Rainbow Of Destiny

Rainbow Of Destiny
Episode 34


__ADS_3

Ketika Noah dan Bell menginjak kelas satu Sekolah Tinggi. Bell berteriak ketakutan setelah bermimpi seram. Satu rumah akhirnya tidak bisa tidur karena Bell tak mau memejamkan mata lagi.


Saat itu, Ibu Bell menyerah menghubungi ponsel Noah larut malam, untuk menggantikan Ibu dan Ayah Bell ikut ronda malam bersama Bell. Tentu saja Noah tak keberatan. Ia datang, membawa sebuah gitar masuk ke ruang TV.


“Aku punya cara supaya kau tidak lagi ketakutan bermimpi buruk” bisik Noah, meminta Bell duduk di atas sofa panjang sementara Noah duduk di sofa lainnya.


Bahkan Noah memberi kode agar Bell merebahkan diri di atas sofa yang didudukinya.


“Noah...aku tidak yakin”


“Kalau kau mimpi buruk lagi, aku akan segera membangunkanmu. Janji” bisik Noah sambil memetik gitar perlahan.


Bell tersenyum kecil. Ia mengikuti perintah Noah dan laki-laki muda tersebut memainkan gitar dengan sangat lembut. Nadanya sungguh menenangkan jiwa Bell. Di sela iringan gitar, Noah pun menyanyi.


Ya, bayangan masa lalu menyenangkan dengan Noah kini terbayang di kepala Bell.


Deg


Lagu ini...bagaimana Petra bisa mengetahui lagu ciptaan Noah? Bahkan Noah sendiri tak mengenali lagunya sendiri waktu itu batin Bell.


Ia menatap penuh tanda tanya ke arah Noah yang sudah berdiri tepat di depannya, menyanyikan bait demi bait yang dahulu pernah menenangkan hati Bell, saat bersama Noah.


Bell dan Noah saling menatap dalam waktu cukup lama. Dua detik tak ada suara. Bell menatap bingung pada Noah. Di dua detik terakhir ia menyadari haruskah ia melanjutkan?


Melanjutkan setiap kata sarat akan makna, ketika Noah mendadak terdiam. Akhirnya, Bell melanjutkan lagu yang dinyanyikan Noah tanpa kesalahan. Padahal lagu itu tak pernah Bell dengar lagi namun melekat diluar kepala.


Noah tersenyum mengetahui Bell masih mengingatnya meski mengingat dirinya di masa lalu. Suara keduanya terus mengalun saling bersahutan, kemudian menyatu dalam tiap melodi menggetarkan jiwa tiap orang yang hadir di sana.


Tepukan tangan dari semua orang di sana bergaung ke seluruh ruang teater. Hari pertama masuk, Mr. Agneil memberi kelonggaran waktu. Membubarkan kelas sebelum waktunya berakhir.


Bell terdiam di ambang gerbang sekolah. Merasakan kekosongan demi kekosongan. Bell terbiasa selalu bersama Noah tapi Laki-laki yang dianggapnya Noah tak kunjung juga terlihat. Bell merasakan delima...ingin bersama Noah, tapi tiap bertemu dengan Noah yang ada dia seperti sedang menemui orang lain. Kalau tidak bertemu? Rindu mulai menyapa.


“Menunggu seseorang?” suara Noah mengejutkan Bell.


“Kau belum pulang? Petra?” tanya Bell ceria secara mendadak.


Bukankah yang aku rindukan Noah? Tapi kenapa aku merasa...rasa rindu ini tertuju pada Petra? Batin Bell merasa bingung pada hatinya sendiri.


“Kurasa Noah sudah pulang duluan. Kau mau disini sampai kapan?” tanya Noah, membuyarkan lamunan Bell.


“Haha. Aku hanya enggan pulang”


“Karena tidak ada Noah? Disini?”


“Justru aku malas pulang karena tak ingin melihat wajahnya” gerutu Bell makin marah pada hatinya yang sulit ditebak.


Sebentar malas melihat wajahnya sebentar kemudian, justru merindukan kebersamaan mereka. Kenapa hatinya memperumit keadaan. Kalau benci, benci saja. Kenapa harus merindu?


“Ayo aku antar kau pulang” ajak Noah berjalan mendahului Bell.


Iss, menawari pulang bersama, tapi dia jalan duluan. Menyebalkan Bell membatin tapi bibirnya mengembang. Bell tak ragu mengikuti laki-laki muda itu, dari belakang. Padahal dalam pikirannya, Bell mengenal Noah sebagai Petra. Aneh bukan? Berjalan dengan orang asing, tanpa curiga?


“Kau baru satu kali masuk rumahku. Sekarang bahkan kau berjalan begitu percaya diri di depanku. Masih ingat jalan menuju rumahku?”


“Ingatanku ini sangat kuat Nona,” kekeh Noah mencabut topi di atas kepalanya, dan memasangkannya di kepala Bell.


Gadis itu terdiam sejenak memandang wajah tampan Noah. Kemudian matanya tertuju pada benang emas di jemari Noah, yang berujung pada jemari Bell.


Apa perasaanku jadi tak menentu karena benang yang menghubungkanku dengan Petra ini? Pikir Bell sambil jalan beriringan dengan Noah.


“Akhir-akhir ini kau jarang tersenyum”


“Kita jarang bertemu bagaimana bisa kau menyimpulkan semudah itu” kekeh Bell bingung. Sementara Noah justru bergaya seolah sedang memotret Beli yang sedang tersenyum.


“Apa yang kau lakukan?”


“Mengabadikan senyumanmu,” jawab Noah sambil mengetuk-ngetuk keningnya.


“Konyol”


“Seburuk apa pun Noah saat ini memperlakukanmu, dia tidak berhak menghilangkan senyumanmu” Noah mengatakan hal ini dengan bersungguh-sungguh.


“Terima kasih”


“Aku hanya ingin mengingatkanmu atas hakmu untuk tetap tersenyum”


“Maaf” kali ini ucapan permintaan maaf dari Bell membuat Noah menghentikan langkah kakinya dan menghadap ke arah Bell.


“Untuk?” Noah mengangkat satu alisnya.


“Ini...permintaan maaf yang tulus. Aku bersumpah” Bell merasa diragukan.


“Kau tidak perlu bersumpah untuk kesalahanmu yang bahkan tidak aku ketahui” Noah menghela nafas bingung sambil kembali melangkahkan kaki.


“Petra”


“Petra dengarkan aku dulu,” Bell menahan langkah Noah dengan menggapai telapak tangan Noah.


“Aku serius. Maaf. Selama ini aku menganggapmu sebagai orang asing yang Play Boy, serakah, temperamen, dan apa pun itu,”


“Kau sedang meminta maaf atau memakiku Nona?”


“He he sudah kubilang maaf. Tapi baru saja aku mengatakan kenyataannya di masa lalu” kekeh Bell salah tingkah.


“Apa sekarang kita bisa berteman?”


“Aku tidak pernah memusuhimu, catat”

__ADS_1


“Tapi karena temperamen, Play Boy, dan bla bla...kau sempat berpikir menjauhiku”


“Teman” Bell mengulurkan tangan ke arah Noah untuk berjabat tangan.


“Teman” Noah membalas uluran tangan Bell dengan senang hati.


Ponsel Bell berbunyi membuat tautan tangan keduanya merenggang dan lepas dengan cepat. Bell membaca pesan di ponselnya. Wajah Bell yang tadinya cerah kembali suram.


“Sampai disini saja” kata Bell menatap Noah panik.


“Ada masalah?”


“Katanya Noah sedang menungguku di suatu tempat. Jadi...”


“Kita berpisah sampai disini” Noah memotong dengan senyuman paling manis. Meski hatinya sedang kecewa. Noah melambaikan tangan pada Bell lalu berjalan melewati Bell.


“Petra!!” teriak Bell lantang.


“Ya”


“Sampai jumpa besok!!” teriak Bell lagi melompat-lompat sambil melambai tinggi. Noah hanya tersenyum menatap Bell penuh arti lalu kembali melanjutkan perjalanan pulangnya.


Bell menghela nafas berjalan ke tempat yang disepakatinya dengan Petra. Bell berbelok ke jalan yang menikung dan mendapati mobil Noah di bawah pohon. Bell berjalan cepat menuju mobil tersebut, masuk ke dalam, lalu membanting pintunya keras-keras.


“Masih marah?” Petra menatap wajah cemberut Bell.


“Cepatlah aku lelah. Kita pulang sekarang” sahut Bell dingin.


“Kau bertemu dengan Petra” kata Petra sambil menyalakan kembali mobil Noah.


“Bukan urusanmu”


“Kau tahu aku tidak suka kau berada di sekitarnya” geram Petra.


“Apa kau melihatku jalan bersamanya?”


“Tidak”


“Kalau begitu kenapa kau bisa menebakku sedang bersamanya?”


“Karena ini” tandas Petra, mengenali topinya sendiri sedang bertengger di kepala Bell. Petra mengambil topi itu, dan melemparnya ke jok belakang.


“Noah! Tidak sopan membuang topi orang lain. Petra hanya meminjamiku topi dan besok, aku akan mengembalikannya. Puas?!” raung Bell marah sampai ke ubun-ubun.


“Berikan padaku” Petra merebut topinya dari Bell. Tapi Bell mempertahankan diri untuk tetap membawa topi Petra.


“Kalau Cuma ingin mengembalikan benda itu pada Petra kau, tidak perlu menemuinya. Aku saja yang memberikan ini padanya”


“Harus aku yang mengembalikannya”


“Kenapa? Kau masih ingin menemui bedebah itu?!”


“Keluar dari sana” tandas Petra, membiarkan Bell tetap membawa topi miliknya. Bahkan sekarang Bell memasukkan topi tersebut ke dalam tasnya seolah benda itu adalah benda berharga.


Melihat tingkah Bell, Petra segera mengemudikan mobilnya menuju rumah Bell.


“Tidak. Itu kegiatan paling menyenangkan dalam hidupku. Bagaimana aku melepaskannya hanya karena sifat egoismu Noah,” cibir Bell memeluk tasnya.


Laki-laki yang seumur hidupnya tidak pernah dibantah oleh siapa pun itu, melajukan mobil dengan menambah kecepatan sampai diluar batas normal.


“Noah!!” teriak Bell ketakutan. Ia tak pernah melihat tingkah kesetanan Noah nya.


“Berjanjilah Jangan pernah dekati Petra”


“Tidak mungkin” keluh Bell. Mereka belajar di teater yang sama. Pasti suatu saat nanti Bell akan tetap beradu akting dengan Noah. Mendengar ucapan Bell, Petra justru semakin tancap gas.


Tak di sangka ada truk bermuatan bensin melaju ke arah mereka. Petra segera banting setir ke kiri menghindari truk tersebut. Mobil mereka berdecit cukup nyaring dan berhenti dengan selamat. Tapi kening Bell, sempat terantuk kaca.


“Bell!!” pekik Petra melihat Bell terdiam, kepalanya bersandar di kaca mobil. Petra meraih kepala Bell, berusaha menyadarkan Gadis tersebut dengan menyentuh kedua pipi Bell tapi pipi Bell yang menghadap ke arah kaca, terasa basah.


Petra dapat merasakan basah dan lengket di jemari tangannya. Ia melepaskan telapak tangannya di area pipi Bell yang basah. Matanya terbelalak lebar melihat darah memenuhi telapak tangan kanannya. Tanpa menunggu lama Petra segera mengemudikan mobil menuju rumah sakit terdekat.


Petra duduk tak tenang menanti Dokter yang menangani Bell keluar dari ruang operasi. Terdengar suara langkah kaki beberapa orang menuju ke arahnya.


“Bagaimana Bell?” tanya Ibu Bell sangat cemas.


“Sudah dua jam dia di dalam sana” jawab Petra lesu.


“Kau baik-baik saja?” tanya Ibu Noah memperhatikan setiap bagian tubuh Petra.


“Hanya memar” balas Petra berusaha menghindar dari Ibu Noah.


“Keluarga Aislin Belle Wilunark” panggil Dokter yang keluar dari ruang operasi.


“Kami orang tuanya” sambut Ayah Bell menepuk-nepuk punggung Istrinya untuk menenangkan.


“Operasi berjalan lancar” kata Dokter dengan senyuman meneduhkan hati.


Tak lama kemudian Bell dibawa keluar menuju ruang rawat inapnya. Memastikan tidak ada efek samping dari benturan di kepalanya. Mereka berjalan mengekori para Suster membawa Bell menuju ruang rawat inap. Begitu sampai di tujuan, para suster pamit meninggalkan mereka setelah memastikan semua sudah beres.


Ayah Noah menutup pintu lalu meminta Petra duduk di atas sofa hijau.


“Bisa jelaskan kenapa ini bisa terjadi?” tanya Ayah Noah dengan nada tegas.


“Hey, kau bisa menanyakan setelah Noah tenang” Ibu Bell mengingatkan.


“Tidak bisa. Saya Dadnya yang mengawasi dia sejak kecelakaan pertamanya terjadi. Dari situ saja perangai anak ini berubah drastis”

__ADS_1


“Honey, jangan dibahas disini. Bell belum sadarkan diri jangan sampai kondisinya memburuk setelah keributan ini” Ibu Noah mencoba menengahi.


“Sebaiknya kalian bawa Noah pulang. Kondisinya terlihat tidak baik. Birkan dia beristirahat” Ayah Bell menimpali.


Petra langsung keluar dari dalam mobil Ayah Noah setelah mobil itu berhenti di halaman rumah Noah. Ibu Noah ikut turun mengikuti anak itu.


“Pastikan dia tidak langsung ke kamar! Masih ada urusan yang belum selesai!” teriak Ayah Noah setelah membuka kaca mobilnya. Ini Noah melambaikan tangan tanpa menatap Suaminya.


Petra melangkah memasuki rumah, menuju ruang tamu.


“Patuhi perintah Dadmu Nak,” tegas sang Ibu mengetahui Petra akan berbelok ke arah anak tangga yang menjadi penghubung menuju kamar Noah.


“Mom...,kita bicarakan saja besok” kata Petra malas-malas.


“Seharusnya kehilangan ingatan tidak mengubah seseorang menjadi kurang ajar pada Orang Tuanya” tegas Ayah Noah sesampainya di ruang tamu.


“Noah! Duduk!” tegas Ayah Noah. Terpaksa Petra menuruti perintah Ayah Noah.


“Apa yang terjadi dengan kalian?” tanya Ayah Noah ikut duduk dihadapan Petra.


“Ada truk menghadang mobil jadi aku banting setir”


“Kau tidak melihat truk sebesar itu? Kenapa bisa terlambat menyadari ada truk?” cecer Ayah Noah.


“Kami sedang...bertengkar” Akhirnya Petra tidak bisa menyembunyikan fakta.


“Dilihat dari perangaimu akhir-akhir ini, sikapmu kasar pada semua orang” geram Ayah Noah menatap tajam.


“Kami hanya beradu argumen Dad...,” Petra tak mau kalah melayangkan tatapan mengintimidasi.


“Jadi penyebab kecelakaan karena kau, tidak bisa menahan emosi? Begitu”


“Dia yang duluan”


“Pasti kau yang menyulut pertengkaran diantara kalian berdua”


“Aku anakmu bukan dia!”


“Kondisimu sekarang ini memang tidak layak untuk dipercaya”


“Bell menemui Petra secara diam-diam di belakangku. Apa aku harus diam saja?”


“Kau takut Petra mengambil Bell darimu?”


“Ya!!”


“Kau tidak berpikir itu salah?”


“Dimana letak kesalahannya?”


“Kau menganggap Bell seperti barang milikmu”


“Dia memang milikku”


“apa Bell mengatakan itu? Di depanmu? Langsung”


“Tidak”


“Lalu? Kenapa kau bisa berpikiran demikian?”


“Dia selalu bersamaku selama ini”


“hal itu tidak menguatkan pendapatmu tersebut”


“Aku tidak ingin Bell berada didekat Petra”


“Kenapa?”


“aku tidak suka Dad!”


“Iya, kenapa tidak suka?”


“....” Petra terdiam tak ingin isi hatinya terungkap.


“Kau tertarik pada Bell? Jatuh...cinta?”


“Kurasa ini cukup” Petra berdiri ingin menghindar ke dalam kamar Noah.


“Pria sejati mendapatkan hati Gadis yang ia sukai dengan cara suka sama suka. Bukan dengan merebut atau memaksakan hatimu padanya” Ayah Noah menahan langkah Petra menekan bahu Petra hingga anak itu terduduk lagi di atas sofa.


“Bagaimanapun caranya aku harus mendapatkannya”


“Meski dengan cara kotor seperti tadi?Tanpa berpikir akan ada orang lain yang ikut terluka?”


“Ya”


“Meski itu juga akan melukai Bell? Kau bilang mencintainya”


“Tentu. Kalau dia menolakku, akan kulakukan dengan senang hati” jawab Petra, tersenyum jahat di depan kedua orang tua Noah.


Bugh!!


Pukulan mendarat di pipi Petra. Sebuah pukulan yang tidak pernah dilayangkan Ayah Noah kepada Noah anak kandungnya. Seharusnya dia tidak merasa menyesal ataupun bersalah pada Petra. Karena pada kenyataannya adalah, Petra sedang menyamar menjadi Putranya.


Sayang sekali mereka tidak mengetahui kenyataan pahit ini.


“Kau memikul dosa, dan kau bangga atas dosa itu?” geram Ayah Noah dibalas dengan kekehan mengejek dari Petra.

__ADS_1


“Aku tidak melihat Putraku sekarang. Yang aku lihat Iblis” kata Ayah Noah menahan air mata. Petra justru menyeringai masa bodoh setelah menghapus darah dari sela bibirnya.


__ADS_2