Raluna

Raluna
Hari Pembalasan


__ADS_3

lama keheningan tercipta didalam kamar setelah perdebatan mereka tadi.


"Raka aku mau dzuhur.. aku perlu mukena dan baju ganti ku bagaimana"


Raka langsung beranjak dari duduk nya membuka pintu menggunakan sensor jari dan hilang di balik pintu yang tertutup rapat kembali.


"huuhhh ku pikir dia akan mengajak ku keluar" ucap Aluna membanting tubuh nya berbaring di sofa.


Raka melangkah menuju kamar bunda nya.. tok tok tok ketuk Raka pada pintu kamar didepan nya


ceklek "Raka ada apa nak" Raka membuang wajah nya melihat ada sisa-sisa air mata di sudut mata bunda nya.


itu pasti karena aku" pikir Raka


"Raka pinjam mukena bunda" ia bicara tidak melihat wajah bunda nya, Raka tidak mau menjadi lemah melihat wajah sedih bunda tercinta nya.


"Untuk Aluna"


"hmm" balas Raka singkat.


"Tunggu sebentar bunda ambil"


Diana masuk kedalam kamar dengan membuka lebar pintu kamar yang sudah lebih dari lima tahun ia tempati..


semenjak Raka lulus SMA dan memilih kuliah di Jakarta, Hanung dan Diana pindah ke kota ini untuk memperkuat bisnis suami nya disini awalnya rencana mereka hanya 2 tahun saja tapi karena Diana merasa betah tinggal di kota ini akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan masa tua nya di sini.


"ini mukena nya baru bunda pakai sekali.. jadi pasti masih bagus" Diana menyerahkan mukena dan sajadah pada Raka.


"Raka mengambil nya dan berbalik pergi baru beberapa langkah Raka berhenti "bunda maaf" ucap Raka tanpa berbalik menghadap bunda nya.


Diana tersenyum.. anak nya masih sama.. Raka masih sama seperti Raka yang dulu yang akan meminta maaf padanya saat dirinya membuat Diana sedih


****


tidak lama menunggu Raka kembali datang dengan perlengkapan alat sholat "ini pakailah.. itu punya bunda.. tapi tenang saja nanti sore semua yang kau perlukan akan tiba disini" ucap Raka merebahkan diri nya kembali ke atas kasur.


"kau tidak sholat" tanya Aluna heran, karena setau nya Raka dulu sangat rajin sholat di mushola sekolah nya.


"hmmm"


"kesal karena jawaban Raka seperti nya tidak mau Aluna menendang kaki Raka yang menjuntai kebawah


"aww Aluna"

__ADS_1


"cepat ambil wudhu dan sholat" Aluna berkacak pinggang dengan galak.


Raka yang melihat itu malah tersenyum senang.. seperti sudah memiliki istri saja pikir Raka.


"Raka"..


"iya ini aku jalan ngambil wudhu"


dan terjadilah siang ini Raka kembali menunaikan kewajiban nya sebagai seorang muslim yang telah lama dia tinggalkan.. menjadi imam dalam sholat berjamaah nya dengan Aluna membuat hati nya merasakan ketenangan yang selama ini ia cari.


****


"jadi wanita miskin itu dibawa oleh Raka.."


"aaaa... sial apa hebat hebat nya gadis itu Raka" pranggg sisil melempar vas bungan yang ada didalam kamar nya.


"dia pasti membawa nya kemansion aku tidak mungkin menembus keamanan disana... sial sial sial"


"nak... sisil.. nak" Ayunda masuk kedalam kamar sisil dengan terburu-buru.


"apaaa... kenapa kau masuk kekamar ku tanpa permisi hah" bentak Sisil menumpahkan amarah pada ibu tiri nya.


"nak dibawah tuan argantara mencari keberadaan mu.. turun lah nak"


"lihat kamu mencari ku kan Raka.. kita memang ditakdirkan bersama sayang" sisil tersenyum bahagia dengan cepat dia merapihkan penampilan nya dan bergegas turun ke bawah.


"tapi. nak.."


Sisil tidak perduli lagi apa yang akan disampaikan oleh Ayunda dia langsung keluar dari kamar nya dan turun ke bawah menemui Raka.


"yan datang bukan Raka" lanjut Ayunda yang tentu tidak didengar lagi oleh Sisil


****


"aahhh tuan anak saya sudah turun" ucap Bram antusias karena mengira kedatangan Argantara ingin melihat bagaimana kecantikan anak nya untuk dijadikan pasangan pewaris Argantara Group.


"loh bukan Raka" desah sisil kecewa, padahal ia sudah berharap Raka yang datang menghampiri nya.


"kau berharap anak ku yang datang kemari" ucap Hanung dengan senyum mengejek.


plakkkk Hanung menampar dengan keras pipi sisil hingga sisil terhuyung dan mendarat di atas lantai


"tuan apa ini..."

__ADS_1


"diam bramm.. aku masih berbaik hati hanya menampar pipi anak mu seperti yang dia lakukan pada calon menantuku"


"om... om salah paham saya tidak melakukan apapun" sisil masih mencoba peruntungan dengan berbohong


"ohh kau tidak ingat apa yang kau lakukan pada gadis yang bernama Aluna.. kau menghina dirinya dan menampar nya apa perlu aku membenturkan kepalamu supaya kau ingat" ancam Hanung dengan menjambak rambut sisil.


"Aluna" ucap Ayunda mendengar nama yang sama persis dengan putri nya, dengan cepat ia turun dari tangga.


"tuan.. apa Aluna yang anda maksud adalah Aluna putri Dirandra" tanya Ayunda cepat tanpa perduli bahwa sekarang anak tiri nya sedang kesakitan menahan perih di pipi dan juga kepala nya


"dari mana kau tahu kepanjangan nama calon menantu ku" ucap Hanung dengan melepas kasar jambakan nya.


"oh Tuhan syukurlah aku menemukan nya.. tuan jika boleh saya tahu bagaimana keadaan nya tuan"


"urusan ku kesini bukan untuk itu, urusan ku kesini untuk menyingkirkan orang-orang yang telah membuat anak ku menderita dengan menjauh kan nya dari Aluna"


"dengar sekali lagi ku dengar kau lakukan hal yang sama.. akan ku buat seluruh bisnis ayah mu yang sangat kau banggakan ini bangkrut tak tersisa" ancam Hanung dengan sungguh-sungguh


"tuan jangan saya mohon.. saya berjanji anak saya tidak akan melakukan hal yang sama lagi" Bram telah duduk berlutut memohon pengampunan pada hanung


"lalu bagaimana untuk apa yang telah dia lakukan kau tidak akan menghukum nya"


"saya akan menghukum nya sekarang tuan"


plakkk belum juga Bram bertindak Ayunda sudah lebih dulu menampar sisil "apa yang kau lakukan pada anak ku hah.. jawab aku" Ayunda berkali-kali menampar sisil.


"kau.. apa hak mu menampar ku hah"


"anak yang kau hina itu anak ku.. anak ku Aluna itu anak kandung ku" Ayunda berteriak didepan sisil


"ayunda cukup" bentak bram yang tak terima anak nya diperlakukan seperti itu..


"kenapa hah.. kau tidak terima anak mu ku perlakukan seperti itu"


"begitu pun aku.. Aku mungkin meninggalkan nya tapi kau tau tak pernah seujung kuku pun aku menyakitinya dengan tangan ku dan kau berani-barani nya kau menampar anak ku" ya selama ayunda merawat Aluna dia tidak pernah melukai Aluna secara fisik tapi secara batin Ayunda sadar ia menyakiti nya begitu dalam


"tidak pernah menyakitinya apa kau pikir tidak menyakitinya dengam pergi meninggalkan nya" ejek Bram pada Ayunda


"itu semua salah mu brengsek.. kamu yang mempengaruhi ku meninggalkan keluarga ku" Ayunda sudah menatap Bram dengan pandangan benci dan marah.. ia tidak perduli lagi apakah akan didepak dari sini karena ia sudah bertekat untuk segera bercerai dari Bram dan meminta pengampunan pada Aluna dan mantan suami nya agung.


merasa muak dengan drama di depan nya Hanung menyingkir dari sana, ia rasa sudah cukup memberi pelajaran pada gadis itu.


"kita pergi" ucap Hanung pada pengawal nya

__ADS_1


__ADS_2