Raluna

Raluna
Anak Pemilik Perusahaan


__ADS_3

..."Semua bagai misteri yang belum bisa aku pecah kan, tapi melihat dirimu kembali Aku tahu bahwa Tuhan sedang membantu ku menyelesaikan nya"...


............


Hari ini semua divisi sibuk mempersiapkan kedatangan CEO yang baru, ia adalah anak dari pemilik perusahaan ini, itu berarti dia adalah anak pak Hanung orang yang dikirim Tuhan untuk membantu ku melalui caranya.


"Lun lo tau gak gosip yang nyebar" tanya Nola.


"Entah, emang gosip apaan" balas luna dengan gestur menaikkan bahu nya.


"Kata nya nih ya CEO kita yang baru cakep Lun, tapi sayang gay" bisik Nola ditelinga ku takut terdengar oleh karyawan lain nya, bisa berabe jika kami di laporkan karena bergosip pemilik perusahaan.


"Masa sih,, kamu tau gosip nya dari mana" tanya ku kepo.


"Kan kemarin Aku di kamar mandi terus ada tuh cewek yang dari mutasi perusahaan pusat, kata nya itu pak bos kita gak pernah sekali pun deket sama perempuan."


"Padahal ganteng Lun katanya, kulit nya bagus badan nya tinggi tegap beh kayak artis korea deh" sambung luna bercerita dengan penuh semangat sampai-sampai tak sadar bahwa suara nya kini sudah menggunakan nada seperti biasanya.


"Suttttt jangan gede-gede ngomong nya, untung di ruangan ini cuman ada kita berdua, kalau tadi rame gimana, balan kena omel kita La" omel Aluna pada Nola yang terkadang tak tahu situasi dan tempat untuk bergosip.


"Hehehe... keceplosan maaf" kata nya sambil membentuk pish dengan jari.


Kasihan sekali pak Hanung jika benar ia memiliki anak seorang gay, apa lagi setauku dia hanya memiliki seorang anak, pasti hati nya sangat hancur mengetahui anak semata wayang nya tidak tertarik terhadap perempuan.


"Lun kita cuman mau disini nih gak mau liat Pemimpin kita yang baru" tanya Nola.


"Nanti lah La kan katanya jam 10 sekarang jam setengah 10,, santai dulu lah" ucap Aluna dengan menyenderkan kepala nya di kursi kesayangan nya.


"Ya maksut aku kita gak mau dandan dulu apa, tuh liat yang lain pada ke kamar mandi beresin penampilan mereka" usul Nola dengan tangan menunjuk ke arah luar.


"Kan kamu sendiri yang bilang, CEO kita gay terus ngapain dandan gak bakal juga dilirik kecuali kalau kita cowok baru tuh beresin penampilan supaya pak CEO mau jadiin pasangan nya" kata ku dengan bersuara kecil saat menyebut kata gay.


"Ha ha ha iy juga ya."


"Lagian ngapain kamu dandan udah mau dilamar juga,, aku laporin Radit baru tau rasa " ancam Aluna.

__ADS_1


"Ehh jangan dong,, Aluna kan cantik baik lagi, lagi pula aku tadi kan nawarin nya kamu yang masih jomblo" katanya membela diri.


"Kuping gue masih sehat La tadi kamu ngomong nya kita, itu berarti aku dan kamu" lanjut Aluna sambil menaik-turun kan alis nya dengan smrik andalan nya.


"Ihh Aluna mah jangan gitu dong, sahabat mu ini baru bahagia, jangan buat dia patah hati lagi ihh" kata Nola dengan manja.


"Ha ha ha iya iya becanda sayang" sambil mencubit gemas pipi Nola.


"Aluna ihh sakit tau" ucap Nola sambil melepas tangan Aluna dari pipi nya.


"Yuk keluar udah mau jam 10" ajak ku pada Nola yang sedang mengusap-usap pipi bekas cubitan ku.


"Ayokkk lets go" ku pandangi ia dengan heran semangat sekali ini anak nyambut CEO baru udah kayak mau nyambut calon suami aja.


"Bilang Radit lo" canda ku.


"Apaan sih Aluna" katanya manja.


Aku terkekeh geli melihat perubahan eksperesi Nola dari sumringah menjadi mengerucut kan bibir nya lucu.


"Apa" kata nya dengan semangat.


"Bohong, ha ha ha" aku langsung berlari menjauh dari nya, Nola memang anak nya sangat polos, aku suka berteman dengan nya kepolosan nya terkadang membuat mood ku bisa jadi lebih baik.


"Aluna tunggu" lihat lah dia menghentak-hentak kan kaki nya dengan lucu, dia sangat mudah untuk membuat orang lain menyukai nya, pantas saja Radit si playboy cap kapak itu tobat dan melabuhkan hati nya pada Nola.


Terkadang jika aku bersama dengan Nola sudah seperti memiliki seorang adik, sikap nya yang manja pada ku membuat karyawan kantor yang lain nya bicara bahwa aku ibu nya Nola, aku pawang nya Nola hahaha lucu sekali.


"Mana sih CEO nya kok gak dateng-dateng udah jam 10 lewat juga, gak disiplin banget" omel Nola sambil berbisik ditelinga ku.


"Sabar sebentar lagi, macet kali dijalan" ucap ku menenangkan.


"Kaki ku udah pegel lun berdiri mulu" keluh Nola.


"Mangkanya kan aku udah bilang dari kemarin-kemarin jangan pake hils yang terlalu tinggi, gini kan jadi nya" ucap ku kesal.

__ADS_1


"Kamu mah enak lun udah tinggi, lah aku pendek, kalau gak pake hils udah kayak anak SMP" jawab nya dengan ekspresi sedih.


Saat ini kami berada di barisan kedua, barisan yang menurut ku cukup strategis untuk melihat wajah CEO kami yang baru.


Mobil mewah telah berhenti di depan pintu utama perusahaan, yang pertama terlihat adalah sepatu mengkilap yang turun perlahan dari mobil.


Aku menundukkan kepala sopan mengikuti yang lain nya.


Tuk tuk tuk suara sepatu dari langkah kaki mulai terdengar mendekat.


Satu persatu ketua divisi dan orang-orang penting yang lainnya menyalami CEO yang baru dan mengucap kan selamat datang.


"Lun, beneran ganteng" bisik Nola dengan mata yang masih mencuri-curi pandang ke arah laki-laki yang menjadi pusat perhatian hari ini.


"Coba Lun angkat kepala mu dikit terus liat sendiri, kamu pasti terpesona" lanjut nta lagi.


Ku angkat kepala ku sebentar, lalu ku tundukkan lagi.


"Gak keliatan La bapak nya lagi nengok belakang tadi" kataku.


"Gila kamu Lun masak orang cakep kamu panggil bapak" oceh Nola dengan pelan.


"Hihihi kan harus sopan La" balas ku


"Coba sana angkat lagi kepala kamu, siapa tau kali ini beruntung, kalau masih gak keliatan kamu berarti lagi sial gak diliatan cowok cakep hihihi" ejek Nola pada ku.


Apa hubungan nya melihat wajah CEO dengan kesialan, tidak penting juga aku melihat wajah nya atau tidak, apa beda nya, kecuali kalau pak Hanung, jika dia melihat ku pasti dia akan tersenyum dan menyapa diri ku.


Ini kan yang datang anak nya, kenal saja tidak pada ku.


Untuk membuktikan bahwa aku tidak lah sial hari ini akhirnya sedikit aku tegak kan lagi kepala ku untuk melihat wajah nya.


Kebetulan ia akan berbalik dan menyapa ketua divisi pemasaran yang kebetulan tak jauh dari tempat ku berdiri.


Dapat Aku melihat wajah nya, dengan cepat aku tundukkan kembali wajah ku, tubuh ku seketika menegang, Tuhan takdir apa yang sedang kau rencanakan pada ku sebenar nya.

__ADS_1


__ADS_2