Raluna

Raluna
Karma


__ADS_3

Aluna berjalan mondar mandir di dalam kamar, ia kebingungan bagaimana cara memberitahu papa nya, padahal sekarang sudah jam 7 pagi, Raka barusan mengirim pesan mereka akan datang pukul 9 itu berarti 2 jam lagi mereka akan tiba, sedangkan Aluna belum sama sekali memberi tahu papa nya.


"bagaimana ini"


"papa Aluna mau dilamar,, Ahh tidak bukan seperti itu"


"pah Raka mau lamar Aluan"


"pah orang tua Raka akan datang"


"aissss Aku sungguh tidak bisa mengatakan nya" Aluna mengacak rambut nya prustasi, kenapa rasa nya berat sekali mengatakan nya.


tok tok tok bunyi suara pintu rumah Aluna diketuk "ehhh kata nya jam 9 ini masih jam 7" ucap Aluna bingung.


dengan langkah Ragu Aluna keluar untuk membukakan pintu.


"adaa ammu" ucap papa Aluna.


"iya pah ini lagi mau Aluna bukak" balas Aluna


Agung menatap heran anak nya kenapa malah memakai pakaian bagus tapi bukan pakaian kantor, apa hari ini dia bolos lagi.


"siapa" ucap Aluna merasa tidak mengenal tamu nya.


orang itu berbalik, gadis cantik dengan pakaian minim berdiri dihadapan Aluna "kamu yang nama nya Aluna" ucap nya menurun kan kacamata hitam.


"ia mba kenapa ya cari saya" plakkkk pertanyaan Aluna di balas dengan tamparan keras di pipi nya.


"ini untuk orang yang berusaha merebut Raka dari gue" kata gadis itu dengan kejam.


"udah ngasih apa lo sama Raka hah,, badan lo iya.. denger perkataan gue baik-baik orang miskin kayak lo gak pantes bersanding dengan Raka.. coba lo punya kaca kan.. ngaca" kata-kata gadis itu melukai hati Aluna,,, sekaligus mengingatkan Aluna bahwa ia dulu pernah melakukan hal kejam ini.


air mata Aluna sudah luruh tanpa bisa ia tahan, ini memang pantas ia dapat kan,, kata orang memang benar hukum karma itu berlaku,, sekarang Aluna merasakan karma atas perbuatan nya dulu.


"eeee eeeee eeee" agung berteriak melihat anak nya di tampar didepan mata nya sendiri,, ia juga ikut menangis bagaimana tidak ia ada tapi tidak bisa melakukan apapun untuk melindungi anak nya.


"ohhh itu bokap lo... lo sengaja manfaatin kekayaan nya Raka untuk ngobatin bokap lo yang sakit-sakitan itu hah"


"cukup... aku bilang cukup" ucap Aluna bersamaan degan suara isak tangis nya.

__ADS_1


"kenapa.. hah lo gak terima.. hah"


"dengerin gue baik-baik jauhin Raka tolak lamaran nya,,, atau lo akan tahu apa akibat nya,,, gue bisa aja dengan mudah ngebuat bokap lo itu berbaring untuk selamanya" ancam nya lagi.


"baik.. Aku akan tolak lamaran Raka.. kamu gak perlu khawatir lagi" ucap Aluna dengan tegas.


"bagus.. aaaa dan satu lagi.. keluar dari perusahaan Raka.. gue gak mau liat lo ada di perusahaan Raka mulai besok.. ngerti lo" ia berkata dengan mendorong tubuh Aluna hingga terjatuh di lantai.


setelah puas mencaci maki, gadis itu melangkah dengan sombong pergi dari rumah Aluna.


***


sisil tersenyum sinis, Raka adalah milik nya tidak akan dia biarkan orang lain mengambil Raka dari nya.


"mau menikah.. jangan harap kamu bisa menikah jika bukan dengan ku Raka" ucap Sisil dengan senyum penuh kemenangan.


"cewek miskin aja berani-berani nya bersaing dengan gue" sisil langsung melenggang pergi dari rumah Aluna menggunakan mobil mewah nya.


mobil sisil masuk kepekarangan rumah mewah "sayang kamu sudah pulang" Ayunda menyambut anak tiri nya dengan senyum merekah.


"gak usah ikut campur urusan gue mau gue pulang kek enggk kek bukan urusan lo" sisil melenggang pergi meninggalkan mama tiri nya yang tersenyum dengan kecut.


ternyata ia salah dia sungguh menyesal, berselingkuh dengan bram serta meninggalkan anak kandung nya sendiri.


dulu ia dibutakan dengan iming-iming cinta yang semu dari Bram, ia memang dinikahi sesuai janji Bram,, tetapi hidup nya menderita, Bram berselingkuh bahkan tidur dengan perempuan yang lebih muda dari nya di kamar mereka sendiri.


dia begitu tersiksa,, apa lagi anak tiri nya yang selalu menolak kehadiran nya,, dulu ia memberontak dengan Agung karena merasa kesepian, sekarang bukan lagi kesepian tetapi penderitaan yang ia telan setiap hari nya.


"Aluna maaf kan mama Aluna.. maafkan mama" Ayunda menangis merindukan putri nya.


"dimana kamu sekarang nak,, mamah rindu.. Aluna hikss hiksss maaf kan mama" kata itu berulang-ulang terucap dari mulut Ayunda.


***


"hikss... hikss.. " Aluna masih menangis dengan duduk di atas lantai yang dingin.


"eeee eeeee" Aluna langsung tersadar ia todak sendiri diruangan ini, dengan cepat Aluna menghapus air mata nya.


"papa.. papa kenapa papa gak boleh nangis ya.. Aluna gak papa kok udah ya" Aluna memeluk tubuh papah nya,

__ADS_1


sementara Agung meronta-ronta, ia merasa tidak berguna sekarang,,, anak nya di hina karena kelimpuhan nya.


"eeee..eeee.. eee" agung memukul tubuh nya sendiri menggunakan tangan kanan nya.


"pa jangan hikss.. jangan sakitin diri papah.. Aluna gak papa pah" ucap Aluna berusaha menenangkan papa nya.


"Aluna ada apa ini" Ryan datang di waktu yang tepat.


"kak Aluna boleh minta tolong" ucap Aluna dengan wajah berantakan.


"dimana obat papa mu lun" ucap Ryan dengan sigap, Ryan ingat papa Aluna diberikan obat penenang sewaktu-waktu dia prustasi karena sakit nya.


"di sana" tunjuk Aluna papa rak tv di samping nya.


Ryan langsung mengambil obat itu dan memaksa papa Aluna meminum nya, beberapa saat kemudian papa Aluna mulai tenang dan tertidur.


"hikss... hiksss ini salah Aluna kak salah Aluna" Aluna memukul diri nya sendiri untuk melampiaskan rasa sakit nya.


"tenanglah Lun.. apa yang terjadi hmm" tanya Ryan.


tidak, Aluna tidak bisa menceritakan masalah yang satu ini pada Ryan, dia sendiri yang akan menyelesaikan masalah nya.


Aluna menggeleng kan kepala "tidak papa jika tidak mau bercerita.. tapi kamu harus tenang ya" Ryan memegang tangan Aluna yang dipakai nya untuk memukul diri nya sendiri.


"hiksss... hiksss Aluna mau minta tolong boleh" ucap Aluna lirih.


"tentu selagi aku masih bisa membantu aku pasti bantu lun" Ryan mengatakan nya dengan mantap.


"tolong bawa papa kerumah kakak dulu.. Aluna punya sesuatu yang harus diselesaikan" pinta Aluna pada Ryan.


"kamu yakin bisa menyelesaikan nya sendiri ingin aku temani.. papa mu bisa ditemani oleh Ayah ku dirumah"


lagi-lagi Aluna menggelengkan kepala, ini masalah nya dia akan menyelesaikan nya sendiri dengan cara nya.


"kakak tanya sekali lagi yakin tidak ingin ditemani" tanya Ryan memastikan.


"Aluna yakin kak.. tolong ya" mohon Aluna dengan mata yang masih basah.


"tentu.. Aku akan bantu kamu.. ingat kalau ada apa-apa kamu tinggal teriak aku pasti dengar.. atau telpon aku" ucap Ryan yang merasa khawatir dengan keadaan Aluna.

__ADS_1


Ia buru-buru datang kerumah Aluna karena mendengar teriakan perempuan, khawatir Aluna kenapa-kenapa dia langsung bergegas datang.. dan ternyata benar ia menemukan Aluna yang duduk bersimpuh dengan tangisan memeluk papa nya yang berontak.


__ADS_2