Raluna

Raluna
Situasi Macam Apa Ini


__ADS_3

Raut wajah Ryan terlihat sangat syok mendengar penuturan Raka.


beda lagi dengan papa Aluna ia tampak bahagia mendengar anak nya membawa calon suami nya ke kontrakan nya ini


"eee Aka eee" papa Aluna menggerakkan tangan agar Raka mendekat ke arah nya.


"cini...cini" Raka melihat tangan nya yang tak disambut oleh Ryan perlahan berjalan melewati Ryan dan membenturkan bahu nya.


"apa kabar pa" sapa Raka dengan mengambil tangan papa Aluna untuk disalimi.


"aik.."


"bapak pulang dulu kalau begitu nak" pamit pak Suhe.


"oh iya pak terimakasih ya" ucap Aluna dengan tulus.


sedangkan Ryan ia menyingkir duduk di tempat yang ditempati oleh pak suhe tadi.


"Ryan, kapan pulang kesini,, memang nya gak kerja" Aluna mengambil tempat duduk didekat Ryan.


"Aku sudah resign dari sana.. emm rencana nya bakal buka usaha kecil disini" jelas Ryan yang merasa kikuk sebab tatapan Raka yang tajam mengarah pada nya.


Raka langsung beranjak dari sana dan memisahkan Aluna dan Ryan duduk ditengah-tengah mereka.


"Jadi nama mu Ryan.. ahh Aku calon suami Aluna" ulang Raka lagi.


"ahh iya aku sudah dengar tadi.. tidak perlu mengulang nya lagi" balas Ryan tajam kesal pada Raka.


"bagus lah ku pikir telinga mu tidak berfungsi dengan baik" cibir Raka.


Aluna bingung harus bagaimana kenapa situasi nya jadi seperti ini "aaahh kalian ingin kopi, aku buat kan dulu"


"hmmm Aku mau lun, rasanya seperti biasa ya"


Raka mengepal kan tangan nya seperti biasa itu berarti Aluna sering membuat kan laki-laki ini kopi.


"Aku juga buat kan seperti biasa" Raka berucap dengan mata yang tak lepas dari Ryan.


"khemm Raka.. seperti biasa gimana... Aku belum pernah membuat kan mu kopi" tanya Aluna dengan polos nya.


Ryan ingin tertawa rasanya mendengar ucapan polos Aluna.. "bukan kah dia calon suami mu lun.. seperti nya kalian kenal belum lama ya" ejek Ryan dengan senyum meremehkan.


"hahahaha lucu sekali.. Aku dan Aluna sudah lebih lama kenal dibandingkan dirimu.. kami sudah kenal sejak masa SMA.. bukan kah begitu sayang" Raka menekan kan kata SAYANG pada Aluna.


Aluna mengangguk pelan "bodoh harus nya tadi aku buat kan saja,, biar tidak panjang seperti ini"


"ohhh sudah lama ya.. tapi aku tidak pernah lihat dirimu selama Aluna ada disini.. dan juga meskipun kalian sudah lama mengenal tidak sedekat itu seperti nya.. sampai-sampai takaran kopi mu saja Aluna tidak tahu"


Aluna kesal pada Ryan sekarang kenapa malah memancing Amarah Raka.


"jangan sok tahu.."


"cukup okey akan aku buatkan kopi untuk kalian,, jangan berdebat lagi" ucap Aluna melerai pertengkaran Raka dan Ryan.

__ADS_1


Pak Agung hanya senyum-senyum sendiri di atas kasurnya... ia tidak menyangka akan melihat secara langsung anak nya diperebut kan oleh dua lelaki.


sementara Raka dan Ryan saling menatap dengan tatapan yang tajam.


"ekmmm.. ini kopi nya" suara Aluna memutuskan kontak mata mereka.


Aluna lebih baik duduk didekat papa nya dari pada disana, malah akan membuat suasana makin ruyam.


"apa senyum-senyum" bisik Aluna pada papa nya.


papa Aluna hanya menggeleng dengan senyum merekah, diusap nya kepala putri nya dengan sayang.


sebentar lagi ia harus melepas kan putri nya entah itu pada Raka atau Ryan, Agung tidak perduli mau Raka atau Ryan karena kedua nya adalah laki-laki yang baik.. semuanya ia serahkan pada pilihan putri nya.


"lun Aku pulang dulu ya" pamit Ryan ia sudah lelah main tatap-tatapan dengan Raka.


"iya kak.. hati-hati ya" Aluna bermaksud mengatar Ryan kedepan pintu.


namun tangan nya langsung ditahan oleh Raka "dia bisa pulang sendiri tidak perlu kamu antar" ucap Raka posesif..


"astaga Raka aku hanya ingin mengantar nya sampai depan bukan sampai rumah nya" kesal Aluna,, ia tak habis pikir kenapa Raka menjadi posesif seperti ini.


"tidak perlu Aluna" tegas Raka.


*****


sore hari setelah membantu papa Aluna mandi Raka berpamitan pulang "papa Raka pulang dulu" ucap Raka sopan.


"eee.. ain cini agi" tawar papa Aluna


"unaa atel aka"


"iya pa ini Aluna anter,, papa gak papa kan Aluna tinggal sebentar" tanya Aluna


"enda apa apa"


"yaudah Aluna anter Raka dulu ya"


Raka dan Aluna berjalan beriringan "besok kemungkinan besar bunda dan Ayah akan datang kerumah" ujar Raka sambil melirik bagaimana ekspresi Aluna.


"Apa tidak bisa diundur.. kenapa rasa nya ini terlalu cepat" cicit Aluna pelan.


Raka menggenggam tangan Aluna dihadapkan nya tubuh Aluna berhadapan dengan nya.


"kenapa kamu ragu lagi.."


Aluna mengangguk ia tidak bisa menutupi bahwa masih ada keraguan dalam hati nya, lalu bagaimana ia mengatakan pada papa nya dengan tiba-tiba bahwa akan ada yang melamar nya.


"heyyy dengar Aku.. kita jalani semua nya berdua.. percaya pada ku apapun yang terjadi aku akan selalu ada untuk mu hmm" Raka kembali meyakinkan Aluna.


Aluna tersenyum, ia dia harus percaya pada Raka,,


direngkuh Raka tubuh Aluna "jangan pikirkan macam-macam okey"

__ADS_1


"Raka ini di tempat umum nanti ada yang lihat" Aluna memberontak dari pelukan Raka.


"lebih bagus biar semua orang tahu bahwa kamu milik ku"


"awww" Raka langsung melepaskan pelukan nya saat cubitan Aluna mendarat di perut Raka.


Raka mengelus perut nya "mangkanya nurut kalau dibilangin" ucap Aluna galak


"iya calon istri" goda Raka dengan mengedipkan sebelah matanya.


pipi Aluna bersemu "apa sih Raka.. sana masuk mobil aku pulang" Aluna hendak berbalik pulang.


"kok balik gitu aja.. gak ngerasa ada yang tinggal"


Aluna mengkerutkan dahi, seingatnya tidak ada lagi yang tertinggal.


"kemari"


dengan patuh Aluna melangkah mendekat "ini yang tertinggal" cup bibir Raka mendarat di kening Aluna "Aku pulang" menepuk kepala Aluna lalu masuk mobil dan pergi.


sampai mobil Raka sudah tidak terlihat Aluna masih terpaku dengan pipi yang bertambah merah.


seketika Aluna menengok kanan dan kiri takut-takut ada yang melihat nya tadi.


"huuhhh syukur lah tidak ada yang lihat" Aluna mengelus dada nya lega, bisa gawat jika ada yang melihat nya tadi, Aluna yakin gosip nya akan menyebar dengan cepat.


***


"assalamualaikum bunda Raka pulang" teriak Raka dengan suara senang nya.


"gak usah teriak-teriak Raka" melihat bunda nya yang sedang nonton tv, Raka langsung menghampiri dan mengecup pipi bunda nya.


"Raka sayang bunda"


"heleh sayang-sayang.. minggir sana bunda lagi nonton" usir bunda Raka.


"bunda besok jadi kan melamar Aluna" tanya Raka manja.


Bunda Raka langsung memicingkan mata "ohh jadi tadi sengaja ya gak ngejelasin sama bunda heh" tanya bunda Raka dengan senyum mengejek


Raka hanya cengengesan sambil menggaruk tengkuk nya.


"dasar kamu ini.. masak buat lamar perempuan aja harus bunda yang turun tangan, untung tadi bunda mampir.. kalau enggk.. kamu ini memang sama kayak papa mu, yang gak bisa ngertiin perempuan"


"apa sih bun kenapa ayah yang dibawa" sahut Ayah Raka yang sedang berjalan turun tangga.


"hehehe sayang sudah selesai mandi nya... sini duduk sama aku" Diana langsung berubah manis,, suami jya itu sangat tidak suka ada yang menghina diri nya.. Diana hanya mengambil aman malas bila nanti harus berdebat.


"bunda jawab Raka dulu jadi kan" tanya Raka lagi.


"gimana yah jadi gak" goda Diana.


"hmmm" jawab suami diana dengan mengganti chanel tv.

__ADS_1


"isss papa mu ini tidak tahu kode" kesal Diana, karena niat nya ingin menggoda anak nya dulu.


"makasih bunda yang terbaik" sekali lagi Raka mengecup pipi bunda nya lalu naik ke atas menuju kamar.


__ADS_2