
“Terima kasih”
“Entah kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang berterima kasih padaku” decak Noah pura-pura jengkel.
“Terima kasih mau kembali seperti dirimu yang dulu” kekeh Allan lirih sambil menatap langit-langit. Mereka berbincang hingga tertidur. Bahkan keduanya tidak menyadari kedatangan Ibu Petra. Beliau masuk perlahan dan tersenyum penuh rasa syukur melihat kedua Putranya tertidur lelap.
“Aku pikir peristiwa ini tidak akan pernah kulihat lagi setelah kalian beranjak dewasa. Teruslah akur, dan saling menjaga. Mom harap kalian juga bisa menjaga Eliza” gumam Ibu Petra, sambil menyelimuti kedua Putranya.
Pintu ditutup dengan sangat hati-hati ketika Ibu Petra keluar. Noah membuka matanya, menghela nafas panjang dan menghembuskan dengan cepat.
“Eliza. Kenapa mereka terlihat sangat membenci Eliza?” gumam Noah. Perlahan ia turun dari tempat tidur, keluar kamar menuju kamar Eliza.
Sesampainya di depan pintu kamar Eliza, aroma kuat Dewa tercium Noah. Ia segera mengetuk pintu Eliza.
“Megan, tak biasanya kau mengetuk pintu, masuklah” sahut Eliza dari dalam kamar.
“Ini aku” sahut Noah memberi tahu.
“Masuklah”
Noah membuka pintu, dan mendekat ke arah Eliza.
“Kau membawa seseorang masuk ke dalam kamarmu?” tanya Noah sambil mengedarkan pandangan ke setiap celah yang ada di kamar Eliza. Bahkan ia sampai memeriksa bawah tempat tidur Eliza.
“Mencari sesuatu?”
“Kau bertemu siapa tadi?” tanya Noah. Ia mengikuti aroma Dewa menuju balkon kamar Eliza.
“Jangan kesana!” Eliza berteriak panik. Larangan gadis itu tak digubris Noah ia malah membuka pintu menuju balkon, dan tidak menemukan apa pun. Sebagai titisan Dewa, Noah tidak bisa ditipu.
“Katakan siapa yang datang?” Noah bergerak mendekati Eliza, duduk di samping Eliza.
“Tidak ada seorang pun kecuali kau dan Megan”
“Kau belajar berbohong? Aku tahu ada orang lain masuk ke tempat ini Eliza”
“Kau pikir ada yang bisa menemuiku selain keluargaku sendiri? disini?”
“Eliza...ku mohon jujurlah”
“Kau pikir karena siapa aku terkurung di tempat ini tanpa bisa bersosialisasi dengan orang di luar sana?”
“Eliza...”
“Aku jujur. Tapi kau tidak”
“Kapan aku berbohong?”
“Kau bukan berasal dari rumah ini. Berhentilah berpura-pura menjadi saudaraku Petra”
“Kau tahu itu sejak kapan?”
“sejak pertama kali kau datang”
“sejak awal aku tidak pernah berpura-pura menjadi Petra. Bahkan aku tidak akan sudi. Aku hanya terpaksa melakukannya”
“Dimana dia?”
“Dia sedang mencuri keluargaku bahkan kekasihku. Sialnya aku pun tidak tahu harus pergi kemana setelah dia mencuri identitasku. Lalu aku datang kemari bersama Grey”
“Jelas seseorang datang kemari. Kalau tidak, kau masih berada dalam pengaruh Petra. Katakan dengan jujur” tambah Noah sangat serius.
“Kenapa kau sangat penasaran? Bukankah ini bukanlah urusanmu?”
“Jadi masalah untukku. Kalau dia berbuat sesuatu, dan membuatmu menyadari bahwa aku bukanlah Petra yang asli, ini akan menjadi masalah. Akan ada banyak orang tidak bersalah menjadi korbannya” desis Noah mencoba mengorek keterangan dari Eliza.
“Dia tidak akan berbuat seperti itu. Bahkan...dia berbaik hati menyelamatkan aku dan Petra sewaktu kecelakaan saat berkuda”
“Jadi kau sudah lama mengenalnya?” Noah mengangkat alisnya puas.
“Ya”
“Apa kau tidak heran?”
“Untuk?”
“Dia sudah bersamamu sejak kau masih kecil. Kau pernah bertanya, kenapa kau semakin bertambah tua sementara dia masih selalu sama seperti saat pertama kali bertemu?”
“Bagaimana...bagaimana kau bisa tahu?” tanya Eliza, membuka selimut yang menutupi seluruh kakinya, menggeser kaki dan mendekat ke arah Noah.
Bahkan kali ini kakinya turun ke lantai. Tidak hanya itu saja! Eliza berdiri, berlari ke arah pintu menguncinya rapat baru kemudian kembali duduk di samping Noah. Noah melongo. Kedua matanya sampai menelusuri dari ujung rambut hingga ujung kaki Eliza.
“Kau tidak memberiku penjelasan soal ini? Kau berpura-pura lumpuh?” Noah melotot merasa di permainkan.
“Tidak seperti yang kau pikirkan. Aku berani bersumpah kalau lumpuh seumur hidup itu adalah kenyataan yang harus aku terima. Tapi dia terus datang padaku. Dia yang membuatku bisa berjalan sampai aku dewasa”
“Lalu kau tidak membicarakan kabar baik ini pada keluargamu?”
__ADS_1
“Dia yang melarangku. Keberadaannya tidak boleh diketahui oleh Petra. Dia selalu berkata seperti itu”
“Bukankah dia yang memberitahumu bahwa aku bukan Kakakmu? Untuk apa dia juga menghindar dariku?”
“Apa yang dilakukannya adalah kesalahan. Menurutku itu bukan kesalahan. Tapi tetap saja dia bilang di tempat dia tinggal, hal semacam itu tetaplah dianggap tindakan terlarang”
“Dia sudah memberi tahumu, siapa dia? Dimana dia tinggal?”
“sudah kubilang, ini bukan urusanmu”
“Kau menganggapnya apa?”
“Apa maksudmu?”
“Teman atau kekasih? Jawab salah satu”
“hey, apa hubungannya denganmu?!”
“Jawab saja!” bentak Noah menggebrak meja.
“Teman”
“Pertahankan itu. Kau akan menderita kalau mencintainya”
“Apa karena asal kalian sama?”
“Dia mengatakan juga hal itu padamu?” tanya Noah tersenyum misterius.
“jawab” kini Eliza yang menggebrak meja kesal.
“Karena dia berbeda denganmu. Dia abadi dan kau tidak. Jadi, lupakan perasaan itu jika kau, benar memilik perasaan itu padanya” jawab Noah tersenyum getir.
“Apa karena itu kau membiarkan kekasihmu di ambil alih? Karena kau abadi dan dia tidak?” Eliza tersenyum sinis.
“Wow, itulah yang membedakan antara aku dengannya. Dia abadi dan aku Noah, manusia sama sepertimu. Kita berdua bisa mati” kekeh Noah sesantai mungkin. Noah tidak berbohong karena memang yang abadi adalah Eros, bukan Noah yang merupakan anak manusia.
“Kau berharap aku akan percaya itu?”
“Kau benar-banar akan menderita untuk pilihanmu ini. Mundurlah sebelum terlambat. Bahkan aku harus hidup dalam tubuh manusia karena hal itu. Meskipun aku sudah menjadi manusia sekarang, kami tetap tidak dapat bersama”
“Kami akan menjadi pasangan yang jauh lebih baik dari kalian” sungut Eliza tak mau kalah.
“Jangan main-main! Karena keputusan mempertahankan kekasihku, aku harus mengalami mimpi buruk ini. Saat aku terlahir, makhluk penyerap pun akan terlahir”
“apa itu?”
“anak manusia yang memiliki separuh kekuatan Dewa. Hidupnya sendiri adalah bagian dari kutukan bagi makhluk sepertiku”
“Dengar Eliza. Aku, dan siapa pun yang kau sembunyikan dariku itu adalah Dewa. Bedanya, aku melakukan kesalahan dan mendapat hukuman, terlahir ke dunia sebagai manusia”
“Jadi kaulah makhluk penyerap?”
“bukan. Makhluk penyerap adalah manusia yang terlahir bersamaan dengan waktu kelahiran bayi titisan Dewa”
“dimana makhluk penyerap itu?”
“Dia hidup ditempat ini bahkan dibesarkan Dirumah ini. Sekarang dia sedang mencuri milikku”
“Maksudmu...Petra?” tanya Eliza syok dibalas anggukan dari Noah.
“Kau bercanda kan? Petra tak memiliki kekuatan apa pun”
“Tentu saja, karena aku belum menyadari jati diriku sesungguhnya. Tapi beda dengan sekarang. Aku menyadari siapa aku sesungguhnya. Karena alasan itulah kekuatan Petra terbangkitkan”
“Jika kalian mengikuti jejakku, bersiaplah membasmi manusia penyerap selanjutnya” tambah Noah menatap Eliza dengan tatapan menantang.
“Apa tidak ada cara lain?”
“Ada”
“Apa itu?”
“Kau menikah dengannya. Sebagai Dewi, kau tidak boleh lagi hidup di dunia fana ini. Kau, siap meninggalkan keluargamu? Jejak keberadaanmu akan ter hapuskan. Segala hal, mengenaimu akan lenyap”
“Lalu, keputusan apa yang di ambil kekasihmu?”
“Terlalu banyak hal terjadi pada kami. Aku sampai bingung mau menceritakan mana dulu” kekeh Noah menatap sendu langit-langit kamar.
Tiba-tiba Noah menolehkan kepala ke arah balkon. Ia tahu jika yang disana telah bersiap untuk kabur begitu mencium keberadaannya. Tapi Noah memanfaatkan kekuatannya untuk mengunci tubuh si penyusup. Benar saja ada bunyi sesuatu terjatuh di lantai balkon kamar Eliza.
Noah dan Eliza berlari ke arah balkon mendapati sosok yang terperangkap jebakan Noah.
“Kau semakin mirip saja manusia. Melihat kelicikanmu padaku” desis Dewa yang terperangkap.
“Dewa Asklepios,” ingatan Dewa Eros terekam jelas dalam otak Noah. Tentang siapa Dewa yang terkapar di hadapannya.
“Bukankah kau sudah tahu akibat dari perbuatanku? Dan sekarang kau berencana mengikuti jejakku?” tanya Noah sambil membebaskan Dewa Asklepios dari jebakan buatannya.
__ADS_1
“Satu Dewa pembangkang sudah membuat kepala kita pusing tujuh keliling. Sekarang satu Dewa lagi berbuat ulah” geram Dewa Gazleil yang tiba-tiba saja muncul di belakang Noah. Dewa Thanatos dan Ker mengangguk setuju.
“Kenapa kalian ikut-ikutan datang kemari?” protes Dewa Asklepios mengerutkan kening tidak senang.
“Kami mengawasi gerak-gerik Dewa Eros di dunia manusia” geram Dewa Ker merasa kehadirannya tidak diinginkan.
“Kalian pikir aku tidak tahu? Kalian para pendukung Dewa Eros. Meski kelakuannya di anggap melanggar aturan langit, kalian tetap menjadi pendukungnya” kekeh Dewa Asklepios mencemooh.
“Beri aku alasan, kenapa hanya Dewa Eros yang boleh menikahi manusia? Kenapa aku tidak diberi pengecualian juga sepertinya?!” protes Dewa Asklepios makin meradang.
“Kau sendiri tahu hukuman apa yang di jatuhkan langit kepadanya. Kau masih mau mengikuti jejak si bodoh ini?!” teriak Dewa Thanatos sambil menunjuk ke arah Noah.
Noah mendengus tak senang mendengar julukan si bodoh menjadi label baginya. Dengan sigap ia menggenggam telunjuk Dewa Thanatos lalu melempar telunjuk itu menjauh dari wajahnya.
“Biarkan saja. Kalau dia melihatku binasa, baru dia akan meninggalkan Eliza” jawab Noah sambil menatap garang pada Eliza.
“Bukankah dia lumpuh?!” tiga Dewa yang baru saja datang keheranan melihat Eliza berdiri tegak di samping Dewa Asklepios.
“Begitulah, semua berkat Dewa kita, Asklepios” tegas Noah.
“Kalian pasti punya jalan keluar bagi kami. Ayolah,” rengek Eliza mengikuti Noah yang melangkah masuk kembali ke kamar Eliza.
“Jalan keluar? Seperti yang aku katakan padamu. Masalahnya tidak semudah itu Eliza,”
“Apa lagi yang harus kulakukan?”
“Kau harus lulus dalam tes menjadi seorang Dewi. Kau pikir mudah? Akan sulit menjadi miliknya jika kau, tidak lulus dalam ujian” desis Noah, pikirannya mulai melayang kembali pada Bell.
“Jaga dirimu. Aku pergi” tambah Noah, melangkah ke pintu, membuka kunci sekaligus keluar dari sana.
Langkah kaki Noah terhenti ketika menyadari kalau dia keluar dengan cara biasa, pasti Grey akan mengekorinya. Maka Noah kembali ke dalam kamarnya. Noah melirik ke arah tempat tidur. Benar saja Allan masih merenda mimpi di atas sana. Noah masuk ke dalam kamar mandi, dan menghilang pergi ke tempat Bell berada.
Noah muncul di kamar rawat Bell, ketika kedua orang tua Bell tidak ada. Tapi ternyata tamu tidak diundanglah yang menyapa kedatangan Noah.
“Apa kau gila? Aku belum di bolehkan pulang Noah! Lepaskan!” pekik Bell ketika Petra menggenggam pergelangan tangan ingin membawa pergi paksa Bell.
“Petra!! Hentikan kegilaanmu!“ tegur Noah mulai tersulut emosi melihat betapa kesakitannya Gadis yang diseret paksa Petra itu.
“Aku? Kepalamu, yang mulai tidak beres Pe...tra...” sahut Petra, menantang bahkan ia menyeringai jahat pada Noah.
“Sudah waktunya kau mengembalikan segala macam yang bukan milikmu anak muda...” desis Dewa Ker yang datang membawa dua Dewa lainnya.
“Kenapa kau memanggil Noah dengan menyebut nama Petra?” Bell mengerutkan kening pada Noah. Kemudian beralih pada Petra. Bell belum diizinkan tiga dewa lainnya untuk melihat mereka.
“Itu pasti karena kepalanya pernah terbentur” kilah Petra tetap berperan sebagai Noah.
“Anak nakal ini perlu kita beri pelajaran rupanya” geram Dewa Gazleil tidak suka kelakuan Petra yang meremehkan Dewa.
Pupil mata Petra terbuka lebar ketika Dewa Gazleil menciptakan gumpalan asap berbentuk bulat, lalu mengeluarkan Dewa yang sangat di kenal olehnya.
“Karena perbuatanmu menggunakan kemampuanmu untuk mengobati manusia itu, justru berakibat fatal untuk dunia ini” desis Dewa Gazleil berbicara pada Dewa Asklepios.
“Aku hanya menyelamatkan saudara dari Wanita yang kucintai” Dewa Asklepios tetap berada dalam pendiriannya.
“Sebagai Dewa kau telah gagal mengemban tugasmu. Kau, menyelamatkan nyawa manusia penyerap. Tapi karena kau terlalu buta hingga tidak dapat melihat tanda-tanda alam manusia penyerap dalam dirinya!” Dewa Gazleil menunjuk ke arah Petra.
“Maafkan aku” jawab Dewa Asklepios syok menyadari kesalahannya.
“Dengan ini akan ku cabut kekuatanku darimu” tambah Dewa Asklepios pada Petra, membuka lebar kedua telapak tangannya ke arah Petra berada. Tapi si manusia penyerap bisa melarikan diri dengan cepat setelah sempat terpukul mundur.
Dewa Thanatos menghentikan waktu agar semua yang telah dikacaukan oleh Petra dapat kembali ke semula.
“Asklepios, cukup” kata Dewa Thanatos ketika Sang Dewa pengobatan berlari ingin mengejar Petra.
“Dia sudah kehilangan dukunganmu. Kau sudah mengambil yang menjadi hakmu. Biarkan kini Dewa Eros yang menyelesaikan urusan dengannya” tambah Dewa Thanatos. Dewa Asklepios hanya mampu menatap bingung pada Dewa Thanatos. Begitu Petra dan Noah menghilang dari rumah sakit, Dewa Thanatos menjalankan waktu kembali.
Bell tersadar dari kebekuan waktu untuk sementara. Tapi ingatannya akan perselisihan antara Petra dan Noah sama sekali tidak diingat.
“Apa tadi aku bermimpi? Noah memaksaku pergi bersamanya?” gumam Bell sambil mengusap pergelangan tangannya.
“Au!! Tapi di pergelangan tanganku membuktikan ini nyata” Rintih Bell merasakan rasa sakit pada pergelangan tangan.
“Kau masih setengah sadar tadi” kata Dewa Asklepios yang tiba-tiba muncul di depan mata Bell. Ya, sang Dewa mengizinkan Bell dapat melihat wujudnya.
“Siapa Anda?”
“Aku teman Noah. Tadi Petra yang berusaha menculikmu dari rumah sakit ini. Bukan Noah” Dewa Asklepios menjelaskan.
“Kenapa? Bahkan kami jarang bertemu. Untuk apa dia melakukannya?” Bell lebih bingung lagi sekarang.
Dewa Asklepios menggunakan kekuatannya untuk memulihkan ingatan Bell dan meluruskan pikiran Bell yang tidak sesuai kenyataan. Seperti sekarang, Bell mulai bisa mengenali wajah asli Noah nya.
Berkat bantuan Dewa Asklepios, Bell menyadari bahwa selama ini ia salah mengenali orang. Lucunya, semua orang juga mengalami hal yang sama dengannya. Menganggap Noah adalah Petra dan sebaliknya.
“Selama ini yang selalu membuatku risih bukan Noah? Tapi Petra?”
“Ya, Petra sudah lama tertarik padamu”
__ADS_1
“Aku Mulai gila. Panggilkan Dokter. Aku mulai melihat diriku dengan pakaian yang aneh”
“Itu memang dirimu” tiba-tiba Dewa Thanatos memperlihatkan diri.