
Malam hari Raka baru kembali lagi entah dari mana, saat ia masuk ke dalam kamarnya Aluna sudah berganti dengan pakaian tidur dan duduk melamun dengan tv yang menyala.
"Kenapa makanan nya tidak dimakan?" tanya Raka yang melihat makanan di atas meja yang ia taruh sebelum pergi masih utuh tak luang barang dedikit pun.
Aluna hanya diam tak menjawab pertanyaan Raka.
Diambil Raka piring yang ada diatas meja dekat lampu tidur,, "Kau harus makan nanti sakit," ucap Raka menyodorkan satu sendok nasi beserta lauknya ke depan mulut Aluna.
Diam Aluna tak bereaksi apa pun bagai patung yang tidak bisa bicara dan bergerak.
"Aluna ayo makan atau kau tidak suka dengan makanannya akan aku ambilkan yang lain,, hmm ayo makan ya... aaaa"
Pranggg bunyi pecahan piring yang dilempar Aluna ke lantai berbunyi begitu nyaring.
"Aluna..." teriak Raka yang tak suka dengan sikap Aluna.
"Makan katamu kau menyuruhku makan saat aku tidak tahu bagaimana keadaan papa ku diluar sana... bagaimana jika keadaannya dibalik kamu yang berada di posisiku..." bentak Aluna yang menggebu-gebu dengan nafas naik turun dengan cepat.
"Aku sudah bilang jangan khawatirkan papamu dia baik-baik saja apa kau tidak percaya padaku.."
"Percaya padamu... hahahaha mempercayai orang yang pernah menolakku mati-matian... lalu datang bicara bahwa aku Dira... aku bukan Dira Raka aku Aluna..." sahut Aluna yang masih menyangkal bahwa dia bukanlah Dira yang Raka maksud.
Karena tidak ada sedikit pun dalam ingatan Aluna ia pernah memakai nama Dira dalam hidupnya..
"Aluna kau..." Raka tidak jadi meneruskan ucapannya perkataan mama Aluna bahwa Aluna mempunyai trauma dengan nama Dira membuatnya tak bisa melanjutkan kata-katanya.
Jika Aluna ingat dengan nama itu.. itu artinya Aluna juga akan ingat saat-saat penculikan itu terjadi.. tidak Raka tidak ingin itu.. dia tidak ingin Aluna tersiksa mengingat ia pernah disekap oleh para penculik.
"Apa kau tetap mau bilang bahwa aku Dira hah.."
"Tidak usah sebut-sebut nama Dira lagi.. makanlah nanti kau sakit," ucap Raka, biarlah Aluna tak mengingat kenangan masa kecilnya tak apa yang penting sekarang Aluna ada didepannya, dulu Aluna begitu mencintainya, dia yakin sekaranh pun masih begitu, jadi tak masalah meski tak mengingat Dira.. tapi Aluna dan Dira adalah orang yang sama itu poin pentingnya.
"Aku tidak mau makan aku ingin keluar dari sini,"
"Untuk apa kau keluar dari sini, menemui papamu meskipun kamu keluar dari sini kau tidak akan bertemu dengan papamu,"
"Apa maksudmu Raka.. dimana papaku.. Raka aku bersumpah aku tidak akan memaafkanmu jika sesuatu terjadi pada papaku"
"Aluna apa kau tidak percaya padaku.. percayalah papamu baik-baik saja.. lebih baik kau makan dan istirahat karena besok kita akan mulai menyiapkan pernikahan kita."
"Siapa yang mau menikah denganmu Raka.. aku sudah punya pacar kau tidak dengar sekarang kak Ryan adalah pacarku jika aku menikah aku akan menikah dengannya.
Aura Raka langsung berubah.. ditariknya tubuh Aluna menempel dengan dadanya.
__ADS_1
"Katakan sekali lagi," ucap Raka dingin.
Aluna sebenarnya takut melihat Raka yang ada didepannya tapi dia sudah terlanjur memancing kemarahan Raka jadi sekalian saja di menyebur toh sudah kepalang basah.
"Aku hanya akan menikah dengan Rya... dengar Raka aku.. mmmm"
Aluna tidak dapat melanjutkan perkataannya saat bibirnya dibungkan oleh bibir Raka dengan paksa.
"Mmmm mmm," suara teriakan Aluna yang tertahan serta tangan yang memukul dada Raka dengan kencang berharap Raka melepaskan tautan bibir mereka.
Setelah puas bermain dengan bibir Aluna Raka melepaskan dengan menge*up sekali lagi bibir yang tampak menggoda karena terlihat sedikit membengkak.
Plakkk Aluna langsung memberikan hadiah tamparan pada pipi mulus Raka.
"Kurang ajar berani sekali kau mengambil ciu*an pertamaku Raka,"
"Apa kau pikir aku ini wanita murahan yang bisa kau sentuh seenaknya.. ciu*man pertamaku akan aku persembahkan untuk suamiku Raka.. hiksss hikss dan kamu mengambilnya,"
Entah kenapa bukannya merasa bersalah Raka malah tersenyum senang mendengar dia yang pertama menyentuh benda menggoda itu.
"Jadi aku yang pertama..," tanya Raka dengan senyum yang tidak tertinggal dari bibirnya.
"Apa kau sudah gila harusnya minta maaf bukan malaj senyum seperti itu.." kesal Aluna yang tak melihat rasa bersalah sedikitpun diwajah Raka.
"Aaa maafkan aku..," Raka mengucapkan nya sekedar formalitas semata karena buktinya mana ada orang mengucapkan kata maaf dengan tersenyum bahagia.
"Ayo keluar.. makanan nya sudah kau buang.. aku akan memasakkanmu makanan," ucap Raka mengulurkan tangannya pada Aluna.
Aluna mulai berpikir ia sungguh bosan berada seharian didalam kamar ini, tapi sekarang ia sedang menjalankan misi ngambeknya pada Raka.
"Keluar atau tidak.. keluar atau tidak," Aluna berdebat sendiri di dalam hatinya.
"Lama.."
Dalam sekejab Aluna sudah berada didalam gendongan Raka..
"Raka turunkan aku.. aku bisa berjalan sendiri," tolak Aluna yang menggoyangkan kakinya menghentak-hentak udara.
"Kau lama sudah diam saja dan nikmati.. harusnya kau bilang jika ingin aku gendong,"
"Apa siapa yang ingin kau gendong Raka,"
"Suttt jangan teriak-teriak nanti Bunda dan Ayah dengar,"
__ADS_1
"Sudah dengar... tidak perlu bisik-bisik lagi," ucap Diana yang sedang duduk bersama suaminya menikmati makan malam mereka.
"Ck ck ck bermain seperti pengantin baru heh," sindir hanung yang menatap anaknya dengan tatapan mengejek.
"Raka turunkan aku," cicit Aluna yang malu ketahuan oleh Bunda dan Ayah Raka.
Bukannya menurunkan Aluna Raka tetap berjalan dengan percaya diri menurunkan Aluna disamping Bundanya.
"Kenapa makannya malam sekali," tanya Raka dengan mengambil tempat duduk disamping Aluna.
"Kenapa makannya malam sekali.. punya anak satu tapi gak mikir."
"Kerjaannya buat pusing orang tua." kesal diana pada anak semata wayangnya.
"Apa sih bun,"
"Bagaimana Bunda bisa makan jika anaknya mengurung gadis.. didalam kamarnya tidak tahu gadis itu sudah makan atau belum," lanjut Diana dengan kesal.
"Ayo sayang makanlah," Diana mengambilkan nasi dan lauk pauk kedalam piring Aluna.
"Tidak perlu tante nanti Aluna ambil sendiri," balas Aluna yang merasa tak enak hati.
"Ehhh kenapa manggil tante lagi... Bunda kan kita sudah sepakat."
"Kapan," tanya Aluna heran seingatnya dia tidak pernah menjanjikan itu.
"Isss kamu ini waktu diapartemen Raka kan kita sudah sepakat, ayo panggil aku bunda," paksa Diana pada Aluna.
"Bunda..." lirih Aluna dengan menundukkan kepala malu.
"Benar begitu astaga kau manis sekali mau menjadi putriku ya.. kau tahu aku sangat ingin memiliki anak perempuan," ujar Diana dengan histeris karena memang dia sangat menginginkan anak perempuan tapi sayang Tuhan tidak lagi menitipkan ruh kedalam janinnya.
"Dia akan menjadi mantu Bunda.." sahut Raka yang mulai menyantap makan malamnya.
"Diam jangan ikut campur urusan Bunda, ayo sayang habiskan makananmu,"
Perhatian Diana dan usapan lembut di surai rambut Aluna membuat Aluna merasa tenang berada ditengah-tengah keluarga Raka, keluarga seperti ini yang selama ini Aluna inginkan...
HANGAT...
*****
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komen untuk mendukung penulis semangat melanjutkan cerita..☺️
__ADS_1
Jika memang berkenan memberikan vote, tips untuk penulis juga tidak papa hehehe😉😉
Salam sayang dari penulis Daysi....