Raluna

Raluna
Aku yang Sekarang


__ADS_3

Aluna berjalan dengan bahagia setelah tadi ia berhasil membuat penjualan produk dari perusahaan tempat nya bekerja naik menjadi 15 persen dari bulan kemarin, butuh perjuangan yang panjang untuk nya mampu menembus angka itu.


"Inilah dia kita sama ALUNA.. ayo beri tepuk tangan"ucap pak karyo teman satu tim Aluna,


seketika ruangan itu penuh dengan tepuk tangan dari orang-orang yang ada di ruangan ini.


"Udah.. udah, ini semua kan berkat kerja keras kita semua, bukan cuman aku aja" ucap Aluna berusaha untuk tidak menyombong kan diri nya meskipun di dalam hati nya ia bangga pada dirinya sendiri.


Meskipun ia hanya lulusan SMA tapi ia mampu membuktikan pada orang-orang yang dulu sempat meragukan kemampuan bahkan mengejek dirinya bahwa dia memiliki kemampuan untuk mempengaruhi orang lain membeli produk-produk yang ia pasar kan.


"Pokok nya Aluna mah udah the best banget aku yakin kali ini kamu bakalan dapet promosi untuk naik jabatan" sahut mba asa dengan penuh keyakinan.


"Belum tentu juga mba" kata ku, ya bukan hanya belum tentu, bahkan presentase nya hanya 0,01 persen, alasan yang diberikan atasan ku selalu sama aku tak punya titel di belakang nama ku yang membuat ku tak bisa naik jabatan meskipun aku memiliki kemampuan itu.


Bohong jika aku tidak kecewa, kerja keras ku, yang harus nya aku berada di posisi ketua tim haru, harus ikhlas bahwa orang lain yang menempati itu.


Tapi aku tak bisa melawan, dapat kerja disini saja dengan ijazah SMA ku, aku sudah sangat bersyukur, kalau saja aku tak bertemu dengan laki-laki itu tentunya aku masih berada di warung makan melayani pengunjung, dan membersihkan piring-piring kotor dengan gaji yang tak seberapa.


Sejenak aku ingat bagaimana aku bisa mendapat kan pererjaan disini.


Flashback


Saat itu Aluna sedang berjalan pulang dari membeli obat papa nya beserta keperluan papa nya yang lain, gaji yang hari ini Aluna dapat hanya tinggal 3 lembar berwarna merah, Aluna harus memutar otak nya agar bisa menyambung hidup sampai satu bulan kedepan.


Padahal sekarang Aluna sudah lulus SMA dia pun mendapat gaji full dari tempat kerja nya di tambah uang olshop online namun tetap saja tak bisa menutupi, sebab obat papa nya sudah bertambah banyak, karena iritasi pada kulit pantat nya yang lembab akibat pampers yang terlalu lama tidak diganti.


Aluna ingin sekali memperkerjakan seseorang untuk menjaga papa nya tapi apa daya ia tak punya dana untuk itu, jadi lah ia harus bolak-balik dari tempat kerja nya kerumah, itu pun ia hanya bisa pulang ketika jam istirahat makan siang, karena terlalu lama tidak diganti timbul lah penyakit baru di tubuh papa nya.


Lelah rasanya tubuh dan pikiran Aluna ia pun duduk sembarang di pinggir jalan, padahal jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, ia harus mengembalikan mood nya agar ketika sampai di rumah ia mampu memberikan senyuman lebar pada papa nya.


"Tologgg... tolongg.." teriakan itu terdengar di telinga Aluna.


"Kayak ada yang minta tolong.. dimana ya asal nya" Aluna melangkah mencari asal suara yang tadi meminta pertolongan.


Mata Aluna terbelalak saat melihat sedikit lagi mata pisau itu akan menancap dada laki-laki di depannya.


"Tungguu...." Teriak Aluna spontan


penjahat itu langsung menatap ke arah Aluna, Aluna tak mampu mencireni wajah penjahat itu karena penjahat itu hanya memperlihat kan mata nya yang seram.

__ADS_1


"Pergi dari sini.. kalau kamu pergi sekarang saya akan membiarkan kamu lolos" ucap Aluna dengan tangan yang sudah mulai bergetar ketakutan.


Langkah kaki penjahat itu perlahan mendekat menuju Aluna , Aluna berjalan mundur untuk memperlebar jarak diantara mereka.


"Jangan mendekat.. kamu tau saya pemegang sabuk hitam di taekwondo" kelakar Aluna, boro-boro sabuk hitam, cara memasang kuda-kuda yang benar saja Aluna tidak tahu


Penjahat itu tak mengindah kan perkataan Aluna ia semakin mendekat, menargetkan pisau ke arah dada Aluna.


"Aaaaaaa...." Aluna berteriak ketakutan saat penjahat itu mengayunkan tangan nya, ia tak tahu apa yang terjadi mata nya terpejam ketakutan.


"Kenapa aku tidak merasakan sakit" pikir Aluna, perlahan ia membuka mata nya, ia melihat penjahat itu sudah terkapar pingsan di tanah serta seorang laki-laki yang tadi ditolong oleh Aluna memegang balok kayu.


Aluna langsung terduduk lemas, bagaimana jadi nya jika dia tadi benar-benar tertusuk pisau, siapa yang akan menjaga papa nya jika dia tak ada.


"Dek terimakasih sudah menolong saya" ucap laki-laki dihadapan nya.


Aluna menganggukkan kepala nya belum mempunyai tenaga untuk berbicara.


"Dimana rumah mu ayo saya antar pulang" tawar lelaki itu.


setelah menarik nafas dalam-dalam Aluna menjawab "gak usah om rumah saya masuk gang mobil om gak muat kalau kesana" tolak Aluna.


"gak usah om saya ikhlas tolongin om nya.." jawab Aluna dengan menggeser tangan lelaki itu.


"Jangan begitu saya tak enak hati kalau kamu menolak nya" sahut lelaki itu masih memaksa


"Atau begini saja kamu butuh apa siapa tau saya bisa bantu" lanjut nya.


"Emm.." Aluna agak ragu berbicara.


"Ahh tidak om saya tidak butuh apa-apa"


"Ayo lah tak usah sungkan.." paksa nya lagi.


"Enggk om.. maaf om sudah malam saya permisi dulu.. papa saya sudah menunggu dirumah" kata Aluna sambil membereskan belanjaan nya yang terjatuh.


"Kalau begitu boleh om tau siapa nama mu" sambil membantu Aluna memberes kan barang-barang nya.


"Aluna om" jawab Aluna singkat.

__ADS_1


"Kamu sudah lulus sekolah" tanya nya lagi.


"Sudah om baru sebulan sih lulus nya" jawab Aluna.


"Mau lanjut kuliah" tanya nya lagi.


"Enggk om saya langsung kerja aja" ucap Aluna, yang sebenar nya sudah gelisah karena terlalu lama meninggal kan papa nya, tetapi tak sopan rasanya bila ia langsung pergi saat laki-laki ini masih berbicara dengan nya.


"Sudah kerja sekarang" lanjut nya lagi.


"Sudah om Alhamdulillah" kata Aluna sambil sesekali melihat jam tangan nya.


"Kalau om boleh tau kerja dimana"


"Rumah makan om" jawab Aluna pelan.


"Mau bekerja di tempat om" tawar nya, yang membuat wajah ku menegang pikiran buruk itu berputar di kepalanya, ia takut om di depan nya ini memberikan pekerjaan yang tak halal seperti jual diri minsal nya.


.


"Kenapa muka nya takut begitu, saya bukan orang jahat, mana mungkin saya mencelakakan orang yang sudah menolong saya" rupanya ekspresi Aluna terbaca oleh laki-laki itu.


"Maaf om" jawab Aluna tak enak.


"Datang lah kesini, itu perusahaan cabang saya yang ada di kota, besok sekitar pukuk 9 saya ada di kantor kamu tinggal datang kesana saya akan berikan pekerjaan untuk mu" sambil menyodor kan kartu nama pada Aluna.


Lama tangan itu menggantung, belum ada respon dari Aluna apa kah akan mengambil kartu itu.


"Tolong jangan tolak saya kali ini" ucap lelaki itu dengan memasang wajah memelas.


Perlahan tangan Aluna mengambil kartu nama dari tangan lelaki itu.


"Terimakasih om" jawab Aluna.


"Saya tunggu kehadiran kamu besok.. kalau begitu saya permisi ya.." kata nya berlalu pergi dari hadapan Aluna.


flashback off


Berawal dari kejadian itu lah Aluna sekarang sudah mendapat kan pekerjaan yang lebih layak dan dengan gaji yang sudah cukup untuk menghidupi ia dan papa nya, bahkan sesekali Aluna membawa papa nya ke dokter untuk terapi agar papa nya bisa berjalan.

__ADS_1


Meskipun tak sesuai jadwal yang dokter berikan, hanya 1 kali dalam satu bulan Aluna membawa papa nya padahal dokter menyaran kan untuk minimal 1 minggu sekali apalah daya Aluna masih belum mampu untuk itu.


__ADS_2