Raluna

Raluna
Akhir dari Bersama


__ADS_3

Pagi ini Aluna terbangun dari tidur nya dengan senyum yang merekah "selamat pagi dunia" sapa Aluna pada sinar yang masuk melalui celah-celah kamar , sambil menggeliat kan tubuh nya.


Dengan seragam yang sudah rapih serta penampilan yang tampak cantik Aluna sudah siap untuk berangkat ke sekolah.


Di ujung tangga Aluna berhenti senyum yang sempat mengembang perlahan-lahan menghilang.


"Aku udah gak tahan lagi sama kamu Mas.. Aku mau kita cerai" terlihat kedua orang tua Aluna yang bertengkar sambil memasuki rumah.


"Ohh.. kamu mau pisah dari Aku.. harus nya kamu minta maaf sama aku karena sudah tidur dengan laki-laki itu."


"Kamu harus nya sadar diri kenapa aku kayak gini, jangan cuman salahin aku aja" bantah mamah Aluna.


"Kamu memang keterlaluan mah.. kamu tau aku sekarang bangkrut.. tapi kamu malah mau ninggalin aku" bentak papah Aluna.


"Kamu pikir kenapa aku mau cerai dari kamu mas.. kamu sudah gak punya apa-apa, kamu gak bisa kasih aku kenyamanan kamu juga gak bisa penuhi semua kebutuhan aku dan Aluna" Perkataan mamah Aluna begitu pedas, hingga membuat perlahan tamparan itu mendarat di pipi Ayunda mamah Aluna.


"Baru sekarang aku bangkrut mah.. selama belasan tahun siapa yang membiayai kebutuhan kalian.. Aku mah" bela Agung tak terima dengan perkataan mamah Aluna.


"Terserah pokok nya Aku mau cerai" sambil memegang pipinya yang panas bekas tamparan.


"Minggir kamu mas."


"Cukuppp" teriakan Aluna dari tangga, menghentikan pertengkaran mereka.


Perlahan Aluna melangkah kan kaki nya turun dari tangga dan mendekat ke hadapan kedua orang tua nya.


Air mata itu sudah turun tak bisa lagi ia tahan, dipegang nya satu per satu tangan ke dua orang tua nya.


"Mah pah,.. hiks hiks Aluna gak papa kok hiks kalau papah sama mamah hiks jarang dirumah Aluna sudah biasa hiks" ucap Aluna dengan tersendat-sendat.


"Tapi Aluna hiks mohon hikss jangan pisah hiks Aluna mohon pah mah" Wajah Aluna memohon dengan penuh pengharapan kepada kedua orang tua nya.


"Sayang maafin mamah ya mamah belum bisa jadi mamah yang baik buat kamu.. tapi mamah janji kita berdua bisa hidup bahagia tanpa papah kamu" ucap mamah Aluna sambil memandang sinis kepada suami nya.


"Apa maksud kamu Aluna akan ikut dengan ku" balas papah Aluna.

__ADS_1


"Kamu mikir mas.. mau kamu kasih makan Aluna pake apa sekarang kamu udah bangkrut.. Aku gak mau anak aku jadi gelandangan sama kayak kamu."


Mereka tak mendengar kan permohonan Aluna dan tetap melanjut kan perdebatan mereka.


"Aluna ayo beres kan barang-barang mu hari ini kita akan pindah ke rumah mamah" titah Mamah Aluna.


"Rumah mu.. halah paling kamu mau bawa Aluna ke rumah laki-laki bajingan itu kan."


"Jaga bicara mu mas dia bukan laki-laki bajingan.. dia seribu kali lebih baik dari pada dirimu" Ayunda berbicara dengan menunjuk wajah yang sebentar lagi akan menjadi matan suami nya.


" Laki-laki baik mana yang meniduri istri orang lain hah" bentak papah Aluna.


"Terserah apa kata mu aku gak peduli.. ini silah kan tanda tangani surat cerai ini."


Mamah Aluna berlalu pergi setelah melempar kan surat cerai ke wajah papah Aluna.


Aluna sudah tak memiliki tenaga lagi untuk berdiri, ia jatuh terduduk di lantai dengan derai air mata yang semakin deras.


"Papah.. hikk pah bujukin mamah hiks.. hikkss Aluna mohon" Agung hanya diam tak bergerak mengindah kan permintaan anak gadis nya.


"Aluna Ayo kita pergi" Tangan Aluna diseret oleh mama nya menuju pintu utama.


"Papahhh..." Teriak Aluna.


Dengan sekuat tenaga dihempas kan nya tangan mamah nya dan berlari kencang menuju tubuh yang sudah berbaring tak berdaya di lantai.


"Mamah tolongin papah mah hiks.. hiks.." mohon Aluna pada mamah nya.


"Aluna dalam hitungan ketiga, kalau kamu masih disana jangan harap kamu bisa ikut mamah lagi" ancam mamah Aluna


Entah kemana hati nurani mamah nya, bahkan saat papah nya tergeletak tak berdaya tak ada rasa belas kasihan untuk membantu membawa papah nya kerumah sakit.


Sampai hitungan ketiga Aluna tetap menangis sambil memeluk tubuh papah nya.


"Okey itu pilihan kamu.. jangan harap mamah akan biayai hidup kamu lagi" tubuh itu hilang dari balik pintu.

__ADS_1


"TOLONG... TOLONG.. HIKS" Aluna berteriak dengan kencang berharap ada yang mendengar nya.


"Ya Allah ini bapak kenapa non" bik surti langsung menghampiri Aluna dan papa nya.


"Tolongin papah bik panggil pak karman ... Aluna mau bawa papa kerumah sakit hiks" tangis Aluna makin kencang saat bibir papah nya sudah tak semerah seperti biasanya.


"Pak karman sudah diberhentikan kemarin non.. bibik akan minta tolong ke tetangga.. non tunggu disini sebentar" dibalas dengan anggukan kepala Aluna.


Setelah lama menunggu akhir nya Aluna bernafas sedikit lega saat bik surti datang bersama dengan seorang laki-laki.


Aluna menunggu kabar keadaan papa nya dengan cemas, tak pernah rasanya papah nya sakit seperti sekarang.


Pintu ruang rawat terbuka dokter keluar bersama dengan para suster.


"Dok bagaimana keadaan papa saya" taya Aluna langsung.


"Maaf kami sudah semampu nya berusaha papa mu memang bisa selamat tapi dengan berat saya katakan dia akan lumpuh."


"Dokter apa papah bisa sembuh" ucap Aluna dengan gemetar.


"Presentasi kesembuhan nya sangat kecil, mungkin masih ada harapan jika papa mu rutin terapi" setelah mengatakan itu dokter langsung berlalu dari hadapan Aluna.


Tuhan cobaan apa lagi ini, aku menangis dengan kedua tangan menutup wajah ku.


"Sabar non.." bik surti mencoba menenang kan ku dengan pelukan nya.


Saat aku masuk ku lihat tubuh papa yang terbaring di atas ranjang, bagaimana kelanjutan hidup ku sekarang.


Tadi bik surti cerita bahwa dia juga sudah di pecat oleh mama, tadi dia datang hanya untuk mengambil barang nya yang masih tersisa dirumah, ternyata sudah hampir satu tahun yang membiayai segala kebutuhan ku di rumah adalah mama.


Bik surti juga cerita selama hampir satu tahun papa berjuang mengembalikan perusahaan nya seperti semula tapi hari ini adalah hari kehancuran papa saat usaha nya benar-benar dinyatakan telah bangkrut.


Ku genggam tangan papa ku rebahkan kepalaku diatas nya aku menangis disana.


"Papa Aluna janji gak akan tinggalin papa.. Aluna yang akan rawat papa.. papa harus bertahan" janji Aluna.

__ADS_1


Ia bertekad apa pun yang terjadi, ia takkan tinggalkan Ayah nya ia tak peduli nanti nya akan tinggal dimana, makan dengan apa, saat ini hanya papa yang dia punga.. sedangkan mama nya ia tak ingin tahu lagi kabar nya.


Saat itu lah lembaran kehidupan baru Aluna dimulai.


__ADS_2