Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 21


__ADS_3

Noah mengikuti langkah Bell memasuki dapur.


“Bell, masak saja di dapur oke, jangan dengarkan kata-kata Noah mengerti?” suara Ibu Noah terdengar di balik ambang pintu dapur.


“Bibi yang terbaik” seru Bell mengacungkan jempol girang bukan main. Melihat ekspresi senang dari Bell, si Ibu Noah langsung pergi begitu saja meninggalkan Noah hanya berdua dengan Bell.


“Jadi, apa yang bisa kau lakukan di sini? Menontonku memasak?” lirik Bell tak bersahabat.


“Dad yang memintaku membantumu mengangkut keperluan memasak. Tapi, berhubung Mom memintamu masak disini, aku kembali saja” Noah sudah berbalik ke arah pintu.


“Noah,”


“Apa lagi? Tidak ada yang bisa ku lakukan di tempat inikan?”


“Aku..., hanya bisa memasak Mie instan. Bagaimana ini? Aku harus bagaimana?” tanya Bell mengacak-acak rambutnya sendiri kesal.


“Buat saja sup asparagus”


“Bagaimana cara membuatnya? Bagaimana kalau aku salah menuangkan bahan?!” Bell malah bertambah panik.


“Bahkan kau tidak bisa memasak sup kesukaanmu sendiri?” pekik Noah disambut gelengan lemah Bell.


“Buat yang mudah saja. Kebetulan aku ingin makan sesuatu yang pedas” kini Noah mendekati rice cooker membukanya dengan hati-hati.


“Sedang apa kau? Ambilkan aku dua piring” tegur Noah menatap tajam ke arah Bell yang hanya diam mematung memperhatikan tiap gerak-gerik Noah.


“Menu sederhana macam apa?” pertanyaan ini meluncur dari bibir Bell ketika ia sibuk mengambil piring dan menyodorkannya pada Noah.


“Nasi goreng ala Noah” senyum Noah mengambil piring itu dan meletakkan salah satunya di meja.


Tanpa Noah sadari, sebenarnya...dia telah memanggil anak buah tak kasat matanya. Si koki andalan, Dewa Eros. Hanya saja, para anak buah sang Dewa telah disumpah oleh Dewa Gazleil untuk tidak menunjukkan eksistensinya baik kepada Noah, maupun Bell. Akhirnya ia hanya membisikkan ide bahkan setiap langkah demi langkah mengolah makanan.


Bagi titisan Dewa Eros ini, bantuan dari sang koki tak kasat mata ini yang berupa bisikan, merupakan bagian dari sistem kecerdasan otaknya tak terduga. Alias, kecerdasan yang muncul dengan tiba-tiba, secara ajaib.


“Hooo, aku tidak pernah melihatmu ke dapur selama ini. Ternyata kau bisa memasak,”


“Herankan?” sahut Noah yang sibuk memasukkan beberapa cabai merah ke dalam Blender untuk menghaluskannya.


“Sama” Noah melanjutkan ucapannya membuat Bell bengong tak mengerti.


“Kenapa begitu?” tanya Bell mengetuk dagunya dengan jari telunjuk keheranan.


“Aku memang tidak pernah masuk ke dapur. Membantu Momku memasak pun tidak. Tapi mungkin karena aku ini memiliki garis keturunan orang Genius..., makanya apa pun bisa kulakukan dengan spontan. Seperti sekarang” Noah mulai menyombongkan diri.


“Mana ada hal seperti itu di dunia ini huh? Jangan membodohiku..., orang menjadi ahli itu butuh proses belajar,”


“Tidak ada yang mengajariku melakukan ini”


“Kau bisa mempelajarinya lewat internet”


“Disini tidak ada WIFI dan hanya disekolah aku bisa mengakses internet Nona, itu pun dengan pengawasan Guru. Jadi masih berpikir aku mempelajari ini lewat internet?”


“Atau kau memperhatikan seseorang memasak lewat menonton film”

__ADS_1


“Oh ayolah, kamu tahu film apa saja yang aku suka Bell. Tidak banyak adegan memasak di dalamnya” kekeh Noah menggeleng-geleng.


“Noah, kau ingin...aku benar-benar mempercayai omong kosongmu? Kau tahu itu tidak masuk akal”


“Kau sangat mempercayai halusinasimu sendiri tadi. Masa dengan hal sekecil ini kau tidak mau percaya. Yang tidak masuk akal itu isi otakmu Bell” Noah tanpa sadar menyinggung kembali apa yang dilihat Bell.


“Lakukan saja maumu” ketus Bell cemberut. Dalam benak sang Gadis, ia merutuki ucapan Noah. Karena bagi Bell, Noah tidak tahu mimpi buruknya yang mengerikan.


“Jangan dipikirkan. Entah itu halusinasi ataupun mimpi, semua akan segera berakhir. Aku tidak akan membiarkanmu terjebak terlalu lama di dalamnya. Mengerti?” kata Noah sambil memasukkan cabai halus ke dalam minyak yang tidak terlalu banyak, lalu menuangkan nasi juga ke dalamnya. Ia mengaduk sampai rata tak lupa menambah penyedap rasa.


“Selesai” tandas Noah, setelah menaburkan parutan keju ke atas dua piring nasi goreng.


“Kau yang membawa ini keluar” tambah Noah. Mata Bell membelalak mendengar perintah Noah.


“Atau kau ingin Momku tahu bukan kau, yang membuat ini semua? Hmm? Aku sih tidak masalah,” tandas Noah sambil mengambil satu piring nasi goreng.


“Berikan” sahut Bell, setelah mengambil satu piring nasi goreng di atas meja.


“Kau tidak mau berterima kasih? Sedikit saja?” tanya Noah mengerutkan kening setelah menyerahkan piring di tangannya ke tangan Bell yang masih bebas.


“Katakan saja apa maumu. Kau seperti baru saja mengenalku” jawab Bell memutar kedua bola matanya jengah.


“Aku ingin olah raga lari pagi. Jadi, sebelum matahari terbit, kau harus sudah siap berolah raga denganku”


“Hey..., kita bisa melakukannya sepulang sekolah. Kau hanya akan membuatku kehabisan banyak energi sebelum pelajaran dimulai” protes Bell kesal.


“Itu karena kau, jarang berolah raga” sahut Noah, memencet hidung Bell gemas.


“Terima atau tidak? Aku bisa membawa dua piring ini sendiri dan bilang hanya aku yang memasak malam ini”


Semoga dengan begitu dia tidak punya banyak sisa energi lagi untuk sekedar berhalusinasi. Batin Noah masih tersenyum ceria di belakang Bell yang sibuk membawa dua piring nasi goreng.


“Makanan sudah siaaaap” seru Bell sesampainya di dekat para orang tua berkumpul mengelilingi api unggun.


“Ini benar-benar masakanmu sayang?” tanya sang Ibu terkejut sambil melirik heran pada Suaminya.


“Benarkan, kalian juga tidak bisa mempercayai hal ini? Seorang Bell yang tidak pernah memasak, bisa memasak nasi goreng selezat ini” entah Noah sedang memuji atau menghina Gadis disampingnya itu.


“Tunggu. Kenapa kau bisa tahu makanan itu lezat? Kau diam-diam mengurangi jatah nasi goreng Mom huh?” goda Ibu Noah berkecak pinggang.


“Noah hanya ingin memastikan, Mom tidak akan keracunan makanan buatan Bell. Dia tampak sangat meragukan ketika...., membuatnya tadi” potong Noah membuat ekspresi tak berdaya dibuat-buat.


“Lalu kau mencicipinya?”


“ya,”


“Kau menikmati rasanya?”


“Biasa saja”


“Tapi baru saja kau bilang enak. Itu terdengar seperti pujian, benar tidak?” tanya si Ibu dibalas dengan anggukan sekaligus tawa tertahan dari semua orang.


“Yang secara tidak langsung, kau menyatakan ini nikmat sekali” tambah sang Ibu.

__ADS_1


“Terus saja kau membelanya sampai kepala orang itu membesar” gerutuan Noah membuat gelak tawa disana tak dapat lagi ditahan.


“Sejak di dapur dia selalu mengomel tanpa ada jedanya. Kalau di dalam tubuhnya ada Battery, pasti sudah ku copot agar dia diam” omel Bell, menyendok nasi goreng ditangan Noah, lalu menyumpalkan nasi goreng itu ke mulut Noah tanpa mengambil kembali sendoknya dari dalam mulut Noah.


“Jangan, nanti kau menyesal karena mencabut Battery Noah. Kalau dia diam, pasti kau yang akan kebingungan. Mom yakin kau akan menangis semalaman” kekeh sang Ibu usil.


“Aku sudah besar oke, lupakan kelakuanku saat masih sekolah dasar” tegas Bell tak mau kalah.


“Oya? Kau juga belum lama ini seharian mogok makan dan minum hanya karena Noah, tidak bisa menemuimu selama tiga hari berturut-turut, karena terlalu sibuknya,” sang Ibu Bell malah buka kartu lama hingga Noah, hanya menyeringai pada Bell. Acara makan malam Noah dan Ibunya berlangsung meriah karena kelakuan Bell dan Noah.


Entah kenapa, malam ini, Bell dan Noah tak bisa memejamkan mata. Sementara kedua orang tua mereka telah terlelap di samping mereka. Dua tenda berdampingan itu sebagai ssksi bisu dimana kedua insan ini tak berdaya menahan rasa kantuk, tapi tubuh mereka menolak untuk benar-benar terlelap. Akhirnya Bell dan Noah keluar bersamaan.


“Masih takut dengan mimpi burukmu?” pertanyaan Noah meluncur secara spontan begitu ia melihat Bell berdiri dihadapannya, keluar dari dalam tenda.


“Dari mana kau tahu aku bermimpi buruk malam ini?”


“Kalau begitu kita mengobrol saja di depan perapian oke,” Noah mengalihkan perhatian.


“Benar. Kalian bertingkah aneh pasti karena ada sesuatu terjadi padaku tanpa aku sadari kan?” Bell mencoba sekali lagi bertanya setelah mereka berbaring di atas rerumputan.


Kepala mereka berada diposisi yang sama. Sementara badan mereka berlawanan arah.


“Kami mendengarmu mengigau sekaligus ketakutan. Dengan begini kau tidak akan merasa ketakutan. Karena ada kami mendampingimu”


“Aku masih belum benar-benar kehilangan rasa takutku Noah” kata Bell sambil melihat bintang berkerlap kerlip di langit yang kelam. Tangan Noah terangkat ke atas setelah mendengar penuturan Bell.


“Apa?” bingung Bell ketika tangan Noah terangkat ke udara.


“pegang tanganku”


“Untuk?”


“Menghilangkan ketakutanmu. Hanya ini yang bisa kuberikan untuk menenangkanmu” jawab Noah disambut dengan Bell yang menggenggam tangan Noah ke samping.


“Aku benci sepi di saat seperti ini. Noah, nyanyikan sesuatu untukku sampai aku tertidur” pinta Bell setengah merengek.


Noah tersenyum tipis sambil memikirkan lagu apa yang akan dia jadikan pengantar tidur Bell. Tapi sebelum terbersit lagu apa yang akan ia lantunkan, Noah mendengar dengkuran halus di dekatnya.


“Tidurlah nyenyak Bell” sahut Noah meski tahu tak akan ada yang menjawabnya kali ini.


“Kau menjaganya dengan baik Noah,” tiba-tiba terdengar suara seseorang mengajaknya bicara.


“Siapa dan dimana kau?” Noah akhirnya bangkit untuk duduk, mencari arah suara. Menoleh ke kanan dan kekiri kosong. Samping kiri, juga kosong. Tapi Noah terlonjak, menyadari ada seseorang disampingnya. Tepat di depan matanya.


“Aku?” tanya Pria itu tak jauh dari wajah Noah.


“Dahulu kau sangat mengenalku bahkan kita bersahabat baik” kekeh orang misterius tersebut lalu duduk disamping Noah.


“Aku kemari hanya ingin bertanya. Jangan takut”


“Apa kau sekarang bahagia? Selalu bisa bersama dengan Bell dari semenjak kecil sampai saat ini?”


“Aku tidak tahu kenapa aku harus..., menjawab pertanyaanmu. Bahagia. Ya, sangat bahagia walau hanya ada disampingnya” jawab Noah tegas penuh kebanggaan.

__ADS_1


“Tapi suatu saat kau dan Bell akan berpisah. Cepat atau lambat” ucapan si Pria asing membuat Noah menatapnya sangat tajam.


__ADS_2