Raluna

Raluna
Cemburu Raka yang Aneh


__ADS_3

Ditemani keluarga Raka Aluna menunggu dengan cemas, berharap mamah nya baik-baik saja setelah dioperasi.


"Raka carilah makanan keluar, Aluna belum makan dari tadi, biar disini Bunda dan Ayah yang menemani Aluna."


"Tidak usah Bunda, Aluna tidak lapar," tolak Aluna dengan pandangan terfokus pada pintu ruang operasi.


"Jangan begitu sayang, nanti kau sakit, bukankah Aluna harus sehat untuk menjaga mamahmu.. sudah sana Raka cari makanan," ulang Diana memerintah anaknya yang menatap Aluna dengan sedih.


Sebenarnya jika disuruh memilih Raka tidak ingin meninggalkan Aluna barang semenitpun, tapi Bundanya benar, Aluna belum makan dari sore tadi, sehingga tanpa membantah Raka pergi dari sana.


"Bunda.. kenapa lama sekali,, sudah dua jam kita menunggu disini Bunda?" tanya Aluna mulai merasa takut terjadi apa-apa pada mamahnya.


"Tenanglah sayang, mamahmu pasti selamat, dokter akan berusaha yang terbaik untuk mamamu, Aluna tidak perlu khawatir.. okey."


"Kemari bersandar dibahu Bunda.. pejamkan sejenak matanya, Aluna tadi habis menangis kan, pasti kepalanya sakit,, ayo pejamkan matamu!!" Diana menaruh kepala Aluna di bahunya.


Jangan heran melihat Diana begitu perhatian dan sayang pada Aluna, keinginan terbesar Diana yang tidak akan bisa terwujud adalah memiliki anak perempuan yang bisa menemaninya berbelanja dan bertukar cerita layaknya sahabat.


Tapi Tuhan belum mengijinkan itu terjadi saat Diana hamil untuk kedua kalinya, dia mengalami keguguran yang membuat rahimnya rusak sehingga tidak bisa lagi mengandung.


Awalnya Diana sangat sedih, tapi syukurlah dia memiliki suami yang mensuport dirinya, sehingga Diana bisa menerima takdirnya.


Memiliki anak semacam Raka membuat diana agak kesepian apalagi jika suaminya sudah lembur dikantor, Raka dulu waktu kecil masih bisa ia temani bermain dan mengikuti kemanapun Diana pergi, tapi semenjak Raka menginjak bangku kelas 5 SD Raka tidak pernah lagi mau diajak Diana untuk menemaninya kesalon ataupun berbelanja.


Jika Raka ikut itu tandanya dia ingin membeli mainan kesukaanya, setelah mainannya dapat Raka akan merengek untuk pulang, di mall pun Raka selalu melepaskan gandengan Bundanya, "Malu Bunda diliat orang," Alasan itu yang selalu Raka berikan pada Bundanya.


Apalagi ketika Raka SMA entah kenapa Raka berubah menjadi lebih dingin, Diana sudah mencoba mencari tahu apa yang terjadi pada anaknya, tapi sedikitpun Raka tidak menceritakan isi hatinya.


Hingga Diana tahu dari teman-teman Raka kepergian gadis bernama Aluna yang merubah sifat anaknya.

__ADS_1


Bukan tanpa Alasan Diana berakting saat di Apartemen Raka, Diana berharap gadis yang bisa merubah pendirian Raka untuk tidak membawa masuk orang asing kedalam Apartemennya bisa mencairkan es yang ada didalam diri anaknya, sekaligus bisa membantu anaknya melupakan gadis yang bernama Aluna.


Tapi siapa sangka Aluna lah gadis yang ada didepannya saat itu, awalnya Diana kaget saat Raka mengatakan nama gadis didepannya, tapi selanjutnya Diana bahagia anaknya kembali mendapatkan tambatan hatinya.


Diana sangat yakin, Raka tidak akan pernah melepaskan Aluna, Raka sama gigihnya dengan Hanung sifat Raka begitu persis dengan Ayahnya, jika dulu Hanung sampai Rela babak belur dihajar oleh ketiga kakak Diana karena dengan seenaknya melamar Diana yang saat itu baru lulus SMA, diperlakukan seperti itu bukan membuat Hanung mundur dia malah makin sering datang kerumah Diana walau terkadang hanya duduk diteras tidak dibukakan pintu.


Sama seperti Raka lihatlah anaknya sampai mengurung gadis ini, memastikan bahwa Aluna akan menjadi istrinya apapun yang terjadi.


Kehadira Aluna membuat Diana merasakan memiliki seorang anak perempuan, Diana begitu semangat menyiapkan kamar dengan dekorasi wanita untuk Aluna, Diana juga lah yang meminta Raka untuk mengizinkannya membelikan semua pakaian Aluna.


Tidak berselang lama Raka datang dengan dua kantong plastik dikedua tangannya.


"Ini makanlah dulu," ucap Raka menyodorkan kotak yang berisi ayam bakar.


"Raka juga beli untuk Bunda dan Ayah," lanjut Raka membagikan kotak yang lainnya pada Hanung dan Diana.


"Ayo makan ya.. kemari Bunda suapi," Diana sudah menyodorkan sendok kedepan mulut Aluna.


"Tidak papa, Bunda dan Ayah sebelum kesini sudah makan, ayo aaaa, buka mulutmu," sahut Diana kembali menyodorkan sendok.


"Dengan ragu Aluna membuka mulutnya," Aluna sangat tersentuh dengan perlakuan Bunda Raka, dia benar-benar memperlakukan Aluna seperti anaknya, bahkan Aluna lupa terakhir mamahnya menyuapinya, atau memang tidak pernah sama sekali.


"Hikss.. hiksss," Aluna mengunyah makanan dengan isak tangis yang mulai keluar dari mulut yang penuh dengan makanan.


"sayang kenapa, makanan nya tidak enak.." tanya Diana yang khawatir.


Aluna tidak menjawab, dia hanya memberikan isyarat dengan gelengan kepalanya.


Raka yang melihat Aluna menangis hendak beranjak untuk ikut menenangkannya, namun bahunya ditahan oleh Hanung.

__ADS_1


"Biar Bunda mu saja," ucap Hanung yang tidak ingin merusak mood istrinya, Hanung sangat paham saat ini Diana sangat bahagia bisa menjalankan peran ibu untuk gadis yang sudah dia anggap sebagi anak perempuannya.


Setiap mengobrol bersama Hanung Diana begitu semangat menceritakan dia habis berbelanja pakaian anak perempuan, seperti mimpinya dulu.


"Tapi yah Aluna..."


Raka langsung bungkam melihat tatapan tajam Hanung yang tidak menerima bantahan sedikitpun.


Dengan cemberut Raka kembali duduk disamping Hanung.


"Ayah ini sudah malam, bawalah Bunda pulang untuk istirahat, biar Raka disini yang menemani Aluna," usul Raka yang merasa dari tadi Aluna disabotase oleh Bundanya.


"Kau pikir Bundamu akan mau, jika kau ingin mendapat amukan darinya sana bicara sendiri, dibandingkan dirimu Ayah yakin Bundamu lebih Rela memukulmu dari pada Aluna.." ejek Hanung yang menantang Raka, Hanung sangat tahu Raka tidak akan berani.


"Ck.. setidaknya Bunda harus memberikan aku kesempatan juga disamping Aluna, Aluna itu calon istriku," keluh Raka yang merajuk pada Hanung.


"Hehehe Aluna memang calon istrimu, tapi bagi Bundamu Aluna anaknya, putri kesayangannya," Jawab Hanung terkekeh melihat raut kesal anaknya.


Raka bukannya tidak senang Bundanya dengan cepat bisa menerima Aluna tapi tidak seperti ini juga setiap Raka bersama Aluna dan Bundanya ada pasti Bundanya mensabotase Aluna, sampai Raka merasa dicueki.


Akhirnya yang ditunggu tiba Dokter keluar dari ruang operasi.


"Bagimana Dokter, apakah operasinya lancar," tanya Raka yang mendahului Aluna.


"Alhamdulillah semuanya berjalan dengan lancar, tapi pasien tidak bisa pulih dengan cepat, karena benturannya begitu keras dan juga patah pada tulang kakinya."


"Kira-kira berapa lama pasien bisa sehat total dokter," tanya Raka lagi sedangkan Aluna hanya mendengarkan, dia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi mendengar mamahnya selamat Aluna sangat bahagia, dia masih diberi kesempatan untuk meminta maaf pada mamahnya.


"Kami tidak bisa memastikan, semua tergantung dengan semangat pasien itu sendiri, bisa jadi cepat sekitar 2 bulan atau bisa lama sampai 3 bulanan." jelas Dokter yang pergi setelah tidak ada pertanyaan lagi dari Raka.

__ADS_1


"Bunda mamah selamat Bunda," Aluna kembali menangis dan masuk kedalam pelukan Diana.


Sedangkan Raka memandangnya dengan kesal, kenapa Aluna malah memeluk Bundanya bukan dirinya, harusnya Aluna itu membagi kesenangan nya dengan Raka, karena Raka calon suaminya.


__ADS_2