Raluna

Raluna
Bunglon


__ADS_3

Raka termenung di dalam kamar nya, ingatan nya kembali saat Aluna mengusir nya dari rumah Aluna, kenapa sampai sebegitu prustasi nya Aluna, apa yang salah dari nya, dia hanya datang berkunjung.


"Raka... Ya Allah ternyata bener ini kamu,, mimpi apa mama sampai kamu nginep dirumah ini" ucap bunda Raka tanpa permisi masuk ke dalam kamar.


"bunda.. kenapa masuk kamar Raka gak ketuk dulu sih" ujar Raka kesal, bunda nya selalu seperti ini, mangkanya password apartemen nya langsung Raka ganti setelah bunda nya tahu password nya.


"Ya Allah durhaka kamu sama bunda Raka.. pulang kok gak ngomong-ngomong tau kamu pulang bunda masakin makanan kesukaan kamu" oceh bunda Raka, berjalan mendekati Raka yang kini menyandarkan tubuh nya di kepala ranjang.


cup, sebenar nya Raka paling tidak suka dengan sikap bunda nya yang masih saja mengecup kening nya saat ia pulang kerumah.


"sudah makan belum.. ayo makan dulu" tanya bunda kembali mengusap kepala ku seperti anak kecil.


"sudah bun.. nanti kalau Raka laper lagi Raka turun ke bawah" jawab Raka cepat.


"Bunda Raka pengen istirahat" usir Raka halus terusik dengan kehadiran bunda nya.


"ck kamu ini udah jarang pelang sekali nya pulang bunda gak boleh lama-lama disini.. awas jadi anak durhaka" kesal bunda Raka.


"hehehe.. bunda gak boleh marah-marah nanti cepat tua"


"enak aja kamu nyumpahin bunda.. yasudah sana lanjut tidur" bunda kembali mengecup kening Raka sebelum keluar dari kamar.


****


Disini lah Raka menunggu Aluna keluar dari gang Rumah nya, Raka tak berani lagi menjemput Aluna langsung ke kontrakan nya.


dari semalam Aluna tak membalas pesan dari Raka, jadilah ia sengaja pagi-pagi buta sudah nongkrong di sini.


"jam berapa dia berangkat ke kantor" ucap Raka sendiri.


"Aku sungguh lapar sekarang,," keluh Raka, ia yakin jika hari ini pulang lagi kerumah bunda nya akan murka karena berangkat kerja tanpa pamitan serta sarapan, padahal Raka yakin bunda nya telah memasak makanan kesukaan Raka.


"maaf kan Raka bunda, Raka sedang berjuang untuk membawa calon menantu bunda" bisik Raka dalam hati


setelah sekian lama Akhir nya yang ditunggu Raka datang juga, dengan cepat Raka turun dari mobil "haaiii" sapa Raka canggung.


"ehh ada Raka udah lama nunggu disini" Aluna berucap dengan santai seolah-olah tak terjadi apa pun kemarin.


"emm ya sedikit" ucap Raka kaku.

__ADS_1


"yaudah yukk nanti kita telat" Aluna menuju pintu penumpang, sebelum tangan nya memegang handle pintu Raka sudah lebih dulu mengambil alih tugas itu.


"terima kasih" ucap Aluna dengan senyuman cerah.


Aneh pikir Raka, ia sungguh tak mengerti dengan sifat Aluna dipikir Raka Aluna akan menolak atau kabur dari nya hari ini, tapi lihat lah dia tersenyum cerah seperti tak terjadi apapun.


"suuttt Raka.. Ayo jalan" ucap Aluna menyadarkan Raka dari Lamunan nya.


****


"Ka... ini bukan jalan kantor" ujar Aluna memecah keheningan.


"Aku lapar.. kita mampir makan dulu" jawab Raka masih dengan fokus pada jalanan.


"oh.. okey"


"lo ini kan jalanan ke apartemen Raka" pikir Aluna heran.


"ka kenapa makan nya gak di deket kantor aja, kalau di daerah ini malah jauh banget nanti ke kantor nya" protes Aluna, namun Raka hanya diam tak menjawab perkataan Aluna.


mobil berhenti di parkiran apartemen Raka, ia langsung keluar dan membukakan pintu untuk Aluna.


ekspresi Aluna yang terbaca oleh Raka, membuat nya tersenyum tipis "pengen makan masakan kamu" jawab Raka santai dan berjalan mendahului Aluna.


"Raka tunggu aku gak bisa masak" ucap Aluna sambil berlari mengejar Raka.


Raka hanya mengangkat tangan tak mau mendengar protes dari Aluna.


Setelah sampai di pintu apartemen Raka berhenti tanpa membuka pintu nya "Kenapa belum dibuka pintu nya" tanya Aluna lagi.


"1204" ucap Raka ambigu.


"apa nya, nomor to*gell"


pletak, Raka menyentil kening Aluna "awww Raka ihh sakit tau gak" keluh Aluna sambil memegang kening nya yang terasa panas.


"salah siapa ngomong nya ngaur, kamu pikir aku suka masang to*gel apa" balas Raka tak merasa bersalah sedikit pun.


"itu kode apartemen ini, cepat kamu yang buka" sambung Raka lagi.

__ADS_1


"kenapa harus aku yang buka, kenapa gak kamu aja" rupanya Aluna masih merasa kesal karena kening nya disentil.


sadar bahwa iya bersalah akhirnya Raka membuka pintu nya sendiri agar tak berdebat lagi dengan Aluna.


"duduk dulu disana"


"gak usah aku langsung masak aja.. kalau masakan ku gak enak jangan protes.. harus habis sampai gak habis awas aja ya" ancam Aluna sambil melangkah menuju dapur.


"aneh kemarin nangis, tadi pagi ceria, sekarang galak,,, ckckck cepat sekali dia merubah mood nya" Raka berkata sendirian sambil memandang Aluna yang berjalan menuju dapur.


sedang asik mengeluarkan sayuran dari dalam kulkas, Aluna dikejutkan dengan


botol yang menyentuh pipi nya.


"apa.." tanya Aluna pada Raka dengan ketus.


Raka langsung berjongkok mengikuti Aluna, sedetik kemudian kening Aluna terasa dingin, Raka mengolesi kening Aluna dengan salep sambil meniup nya pelan.


"sakit ya... maaf ya.. tadi aku repleks" astaga bagaimana mungkin Aluna bisa marah lebih lama, jika Raka memperlakukan nya semanis ini.


"iyaa.. gak papa" Aluna berkata dengan gugup, bagaimana tidak jarak mereka begitu dekat apalagi hembusan nafas Raka yang menyentuh kening nya menimbulkan Rasa panas di pipi.


"Raka udah.. Aku mau masak" Aluna berucap sambil mendorong pelan tubuh Raka agar menjauh dari nya.


"yaudah.. apa yang bisa aku bantu"


"gakk" tolak Aluna cepat.


"kamu duduk di sofa sana aja atau dikamar terserah jangan ganggu aku masak" lihat lah Aluna kembali pada mode galak nya.


"okeyy.. aku pergi.. jangan lama-lama buat yang simple saja aku sudah lapar" ucap Raka sebelum pergi meninggal kan Aluna sendiri di dapur.


"dasar cerewet" ujar Aluna dengan mengerucutkan bibir nya.


"baiklah aku akan buat nasi goreng, untung saja ada nasi di rice coker, okey ayo kita bereksperimen Aluna, perlihatkan kemampuan memasak mu pada Raka" ucap Aluna dengan percaya diri.


padahal semua orang tau Aluna tak pandai memasak, kalau hanya goreng tempe tahu saja mungkin itu mudah bagi nya, tapi untuk memasak yang lain hanya Tuhan yang tahu bagaimana rasa makanan nya tadi.


"Tapi toh ini bukan salah nya, dia tadi sudah mengatakan dengan jelas pada Raka, dia tidak bisa memasak dasar nya saja orang itu keras kepala rasakan sendiri masakan ku nanti hahahaha" tawa jahat Aluna dalam hati

__ADS_1


__ADS_2