Raluna

Raluna
Aku Aluna Bukan Dira


__ADS_3

Aluna tercengang mencerna perkataan Raka, namun setelah nya, ia kembali tertawa "hahahaha... Raka kamu sehat hemmm" mengecek kening Raka dengan punggung tangan nya.


"Aku ini Aluna bukan Dira... coba buka mata mu atau kau ingin cuci muka dulu baru sadar hahahaha" Tawa Aluna menggelegar terdengar sampai keluar, bahkan Aluna tidak sadar bahwa sudah tidak ada lagi embel-embel pak memanggil Raka.


****


"Astaga Aluna kenapa" Nola yang tadi nya sudah mulai duduk santai kembali panik mendengar tawa Aluna.


"Pak ayo lakukan sesuatu,,, tidak dengar suara Aluna tadi" marah Nola pada pak Karyo.


"Aku sudah bilang Nola aku saja tidak bisa melakukan apapun" ucap pak Karyo lemah.


"lebih baik kau minta tolong pada asisten bos, kau lihat dia duduk santai disana" lanjut pak karyo dengan menunjuk Alex yang tak jauh dari mereka.


Benar juga pikir Nola, langsung saja Nola berlari menghampiri Alex "pak saya minta tolong teman saya ada di dalam ruangan sendirian, padahal kami semua tidak salah, kami hanya menuruti perintah, coba bapak bicara pada CEO, saya mohon pak" pinta Nola dengan wajah memelas.


Nola tak tahu saja itu pertanyaan yang Alex sedang cari taju jawabannya, kenapa hanya wanita itu yang ditahan diruangan.


"pak bapak mendengar saya" Nola menggerakkan telapak tangan nya di wajah Alex.


mendapat lirikan tajam dari Alex membuat Nola berhenti dan sedikit merasa takut "galak sekali, aku kan hanya minta tolong, kenapa malah melihat ku seperti itu" pikir Nola sebal.


"huuhh Akan saya coba" ucap Alex sambil berdiri melangkah menuju ruangan.


"aaaa bapak sungguh baik" kata Nola dengan berjalan mengejar Alex dibelakang.


*****


"Aluna kau itu Dira, lihat..."


tok tok tok ucapan Raka terhenti mendengar ketukan pintu.


"shittt.. siapa yang berani mengganggu ku" umpat Alex


"pak.. maaf apakah saya boleh masuk" tanya Alex sopan dengan Nola yang berada di belakang tubuh nya.


Raka berjalan menuju pintu dengan menggenggam tangan Aluna.


"pak lepas.. lepasin tangan saya" ucap Aluna berontak.

__ADS_1


brakkk suara pintu terbuka dengan keras "siapa yang berani mengganggu ku hah" tanya Raka dengan keras


semua orang yang berada di luar ruangan repleks berdiri dan meunduk takut melihat kemarahan Raka.


"maaf kan saya pak, saya hanya ingin memberitahukan bapak bahwa gadis ini tidak bersalah mereka semua melakukan perjalanan survey, atas perintah dari atasan mereka, jadi.."


"Apa kau pikir aku tidak tahu hah" potong Alex.


"dengerkan aku baik-baik kosongkan semua jadwal ku hari ini, sekali lagi kau ganggu aku, habis kau dengan ku" ancam Raka penuh penekanan.


"baik pak maaf kan saya" Alex menunduk hormat pada Raka.


setelah itu Raka menyeret Aluna pergi dari sana "bapak lepaskan tangan saya... pak.. Raka lepaskan tangan ku" bentak Aluna yang sudah mulai kesal.


mendengar nama nya terucap dari mulut Aluna membuat langkah kaki Raka berhenti "begitu lebih baik.. panggil aku Raka.. mengerti" Raka tersenyum dengan lembut sambil mengusap kepala Aluna dengan sayang.


Perlakuan Raka membuat semua karyawan bengong melihat nya, bagaimana tidak CEO mereka tersenyum hangat padahal baru beberapa detik yang lalu mengeluarkan Aura mematikan, suara keras dan lantang nya berubah menjadi lembut saat berbicara dengan Aluna.


melihat bos mereka sudah pergi barulah krasak.. krusuk riuh mulai terdengar


"wahhh Aluna beruntung sekali"


"Ya Tuhan, aku ingin jadi Aluna"


bising percakapan memuja Aluna, sedangkan ada dua orang yang masih bengong memikirkan situasi tadi.


"Aluna... pak Raka,, kenapa Aluna tidak cerita padaku, Aluna siapa nya pak Raka" ucap Nola dalam hati.


sedangkan Alex dia menghembuskan nafas lega dengan tersenyum senang.


jadi itu gadis pujaan yang bos nya cari selama ini, aaa dia harus melapor pada nyonya besar ini adalah berita bagus, sebentar lagi dia pasti sibuk mengurusi acara pernikahan.


****


Raka membawa Aluna ke dalam apartemen nya, srakk suara pintu yang tertutup membuat bulu kuduk Aluna berdiri "Ya Tuhan, apa yang akan terjadi pada dirinya" pikir Aluna.


"duduk lah kita akan bicara baik-baik disini tanpa gangguan" perintah Raka


tak ingin memancing amarah Aluna langsung menurut apa yanga Raka katakan.

__ADS_1


"tunjukkan aku foto masa kecil mu" titah Raka lagi.


"Ak.." belum sempat ingin mebolak melihat tatapan tajam Raka membuat Aluna mengurungkan niat nya.


Aluna membuka ponsel nya dan mencari foto masa kecil nya saat ia berualang tahun yang ke 6.


"ini.." ucap Aluna dengan menyerahkan ponsel nya.


seketika Raka tersenyum senang, dan memeluk Aluna kembali "kau tahu.. kau membaut aku takut.. ku pikir kau memang bukan Dira.. syukur lah kau Dira ku.." Raka mengecup Rambut Aluna berkali-kali.


mendapat perlakuan seperti itu bukan nya tersipu malu atau tersentuh Aluna malah merasa cemas "Ya Tuhan Aku sudah 2 hari tidak keramas.. rambut ku pasti bau" bisik Aluna.


"Aluna maaf kan aku.. maaf kan aku.. hiks maaf kan aku... ku mohon" bisik Raka ditelinga Aluna dengan suara lirih.


Aluna terpaku jadi dia memang Dira.. tapi mengapa ia tak ingat pernah bertemu Raka, kapan nama panggilan nya berubah menjadi Aluna. "kami yakin Aku Dira" tanya Aluna meyakin kan dirinya.


"sangat.. aku sangat yakin... Aku tidak mungkin lupa dengan wajah mu masa kecil.." ucap Raka lagi dengan mempererat pelukan nya.


jadi dia wanita yang dicintai Raka, Ya Tuhan takdir macam apa ini, ia bahagia bahwa cinta nya berbalas, tapi sungguh saat ini bagi nya cinta tidak lah penting seumur hidup nya saat ini hanya untuk kesembuhan papa nya.


"Aluna kau mau maaf kan Aku kan" kali ini Raka melepas pelukan nya dan duduk bersimpuh dihadapan Aluna, ia genggam lembut kedua tangan Aluna.


"jawab Aku Aluna.. Aku mohon" Raka berbicara sambil mengecup punggung tangan Aluna berkali-kali.


melihat perlakuan Raka sungguh Aluna tersentuh, Aluna tidak tahu untuk apa kata maaf itu terucap dari nya, sedangkan tak pernah sekalipun ia membenci laki-laki dihadapan nya ini, bagaimana mungkin ia benci sedangkan Raka pernah menjadi harapan hidup nya dulu.


"Aku tidak pernah marah pada mu Raka, atas segala ucapan mu, perlakuan mu, sungguh.. aku tak pernah membenci mu.. jadi Aku tak bisa ucap kan kata maaf.. karena itu tak dibutuhkan untuk orang yang tak pernah aku benci"


Raka menatap dalam kedua mata Aluna,, mata ini yang dulu ia temui ketika Raka berusia 5 tahun,, andaikan saat SMA Aluna menunjukkan mata nya ini Raka tak mungkin tidak mengenali nya.


Perlahan Raka mendekat kan wajah nya, Aluna menegang mau apa Raka, apa dia akan mencium ku.. Aluna ayo sadar... menghindar Aluna... tapi otak dan pikiran Aluna tak sama ia malah memejam kan mata nya.


cup...


kening Aluna terasa basah...


"Aku tak akan mengambil yang ini" sambil mengusal lembut bibir Aluna


"Akan ku sisakan setelah kita menikah, kecuali jika kau memang mengingin kan nya Aku tak akan menolak" sambung Raka dengan senyum jahil nya

__ADS_1


__ADS_2