
Sudah lama sekali rasanya aku tidak jalan-jalan seperti ini, "kita mau jalan ke mana kak" Aku sedikit berteriak agar suara ku terdengar oleh kak Ryan.
"Nanti kamu juga tau" ucap kak Ryan sok misterius.
"Diculik gak nih, hahaha" canda ku pada nya.
"Nak mau ahh nyulik kamu ribet makan nya banyak hahaha" Ku pukul pelan punggung yang bergetar kecil di depan ku akibat tertawa.
Punggung ini begitu tegap dan lebar meskipun punggung Raka seperti nya lebih nyaman untuk ku bersandar, astaga kenapa malah menjadi memikirkan Raka, ku gelengkan kepala berusaha mengusir bayangan Raka di kepala ku.
Rupa nya apa yang Aku lakukan terlihat oleh kak Ryan melalui kaca spion motor nya.
"Kenapa hayoo geleng-geleng gitu, jangan bilang mikirin mesum ya" goda kak Ryan.
"Ihhh enggk ya enak aja otak ku itu masih suci" bantah ku.
"Ahh masak sihh" kami saling melemparkan candaan membuat ku tertawa bahagia, ini lah yang membuat ku merasa nyaman bersama kak Ryan dia mampu membuat ku melupakan sejenak tentang sakit nya papa dan semua masalah yang aku hadapi.
Terlalu asyik bercanda, sampai tak sadar jika kak Ryan sudah memarkirkan motor nya.
Ternyata dia mengajak ku ke mall "yukk turun, gak perlu di gendong kan" tanya nya dengan menggoda.
"Ya kali digendong" Aku langsung turun dari motor dan merapihkan baju ku.
Kami berdua berjalan berdampingan, ahh dia mengajak ku nonton ternyata "mau nonton film apa, eitttsss gak ada film dangdut apa lagi lagu dangdut" kata nya sambil menaik turunkan Alis.
Kucubit pelan lengan nya "Kak Ryan ihh malu" ucap ku sambil menunduk.
"Hahaha suka nih aku kalau lagi malu-malu kucing kayak gini" sahut nya sambil mengacak pelan rambut ku.
"Jadi mau nonton apa, horor, romens, atau humor" tanya nya lagi.
"Humor aja kak" jawab ku cepat.
__ADS_1
"Okey romens aja" kata nya langsung pergi sebelum ku semprot.
"Ck ck dasar kenapa tanya aku kalau gitu" gerutu ku.
Tak ingin berdiri seperti orang hilang ku cari tempat duduk di sekitar sini.
Setelah menemukan tempat yang bisa dilihat dengan mudah oleh kak Ryan ku dudukan pantat ku disana "nyaman nya" pikir ku
Kulihat sekeliling dimana kebanyakan yang ada disini adalah sepasang kekasih, sedang santai-santai nya tiba-tiba mata ku melihat Raka, apa Raka, mata ku masih memandang nya yang berjalan membelakangi ku, saat tiba-tiba Raka berbalik melihat ke arah ku dengan repleks tau bahwa sekarang aku berada dalam mode bahaya, langsung saja ku tundukkan kepala ku.
"Jangan sampai lihat, jangan sampai" ucapku berdo'a.
Kurasakan ada yang menepuk bahu ku, gleekkk seketika tenggorokan ku terasa kering, pelan kutegakkan kepala melihat siapa yang menyentuh ku "huuuhh astaga, kak Ryan ngagetin aja, aku pikir siapa" jawab ku dengan bernafas lega.
"Memang nya siapa lagi kalau bukan Aku, ada orang lain disini yang kamu kenal" tanya kak Ryan heran.
"Ehh enggk enggkk hehehe, emm tiket nya udah di beli ya" tanya ku memastikan.
Bagaimana ini, sepertinya Raka juga mau nonton, aku lihat dia ke arah tempat penjualan karcis, tapi nonton bersama siapa dia?, aisss Aluna, ayoo Aluna jangan pikirkan itu dulu, ayoo berpikir bagaimana supaya tidak bertemu Raka.
"Ehhhh ehhh emmm maksud aku gimana kalau kita ketempat lain" kata ku sambil menggigit bibir bagian dalam ku, berharap kak Ryan setuju agar tak ada kemungkinan untukku bertemu dengan Raka.
"Loh tapi tiket nya sudah dibeli, masak gak ditonton mubazir Lun" tolak kak Ryan yang tak setuju dengan usul dariku.
"Kamu kenapa sih, kok kayak nya cemas gitu, sakit?" lanjut kak Ryan bertanya sambil menaruh punggung tangan nya di keningku.
Kusingkirkan tangan kak raka dari kening ku dengan pelan "enggk aku gak sakit. aku... aku.. emm cemas karena papa.. iya aku cemas karena ninggalin papa" kilah ku berbohong.
"Udah gak usah cemas, kan ada ayah yang jagain, biasa nya kamu kerja juga gitu kan?" ucap kak raka dengan mengelus punggung tangan ku, berusaha menyalurkan rasa nyaman.
Aku tersenyum, bagaimana ini, lalu tiba-tiba terlintas ide di kepala ku "kak kita kesana dulu ya beli masker sama kacamata" ucap ku sambil menuntun tangan kak Ryan untuk mengikutiku.
"Loh ngapain beli kayak gitu."
__ADS_1
"Ohh itu akuu.. akuu sedikit flu takut nular hehehe" jawab ku berusaha tak menimbulkan curiga.
"Kamu sakit mau pulang aja" ku lihat wajah kak Ryan sudah mulai cemas, apakah sebegitu khawatir nya diri nya pada ku.
"Enggk cuman dikit, udah yuk jangan ngajakin berenti mulu ntar film nya keburu mulai" kata ku yang tak ingin mendapat kan pertanyaan lagi.
Kak Ryan pasrah ku seret tangan nya menuju tempat barang-barang yang aku cari.
*****
Disinilah aku duduk menonton film tetapi pikiran ku tak fokus ke sana, mata ku memandang seseorang yang duduk di barisan ketiga bersama dengan seorang perempuan "Apa itu yang dibilang Raka waktu itu, gadis yang Raka cintai" bisik Aluna dalam hati
"Cukup Aluna jangan pikirkan lagi Raka, lihat lah dia sudah bahagia dengan hidup nya, lagi pula tak ada lagi yang bisa kamu banggakan untuk bersanding dengan nya".
"Heii.. serius banget nonton nya" senggol kak Ryan
Aku hanya tersenyum kecil, meski tak terlihat karena tertutup masker "gak suka ya sama film yang aku pilih, mau pulang aja" tawar kak Ryan.
"Gak usah, aku suka kok" kata ku pelan takut mengganggu penonton yang lain nya.
"Jangan pikir kan apa pun dulu hari ini, fokus sama dirimu sendiri hemm" kak Ryan berkata lembut, jarak kami begitu dekat, hembusan nafas nya terasa di wajahku.
Takut terjadi hal yang tidak diingin kan aku langsung membuang pandangan ku ke arah depan "lanjut nonton lagi kak, nanti gak tau alur cerita nya hehehe" ucap ku berusaha menyingkirkan kecanggungan diantara kami karena hal tadi.
"Jawab dulu, bisa, gak mikirin apa pun hari ini."
"Walau cuman sehari aku ingin melihat dirimu lepas dari semua nya, jadi apa yang kamu ingin kan hari ini" lanjut kak Ryan lagi.
Kak Ryan benar mungkin hanya hari ini Aku bisa melepaskan semua beban ku, "okey" jawab ku tersenyum lebar.
Ya hari ini aku akan menjalani tanpa memikirkan papa di kontrakan tanpa memikirkan Raka, tanpa memikirkan masa lalu ku hanya diri ku sendiri.
Kak Ryan tersenyum senang mendengar balasan dari ku.
__ADS_1