Raluna

Raluna
Habis tak tersisa


__ADS_3

..."*Karena setiap manusia memiliki perjuangan nya masing-masing ada yang berjuang...


...mencari uang ada pula yang...


...berjuang mencari kasih sayang...


...ada di posisi mana...


...dirimu saat ini*?"...


Disini lah Aluna sekarang rumah kontrakan dengan kamar satu, ruang tamu dimana di pojok ruangan terdapat ranjang kecil untuk Ayah nya, dapur dan kamar mandi yang jauh dari tempat nya dulu.


Rumah, mobil semua nya telah Aluna jual untuk menutup hutang papa nya juga biaya selama pengobatan papa nya dirumah sakit.


Sedikit uang yang tersisa ia pakai untuk mengontrak di dalam gang sempit, juga untuk makan nya sehari-hari sebelum ia mendapat kan pekerjaan.


Aluna memutuskan pindah ke luar kota agar teman-teman nya tak melihat nya dengan tatapan kasihan, kota ini adalah kota asal bik surti, berkat bantuan bik surti yang menghubungi saudaranya meminta bantuan untuk membantu ku mencari tempat.


Hingga di sinilah Aluna sekarang, awal nya memang terasa berat namun lambat laun Aluna mampu beradaptasi dengan keadaan nya sekarang.


Aluna benar-benar memutus kan kontak dengan teman-teman sekolah nya dan juga mama nya.


Ia mengganti nomor beserta ponsel nya, ia jual ponsel nya dan menggantinya dengan merk yang tak terlalu mahal.


Aku harus bersyukur karena tak lama dari kepindahan ku aku mendapat kan pekerjaan part time di rumah makan yang terletak di jalan raya sekita 10 menit dari kontrakan jika aku berjalan kaki.


Tentang sekolah, aku pindah ke sekolah di daerah ini, syukurlah biaya sekolah disini tak semahal sekolah ku yang dulu.


Gaji ku bekerja sebagai pelayan di rumah makan tentu tak akan cukup untuk menutupi kebutuhan aku dan ayah, karena itu aku bekerja sampingan dengan menjual berbagai kebutuhan kepada teman-teman disekolah ku, dan juga tetangga-tetangga di sekitar kontrakan ku.

__ADS_1


Untunglah disini masih termasuk kota yang belum terlalu pandai dengan berbelanja online sehingga membuat ku lebih mudah menawarkan barang yang ku ambil dari jakarta lewat aplikasi online.


Hasil nya pun lumayan meski terkadang aku harus putar otak ketika obat papa habis atau kebutuhan papa seperti pampers misalnya.


"Lun meja di depan beresin gih yang makan udah balik" ucap mba lina yang membuat ku kembali dari lamunan.


"Siap mba" jawab ku cepat dan langsung melangkah kan kaki ku kedepan.


Aku harus semangat agar tak di pecat dari sini, kalau ingin mengeluh rasanya tubuh ku terasa pegal, pulang sekolah mengganti pakaian, memberikan papa makan, lalu mengganti pampers nya rasanya tidur akan menjadi hal yang saat ini aku ingin kan.


Tapi tidak aku tak boleh malas, ingat obat papa tak akan bisa ku beli jika aku bermalas-malasan.


Pukul 8 malam Aluna baru sampai di kontrakan nya, dilihat nya papa nya yang hanya terbaring di atas kasur, tubuh nya sudah mulai mengurus tak segagah dulu lagi.


"Assalamualaikum pah" Aluna mencium punggung tangan papa nya.


Semenjak kejadian itu sifat Aluna berubah ia kembali menjadi Aluna seperti saat ia masih merasakan kasih sayang orang tua nya, seorang gadis ceria dan penuh dengan sopan santun.


"Aluna ambilin air dulu buat bersihin badan papa,.. biar papa wangi siapa tau kan nanti ada janda kembang yang nyantol hahahah" hibur Aluna pada papa nya.


Aluna harus bisa menjadi orang yang humoris dan ceria agar papa nya tak berpikir bahwa Aluna menderita ikut dengan nya.


Karena semenjak papa nya keluar dari rumah sakit dia hanya melamun dengan tatapan kosong, awal-awal Aluna pulang bekerja papa nya langsung menangis melihat anak gadis nya pulang malam demi menghidupi diri nya.


Setelah selesai membersih kan tubuh papah, aku langsung menyuapi dengan makanan yang tadi aku beli "aaa ayo papa makan biar tambah gemuk, cepet sembuh deh" kata ku sambil membawa sendok ke bibir mulut papa.


" Eeee..eeeee...eeee" lagi-lagi papa susah untuk makan aku harus ektra sabar menyuapinya.


"Kenapa makanan nya papah gak suka ya" kata ku pura-pura sedih agar papah mau makan.

__ADS_1


"Eeehh..ennndak...buutan" sambil menggelengkan kepala nya.


"Terus kenapa, kok gak mau makan" tanya Aluna masih pura-pura kecewa.


"Taaaanuuu uuuggaa aakaan" dengan susah payah papah Aluna mengucap kan kata yang dulu sangat gampang iya ucap kan.


"Iihhh papa so sweet deh" jawab aluna ceria sambil memeluk tubuh papa nya.


"Tapi aku udah makan, di tempat kerja, kan aku kerja nya di rumah makan, jadi aku makan dulu baru pulang" jelas Aluna pada papa nya.


"Sekarang aaa ya.. buka mulut papa pelan-pelan" bujuk Aluna.


Perlahan mulut itu terbuka kecil, dengan telaten Aluna menyuapi papa nya lalu dilanjut kan dengan meminumkan nya obat.


"Papa pinter deh,,, kalau kayak gini papa sembuh nya bisa cepet" ucap Aluna sambil membereskan peralatan makan papa nya untuk dibersih kan.


Baru lah setelah semua keperluan papa nya selesai Aluna membersih kan tubuh nya, tentang iya yang sudah makan Aluna tak berbohong ia memang sudah makan di tempat kerja untung lah pemilik nya sangat baik memberikan Aluna sepiring Nasi dengan 1 lauk sederhana sisa penjualan tak apa walau terkadang hanya tempe, atau tahu yang diberikan karena memang hanya itu yang tersisa.


Kalau pun sayur yang enak seperti ikan atau ayam yang di berikan Aluna tak memakan lauk nya, dia akan bungkus untuk di berikan pada papa nya.


Ini lah Aluna yang sekarang, tak ada lagi Aluna yang turun dari mobil mewah, memakai pakaian branded, atau akan membuang makanan yang tak ia suka.


Ahh Aluna menyesal pernah menyia nyia kan makanan dulu, ia baru tau rasa susah nya mencari uang untuk makan.


Rasa nya Aluna ingin memutar waktu, biar lah ia berada di tengah-tengah kedua orang tua yang selalu bertengkar dari pada hidup seperti sekarang, ia mungkin tak masalah hidup serba kekurangan tapi ia kadang tak sanggup melihat keadaan papa nya.


Mandi harus dimandikan, buang air besar harus Aluna yang menyeboki nya.


Aluna ingat pertama kali ia melakukan nya papa menolak dengan keras, berkat kegigihan Aluna membujuk papa nya, serta rasa yang tak enak pada pantat nya, akhir nya papa nya mengalah dengan air mata yang mengalir dari pipi nya.

__ADS_1


Aluna pun sebenar nya malu melakukan nya, bagaimana pun papa nya seorang laki-laki yang mempunyai bentuk tubuh yang berbeda dari Aluna.


Aluna memejam kan mata nya berharap ketika besok ia terbangun semua akan kembali seperti semula.


__ADS_2