
Seseorang mengawasi dari kejauhan, memperhatikan Ayah Noah menutup pintu ruang rawat Bell. Orang itu adalah Noah.
“Petra...kali ini kau sudah keterlaluan” geram Noah lirih.
“Apa yang ingin kau lakukan sekarang?” Dewa Gazleil tiba-tiba muncul di belakang Noah, ikut mengintip dari balik dinding.
“Bell tidak akan mati sekarang kan?” tanya Noah penuh harapan sambil menatap sendu sang Dewa.
“Kau bertanya pada Dewa yang salah” Dewa Gazleil mengangkat kedua alisnya.
Noah mengulurkan tangan, membuka lebar telapak tangan, mengucapkan sesuatu, maka muncullah asap putih sebulat bola tak jauh dari telapak tangan Noah. Dimasukkan begitu saja tangan Noah lalu gerakannya seperti sedang menangkap sesuatu. Noah menarik sesuatu dari dalam sana, ke arahnya.
“Apa-apaan ini? Aku sedang melakukan tugasku. Kau mau bertanggung jawab jika ruh yang aku tangkap melarikan diri?!” marah Dewa Thanatos mengacungkan telunjuk ke wajah Noah.
“Itu tidak akan terjadi pada tiap ruh yang kau jemput. Kecuali aku membawa paksa Ker, itu baru masuk akal” jawab Noah membuat ekspresi tak percaya.
“Aku membawamu kemari karena Bell sedang terluka” tambah Noah.
“Namanya tidak ada dalam daftarku”
“syukur” lirih Noah lega.
“Yup, siapa tahu dia masuk dalam daftar jemput Ker” kata Dewa Thanatos tanpa merasa bersalah pada titisan Dewa Eros di hadapannya.
“Kenapa juga dia ada dalam daftar Ker? Kau menyumpahinya menderita?” bentak Noah kesal. Suaranya mengejutkan semua orang di sekitar Noah. Semua mata menatap Noah iba. Bagaimana tidak? Di mata semua orang, Noah sedang memarahi dinding.
“Baik menjadi Dewa ataupun manusia dia tidak pernah berubah” gumam Dewa Thanatos di balas anggukan Dewa Gazleil.
Noah menatap semua orang yang kini tengah memperhatikan tingkatnya. Bukannya pergi dari sana, Noah kembali menempel pada dinding dan memperhatikan pergerakan dari ruang rawat Bell. Seseorang membuka pintu dari dalam sana. Keluarlah Ayah Noah, Ibu Noah, terakhir si pencuri Petra.
“Kau tidak mau melihat Bell ke dalam sana?” tawar Dewa Gazleil.
“Aku...belum siap. Bagaimana aku bisa menghadapi reaksi Bell, tatapan Bell, yang menganggapku ini hanyalah orang asing” jawab Noah lirih menatap getir pintu.
Seseorang membuka pintu dari dalam lagi. Ibu Bell berjalan lunglai duduk tak jauh dari ruangan Bell. Ia mengusap lembut wajahnya yang sembab, dengan kedua telapak tangannya berulang kali.
“Bagaimana keadaan Bell Bibi?” suara seseorang membuat Ibu Bell membuka telapak tangannya agar ia dapat melihat siapa orang itu.
“Kau...”
“Petra. Saya pernah sekali main ke rumah Bell,” jawab Noah berusaha mengingatkan Ibu Bell.
“Bell sudah siuman tapi dia masih lemas. Sekarang dia sedang tidur”
“Ada kemungkinan Bell hilang ingatan?”
“Tidak. Dokter sudah memastikan Bell aman. Doakan saja Bell dapat melewati masa penyembuhannya”
“Bibi, Anda harus makan. Siapa lagi yang menjaga Bell selain kedua orang tuanya? Jadi Anda harus sehat selama merawatnya disini” kata Noah tulus sambil memberikan kantung plastik berisi banyak kue.
“Terima kasih”
“Boleh melihat Bell sebentar?” tanya Noah ragu-ragu.
“Tolong jaga Bell sementara ya, maaf merepotkan, bisa bantu Bibi memanggil Paman kemari? Dia belum makan juga” sahut Ibu Bell setelah menganggukkan kepala.
“Tunggu sebentar” jawab Noah senang. Noah berjalan penuh semangat lalu membuka pintu ruang rawat Bell dan menemukan Ayah Bell sedang memperhatikan darah dagingnya yang terlelap.
“Bibi meminta Paman menemuinya di depan” suara Noah memecahkan lamunan Pria paruh baya tersebut.
“Kau bisa menjaganya sebentar? Jangan kaget kalau tiba-tiba Bell teriak. Traumanya masih belum sembuh”
“Ya” jawab Noah senang. Ayah Bell beranjak pergi kemudian Noah duduk di samping Bell terbaring tidur. Ia menatap sendu wajah cantik Bell. Baru saja Bell ditinggalkannya sebentar. Petra sudah melukainya sampai seperti ini.
Bell tiba-tiba terduduk nafasnya tersengal-sengal. Air matanya menitik.
“Haaaaaah!!” teriakan Bell mengejutkan Noah. Refleks Noah menangkup kedua pipi Bell memaksa Bell menatap dirinya.
“Bell, kau hanya bermimpi. Kau sudah bangun sekarang. Kau tidak akan kesakitan lagi” kata Noah bersungguh-sungguh. Bell menangis sejadi-jadinya sementara Noah membawanya ke dalam pelukannya.
Sebegitu kacaunyakah pikiranku? Sampai aku menganggap orang dihadapan ku ini Noah? Jelas-jelas Noah justru yang menyebabkanku seperti ini batin Bell tanpa daya.
“Apa ketakutan terbesar dalam dirimu saat ini?” Noah bertanya sambil melepaskan pelukannya.
“Noah”
“Kenapa Noah? Bukankah dia teman baikmu?”
“Kurasa sekarang dia lebih mirip monster bagiku Petra” ucapan tak berdaya Bell, menyakiti relung hati Noah. Meski bukan dia yang sebenarnya Bell arah, tetap saja nama baik Noah sudah tercoreng.
“Dia menyakitimu?” pertanyaan Noah diam-diam didengar kedua orang tua Bell dari balik pintu.
Maafkan aku Bell. Aku tidak akan menghalangi pendengaran Mom dan Dadmu tentang ini. Mereka harus tahu siapa yang harus mereka waspada. Demi kebaikan dan keselamatanmu.
__ADS_1
“Dia kasar. Dia berubah menjadi sangat kasar. Bahkan karena kecemburuannya terhadapmu, dia melajukan mobilnya sangat kencang. Sampai tidak menyadari ada truk melaju ke arah mobilnya” Bell kembali terisak mengenang kejadian menakutkan yang belum lama ini terjadi.
“Aku? Tapi kita teman. Apa aku tidak boleh berada di sekitarmu?”
“Dia bilang aku harus menjauhimu”
“Tidak masalah. Kalau hubungan kalian jadi meregang karenaku, aku bisa mengerti dan menjauh”
“Aku bilang tidak”
“tidak?”
“Mungkin hari ini kau yang ia targetkan untuk kujauhi. Bisa saja dilain hari, akan ada banyak orang yang dia anggap saingannya. Bagaimana aku bisa tahan dengan orang seperti itu”
“Ini akan sulit”
“Ya, tapi aku bisa sedikit berharap denganmu”
“Apa yang kau inginkan?”
“Bantu aku menghindar dari orang jahat itu"
“Kau serius? Bagaimana kalau dia justru datang ke rumahmu”
“Aku tidak ingin menemuinya”
“Mommu pasti mengizinkannya masuk ke kamarmu. Mengingat kedekatan kalian” perkataan Noah memohon hati Bell.
“Aku benci Noah yang ini. Kapan dia bisa kembali normal? Aku merindukan Noah yang lembut” rengek Bell sambil menangis.
Noah hanya mampu memeluk Bell, menepuk-nepuk punggung Bell hingga Gadis itu puas menangisi nasib buruknya.
“Kau tidak merasa ucapanmu tadi bisa menjadi bumerang bagi dirimu sendiri?” tanya Dewa Ker yang muncul menembus dinding menatap getir pemandangan yang sudah lama ia lihat.
Noah diam seribu bahasa. Apakah...Dewa Ker hanya memperlihatkan diri padanya atau pada Bell juga. Tapi Bell tidak bereaksi sama sekali terhadap suara Dewa Ker, dalam pelukan Noah. Maka Noah menatap Dewa Ker, menggelengkan kepala perlahan.
Terdengar suara pintu terbuka. Noah dan Bell melepaskan pelukan memperhatikan siapa yang masuk.
“Honey, kenapa kau tidak pernah menceritakan perlakuan buruk Noah padamu?!” pekik Ibu Bell. Kurang dari semenit pasti air mata sang Ibu menitik.
“Karena aku pikir dia akan sembuh dan bersikap seperti biasanya”
“Bell, sifat tidak bisa berubah semudah itu Nak, pasti Noah aslinya temperamental seperti sekarang. Dan yang biasanya kau lihat, hanya sebatas pencitraan”
“Mom, Noah tidak mungkin seperti itu. Dia bersikap buruk padaku hanya karena kecelakaan. Bahkan jika dia tidak menolongku, Noah tidak akan mengalami perubahan sifat seperti ini” tegas Bell membela Noah mati-matian.
“Kau masih mau membela Noah? Orang yang mencelakaimu sampai seperti ini?”
“Dia bukan Noah yang ku kenal selama ini”
“Mulai sekarang kau tidak boleh lagi bertemu dengan Noah. Di sekolah, maupun Dirumah” tegas Ibu Noah.
“Benarkah?” Bell malah terlihat senang bukannya bersedih.
“Petra” panggil Ibu Bell.
“Ya”
“Kau gantikan Noah menjaga Bell”
“...”Noah tertegun sejenak.
“Kau bersedia?” Ayah Bell mendekati Noah, menepuk bahu Noah.
“Ini hanya akan memancing permusuhan antara saya dengan Noah. Kenapa tidak dibicarakan dulu pada Petra dan kedua orang tuanya?”
“Petra?” ketiga orang di sana mengerutkan kening.
“Tapi kami sedang membicarakan Noah bukan kau, Petra” kata Ibu Bell melirik pada Ayah Bell.
“Ah, iya maksud saya...bicarakan dahulu dengan mereka”
“Kurasa tidak perlu. Orang tua Noah sudah tahu kelakuan Putra mereka akhir-akhir ini. Jadi pasti mereka akan memaklumi keputusan kami” sahut Ibu Bell mencoba menenangkan.
“Petra. Kalau kau merasa tidak nyaman, berada di sekitarnya karena tak ingin bermasalah dengan Noah, tolong jangan lakukan” tandas Bell, menggapai telapak tangan Noah lembut.
“Disini korbannya adalah kau Bell. Bukan aku. Kau tahu sendiri, saat aku berada di sekitarmu, maka Noah akan mengamuk. Dan justru kaulah yang terluka” jawab Noah lirih.
“Kau salah. Justru saat aku menjauh darimulah, dia akan memperlakukanku seenak hatinya”
“kalau saja aku tidak menemuinya, aku pasti sudah dirumah sekarang”
“Kau tidak akan menyesal? Karena tidak bertemu Noah dalam waktu lama? Tadi saja, sebelum kau pulang, kau mencarinya kan?”
__ADS_1
“dia nyaris membunuhku Petra, untuk apa aku mencarinya” senyum hambar Bell terlihat jelas.
“Baiklah, aku akan mengantar jemputmu mulai sekarang. Senang?” senyuman teduh Noah melembutkan tiap syaraf Bell, yang sempat menegang ketika membicarakan Petra.
Jantung Noah berdegup sangat cepat. Insting sesuatu yang tidak beres terjadi membuat hatinya tak karuan. Otaknya langsung tertuju pada si pembuat onar Petra.
“Maaf. Tampaknya sudah cukup lama saya berada di tempat ini” kata Noah dengan cepat.
“Kau ingin pulang sekarang?” tanya Ayah Bell.
“Iya. Saya melupakan sesuatu dan sedang ditunggu Mom”
“Ah, baiklah. Berhati-hatilah dijalan” balas Ayah Bell mengangguk-anggukkan kepala.
“Beristirahatlah dan cepat sembuh” kata Noah pada Bell menatap Gadis itu dengan mata berbinar. Noah keluar, mencari toilet, masuk ke dalam bilik toilet, lalu menghilang tanpa jejak.
Noah muncul di rumah tepatnya dikamar yang selama ini tak pernah lagi ia tempati karena telah dihuni Petra. Noah berlari kecil menuruni tangga menguping pertengkaran antara Ayahnya dengan Petra.
“Kau memikul dosa, dan kau bangga atas dosa itu?” geram Ayah Noah dibalas dengan kekehan mengejek dari Petra.
“Aku tidak melihat Putraku sekarang. Yang aku lihat Iblis” kata Ayah Noah menahan air mata. Petra justru menyeringai masa bodoh setelah menghapus darah dari sela bibirnya.
Selama aku menjadi Putranya tidak pernah sedikit pun mengecewakan bahkan melukai hatinya. Petra...kau harus membayar setiap tetes air matanya geram hati Noah.Kedua telapak tangan Noah mengepal kuat.
“Kau menangis? Untuk apa? Aku belum melakukan apa yang kau, takutkan Dad”
“Kalau kau masih menghargaiku sebagai Dadmu, kalau kau, masih menganggapku Dadmu, hilangkan pikiran jahat itu sekarang juga”
“Kenapa itu dianggap salah? Aku hanya melindungi hatiku agar tidak sakit hanya karena Bell” kini Petra justru menatap Ayah Noah dengan ekspresi linglung. Ia ikut menangis bahkan lebih keras dari Ayah Noah.
“Kalau perasaanmu terbalas, dengan sendirinya Bell akan datang padamu” Ibu Noah mencoba mendekati Petra dan menepuk-nepuk punggung Petra prihatin.
Apa kepalanya terbentur sesuatu? saat itu? Ada apa dengan Noah? Kenapa dia terlihat seperti orang kurang akal? Tidak...tidak. Ini pasti hanya karena Bell masih marah padanya. Hingga ia menjadi kacau seperti ini batin Ibu Noah syok melihat Petra yang di anggapnya Noah seperti ini.
“Kalian tidak melihat!!” Petra mengobrak abrik asbak, dan taplak meja hingga terjatuh di atas lantai. Ibu dan Ayah Noah semakin syok melihat perilaku tak biasa Noah lainnya.
“Bagaimana cara dia menatap Petra!! Itu tatapan seorang gadis, yang sedang jatuh cinta! Bahkan dia tidak pernah memandangku seperti itu! Meskipun aku sudah berusaha keras menjadi seperti Laki-laki yang ia inginkan!”
“Noah! Tenanglah!” bentak Ayah Noah menghampiri Petra lalu mengguncangkan tubuh Petra sekeras mungkin sampai isi kepala anak itu normal kembali.
“Kalian sungguh tak mengerti!!” teriak Petra, mendorong Ayah Noah sampai tersungkur di atas sofa.
Noah mengibaskan jarinya ke atas hingga Petra terpental ke atas, lalu jatuh berguling di atas lantai. Kedua orang tua Noah berlari menghampiri Petra. Laki-laki muda yang tengah tersungkur tersebut menyadari ada kekuatan lain di sekitar ruang tamu. Mata nyalang dan bengisnya menyorot setiap sisi ruang tamu.
“Apa yang kau cari?” Ibu Noa ikut mengedarkan pandangannya sesuai arah sudut pandang Petra. Satu detik kemudian Petra jatuh pingsan.
Noah kini muncul di kamar Petra. Ya, setelah sengaja memukul telak hingga Petra pingsan di rumahnya sendiri, kini Noah bersantai di rumah Petra, tepatnya...di atas tempat tidur Petra.
“Kurang satu lagi Petra, tunggu saatnya tiba. Aku akan mengambil kembali semua yang telah menjadi hakku sebagai Dewa, maupun sebagai Noah...” gumam Noah dengan senyuman bahagia.
Bagaimana tidak? Noah hanya dapat kembali ke kehidupan normalnya sebagai diri sendiri jika, kedua orang tua Noah berkata mereka tidak mengakui Petra sebagai Noah. Yah, awal yang baik. Hari ini Ayah Noah mengucap.
“Mom...,tinggal Mom yang belum mengucapkan hal tersebut. Cepatlah ucapkan pada Petra. Agar aku bisa kembali pada kalian. Aku sungguh merindukan kalian” gumam Noah menatap ke langit-langit kamarnya.
“Apa aku tak salah dengar?!” seseorang mengagetkan Noah. Ya, Allan adik Petra masuk ke dalam kamar Petra tanpa Noah ketahui. Padahal ia sudah mengetuk pintunya.
“Sedang apa kau disini?” cicit Noah berusaha menenangkan denyut jantungnya yang tak beraturan.
“Wow, seorang Petra, merindukan Dad? Terlebih lagi Mom? Kau selalu membuat banyak kejutan untukku ya,”
“Aku merasa jarang bertemu Dad. Wajarkan aku merindukannya?” kilah Noah.
“Untuk orang lain ya, sangat normal. Tapi sekali lagi, ini kau, seorang Petra. Bahkan kau anak yang paling membenci Mom terlebih lagi Dad. Lalu apa yang kudengar tadi? Kau...merindukan Dad?!”
“Pergilah jika kau tidak ada kepentingan di tempat ini”
“Kau merindukan apa dari Dad? Apa yang kau rindukan darinya? Kenapa aku jadi merinding. Sunggukah seperti yang aku pikirkan?”
“Jangan terlalu banyak berpikir. Nanti muncul keriput di wajahmu”
“Kau benar-banar merindukan pukulan Dad? Dengan tongkatnya?”
“pergilah atau ku lempar kau!” gertak Noah mengacungkan sebuah bantal pada Allan.
“Kau menggertakku dengan bantal? Kau anggap aku anak-anak?” geram Allan.
“Sebanyak apa pun usiamu bagiku kau tetap anak-anak” ejek Noah tak mau kalah.
“Kau!!” teriak Allan antara jengkel dan...entahlah. Allan berlari ke arah Noah. Ia melayangkan tinju tanpa bermaksud melukai Kakaknya. Noah membentengi diri dengan bantal setiap Allan melayangkan tinju ke arahnya.
“Pukulan bayi. Hanya itu yang bisa kau lakukan?!” ejek Noah.
“Rasakan pukulan pamungkasku!” pekik Allan mengarahkan ke lengan Noah. Ia tahu Noah hanya mengalah. Mereka roboh di atas tempat tidur, dan tertawa bersama.
__ADS_1
“Terima kasih”
“Entah kenapa akhir-akhir ini banyak orang yang berterima kasih padaku” decak Noah pura-pura jengkel.