
Dewa Ker merasakan ada kekuatan selain dirinya dan Thanatos memasuki alam kematian. Ker tak tinggal diam ia berlari menuju ke taman kematian sebuah taman dimana para ruh yang baru mati dikumpulkan untuk ditentukan pergi ke surga, atau neraka.
“Dewi Asklepios. Kenapa kau lancang memasuki tempat ini tanpa izin dari kami?” tegur Dewa Ker, di dampingi Dewa Thanatos.
“Maaf. Kudengar kalian terlalu sibuk di dunia manusia jadi sebenarnya aku kemari tanpa pemberitahuan hanya karena tak ingin mengganggu kalian,” kata Dewi Asklepios tersenyum kecut.
“Tujuanmu ke taman ini untuk?” potong Dewa Ker menyelidiki.
“Ada tanaman yang kubutuhkan untuk ramuanku dan itu hanya bisa kudapatkan di taman ini” jawab sang Dewi terus terang.
“Tanaman? apa?” Dewa Thanatos mengerutkan kening.
“Ya, bunga Croldin. Aku membutuhkannya”
“Untuk apa kau membutuhkan bunga itu?” Dewa Ker menimpali.
“Apa lagi? Aku ini Dewi pengobatan. Tentu saja untuk menyembuhkan umat manusia”
“Siapa manusia itu?”
“Apa kalian harus menanyakan pertanyaan sedetail itu?” sang Dewi mulai tersinggung.
“Kau punya kemampuan lain selain menyembuhkan Dewi Asklepios. Kami hanya tidak ingin bunga tersebut kau gunakan untuk menghidupkan manusia yang telah mati” Dewa Thanatos memperingatkan.
“bunga Croldin tidak memiliki khasiat sedahsyat itu. Tenang saja. Atau kalian ingin sebuah bukti? Jika ini memang benar bisa membantuku menghidupkan manusia kembali, tentunya seluruh ruh di taman kematian ini akan menghilang” tantang Dewi Asklepios sambil mengibas-ngibaskan salah satu bunga Croldin yang ia ambil dari keranjang kecil miliknya.
“Katakan khasiat dari bunga itu terlebih dulu?”
“Membangkitkan ingatan manusia yang hilang, akibat kekuatan jahat. Baik dalam dunia manusia maupun alam Dewa”
“Hanya itu?”
“Bunga Croldin juga bisa membangkitkan cinta di masa lalu. Syaratnya dua manusia tersebut pernah melewati jalan kematian bersama”
“Dewi Asklepios aku tahu sifatmu. Kau, tidak akan memberi jika tidak menerima. Jadi, manusia itu memberimu apa?”
Ingatan tentang Dewi Asklepios yang menerobos alam kematian demi beberapa bunga Croldin akhirnya memenuhi pikiran Dewa Thanatos dan Dewa Ker yang sedang sibuk membujuk Noah agar segera keluar dari rumahnya.
“Kau hanya akan menerima penolakan mereka bahkan diusir dari rumah ini. Kau, menginginkan hal itu terjadi? Padamu? Itu akan jauh...lebih menyakitkan hatimu” geram Dewa Ker sebenarnya ia sangat memperhatikan perasaan Noah tapi yang dijaga hatinya sibuk memikirkan egonya.
Dewa Ker dan Thanatos saling melirik satu sama lain sama-sama mempertimbangkan apakah sebaiknya mereka menyinggung tentang kemampuan si Dewi pengobatan?
“Ada Dewi yang mungkin bisa membantu mengatasi masalahmu” Dewa Thanatos memancing.
“Kurasa cukup ada dua Dewa di sekitarku. Tapi keduanya malah mengacaukan seluruh kehidupanku di dunia. Kalian pikir aku masih sudi menambah satu Dewi saja?” jawab Noah sarkastis.
“Kau pikir semuanya adalah kesalahan kami? Ku harap sebagai titisan Dewa kau, bisa tahu diri” geram Dewa Thanatos meradang. Seketika Dewa Ker menahan sang Dewa kematian lembut itu, dengan punggung tangannya yang ditepukkan sekali perlahan ke dada Dewa Thanatos.
“Kau belum ingat sepenuhnya Noah. Tapi Eros dalam dirimu pasti malu dengan tindakanmu ini” kata Dewa Ker menunjukkan kesabaran untuk pertama kalinya.
“Kau benar-benar tidak mau Bell mengingatmu kembali sebagai Noah? Atau kekecewaanmu terhadap takdir kami, membutakan matamu sehingga tidak melihat peluang besar di depan mata?” Dewa kematian menyakitkan itu menambahi.
“Takdir mana lagi yang akan kau rubah? Dan hal sial apa lagi yang harus aku jalani setelah itu terjadi? Bisa kau pastikan semua akan baik-baik saja?” Noah menatap tajam Dewa Ker.
“Jika dari awal kau menuruti aturan main para Dewa, kau tidak akan semalang ini. Tapi kau memilih tetap bersama Aislin, hingga terpaksa harus turun ke bumi. Bahkan kali ini kau, seharusnya berpisah dengan Bell tapi kau tetap memilih menerjang arus dengan memilih Bell”
“Jadi ini adalah hasil dari pilihanmu. Kau terlalu lama menjadi manusia hingga lupa bagaimana cara Dewa memandang Dunia ciptaannya sendiri” Dewa Thanatos tak tinggal diam melihat rekannya di sudutkan sedemikian rupa.
“Aku penyebab kemalanganku sendiri?” Noah mulai melunak mendengarkan penjelasan dari dua Dewa yang senantiasa mendampinginya.
“Ikutlah bersama kami untuk menemui Dewi Asklepios. Kau bisa meminta bantuan darinya” Dewa Ker menyarankan.
Noah tak menjawab ia hanya tersenyum kecut karena merasa apa yang terjadi hari ini bagaikan mimpi. Sulit percaya dengan kejadian demi kejadian yang terjadi padanya. Tapi jika ini mimpinya, kenapa ia tak pernah terbangun? Noah terdiam sejenak, mengedarkan pandangan ke setiap sudut rumahnya lalu berjalan gontai keluar dari rumah melalui pintu belakang.
“Harus kemanakah aku? Sekarang?” lirih Noah tak tentu arah. Ia menghela nafas panjang lalu berjalan entah kemana.
“Dia terlihat menyedihkan ketika menjadi seorang manusia” desis Dewa Ker mengawasi Noah bersama Dewa Thanatos.
__ADS_1
“Takdirnya memang menyedihkan. Segala yang ia cintai telah dicuri. Wajar jika ia merasakan hampanya perjalanan hidup” jawab Dewa Thanatos sambil mendongakkan kepala menyaksikan fajar telah terbit.
“Kita ikuti saja kemanapun dia pergi” Dewa Ker melirik ke arah Dewa Thanatos.
“Kita paksa saja dia tinggal di rumah Petra. Kenapa harus repot-repot mengikutinya ke tempat yang tak tentu? Kita tak sesenggang itu Ker” tentang Dewa Thanatos tak setuju.
“Tunggu Noah berdamai dengan keadaan. Kau tidak lihat sikapnya? Dia merasa ini hanyalah mimpi”
“Sunggu merepotkan” gemas Dewa Thanatos. Keduanya selalu mengawasi Noah meski hanya dengan bayangan mereka saja.
Noah ternyata memilih kembali ke rumah sakit ia ingin menemui Bell tapi Noah tak sengaja melihat kedua orang tuanya berjalan ke arah ruang rawat Petra, ketika Noah akan berbelok ke koridor tempat Bell dirawat. Maka Noah memutuskan mengikuti kedua orang tuanya. Ia penasaran untuk apa mereka menemui Petra?
Deg!!
“Tidak mungkin...” Noah melangkah mundur selangkah. Seluruh sendi kakinya melemas.
“Jadi ini bukanlah mimpi?” gumam Noah sambil menatap papan nama di hadapannya. Di papan tersebut bertuliskan namanya. Noah.
“Beraninya dia mengambil identitasku! Keluargaku!” umpat Noah marah luar biasa.
“Apa kau ingin meminta maaf?” tiba-tiba seorang laki-laki muda merangkulnya, dan berdiri di samping Noah.
“Maaf?” Noah mengernyit bingung.
“Lalu kenapa seorang Petra berdiri di depan pintu ruang rawat teman sekolahnya? Jawabannya, hanya ada dua alasan yang masuk akal”
“Pertama, menjenguk teman sekolahnya. Ini hal yang sangat mustahil, mengingat gadis yang kalian perebutkan itu juga di rawat di rumah sakit ini” si laki-laki tak dikenal tersebut berusaha menganalisa motif Noah, yang di kira Petra sambil mengeratkan rangkulannya di leher Noah.
“Kedua, kamu datang meminta maaf. Tentu saja ini lebih masuk akal. Kau menyebabkan kecelakaan pada diri mereka berdua. Kalau kau tidak ingin berurusan makin panjang, jelas minta maaf adalah jalan paling mudah untuk dilakukan”
“kau sendiri kenapa tiba-tiba datang lalu menempel padaku? Untuk apa kau datang kemari? Urus saja urusanmu sendiri” jawab Noah sinis melepaskan diri dari rangkulan seseorang yang sok kenal itu.
“Hey! Seharusnya kau berterima kasih padaku. Setidaknya aku ini teman yang baik. Kau tahu seberapa paniknya Mommu? Semenjak sadarkan diri, kau kemana saja? Menghilang tanpa jejak seperti sekarang?!”
“Bahkan aku tidak mengenalmu bagaimana bisa kau mendadak jadi temanku” gerutu Noah kesal berusaha menjauh dari orang di sampingnya.
“Gawat. Pasti ini akibat benturan keras di kepalamu waktu itu. Sebaiknya sekarang ayo kita temui Dokter yang merawatmu”
“Kalau kau baik-baik saja tidak mungkin kau tidak mengenaliku” protes si laki-laki muda.
“Grey, masa kau tidak ingat aku ini Grey?!” panik tergambar jelas di wajah Grey.
“Aku tidak mengenalmu. Kau salah mengenaliku. Aku bukan Petra”
“Bukan menghindar cara untuk menyelesaikan masalahmu broo, tapi hadapi. Mau selamanya jadi pecundang?” Grey menatap tegas.
“Katakan itu pada Petra” desis Noah merespons tatapan Grey.
Noah muak pada keadaan yang menjengkelkan maka ia membuka pintu ruang rawat Petra yang sedang berpura-pura menjadi dirinya.
“Hentikan permainanmu sekarang juga Petra” kata Noah, mendekat ke tempat Petra terbaring.
“Hey nak, apa kepalanya terbentur?!” protes Ibu Noah menatap marah pada Grey di belakang Noah berdiri.
“Dia sempat melarikan diri saat dirawat. Tolong maafkan dia” Grey meminta maaf sedalam-dalamnya untuk teman masa kecilnya Petra.
“Kembalikan apa yang kau curi dariku sekarang” potong Noah pada Petra yang menatapnya kesal. Petra hanya diam dengan ekspresi tak terima.
“Sembarangan bicara apa kau?! Putra kami hampir sekarat karena ulahmu! Memang apa yang Putra kami curi darimu?!” sang Ibu mati-matian membela Noah palsu di sampingnya.
“Bawa pergi anak badung itu dari tempat ini. Sebelum ku panggil keamanan ke mari” gertak Ayah Noah meradang memberi peringatan pada Grey.
“Aku hanya berurusan dengan orang ini” sahut Noah menunjuk ke arah Petra.
“Tidak puas kau membuatnya sekarat? Bahkan saat dia sadarkan diri Noah tak bisa bicara sedikitpun!” teriak Ibu Noah sambil memeluk Noah palsu.
“Kau masih tidak bisa membaca situasi? Kau ingin pulang atau ku bawa ke Dokter sekarang juga?” gertak Grey geram.
__ADS_1
Di dalam kepala Grey, Petralah yang sengaja menyebabkan kecelakaan waktu itu. Dan entah iblis apa yang merasuki pikiran Petra, setelah musuh bebuyutannya selamat dari maut, sekarang malah diteriaki sebagai pencuri.
“Ikut aku” geram Grey menggeret lengan Noah dengan kasar.
“aku bisa jalan sendiri” Noah masih bersi keras melepaskan diri setelah diseret keluar dari ruang rawat Noah palsu.
“Tidak. Kau akhir-akhir ini sangat jago melarikan diri. Kali ini aku tidak akan membiarkanmu menggunakan trikmu dengan mudah” jawab Grey semakin mengeratkan genggamannya pada lengan Noah.
“Aku tidak akan kabur. Lepaskan! Lagi pula tidak ada lagi tempat yang bisa ku tuju sekarang” entah kenapa setelah mendengar kalimat terakhir Noah, Grey mau melepaskan lengan Noah.
“Menyedihkan”
“Apa?” Noah tak mengerti kenapa Grey mengatakan hal itu padanya.
“Kau ini Petra broo, kau sudah mendapatkan segalanya yang ada didunia. Lalu sekarang kau mengucapkan kata-kata yang terdengar, seolah kau hidup sebatang kara” kata Grey sambil menggelengkan kepala.
“Lupakan. Kau mau membawaku kemana?” jawab Noah mulai memahami bahwa Grey sedang berpikir dirinya berbeda dari Petra yang selama ini ia kenal.
“Bukannya kau memilih pulang? Atau pikiranmu mulai berubah? Pergi ke Dokter, misalnya?” Grey melirik pada Noah.
“Aku benci rumah sakit. Ayo pergi” Noah tak ingin lama-lama juga di dalam rumah sakit melupakan tujuannya bertemu dengan Bell.
Noah turun dari mobil milik Grey dengan wajah penuh tanda tanya besar.
“Ini sungguh rumah Petra?”
“Hentikan tingkah anehmu broo, bagaimana bisa kau melupakan rumahmu sendiri?! Kalau kau terus menakutiku seperti ini akan kupanggil Dokter ke rumahmu” jawab Grey dengan wajah pucat pasi.
“Kenapa dia memilih bertukar posisi denganku yang tidak ada apa-apanya ini? Apa yang dia inginkan?” gumam Noah kecil, sambil berjalan di belakang mengikuti kemana Grey melangkahkan kaki.
“Tunggu. Jangan bilang kau tidak ingat juga wajah Mom dan Dadmu” Grey menghentikan langkah, berbalik menatap Noah curiga.
“Jangan berharap banyak” jawab Noah sambil mengangkat kedua alisnya bersamaan.
“Sial! Bagaimana aku bisa mempertanggung jawabkan apa yang telah terjadi pada Mommu!” pekik Grey frustasi berat.
“Mudah saja, kau tinggal menjelaskan padaku seperti apa wajah kedua orang tua Petra, dan mungkin jika dia punya saudara, tunjukkan saja,”
“Petra berhenti bicara dan bersikap seolah kau bukanlah Petra. Keanehanmu akan mudah tercium oleh keluargamu. Kau tidak mau mereka memanggil Dokter kan?” ancam Grey menatap Noah seperti tatapan elang.
Grey mengarahkan Noah ke taman di dalam halaman rumah Petra yang super besar.
“Duduk” perintah Grey sementara ia duduk lebih dahulu di tempat duduk yang terbuat dari batu bersemen. Setelah Noah duduk di samping Grey, barulah Grey mengambil ponselnya di dalam saku celana.
“Ini adalah Mommu, dan ini Dadmu. Kau punya dua saudara, Eliza dan Allan” Grey memperlihatkan foto keluarga di dalam galeri ponselnya.
Dia memiliki kekuatan luar biasa berkat kekuatanku yang hilang. Kami benar-banar bertukar identitas. Aku tidak pernah berfoto dengan keluarga Petra sekalipun, tapi fotoku jelas terpampang di ponsel Grey.
“Dengar. Dadmu sudah dua tahun bekerja di luar kota, dan tinggal di sana. Jadi jangan tanyakan keberadaan Dadmu pada mereka oke,”
“Tentang Eliza. Dengarkan aku. Entah kenapa kau sebelum hilang ingatan sangat membencinya. Sampai menemui Eliz saja kau tidak sudi kecuali jika ada Dadmu di rumah” tambah Grey menjelaskan sedikit demi sedikit.
“Kenapa keluarga Petra..., Uhm maksudku keluargaku selalu berfoto di kamar? Kau lihat? Eliza selalu tidur di tempat tidur” Noah mulai penasaran.
“Eliza lumpuh karena jatuh dari atas kuda sudah empat tahun yang lalu” jawab Grey tampak sedih.
“Aku sempat marah padamu dan tak sudi bicara padamu karena hal itu menimpa Eliza”
“Kenapa?”
“Kalau kau mendengarkan instruksi dari pelatih dengan benar, kau tidak akan kehilangan kendali atas kuda yang kau tunggangi. Tapi, karena kebodohanmu, saat itu Eliz yang lebih profesional darimu, berusaha melindungimu memacu kudanya hingga mendekat ke kudamu”
“Dan?”
“Eliza memerintahkanmu melompat ke atas kudanya. Tapi saat kau melompat, kuda Eliza oleng dan jatuh berguling. Saat itulah kedua kaki Eliza patah tertimpa kuda. Dokter bilang syaraf kaki Eliz terputus sehingga gadis malang itu harus rela lumpuh seumur hidup”
“Kau pernah bertanya pada Petra, eh, maksudnya padaku apa alasanku memusuhi Eliza?”
__ADS_1
“Pernah, tapi kau juga tidak pernah memberi jawabannya. Apa alasannya? Kau bisa menjawab?” Grey mencoba mencari tahu.
“Kau berharap aku bisa menjawab? Sekarang” tanya Noah berekspresi tak terkatakan.