Aislin bahkan matanya berbinar cerah begitu menyadari mangkuknya telah kosong.


“Katakan kau masih lapar”


“Terima kasih, aku sudah kenyang Eros” jawab Aislin tersenyum kesal.


“Hey Cheef, kudengar namamu Pedro, terima kasih sup asparagusmu sangat lezat.” Puji Aislin membuat Pedro bereaksi girang dengan membuat garpu dan sendok menari-nari mengelilingi meja makan. Aislin tertawa mengetahui Pedro senang dengan pujiannya sementara di sebelahnya, Eros sedang menatapnya sendu.


“Sebentar kau tengil, sebentar kau jahil, sebentar kau periang lalu belum lima menit ini berlalu, kau jadi tampak melankolis. Kau...sedang memikirkan sesuatu?” tanya Aislin menyadari perubahan ekspresi Eros. Melihat pembicaraan antara kedua Tuannya, Pedro meletakkan seluruh garpu dan sendoknya kembali pada tempatnya lalu pergi.


“Pedro masih disini?” tanya Aislin kembali, menatap Eros penasaran.


“Baru saja pergi. Tampaknya dia tidak ingin mengganggu pembicaraan kita,”


“Tapi kau tampak tidak ingin menjawab,” sahut Aislin bangkit dari duduknya.


“Duduklah” kata Eros menggapai tangan Aislin lembut. Sorot matanya penuh permohonan. Tidak biasanya Eros bertingkah seperti ini Aislin sadar betul akan hal ini.


“Kau ada masalah?” belum selesai Aislin bertanya, setelah ia kembali duduk, ia terkejut mendapati sebuah pelukan dari Eros.


“Jika kau dihadapkan pada dua pilihan, antara tetap bersamaku atau pergi dariku, mana yang akan kau pilih?”


“Memang ada pilihan yang menguntungkanku? Selama ini kau memberiku pilihan yang hanya akan menguntungkanmu saja. Untuk apa aku menjawab pertanyaan konyol itu?” jawab Aislin berusaha melepaskan diri dari pelukan Eros.


“Jika ada pilihan seperti itu, menguntungkanmu bukan? Kau tinggal menjawabnya” protes Eros tak ingin melepaskan pelukannya.

__ADS_1


__ADS_2