
“Bukankah harus ada yang menggantikan Petra? Kalau kita lakukan itu, bagaimana kalau ketahuan? Aku tidak mau Paman dihukum karena ku,”
“Kita lakukan secara diam-diam. Eliza bisa menjaga rahasia?”
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Empat bulan telah berlalu. Janji Dewa Asklepios kepada Eliza telah di kabulkan. Eliza senang melihat akhirnya Petra dapat berjalan normal bahkan berlari lagi. Sebagai gantinya Eliza harus rela setiap hari di gendong naik turun tangga saat waktunya makan tiba.
Bayangan Petra akan kembali baik padanya setelah sembuh tidak pernah terjadi. Petra justru tega memfitnah Eliza, dengan tuduhan Eliza mengatakan ke padanya siapa yang paling tinggi lompatannya ketika melompati pohon, maka orang itulah pemenangnya. Kata Petra, pemenang akan mendapatkan uang saku si kalah, selama 3 hari.
Petra terdiam sejenak melihat kembali masa kecilnya.
“Apa yang kau harapkan dengan mengingatkan semua itu padaku?” geram Petra menatap marah ke arah Dewa Asklepios.
“Eliza menyayangimu sampai akhir. Kau tidak ingin menebus dosamu padanya? Dengan menyerah pada Dewa Eros?” Dewa Asklepios berharap Petra menyerah tanpa perlawanan.
“Menyerah? Tidak. Aku disini sekarang karena kalian para Dewa. Bahkan awal hidupku sudah ditentukan menjadi manusia penyerap yang hanya hidup untuk dibunuh oleh Dewa” geram Petra sambil terus mencoba berdiri meski berulang kali gagal.
“Kau pikir kami tidak adil terhadapmu?” kekeh Dewa Asklepios menangkap maksud Petra dengan sangat tepat.
“Hahaha dimana letak keadilanmu?! Untuk apa kalian menciptakanku kalau kau, hanya ingin melenyapkanku? Lebih baik kalian tidak menciptakanku sekalian!!” amuk Petra nafasnya mulai memburu saking murkanya.
“Tadinya kami memberimu hidup damai. Dengan membuat kakimu lumpuh seumur hidup. Dengan begitu kau, tidak perlu bertemu denganku” kata Noah lantang.
“Tapi salah satu dari kami melakukan kesalahan fatal. Hanya karena rengekan seorang gadis kecil, dia membebaskan monster sepertimu” tambah Noah mendekat ke arah Petra.
“Saatnya mengakhiri hidupmu. Petra” tegas Noah menggunakan kekuatan anginnya, berencana membiarkan Petra tercabik-cabik. Noah tidak peduli lagi berapa banyak racun yang akan di terima tubuh manusianya kali ini.
Saat seluruh tubuh Petra tak berbentuk, berulah Bell terlepas dari tanah hisap ciptaan Noah. Kedua mata Bell terbelalak melihat banyaknya gumpalan cairan racun yang terlontar ke arah Noah.
Bell menciptakan perisai berupa tanah yang telah dibekukan menjulang tinggi menutupi seluruh tubuh Noah. Ternyata, racun Petra seolah hidup. Ia mencari jalan untuk menemukan target. Ternyata racun ini beralih ke tempat yang tak berperisai. Bell akhirnya membuat perisai sekali lagi mengelilingi Noah.
“Jangan ikut Campur!! Bell!!” teriak Noah panik menyadari kelakuan Bell yang mampu membahayakan nyawa Bell sendiri.
“Asklepios!! Hentikan dia!!” teriak Noah. Jika dia membuka perisai Bell, Gadis tersebut bisa saja yang akan terkena lontarkan racun Petra.
Tapi, seandainya Asklepios pun tidak bertindak, Noah juga tidak mungkin melepaskan diri dari perisai Bell, pasti racun Petra mencari mangsa baru. Noah tak mendengar suara apa pun lagi. Terpaksa Noah merusak perisai Bell.
Brugh!!
Bell terjerembap ke tanah, setelah semua racun Petra yang tersisa, masuk ke dalam tubuhnya.
“Bell!!” Noah segera berlari kearah Bell berada. Ia menoleh kearah seluruh penjuru arah, tapi ia tak mendapati keberadaan sang Dewa pengobatan.
“Asklepios sedang terperangkap ke dalam dimensi ciptaanku. Bukan salahnya” jawab Bell lemas. Noah terpikirkan rumah sakit saat membopong Bell, kemudian menghilang.
Noah dan Bell kini muncul di ruang rawat Bell. Untung saja belum ada orang disana. Noah menidurkan Bell dan memakaikan selimut.
“Sekarang kau akan merasakan rasa sakit yang bahkan Dokter sekalipun tidak akan sanggup mengobatimu” desis Noah sedih.
“Kau terkena racun jauh lebih banyak dari pada aku. Periksa sekarang juga”
“Sudah terlambat” jawab Noah menggelengkan kepala.
“racun ini sudah tersebar ke seluruh jaringan tubuhku. Begitu juga dirimu. Aku sudah memperingatkanmu untuk tidak ikut campur” tambah Noah sedih.
“Itu pilihanku, bukan salahmu, lihat aku sekarang Noah. Rasa sakitnya sudah hilang” sahut Bell mencoba menghibur Noah.
“rambutmu....” Bell tercekat menyadari seluruh rambut Noah telah rontok tanpa sisa.
“Keadaan kita akan semakin Memburuk. Karena racun ini tidak sama dengan yang ada di dunia, kemungkinan besar Dokter menganggap kita terkena penyakit serius” Noah menatap Bell sendu. Sekarang Noah tak bisa berbuat apa pun untuk Bell. Karena ini merupakan hukuman para Dewa lain untuknya. Terdengar suara seseorang membuka pintu.
“Bell, Apa yang terjadi?” kedua orang tua Bell masuk ke dalam panik melihat Noah dan Bell yang hidungnya terus menerus mengeluarkan darah. Bahkan keduanya pun sibuk mengambil tisu untuk menyumbat darah yang mengalir.
Ayah Bell berlari memanggil Dokter dan kembali ke ruang rawat Bell, bersama dengan Dokter. Orang tua Bell semakin panik melihat Noah dan Bell tak sadarkan diri secara tiba-tiba.
Hasil lab keduanya baru keluar selang dua jam. Dan selama itu juga, kedua muda mudi ini tak kunjung sadarkan diri.
“Apa yang terjadi? Putraku baik-baik saja sebelum pergi,” Ibu Noah muncul, sambil menepuk-nepuk punggung Ibu Bell.
“Hasil lab baru saja keluar. Sebentar lagi Dokter akan menjelaskan ada apa dengan mereka” balas Ibu Bell sambil menepuk-nepuk punggung Ibu Noah.
“Mereka belum siuman?” Ayah Noah sangat khawatir menatap Putranya yang kini sedang di rawat di ruang rawat Bell.
“ah, ya, maaf sebelumnya. Tadi sempat terpikir akan mudah mengawasi keduanya jika dirawat di ruangan yang sama” kata Ibu Bell lupa minta ijin kepada kedua orang tua Noah menempatkan Putra mereka di kamar rawat yang sama dengan Putrinya.
“Tidak masalah. Aku jauh lebih tenang. Keputusan yang bagus” jawab Ibu Noah tersenyum lega.
Tok
Tok
Tok
Seorang Dokter mengetuk-ngetuk pintu, lalu masuk membawa Hasil lab. Para orang tua menangis pilu ketika Dokter memvonis anak mereka hanya memiliki sisa hidup hanya sekitar 12-18 bulan saja.
Satu hal yang tidak mereka mengerti. Bertahun-tahun satu rumah dengan anak mereka, tidak ada satu pun keluhan yang mengindikasikan baik Noah maupun Bell, mengidap penyakit mematikan. tentu saja para orang tua menganggap hal ini aneh.
Sampai-sampai Ayah dari Bell dan Noah pergi ke empat Dokter berbeda untuk mencari kemungkinan bahwa diagnosa Dokter yang menangani anak mereka salah. Sayangnya, ke empat Dokter tersebut mengatakan diagnosa sama.
Mereka kembali ke rumah sakit dengan wajah yang kusut. Para Istri segera menyadari tidak ada kemungkinan, kesalahan pada diagnosa Dokter Bell dan Noah.
“Istirahatlah. Kalian pasti lelah” kata Ester pada Daniel dan Ayah Noah.
“Apa yang harus kita katakan pada anak-anak? Mereka pasti akan sangat syok” gumam Ayah Noah mengacak-acak rambutnya.
“Kita harus bicara jujur. Honey, yang kita butuhkan hanya mempersiapkan mental untuk menguatkan mereka, memperbesar semangat hidup mereka” sang Istri menepuk punggung Ayah Noah.
“Ayolah, ini demi mereka. Kalau kita tidak tegar, lalu siapa lagi yang sanggup menguatkan mereka berdua?” Sambung Ester menatap satu persatu.
Pembicaraan keempatnya terhenti begitu menyadari pergerakan dari Bell. Gadis itu membuka mata, mendapati orang tuanya dan orang tua Noah berkumpul menjadi satu.
__ADS_1
“Noah...dimana dia?” Tanya Bell lemah seolah tak bertenaga.
“Disampingmu. Dia belum siuman” jawab Ibu Noah tersenyum getir.
Bell menoleh kearah dimana Noah berada. Menatap wajah Noah lekat, seolah esok dia tak lagi bisa melihatnya lagi.
“Kau ingin sesuatu? Atau ada yang sakit?” Ibu Bell mengusap kepala Bell lembut.
“Kenapa wajah kalian pucat?” Bell menoleh ke arah Ibunya dan beralih ke seluruh orang dewasa disana.
“Kalian tidak sadarkan diri lebih dari dua jam. tentu saja kami sangat cemas” sahut Ibu Noah tersenyum hambar.
“Syukurlah. Noah mulai sadar” Ibu Bell melihat kearah Noah yang mulai membuka kedua mata.
“Apa kau merasakan sakit?” Ibu Noah menghampiri Putranya cemas. Sementara Ibu Bell menyembunyikan tangan kanannya yang tersangkut rontokkan rambut Bell.
“Sepertinya aku kelelahan. Ah, lain waktu aku tidak akan melakukan olah raga berat lagi seperti tadi” jawab Noah mencoba mendinginkan suasana sambil mengusap-usap wajahnya.
“Nak, kalian menyembunyikan sesuatu dari kami?” Tiba-tiba Ibu Bell bersuara. Mata si Ibu tidak hanya menatap tajam pada Bell tapi juga pada Noah.
“Kami?” Noah memastikan agar tidak ada kesalah pahaman. Bahwa pertanyaan tersebut ditujukan pada mereka berdua atau hanya Bell saja.
“Ya kalian. Sampai kapan kalian mau menyembunyikan hal besar semacam ini?”
“Kami hanya kelelahan” Sambung Bell memasang ekspresi bingung padahal ia paham arah pembicaraan ini.
“Sayangnya, Hasil lab tidak mengatakan kalian sedang kelelahan. Melainkan kalian punya penyakit serius” Ibu Noah bersedekap.
Bell dan Noah saling menatap. Mereka sudah siap mental menghadapi pertanyaan semacam ini saat kembali kerumah sakit. Kedua muda mudi tersebut tidak mungkin mengatakan mereka terkena racun setelah hasil lab mengatakan hal lain.
“Memang kami sakit apa?” Noah malah ingin tahu apa kata Dokter.
“Mom bertanya serius, Noah...” Ibu Noah memelototi Noah kesal.
“Tunggu dulu, memang hasilnya apa?“ Bell ikut penasaran.
Ibu Bell menyerahkan secarik kertas berisikan Hasil tes pada keduanya.
“Kalian pandai sekali menyembunyikan penyakit seserius itu. Kalau saja kalian mengeluhkan tanda-tanda penyakit ini dari awal,...”
“Masalahnya kami merasa baik-baik saja. Dan wow, ini sangat mengejutkan bagiku sungguh” potong Noah agar ibu Bell tidak mempermasalahkan soal racun, yang bereaksi seolah bagian dari sel kanker.
“Stadium empat. Bukankah ini keterlaluan? aku tidak merasakan apa pun,” gerutu Bell membuang kertas Hasil lab.
Wah, Apa dia aktris? Ini luar biasa. Mengingat umurnya takkan lama batin Noah sambil menatap ke arah Bell.
Dua bulan telah berlalu Noah dan Bell terus menolak melakukan kemoterapi. Bagi keduanya, itu buang-buang waktu. Hanya akan menambah penderitaan saja. Orang tua mereka tidak menyerah masih ada jalan operasi.
Bell dan Noah tetap menolak karena pasti nanti akan timbul pertanyaan baru. Racun yang dikira sel kanker tersebut akan membuat Dunia kedokteran Gempar. Bagaimana tidak? Racun ini, tidak akan dapat dihilangkan dari dalam tubuh mangsanya, dengan cara memotong sekalipun.
Noah dan Bell bersikeras untuk pulang. Mereka setuju rawat jalan. Pagi ini, Bell dan Noah menghabiskan waktu bersama di depan halaman rumah mereka. Meskipun menggunakan kursi roda, kebahagiaan mereka tidak berkurang. Yang penting dapat melihat satu sama lain.
“12-18 bulan. Waktu kita masih cukup banyak. Sayangnya kita tidak bisa menggunakan perhitungan ini karena kita sebenarnya keracunan” Kata Bell sambil menyandarkan kepala di bahu Noah.
“Noah...”
“hmm?”
“Aku ingin menggenggam tanganmu. Tapi tanganku mati rasa” rengek Bell kesal. Sudah sekitar seminggu tangannya sulit untuk digerakkan. Noah menggapai telapak tangan Bell, menggenggamnya lembut.
“Apa kau takut?” Tanya Noah, sambil menatap sendu Bell.
“Walau tempat tinggal kita berdekatan, aku masih takut apa kau masih hidup? Apa Besok... aku masih bisa melihatmu?”
“sudah kubilang. Sisa hidupku sebulan lagi”
“Sependek itu waktu kita bersama? Kalau begitu aku ingin selalu di dekatmu” Gerutu Bell.
“Mungkin ini terdengar egois. Aku tahu waktu kita tidak banyak sebagai manusia. Seperti kehidupanmu sebelumnya, aku ingin menjadi Suamimu kembali” pernyataan Noah membuat Bell diam tak berkutik. Menatap Noah dengan mata yang berbinar bahagia.
“Itu akan sangat berharga di waktu kita yang sangat singkat ini” senyum Bell merekah.
“Tangan sialan. Aku tidak bisa memelukmu” keluh Bell cemberut membuat Noah terkekeh kecil sambil memeluknya erat.
“Ada yang kami lewatkan?” Ibu Noah datang bersama Ibu Bell, yang memberi tahukan kedatangan mereka dengan berdehem. Spontan Noah melepaskan pelukannya pada Bell.
“Bibi, boleh aku menikahi sitampan di sampingku ini?” tanya Bell mengejutkan Ibu Noah dan Ibu Bell.
“Apa?” para Ibu bereaksi bersamaan.
“Ijinkan kami menikah tiga hari lagi” Noah tersenyum tanpa beban.
“Hey, kalian terlalu muda” protes Ibu Bell tak setuju.
“Bagaimana kalau tiba-tiba kami mati muda? Kami akan menangis dalam kubur karena gagal menikah”
“Stop. Kami tidak sedang bercanda anak-anak. Menikah butuh persiapan yang tidak sebentar,” sahut Ibu Noah bersedekap.
“Itu karena pada umumnya mempelai saat menikah mengundang banyak orang. Untuk kasus seperti mereka, cukup keluarga inti saja yang menjadi saksi pernikahan mereka” sahut seseorang dari belakang para Ibu.
Kedua Ibu ini berbalik badan, menatap seorang Dokter yang diapit Ayah Noah dan Bell.
“Mari kita bicara” tambah Dokter memberi kode agar para Ibu mengikutinya masuk ke dalam rumah Bell.
“Maaf saya ikut Campur. Dari pemeriksaan terakhir mereka, keadaan Putra dan Putri kalian mengalami kemunduran. Kalau boleh memberi saran, kabulkan saja keinginan mereka. Siapa tahu ini adalah permintaan terakhir”
“Kau Dokter mereka. Lakukan segala cara menyelamatkan mereka!” amuk Ester marah besar.
“Segala tawaran tindakan medis sejak di diagnosa kanker, telah mereka tolak mentah-mentah. Justru itulah, yang menyebabkan kanker mereka semakin parah. Bahkan semua obat yang saya berikan nampaknya tidak membuahkan hasil” Dokter membela diri atas kesalahan yang dituduhkan pihak keluarga pasien.
“Stop!” teriak Ayah Noah berusaha menghentikan kericuhan.
__ADS_1
“Kita hanya punya waktu sangat sedikit bersama anak-anak. Benar kata Dokter. Satu-satunya yang bisa kita lakukan untuk mereka adalah mewujudkan keinginan mereka” tambah Ayah Noah.
Setelah menyelesaikan perdebatan yang panjang, akhirnya para orang tua kembali menuju ke arah taman, menatap Bell dan Noah. Mereka mengembangkan senyuman sambil menganggukkan kepala pada Bell dan Noah tanda setuju.
Bersamaan dengan momen ini, beberapa kupu-kupu terbang mengelilingi Bell dan Noah seakan ikut merayakan tawa bahagia keduanya. Dan, ketika kupu-kupu terbang menjauh, terlihat...Noah dan Bell kini tengah mengenakan pakaian pengantin, sedang berpose duduk di atas kursi roda mereka. Bidikan blitz mewarnai kisah hidup baru mereka sebagai pasangan yang baru menikah.
Di hari pernikahan mereka ini, secara diam-diam para Dewa datang silih berganti memberikan sedikit keringanan hukuman. Setidaknya, tangan Bell yang mati rasa, sudah dapat bergerak bebas. Kaki Noah yang mati rasa pun sudah berfungsi dengan baik.
Para Dewa sepakat untuk menyudahi hukuman kepada Noah dan Bell. Tapi kematian mereka sebagai manusia tidak akan bisa dibatalkan. Ini hadiah pernikahan para Dewa untuk mereka. Berbahagia sebelum maut menjemput.
Seminggu setelah pernikahan dilaksanakan . Bell dan Noah menghabiskan pagi bersama keluarga mereka sekedar berbincang-bincang. Saking serunya topik pembicaraan mereka, tak terasa siang pun menjelang.
“Bell, mau kemana?” Ester menyadari Putrinya perlahan menjalankan kursi roda dengan kedua tangan, akan meninggalkan ruang keluarga.
“Tidur siang, jangan khawatir. Aku bisa berpindah ke tempat tidur sendirian Oke,” sahut Bell tersenyum manis.
“Aku akan mengawasinya. Mom santai saja disini” Noah mengerti perasaan mertuanya. Pria muda tersebut langsung menyusul Bell ke kamar. Noah mendekat ke arah Bell berbaring.
“Bukannya kau mau tidur? Kenapa malah melamun?”
“Aku baru saja mendapatkan sebuah novel dari Mom, tapi aku mengantuk. Bisa tolong bacakan novel ini untukku?” Bell menyodorkan novel bercover biru muda.
Noah tersenyum mengambil buku novel, meletakkan buku itu di atas pangkuannya, ia menjalankan kursi Roda ke sisi lain tempat tidur.
Noah berbaring senyaman mungkin ke atas tempat tidur, dan bersiap membaca. Bell mengecup pipi Noah senang, sambil meletakkan kepalanya kearah bahu Noah.
Bell memejamkan mata, menikmati suara Noah yang sedang mendongeng.
Sepuluh menit berlalu. Noah dan Bell tak bersuara lagi. Kepala Noh mulai miring, bersandar ke atas puncak kepala Bell.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan pintu terdengar. Ester dan keponakannya masuk ke dalam kamar.
“Noah, Bell, kalian belum makan siang. Bangun, makan dulu” Kata Ester ceria.
“Noah, Bell,” panggil Ester sekali lagi.
Priaaaaang!!
Suara benda pecah terdengar di seantero rumah.
Upacara pemakaman Bell dan Noah berlangsung ke esokkan paginya. Orang tua mereka satu persatu pergi dengan duka mendalam. Waktu berlalu begitu cepat. Dari pagi, siang, ke malam hari.
Dewa Thanatos, Dewa Gazleil, Dan Dewa Ker berkunjung ke pemakaman tempat Noah dan Bell di kebumikan.
Untuk menjemput Dewa Eros dan Dewi Psikhe.
Mereka menggunakan kekuatan gabungan untuk membelah kuburan. Mengeluarkan dua peti mati, membuka pintu petinya.
Dewa Thanatos mendapatkan bagian terpenting. Yaitu menghancurkan benda yang menghalangi Dewa ataupun Dewi kembali ke wujudnya semula.
Dewa Thanatos memecahkan sebuah arloji yang tercipta dari Batu permata. Dengan pecahnya jam tersebut, Dewa Eros dan Dewi Psikhe dapat memisahkan diri dari raga manusia yang telah mati.
“Waktunya pulang kawan,” kata Dewa Asklepios menyambut Dewa Eros dan Dewi Psikhe. Perlahan kuburan Bell dan Noah kembali menutup seperti semula.
“Bawa Dewi Psikhe untuk bertemu dengan Dewi Afrodit” Dewa Gazleil menyarankan.
“Semenjak pertengkaran kalian terakhir kali, Dia benar-benar menyesali perbuatannya. Kurasa dia ingin menjadi Mom yang baik untukmu” Melihat raut wajah tidak setuju, maka Dewa Gazleil mencoba meyakinkan Dewa Eros.
“Ini kesempatan kita untuk bisa lebih dekat dengan Dewi Afrodit. Ayo pulang” kata Dewi Psikhe sambil menepuk lembut bahu Suaminya.
Eros menghela nafas panjang lalu menghembuskan kasar. Tak ada hal yang tidak ingin ditemui Eros kecuali Dewi Afrodit. Demi Psikhe...Eros mau mengabulkan.
Kastil langit milik Dewi Afrodit tak biasanya dikunjungi puluhan kupu-kupu emas. Sang Dewi menatap keheranan ketika ia melihat langsung puluhan kupu-kupu bersayap emas berkerumun diudara. Saat ini, Dewi Afrodit tengah berada di taman.
Ia terpukau dengan keindahan kupu-kupu tersebut. Ya, kupu-kupu emas adalah sebuah pertanda kebahagiaan akan hadir di dalam rumahnya. Ini kedua kalinya ia melihat kembali kupu-kupu emas. Pertama, sebelum Afrodit dikabarkan mengandung Eros.
“Dewi, Dewa Eros datang bersama Dewi Psikhe” seorang pelayan memberi kabar kedatangan Putranya.
Dewi Afrodit berlari menuju ke halaman depan. Matanya berbinar Karena melihat Putranya telah kembali.
“.....” Dewi Afrodit tak mampu berkata-kata karena canggung mengingat pertengkaran mereka terakhir kali bertemu dulu.
“Psikhe ingin menemuimu. Berbincang-bincang lah” Kata Eros singkat, sambil beranjak pergi.
“Kita bisa berbicara bertiga honey,” sahut Psikhe sambil menahan lengan Eros.
“Sudah lama kita tidak bicara satu sama lain. Kurasa tidak ada salahnya berada di sekitar Mom dan Istrimu” Dewi Afrodit memberanikan diri berbicara di depan Noah.
“Ide yang bagus. Kalau diingat-ingat, pernah suatu hari kau ingin melenyapkannya. Jadi aku memang harus menjaganya” sambut Eros. Psikhe menyikut lengan Eros.
“Kalau pemikiran seperti itu mampu membuatmu tetap disini, pertahankanlah” Dewi Afrodit tersenyum kecut mendapati sikap penuh permusuhan dari Putranya sendiri.
“Aku harap kalian belum makan” tambah sang Dewi, menciptakan tikar yang di atasnya terdapat bermacam-macam makanan menyegarkan.
“Terima kasih. Kami benar-banar lapar” sambut Dewi Psikhe akan berjalan menuju tikar.
“Psikhe berhenti” Dewa Eros menahan langkah Istrinya.
“Makan dengan cara seperti ini bukan gayamu, Mom...” Eros menaruh curiga.
“Karena aku pernah melihat kau terlihat sangat gembira saat makan ditempat seperti ini, juga di atas tikar semacam itu” jawab Dewi Afrodit sambil tersenyum kecut.
“Aku...belum...pernah melihat ekspresimu seperti saat itu ketika sedang bersama Mommu ini Eros” tambah Afrodit membuat hati Psikhe tercubit sekaligus menyebabkan Eros merasa sedih.
Eros melangkah kearah makanan yang telah tersaji. Mencicipi satu persatu makanannya. Eros langsung berdiri, begitu merasa tidak ada jebakan yang dipasang Ibunya.
__ADS_1
“Pasti enak makan bersama dengan kalian” Psikhe menggandeng Dewi Afrodit untuk ikut makan bersama.
“Kalau kau berjanji tidak lagi berusaha memisahkan kami seperti dulu, aku akan memaafkanmu” tegas Eros menatap tajam Dewi Afrodit. Tentu saja sang Dewi menganggukkan kepala setuju. Bahkan kini mata Dewi Afrodit berkaca-kaca. Ia memeluk anak dan menantunya.