Raluna

Raluna
Menolak Lamaran


__ADS_3

..."jangan lupa ya kalau belum sholat, sholat dulu baru membaca☺️"...


sudah satu jam lama nya Aluna duduk menangis sendirian "jadi seperti ini rasa nya,, dibully... hahaha"


"hahahaha... hiks.. hiks" Aluna tertawa sambil menangis seperti orang yang tidak waras.


sadar bahwa sebentar lagi Raka beserta keluarga nya akan datang, Aluna dengan cepat menghapus air mata nya kasar.


Berjalan menuju cermin yang ada dikamar nya, dia tidak boleh terlihat kacau di depan Raka, Aluna menambah foundation dan bedak untuk menutupi kantung mata nya, serta lipstik yang lebih menyala.


"kamu kuat Aluna.. ini tidak seberapa.. dulu kamu pernah melewati hari yang lebih sulit dari ini" Aluna mamatut dirinya sendiri di cermin menyemangati agar dia bisa kuat.


tok tok tok ketukan pintu di luar menyadarkan Aluna, menarik nafas dalam Aluna keluar dengan mengepalkan tangan nya kuat.


ceklek, pemandangan yang Aluna lihat Raka yang tersenyum cerah dengan kedua orang tua nya dibelakang.


"silahkan masuk" ucap Aluna singkat.


Raka yang mendapat perlakuan dingin Aluna menatap heran "ahhh mungkin saja karena dia gugup" asumsi Raka sendiri.


"maaf hanya ada kursi plastik disini"


"tidak papa sayang.. kami bisa duduk disini" balas ibu Aluna tersenyum tulus.


"kenapa wajah mu sangat familiar di mataku" ucap Hanung yang merasa pernah bertemu dengan Aluna.


"sayang mungkin kamu bertemu dengan nya di kantor,, dia kan bekerja di kantor kita,, kata Alex dia bekerja di Divisi pemasaran.. benar begitu nak"


"yah benar"


"dimana papa Aluna" tanya Raka heran tak menemukan papa Aluna diranjang seperti biasa nya.


"sedang main dengan kak Ryan" ucap Aluna singkat.


"main" ulang Raka lagi.


"aaahh aku baru ingat kamu gadis yang pernah menolongku waktu itu bukan" Hanung memotong perkataan Aluna dan Raka.


"oh benarkah.. ya Tuhan dunia itu memang kecil ya" Diana masih saja berbicara dengan ceria, meski sebenarnya ia sudah merasakan perasaan tak enak, dengan sikap dingin calon menantu didepan nya ini.


"hmm Aku orang nya"

__ADS_1


"ohh begitu ya" senyum Diana luntur karena lagi-lagi mendapatkan kata-kata ketus dari Aluna.


"Aluna kamu kenapa.. sakit" tanya Raka memeriksa kening Aluna.


Dengan cepat Aluna menepis tangan Raka "aku tidak papa"


"kalau begitu biar aku jemput papa.. untuk mengatakan maksud kedatangan kami pada nya"


Raka sudah beranjak hendak pergi menyusul papa Aluna.


"tidak perlu" ucap Aluna tegas.


Diana dan Hanung saling lirik bisa menebak apa yang akan terjadi selanjut nya.


"tidak perlu menjemput papa.. karena aku sengaja mengirim nya kesana"


"tapi.. kenapa"


"kenapa.. hahaha" Aluna tertawa mengejek.


"kenapa apa kamu pikir aku masih mencintai mu seperti dulu dan mau menikah dengan mu"


"jangan munafik Raka kamu pikir aku masih mencintai mu setelah dulu kamu rendahkan dan mempermalukan ku begitu saja heh" ya inilah senjata Aluna untuk menyinhkirkan Raka dari hidup nya.


"Raka.. Raka polos sekali kamu.. niat ku hanya satu balas dendam aku juga ingin kamu merasakan bagaimana rasanya ditolak dan dihina"


"bagaimana Raka.. bagaimana rasanya.. sakit bukan.. itu juga yang Aku rasakan dulu" bentak Aluna di depan kedua orang tua Raka.


bagus Aluna semakin jahat maka semakin bagus, biar sekalian orang tua nya yang menyeret Raka dari sini.


"nak tenangkan dirimu dulu sayang.. ayo kita bicara baik-baik" Diana berusaha menenangkan Aluna, ia sungguh tidak percaya gadis didepan nya ini Aluna, meski baru pertama kali bertemu tapi Diana yakin Aluna gadis baik.


"tidak perlu menenangkan saya tante.. sekarang silahkan tante dan keluarga tante pergi dari Rumah ini" balas Aluna dengan nada membentak.


"cukup.. Aluna jangan bentak bunda" Raka sungguh tidak terima ada yang membentak bunda nya sekalipun itu Aluna.


"ohh lagi anak berbakti heh.. cepat pergi dari sini sebelum aku mengucapkan kata-kata yang lebih kasar dari ini Raka" tegas Aluna.


Hanung yang melihat pertunjukan didepan nya menatap Aluna penuh selidik, ia merasa ada yang tidak beres dengan gadis didepan nya, kata-kata nya memang kasar tapi sorot mata memancarkan kesedihan dan seolah mengatakan maaf.


Hanung sudah puluhan tahun berbisnis dan mempelajari sorot mata serta gestur lawan bisnis nya, dan ia sangat yakin ada yang gadis ini tutupi.

__ADS_1


"tidak usah bertengkar disini Raka.. ayo kita pulang" Hanung bangun dari duduk nya.


"tapi Ayah Raka"


"Raka turuti perkataan Ayah" ucap Hanung tak ingin di bantah.


"sayang kita.."


"Bunda pulang" ulang Hanung lagi, pergi lebih dulu keluar dari rumah, diikuti oleh raka dibelakang nya.


sebelum pergi bunda raka menghampiri Aluna yang membuang pandangan dari mereka.


"nak bunda tidak tahu apa yang terjadi pada mu.. tapi bunda yakin ini bukan dirimu.. jika kamu merasa sakit hati dulu terhadap Raka maaf kan dia yah.. atas nama Raka bunda minta maaf" dikecup nya kening Aluna meski tak mendapatkan respon apa pun.


"bunda pergi ya jaga kesehatan mu" sekali lagi bunda Aluna membelai sayang surai rambut Aluna..


setelah kepergian Raka dan keluarganya tubuh Aluna runtuh ke lantai, air mata nya luruh dengan deras.. tidak seharusnya dia menyakiti keluarga sebaik itu.


"hiksss... hiksss.. maafkan aku.. maafkan aku"


tanpa sadar ada tubuh yang membawa Aluna bersandar dalam dekapan.


"tenanglah semua akan baik-baik saja" Ryan mendengar semua nya, dia sengaja bersembunyi takut terjadi sesuatu pada Aluna, Ryan kaget saat mendengar kata-kata kasar yang keluar dari mulut Aluna.


"hikss.. hiksss kak Aku harus apa.. hikss.. kenapa ini semua terjadi pada ku kak" ucap Aluna dengan tangis yang semakin pecah.


Ryan tak berkata apapun, kali ini dia hanya ingin menjadi pendengar serta menenangkan Aluna dengan pelukan nya.


"harus apa.. hiksss.. aku cinta Raka kak aku cinta dia hikss"


Ryan menepuk-nepuk punggung Aluna, sambil beberapa kali mengecup puncak kepala nya.


"tapi hikss.. aku tidak bisa.. aku tidak sepadan dengan nya kak.. hikss wanita itu lebih baik dari ku kak, aku harus apa"


jadi ini masalah nya, Ryan mengerti sekarang gadis yang Ryan lihat meninggal kan kontrakan Aluna lah penyebab nya, ia yakin Aluna telah diancam oleh gadis itu.


"kak Aku cinta Raka.. cinta Raka hikss" perlahan mata Aluna tertutup karena lelah menangis.


Diangkat Ryan tubuh Aluna dan dibaringkan nya ke kasur yang sering di tiduri oleh papa Aluna, ia cukup sadar diri untuk membawa Aluna ke kamar nya, karena buat Ryan kamar adalah privasi seorang wanita.


"tenang lah Aluna aku janji akan membuat mu tersenyum lagi" Ryan mengelus kening Aluna.

__ADS_1


"tidur lah yang nyenyak ya.. lupakan semua kejadian hari ini" ucap Ryan dengan menepuk-nepuk lengan Aluna agar Aluna tenang dalam tidur nya.


__ADS_2