
..."Jangan lupa tinggalkan Like dan Komen nya ya!!!!! terima kasih"βΊοΈβΊοΈπππππ...
...******...
Karena itu Agung memindahkan sekolah Dira agar tidak ada lagi teman-temannya yang memanggilnya dengan sebutan Dira,,
Flashback off
"Dari sanalah Aluna tidak mengingat lagi kenangan masa sebelum ingatannya di cuci," ucap Ayunda menyudahi cerita kelam yang dulu membuatnya seperti kehilangan semangat untuk hidup.
"Pantas saja Aluna tidak tahu Dira itu siapa.." ucap Raka yang berkata pada dirinya sendiri.
"Raka tante minta tolong anter tante sekarang menemui Aluna dan papanya bisa?"
"Tente sebenarnya Aluna ada disini,, emmm dia," Raka bingung harus mengatakan apa dia tidak mampu mencari alasan.
"Ohh iya jeng Aluna ada disini dia lagi istirahat di atas, iya kan Raka" Diana langsung mengambil alih situasi bisa gawat bila calon besannya ini tau anaknya diculik untuk yang kedua kalinya oleh calon menantunya sendiri, bisa-bisa Raka di blaclist dari calon mantu idamannya Ayunda.
"Benarkan ohh syukurlah,," Ayunda memegang dadanya merasa lega dengan keadaan yang seperti berpihak padanya.
"Ayo Raka panggilkan Aluna, bawa dia kemari,," Diana mendekati anaknya.
"Cepat bawa Aluna kemari kamu tidak ingin kan tidak mendapatkan restu dari Ibunya Aluna" bisik Diana ditelinga Raka agar tak bisa terdengar oleh Ayunda.
"Hehehe.." Diana tertawa dengan terpaksa melihat Ayunda yang menatapnya dan Raka seperti curiga.
"Oh benar aku sampai lupa menawarimu minuman" Mulut Diana berbicara pada Ayunda sedangkam tangannya mendorong tubuh Raka kedalam.
"Cepat Raka," Bisik Diana lagi.
"Tidak perlu repot-repot mm siapa saya harus memanggil Nyonya," ucap Ayunda tak enak jika ingin memanggil Diana dengan nama atau jeng tanpa izin dari pemiliknya.
"Panggil saja saya Diana atau jeng tapi jangan Nyonya sebentar lagi kan kita akan menjadi keluarga,"
"Bik... tolong buatkan minuman dan bawakan juga makanan ringan untuk tamuku," Teriak Diana dari ruang tamu.
__ADS_1
"Tidak perlu repot-repot mm Diana," Rasanya lidah Ayunda masih kelu memanggil Diana dengan nama langsung secara drajat mereka sangat jauh berbeda.
"Ahh tidak papa aku tidak repot mereka yang repot.. hehehe,"
Rupanya calon mertua Aluna ini memiliki selera humor yang tinggi, syukurlah aku yakin Aluna akan hidup bahagia disini, melihat Diana yang hangat dan juga Hanung yang sampai rela turun tangan langsung untuk mengancam sisil agar tidak berbuat yang tidak-tidak lagi pada Aluna membuat Ayunda yakin keluarga ini sangat tepat untuk anaknya.
****
Kreek pintu kamar Raka kembali terbuka, Aluna yang sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur langsung kaget dan mengambil posisi duduk.
"Lo kenapa kembali," tanya Aluna heran, karena tadi Raka berpamitan ingin kesuatu tempat untuk mengurus masalah, tapi kenapa baru beberapa menit ia sudah kembali lagi kemari.
"Kau tidak suka aku datang lagi,"
"Bukan begitu, aku hanya heran tadi kan kamu sudah berpamitan, oh apa ada yang tertinggal," ucap Aluna yang tidak ingin memancing kemarahan Raka.
Raka menggelengkan kepalanya ia bingung bagaimana harus mengatakannya lada Aluna, Raka tau seberapa besar kecewa Aluna pada mamanya, hari itu Raka masih ingat Aluna bercerita dengan derai air mata mengatakan bahwa ia sangat membenci mamanya.
"Raka hello.. kamu masih mabuk ya," Aluna menaruh tangan nya dikening Raka mengecek apakah Raka masih sehat atau sakit, karena dia bukannya menjawab pertanyaan Aluna malah bengong entah memikirkan apa.
"Aku sedang tidak mabuk,"
"Kau emmm ayo kita keluar," ucap Raka dengan pelan.
"Benarkah.. Raka aku tau kamu orangnya baik tidak seperti tadi,,, mmm yang menyeramkan" Aluna sudah berjingkrak bahagia mendengar ia akan keluar dari kamar Raka tanpa tahu maksud Raka keluar hanya keruang tamunya bukan benar-benar keluar dari rumahnya.
Raka ambil sebelah tangan Aluna menggenggamnya erat menyalurkan kekuatan pada gadis yang sangat ia cintai ini.
"Ayo..," Raka menarik tangan Aluna berjalan keluar mengikutinya dari belakang.
"Aluna dengar," ucap Raka membuat Aluna memberhentikan langkahnya hingga menubruk dada bidang Raka.
"Raka kalau mau berhenti bilang-bilang dulu," sahut Aluna memegang keningnya, dada Raka begitu keras hingga membuat kening Aluna terasa sakit saat berbenturan dengannya.
"Aluna, tatap mataku,, apapun yang terjadi nanti,, aku akan ada untukmu aku tidak akan melepaskan tangan ini,,, kamu bisa menyandarkan semua yang kamu rasakan pada bahuku hmm.."
__ADS_1
"Raka ada apa sebenarnya.. papaku.. papku tidak apa-apa kan Raka," Mata Aluna sudah berkaca-kaca Aluna mengira papanya kembali ngedrop.
"Tidak bukan papamu jangan khawatirkan keadaan papamu dia sehat dan aman,, ini masalah lain kau harus berjanji apapun yang kamu rasakan kamu harus cerita padaku.. jika ingin menangis bahu ini lah tempatmu menangis.. ayo Aluna berjanji padaku,"
Heran dengan sikap Raka,, akhirnya Aluna mengangguk juga meski tidak mengerti apa yang sebenarnya Raka maksud.
Raka kembali menggenggam tangan Aluna dan membawanya keruang tamu dimana Ayunda memang sudah menunggu kedatangannya.
"Aluna.." Lirih Ayunda melihat wajah putrinya tepad didepan matanya.. mata Ayunda berkaca-kaca Aluna sudah dewasa sekarang wajahnya bertambah cantik meski tanpa polesan.
Dada Aluna membuncah, iya ingin pergi dari tempat ini jika saja tangan nya tidak digenggam dengan erat oleh Raka.
Ayunda berdiri dan perlahan mendekat kearah Aluna yang telah memalingkan wajah tidak ingin melihat orang yang ada didepannya.
Tangan Ayunda terulur ingin menyentuh wajah yang beberapa tahun ini sangat ia rindukan, sungguh sejak kepergiannya dari rumah tidak ada satu haripun tanpa penyesalan di hidup Ayunda.
Namun belum sempat tangan itu menyentuh wajah Aluna, dengan kasar Aluna menepis tangan Ayunda, ia menatap Ayunda dengan tatapan marah dan benci.
"Aluna.." ucap Ayunda pelan, kecewa mendapatkan perlakuan kasar sari anaknya, tapi ini memang salahnya dia yang lebih dulu meninggalkan Aluna tanpa perasaan.
"Jangan berani-berani menyentuh tubuhku," ucap Aluna tegas penuh dengan nada kebencian.
Diana yang tak tahu menahu persoalan keluarga Aluna terkesiap mendengar Aluna berbicara kasar dengan Ibunya sendiri.
"Aluna.."
"Raka lepaskan tanganku aku benci melihatnya ada di hadapanku.. lepaskan aku Raka," Aluna memberontak berusaha melepaskan genggaman tangan Raka darinya.
"Tidak Aluna kau sudah berjanji padaku," sahut Raka yang malah mempererat genggaman tangannya.
"Tapi kau tidak bilang penyebabnya orang ini, breng*ek," Nafas Aluna naik turun dengan cepat, menandakan amarahnya begitu tinggi saat ini.
"Hiksss.. hiksss Aluna maafkan Mama Aluna mama mohon," Ayunda kembali berusaha memegang tangan Aluna.
"Aku bilang jangan sentuh tubuhku.." Bentak Aluna kembali menyentakkan tangan Ayunda dengan keras.
__ADS_1