
“Haha ya...., ya, biasanya hanya kalimat yang jujur apa adanya bisa terucap dengan mudah justru, saat kita tak sadarkan diri”
“Bukankah itu..., sesuatu yang belum tentu? Kita tidak sadar dengan ucapan kita bagaimana kita bisa tahu apa kita ini jujur, atau tidak? Coba pikirkan dalam posisinya apa dia tahu ucapannya sendiri?” jawab Aislin menatap penuh selidik.
Aneh, kenapa orang asing baginya ini terlihat sangat ingin tahu hubungan diantara Aislin dengan Richard? Apa dia seorang Wartawan yang sedang menyamar? Ya ampun!! Aislin baru terpikirkan saat ini!!
“Ada seseorang yang sangat ingin aku ketahui keberadaannya saat ini. Perasaan apa pun yang timbul karena pertemuan diantara kami, itu hanya kami yang tahu Paman. Permisi” sambung Aislin buru-buru kabur, masuk kedalam mobilnya.
“Eros, ini pilihan yang harus kamu tentukan saat ini juga. Jangan sampai kau menyesal karena egomu merenggutnya darimu” desis sang Dewa menengadah ke langit kelam.
Sementara dalam mobil, Aislin mengemudi dengan hati-hati, sambil menghubungi Elsanar.
“Hallo,”
“Hey, tadi di sekitar tempat tinggalmu aku bertemu dengan seorang Pria sekitar umur 45 tahun. Kupikir dia adalah Wartawan yang sedang menyamar. Katakan pada Richard kalau dia, harus berhati-hati"
"Orang yang kutemui ini sangat penasaran dengan hubungan yang terjalin antara kami. Kau sendiri yang bilang ingin menjauhkannya dari skandal denganku bukan? Aku sudah berbaik hati memperingatkan kalian berdua ya, apa pun yang terjadi nanti, aku angkat tangan. Bye” jawab Aislin panjang kali lebar, sekaligus memutuskan sambungan selulernya secara sepihak.
Ada rasa...puas terasa dalam diri Aislin ketika mengabaikan pendapat ataupun jawaban Elsanar yang seharusnya dia dengar jika tidak memutuskan sambungan. Yah, biarkan saja Aislin sangat mengenal Elsanar tipikal orang yang tidak mau ambil pusing perasaan orang lain. Yang dia pedulikan pendapat dan keputusannya di dengar bahkan harus diterima.
Diiiiiin
Diiiiiiiiin!!
Klap!! Klap!!
Suara klakson sekaligus lampu jarak jauh sebuah truk berkedap-kedip memberi kode yang terlambat di sadari Aislin.
“Aaaaaaaa!!” teriak histeris Aislin mengumandang lalu pandangannya menjadi gelap total.
Bruuuuuush!!
Sebuah bunyi benturan keras terjadi bahkan kini bunyi bergesekan antara aspal dengan sesuatu entah apa itu juga mengusik telinga siapa pun yang mendengar.
Kendaraan Aislin terhenti tiba-tiba. Pemandangan di luar sungguh sulit untuk dicerna. Seorang Pria bernama Edward Jorgie berada di tengah-tengah, antara moncong truk dan mobil Aislin. Tangannya menahan truk dan mobil itu. Si Pria super segera berlari memasuki mobil Aislin mengamati keadaan Gadis kecintaannya itu.
“Aislin! Bangun!! Kau tolong sadarlah. Buka, buka matamu ku mohon!” pekik ketakutan Edward membuat mata lentik itu kembali terbuka. Aislin menatap wajah tampan Edward yang kalut. Ia menatap penuh rindu dan kembali memejamkan mata. Sang Dewa cinta mulai menggunakan kekuatannya untuk membuat waktu terhenti, menghapus ingatan seluruhnya tentang dirinya saat kejadian naas itu terjadi.
Bip
Bip
“Hey, selamat datang kembali Tuan Putri,” sapa Richard menyambut Aislin yang mulai sadarkan diri setelah tiga jam tak juga membuka mata. Kejadian sebelumnya, Eros menelepon Richard dengan mengaku sebagai administrasi rumah sakit berpura-pura mencari keberadaan keluarga Aislin dan memberi tahukan keberadaan Aislin. Sekaligus, memberikan ingatan palsu pada Richard.
“Kau? Kenapa kau dan aku bisa berada disini?” tanya Aislin lirih.
“Kau sudah ku pulangkan semalam Richard. Ya aku ingat betul itu lalu..., kecelakaan...” Aislin menggantung kalimat terakhir dan berpikir adakah urutan kejadian yang terlupakan olehnya?
“Bagaimana sopir truknya? Apa terluka parah? Huh?” tanya Aislin lagi mencari jawaban sangat penting bagi Aislin kali ini. Karena...dia sangat yakin Pria yang menolongnya semalam Adalah Edward Jorgie.
“Dia? Bahkan lukanya lebih ringan dari luka di kepalamu itu bodoh, kenapa masih memikirkan pengemudi truk serampangan itu?” geram Richard mengeluh kesal.
__ADS_1
“Apa maksudmu? Aku yang melamun saat mengemudi Richard, jadi aku harus bertanggung jawab menjamin pengobatannya sampai sembuh” terang Aislin.
“Dengar Nona Aislin, dia mengemudi saat sedang mabuk berat. Ditambah, mempercepat laju truknya, sekaligus menabrak seorang super Model. Dari segi mana pun, dialah yang harus bertanggung jawab, atasmu,” potong Richard menatap tajam Aislin.
“Benarkah? Maksudku, saat kejadian kau tidak ada. Jadi pasti ada sesuatu yang....”
“Aku di tempat kejadian. Selain menjadi saksi mata, Polisi sudah menemukan bukti dialah yang melakukan kesalahan dalam hal ini. Titik. Apa kau butuh sesuatu? Mumpung aku ada di sini sekarang” tandas Richard sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
“Dimana orang yang menolongku? Terakhir kali aku kehilangan kesadaran sebelum memberi ucapan terima kasih” tanya Aislin mencari-cari sosok Edward Jorgie.
“Orang itu ada di hadapanmu. Simpan rasa terima kasihmu itu, pikirkanlah kesembuhanmu saja. Apa yang bisa dilakukan seorang super Model ketika tidak memiliki satu pun kontrak?"
"Hey, kurasa kau tidak perlu mengemudi sendiri mulai sekarang, kudengar kau terlalu sering mengalami kecelakaan lalu lintas. Mulai sekarang anggap aku ini sopirmu” jawaban Richard membuat Aislin tak bisa berkata-kata. Kenapa bisa Richard mengaku-ngaku telah menolongnya? Aislin bisa melihat jelas..., siapa yang menolongnya. Bagaimana wajah sang penolong, jelas dia lebih tahu.
“Yang menolongku kau, bagaimana bisa? Kau dalam pengaruh alkohol, kau itu mabuk berat mana bisa sampai di tempatku dengan lancar? Hey, aku melihat siapa yang mengeluarkanku dari dalam mobilku. Itu wajah....wajah...”
“Hey, kau yang dalam masalah besar waktu itu. Remmu blong, apa kau tidak memeriksa kendaraanmu sebelum pulang? Kenapa kau sangat ceroboh? Untung kau tidak menabrak sesuatu yang dapat menimbulkan ledakan"
Aku yang membawamu dari dalam mobil ringsek itu, ke rumah sakit ini Nona Aislin Bell Wilunark, tidak masalah jika kau lupa akan hal itu tapi ingat kau, sekarang adalah Pasien. Mommu tidak bisa datang kemari jadi hanya aku yang ada disini, menggantikan Mommu sebagai penjaminmu.”
“Kau, untuk apa melakukan hal itu? Aku bisa menjamin diriku sendiri bung,”
“Yeah, jika kau sadar dan tidak terluka parah memang bisa. Tapi semalam kau membuatku hampir gila Aislin. Jangan mengemudi sendiri mulai sekarang oke, kau selain akan membahayakan dirimu juga sangat berpotensi membahayakan nyawa orang lain”
“Aku super Model dan siapa kau? Apa kau kena amnesia atau apa? Seorang Aktor, dengan segudang jadwal padat mau jadi sopir?! Itu mustahil” kekeh Aislin bersedekap acuh.
“Kalau begitu, akan ku berikan kau seorang sopir pribadi. Masalah selesai”
“Bukan sekarang. Kepalamu terbentur cukup keras. Dokter ingin mengatur jadwal cek lab untukmu. Kau bisa tidak terlalu banyak bicara? Untuk ukuran pasien yang baru saja mendapat dua puluh jahitan di atas kepalanya, kau sungguh sangat cerewet. Orang lain pasti mengiramu sedang berpura-pura sakit.” Tegur Richard bingung dari mana asal tenaga sebanyak itu padahal Aislin mengalami luka cukup parah di kepalanya.
“Aku ingin pulang aw....” erang Aislin sambil menyentuh perban di atas kepalanya.
“Jangan terlalu emosional oke, jahitanmu bisa terpaksa dirobek lagi kalau kau teralu ngotot seperti ini untuk memastikan apa ada masalah pada luka operasinya” rentet kicauan Richard menambah denyut di kepala Aislin justru bertambah.
“Nona Aislin, ada apa dengannya?” seorang Dokter muda muncul menghampiri Aislin dan Richard mencari penjelasan.
“Dia begitu sadar selalu berbicara menggunakan urat Dokter. Tolong bicara padanya. Aku sungguh lelah menghadapi calon Istriku ini” keluh Richard membuat Aislin membelalakkan matanya.
Demi apa?! Asistennya berjuang mati-matian supaya si Richard tidak terjebak skandal terhadap artis mana pun. Tapi Pria dihadapannya kali ini sedang apa? Apa dia sedang melakukan adegan reality show? Kalau ya, dimana kameranya?
“Nona Aislin. Tuan Richard sudah menjaga Anda sepanjang malam tadi sampai saat ini. Jadi beri sedikit ruang untuk calon Suami Anda bernafas. Lagi pula Nona tidak boleh berteriak, berpikir keras dan apa pun itu, yang dapat mempengaruhi syaraf di otak Anda” bela Dokter sambil menggeleng maklum.
“Bagaimana perasaan Anda? Terasa pusing? Mual?” tanya Dokter lagi.
“Pusingnya baru saja terasa Dokter. Setelah sedikit berteriak pada si sialan itu” gerutu Aislin menunjuk kesal Richard.
“Banyak Wanita yang ingin bersamanya Nona. Kenapa masa kalian sebelum meresmikan pernikahan dibumbui sesuatu yang membuat kalian kesal? Pasangan lainnya menjalani masa romantisme yang tak terlupakan. Pst...., Pria itu sangat tampan"
"Maksudku..., Pria yang sekarang dengan setia menunggumu disini, sangat tampan di mata Gadis mana pun” kata sang Dokter lantang, dan mulai berbisik ditelinga Aislin saat memuji ketampanan Richard.
“Jangan sampai karena kau terlalu sering memarahinya begini, hatinya luluh dengan Gadis sepertiku, misalnya? Hmm?” goda Dokter menaik turunkan kedua alisnya jenaka.
__ADS_1
“Kau menginginkannya?”
“Aku normal Nona, jadi mana bisa mengabaikan pesona Pria itu?” bisik Dokter itu sangat menekankan kalimat terakhir.
“Deal. Ambil saja. Bawa pulang bungkus menggunakan daun pisang. Jangan biarkan dia kembali padaku.”
“Hahaha kalian memang pasangan unik ya, kalau begitu, jangan lupa minum obatnya Nona Aislin, dan entah kenapa aku senang melihat kalian berdua seolah dua hal yang berseberangan, dapat dipadukan dengan manis di hadapanku. Sudah lah, anggap saja ini semacam selingan pereda stres, saya permisi dulu,” pamit Dokter ramah.
“Wah, apa Dokter itu memberimu semacam pencerahan? Ada apa denganmu? Wajahmu semerah tomat” desis Richard penasaran, mendekat ke arah Aislin duduk.
“Kau tidak ada jadwal hari ini? Aku tidak akan tersesat di dalam sini. Jadi pergilah nikmati saja aktivitas rutinmu” lirih Aislin mengalihkan pembicaraan.
“Jadi itu pembicaraan yang di dalamnya adalah topik mengenaiku?” lirih Richard semakin mendekat hingga hidung mereka hampir saja saling bertabrakan.
“Kenapa tiba-tiba mengambil kesimpulan semacam itu?” tanya Aislin mundur perlahan tapi Richard tetaplah Richard dia bukannya mengurus hal lain yang lebih penting untuk pengobatan Aislin, dia malah semakin mendekatkan wajahnya. Ke arah wajah Aislin hingga ujung hidung mancung mereka berdua saling terpaut.
Bersemulah wajah Gadis itu seketika membuat Pria yang terus mengamatinya secara intens itu tersenyum puas. Bagus. Dengan dirinya memperlakukan Aislin seperti sekarang, tentu saja Aislin akan segera berpikiran ulang untuk mencampakkannya? Dia harus melakukan perjuangan secara diam-diam dalam mendekati Gadis cantik tersebut.
Yeah, dia telah menemukan caranya secara mendadak ah, maksudnya secara spontan karena Dokter yang menangani Aislin kebetulan adalah sahabat baiknya...ya, ini rencana Richard untuk mendapatkan hati Aislin Bell Wilunark. Cara ajaib bagaimana tidak? Dia harus terus menempel seperti parasit dalam keseharian Aislin dengan berbagai macam cara.
Seperti, ketika Sutradara Simson memilih seorang Pria berkebangsaan Prancis yang Play Boy maksimal, sebagai salah satu Brand Ambasador kosmetik Dandelio berpasangan dengan Aislin. Mendadak otaknya mendidih seketika mengetahui apa yang akan terjadi ketika Aislin benar-benar menjadi model iklan bersama Pria tersebut. Membayangkan Aislin langsung jatuh dalam pelukan sang buaya darat saja sudah ingin membuat Richard menghancurkan apa pun.
Maka, Richard membayar dengan jumlah cukup fantastis orang itu, agar mau melancarkan aksi sesuai keinginan Richard. Tak disangka orang itu punya totalitas tinggi. Entah itu sungguhan kecelakaan, atau memang dia sengaja membuat kendaraan pribadinya mengalami kecelakaan yang jelas, saat ini Pria bayaran tersebut masih dalam perawatan rumah sakit. Dan..., jadilah Richard menggantikan posisi si Pria bayaran. Lebih senang lagi dia tahu kalau ternyata Aislin adalah fans fanatik dirinya.
“Ada sesuatu yang sedang kau sembunyikan. Dokter itu mengatakan sesuatu yang cukup pribadi mengenaiku?”
“Ya ampun, jangan terlalu percaya diri. Aku tahu, semua orang juga tahu kau itu tampan. Aku tidak bisa menyangkal kenyataan kan? Tapi tidak semua Gadis terlebih lagi Gadis macam Dokter Betrick terpesona dengan ketampananmu. Dia lebih..., menyukai Pria yang tinggi, berbadan agak gempal katanya seperti itu” jawab Aislin asal-asalan.
“Aku ingin kau mulai belajar mencintaiku Aislin. Bukan belajar berbohong” jawab Richard tersenyum tipis dengan seringai wajah penuh misteri. Aislin, dia tidak tahu bahwa apa yang tengah dibicarakan antara dirinya dengan Dokter termasuk dalam teks yang sudah di setting secara sedemikian rupa.
“Lakukan banyak hal yang jauh lebih berguna Tuan Richard, jangan buang waktu berhargamu untuk menjahiliku oke,” cemberut Aislin setelah mendapat seringai jahil dari Richard apa lagi kini Richard mencolek hidungnya gemas.
“Ya ampun aku memang sedang ditunggu-tunggu banyak orang. Jadwalku sama padatnya tapi untukmu, itu tidaklah ada harganya bagiku karena, kamu, sekarang jauh lebih berharga dibandingkan hal lainnya.”
“Kau sedang menghafalkan naskah drama filmmu sampai kemari? Kau sangat totalitas ya, mengagumkan. Tidak menyesal aku mengidolakanmu,” puji Aislin membuat Richard memucat. Bagaimana tidak? Baru saja dia berusaha merayu Aislin.
Biasanya, dengan ucapan semacam itu, para Wanita di mana sering ia jumpai, akan tergila-gila padanya tapi sekarang!! Lihat saja Aislin malah menganggapnya sedang berlatih menghafal naskah drama? Yang benar saja?!
“Aku melakukannya untuk membuatmu terkesan sayang, tapi apa tadi? Latihan? Aku butuh waktu sendiri sekarang. Kau butuh sesuatu sebelum aku pergi?”
“Aku bisa minta tolong Suster jangan khawatir pergi sana,”
“Kau mengusir pahlawanmu? Kau bisa menganggapku pangeran berkuda”
“Memang berapa usiaku? Cukup basa basinya. Kau ingin pergi kan? Cepat!! Cepatlah pergi” Kata Aislin terkekeh geli sambil melemparkan bantalnya pada Richard.
“Lihat? Kau bisa lihat ini?” tanya Richard setelah menangkap bantal yang dilemparkan Aislin.
“Apa? Bantal?”
“Arti dari benda ini. Kau lemparkan bantalmu padaku hari ini tapi, suatu hari nanti kau akan lemparkan hatimu padaku” kerling Richard genit melempar bantal ke arah Aislin lalu menghilang di balik pintu kamar rawat Aislin.
__ADS_1