
"Tapi tante kenapa nama Panggilan Aluna diganti tante" Tanya Raka penasaran mengapa nama panggilan Dira diganti menjadi Aluna dan mengapa Aluna tidak mengingat sama sekali bahwa ia pernah mendapatkan nama panggilan Dira.
"Tante tidak ingin mengingat kejadian itu lagi rasanya,, tante susah untuk bernafas jika mengingat kejadian itu."
"Memangnya apa yang terjadi tante" Tanya Raka dengan rasa penasaran yang tinggi.
Ayunda menatap pandangannya kedepan, mencoba mengingat kembali kenangan pahit yang sebenarnya tak ingin ia ingat-ingat
Flashback
Ayunda meningkatkan kecepatan laju mobilnya, jam sudah menunjukkan pukul 11 siang itu berarti sudah setengah jam lebih putrinya menunggu disekolah.
Tadi Ayunda terjebak tak bisa lewat karena ada kecelakaan didepannya, membuat Ayunda tertahan selama 1 jam disana.
"Sayang maafkan mama ya Dira... tunggu mama nak" Racau Ayunda cemas dengan keadaan putrinya.
Setelah sampai didepan sekolah Ayunda segera mencari keberadaan putrinya di tempat biasanya Dira menunggu dirinya datang,,
"Astaga kenapa tidak ada." Panik Ayunda.
Sekolah sudah tanpak sepi tidak ada lagi murid ataupun guru yang bisa ia tanya dimana keberadaan putrinya.
Seketika kepanikan melanda putrinya "Dira kamu dimana nak."
Ayunda langsung menghampiri pedagang yang biasa nya memang berjualan didepan sekolah Dira.
"Maaf pak lihat anak kecil seperti difoto ini" tanya Ayunda yang sudah mulai cemas.
"Oh maaf bu saya tidak lihat.. Ibu.. Ibunya anak itu?" Tanya balik si pedagang.
"Iya pak saya Ibunya.. saya tadi telat menjemput anak saya tapi kenapa anak saya tidak ada lagi disni pak" tangis Ayunda sudah tidak bisa lagi ditahan.
"Mungkin dia pulang naik taksi buk.. coba tanya dulu dengan orang dirumah."
Benar kenapa dia tidak berpikir sampai kesana, dengan cepat Ayunda menghubungi telpon rumahnya "Hallo bik" ucap Ayunda saat sambungan telponnya diangkat.
"Bik Dira sudah pulang"
"Belum nyonya saya pikir non Dira diajak jalan-jalan dulu sama Nyonya"
"Ya Tuhan..." Ayunda sudah duduk jongkok lemas dan tidak dapat lagi menahan bobot tubuhnya sendiri.
"Bik Dira tidak ada dengan saya.. saya mohon jika Dira pulang hubungi saya ya bik!!" ucap Ayunda masih berusaha tenang
"Baik Nyonya.. pasti akan saya hubungi" Balas bik surti yang juga ikut cemas mendengar kehilangan Dira.
"Dimana kamu nak," Ayunda seperti orang gila yang menangis di pinggir jalan.
"Mas Agung aku harus hubungi dia"
"Hallo mas," ucap Ayunda dengan cepat setelah sambungan terhubung.
__ADS_1
"Ada apa Ayunda, kenapa kamu menangis" ucap Agung cemas di sebrang sana.
"Mas Dira hilang mas"
"Apa bagaimana mungkin" ucap Agung kaget.
"Tadi aku terjebak dijalan karena kecelakaan mas.. bagaimana ini mas" Ayunda sudah bercerita sambil menangis
"tenangkan dirimu aku akan segera kesana" ucap Angung cepat.
"Hansel batalkan semua jadwalku hari ini" perintah Agung dan langsung pergi meninggalkan kantor.
"baik pak"
Dengan cepat Agung meluncur ke sekolah Dira untuk memastikan keadaan disana.
Sampai disana ia melihat istrinya yang menangis dengan terduduk ditanah seornag diri.
"Sayang" sapa Agung setelah ia turun dari mobil mewahnya.
"Mas.. Dira.. Dira mas... Dira hilang"
"Tenangkan dirimu.. kamu sudah cari atau telpon orang rumah" tanya agung masih berusaha tenang.
"Sudah mas tapi dira tidak ada"
"kalau begitu naik keatas mobilku kita kekantor polisi buat pengaduan kehilangan" Titah Agung cepat.
"Bagaimana mungkin kalian masih menyuruh kami menunggu" Bentak agung karena laporannya ditolak.
"Pak kami baru bisa memproses laporan bapak dan ibu jika anak ibu yang hilang sudah 1X24 jam" jawab polisi itu menjelaskan prosedur yang berlaku.
"Tapi pak putri kami ini hilang.. hiks bagaimana jika dia celaka" ujar Ayunda berusaha agar polisi memproses laporan mereka.
"Coba kalian berdua cari dahulu dimana.. atau hubungi saudara kalian siapa tahu anak kalian disana"
"Jika besok masih belum ditemukan, maka datang lagi kemari kami akan memprosesnya" sambung polisi itu masih tidak mau menerima laporan.
Dengan kecewa Agung dan Ayunda pergi dari kantor polisi dengan kecewa.
"Mas Dira bagaimana mas"
"Agung memijat pelipisnya merasa pening mengkhawatirkan keadaan anaknya di luar sana.
"Kenapa juga kamu bisa telat menjemputnya" ucap Agung mulai menyalahkan Ayunda.
"Aku sudah jelaskan jalanan macet aku tidak bisa lewat" balas Ayunda tidak kalah kerasnya dengan agung.
"Kamu bisa menghubungi diriku.. dasar saja otakmu itu tidak nyambung" kesal Agung melampiaskan amarahnya pada istrinya.
Sedangkan Ayunda dia tidak lagi membantah perkataan suaminya ia sudah menangis di samping suaminya.
__ADS_1
Drett drett drettt ponsel Agung bergetar
"Hallo,,,,sudah ku bilang cansel semua..."
"Siapa kau" Agung merubah nada suaranya setelah mendengar bukan suara Hansel yang menghubungi dirinya.
"Tenang tuan.. jangan bicara seperti itu padaku jika tidak ingin anakmu ini kamu sakiti" ancam seseorang dari tempat yang entah dimana
Ya yang menghubungi Agung adalah penculik yang telah menculik Dira.
"Jangan sakiti anakku,, katakan apa maumu" ucap Agung panik.
"Mas Dira" Ayunda langsung bertanya pada suaminya setelah mendengar suamunya menyebutkan nama anaknya.
"Ayo Dira.. katakan apa mau kami Dira katakan..."
"menjauh dari anakku" Bentak Agung, walau tidak melihatnya tapi pirasat agung mengatakan bahwa mereka saat inis edang menakut-nakuti anaknya.
"Sudah kau bilang jangan bentak aku."
Setelah itu bunyi teriakan kesakitan dari dira membuat Agung menegang ketakutan.
"Baik maafkan aku... aku mohon jangan sakiti anakku.." Mohon Agung dengan nada memelas.
"Sekarang katakan apa mau kalian aku akan mengabulkan semuanya tapi tolong jangan sakiti anakku" lanjut Agung lagi.
"Dira.. katakan apa mau om Dira.. katakan pada papahmu" Penjahat itu masih saja menakut-nakuti Dira, melihat Dira yang menangis membuat suatu kesenangan sendiri untuknya.
"Papah tolong Dira hiksss"
Agung memejamkan matanya tak kuat mendengar suara parau anaknya yang sepertinya telah lama menangis.
""Mas aku mohon louspkear mas" Ayunda mengguncang lengan suaminya.
Tanpa membantah Agung menekan tombol speker agar Ayunda juga bisa mendengar.
"Sayang dengarkan mama... mama akan menjemput Dira.. jangan takut.. jangan menangis ya sayang mama pasti akan datang sebentar lagi" Ayunda berusaha menenangkan anaknya dari jauh.
"mama.." lirih suara Dira tedengar menyayat hati kedua pasangan yang ada di mobil itu.
"Dira dengarkan papa tidak usah menangis.. papa akan datang menjemput Dira"
"Sudah acara keluarganya... saatnya aku yang bicara"
"Dengar siapkan uang 1 miliar malam ini juga, aku akan mengabarkan dimana kita akan bertransaksi.. jangan lapor polisi sekali saja aku tahu kalian membawa polisi jangan harap putri cantikmu ini masih hidup"
"Jangan sakiti anakku.. aku janji tidak akan lapor polisi.. tapi aku mohon berikan anakku makan.. aku akan memberikan uang yang kalian mau" ucap Agung dengan panik mendengar mereka akan melenyapkan anaknya.
"Bagus tidak perlu khawatir jika kau menurut anakmu ini pasti akan selamat"
"hahahahhhaha" Tawa sang penjahat bagaikan pesakitan yang Agung dengar.
__ADS_1