Raluna

Raluna
Sedikit Pencerahan


__ADS_3

Setelah kepergian Hanung, Bram langsung mendorong tubuh Ayunda dengan kencang ke lantai.


"Awww" Ringis Ayunda merasa kesakitan di pinggangnya.


"Kau pikir kau siapa memperlakukan anakku seperti itu hah." Amuk Bram yang tak terima Sisil di tampar di depan wajahnya.


"Kalau kau lupa aku ini istrimu,, tapi tenang saja aku sudah tidak sudi lagi menjadi istrimu, ceraikan aku, Bram" Ayunda memandang Bram dengan benci, harusnya dari dulu dia meminta cerai pada laki-laki breng*sek di depannya, tapi baru sekaranglah Ayunda memiliki keberanian melawan Bram.


Mendengar Aluna berada di kota yang sama dengan nya membuat keberanian Ayunda meningkat, bagaimana pun caranya ia harus bisa menemukan dimana putri dan mantan suaminya tinggal.


"Hahahaha mau jadi apa kamu hah jika aku ceraikan mau jadi gembel di luar sana.. ingat Ayunda selama ini kamu menumpang hidup denganku" Ejek Bram karena selama ini Bram mengira Ayunda tidak bisa hidup tanpa kemewahan.


"Lebih baik aku menjadi gembel dari pada hidup dengan mu Bram"


Plakkk "Berani sekali kau bicara kurang ajar padaku.. baiklah kau ingin cerai aku akan ceraikan dirimu.. hari ini juga pergi dari rumahku.. kita lihat berapa hari kamu bisa bertahan tanpa kemewahan dariku" Tantang Bram yang yakin Ayunda akan kembali padanya lagi.


"Tidak perlu cemas Bram sampai mati pun aku tidak akan pernah kembali lagi padamu" Ayunda langsung bangun dan pergi keatas mengemasi baju-bajunya.


"Jika ingin pergi jangan bawa apapun yang pernah kau beli pakai uangku" ucap Bram lagi.


"Tidak akan.. aku juga tidak sudi" Balas Ayunda dengan mata yang menyorotkan kebencian pada Bram.


Bram menatap punggung Ayunda dengan tatapan marah dan meremehkan "kau pasti akan kembali lagi kerumah ini Ayunda, dan saat itu terjadi jangan harap aku akan menerima dirimu kembali"


***


"Kamu Sisil apa kau sudah tidak punya otak berurusan dengan keluarga Argantara" Marah Bram pada anaknya itu.


"Aku mencintai Raka pah" ujar Sisil pelan dengan menunduk.


"Cinta... cinta bulshit,, "


"Dengarkan papah jangan berurusan lagi dengan keluarga Argantara,, atau papah tidak akan perduli padamu jika hal ini terjadi lagi... dengar itu Sisil"


"Sial... sial... aaaaaaaa" Sisil seperti orang kesetanan yang berteriak kencang melampiaskan amarah nya.


***


Dengan satu koper ditangannya Ayunda berjalan menyusuri jalanan ia sungguh bingung harus kemana mencari anak dan mantan suaminya.

__ADS_1


"Keluarga Argantara.. mereka pasti tau.. ya aku harus kesana" Dengan cepat Ayunda menyetop taksi dan memintanya mengantar ke kediaman Argantara.


Sampai depan gerbang Ayunda di tahan oleh dua satpam "Mau cari siapa bu?"


"Saya mau masuk.. bertemu tuan Argantara.. ada yang ingin saya tanyakan... saya mohon Pak biarkan saya masuk."


"Tunggu sebentar ya Bu saya harus lapor dulu."


Setelah menelpon barulah mereka membukakan gerbang untuk Ayunda.


"Pak saya boleh titip koper saya" ucap Ayunda karena tidak mungkin ia menggeret koper ke dalam nanti malah dikira ingin menumpang tinggal atau mencari kesempatan karena dia Ibu Aluna.


"Boleh Bu taruh saja disitu" balas salah satu Satpam.


"Terima kasih ya pak."


Akhirnya Ayunda sampai pada pintu utama rumah Argantara, di pencet Ayunda bel yang ada di sampinya.


Ceklek.. Diana keluar dengan gaya anggunnya, ia pikir dia mengenal orang yang akan bicara padanya, tapi berkali-kali diana.mengingat dia sama sekali tidak mengenal wanita ini.


"Maaf anda yang ingin bicara tadi" Tanya Diana dengan menghadang Ayunda di depan pintu


"Iya nyonya" balas Ayunda dengan sopan.


Setelah sampai diruang tamu diana mempersilahkan Ayunda untuk duduk. "Duduklah."


"Ada apa sampai berani datang kekediaman ku.. apa yang inhin kamu bicarakan" tanya Diana tanpa mau berbasa-basi.


"Apa nyonya mengenal Aluna."


"Aluna.." Ulang Diana dengan raut wajah heran mengingat Aluna sekarang sedang dikurung oleh anaknya.


"Tentu saja." Lanjut Diana berusaha santai


"Syukurlah."


"Nyonya saya mohon.. beritahukan tempat tinggal Aluna dan papa nya dimana.. saya mohon nyonya."


"Kenapa saya harus mengatakan nya padamu?"

__ADS_1


"Karena hiksss.. saya Ibunya Aluna.. Ibu kandungnya" Lirih Ayunda, yang malu mengakui dia adalah Ibu yang telah melahirkan Aluna.


"Apa..."


"Jadi dia calon besanku" Bisik Diana dalam hati, mengingat tadi ia cuek pada wanita di depan nya ini.


"Ya Tuhan.. anda Ibunya Aluna.. saya Diana ibu nya Raka" ucap Diana yang telah merubah ekspresi wajah dan juga nada bicaranya menjadi lebih lembut dan menerima.


"Nyonya taukan dimana Aluna tinggal.. saya mohon nyonya bisa pertemukan saya dengan anak saya?" ucap Ayunda dengan wajah yang penuh dengan pengharapan.


"Tolong jangan panggil saya nyonya, sebentar lagi anak kita akan menikah, kita akan menjadi keluarga , jadi panggil saja saya dengan Diana" Tolak diana yang meresa tak enak dipanggil nyonya seolah-olah dia adalah atasan nya Ayunda.


"Ahhh anda tadi ingin tahu dimana Rumah Aluna kan nanti saya antar."


"Siapa yang ingin diantar kerumah Aluna" Raka datang dari dalam dan menghampiri Ayunda dan Diana Bundanya.


Diana langsung buru-buru menghampiri Raka agar anaknya tidak meninggalkan kesan negatif untuk pertama kali pada calon mertuanya.


"Raka ini Ibu kandungnya Aluna, yang sopan" Bisik Bunda Raka agar tidak terdengar oleh Ayunda.


Mata Raka melotot, setelah memperhatikan dengan seksama, benar ini Ibu Aluna yang dulu pernah dia temui saat dia kecil.


Dengan sigap Raka mengambil tangan Ayunda dengam sopan "Saya Raka tante, calon suami Aluna"


"Ohhh begitu.. Aluna akan menikah" jawab Ayunda dengan perasaan haru sekaligus sedih tak menemani masa-masa sulit anaknya.


"Iya tante.. " ucap Raka dengan cepat.


"Raka bisa bawa tante pada Aluna dan papanya" Mohon Ayunda dengan memegang kedua tangan Raka.


Deg.. deg.. deg.. Raka mengedipkan matanya berkali-kali dengan sesekali menatap kearah atas rumahnya.


"Ten... tentu tante pasti saya akan pertemukan tante dengan Aluna" jawab Raka dengan gugup, dan melirik kearah Bundanya yang kemudian membuang wajahnya dari Raka seolah mengatakan Bunda tidak bisa membantumu.


"tapi sebelum itu apa tante tidak ingat dengan Bunda saya dan saya" Tanya Raka ingin memastikan sesuatu.


Ayunda terlihat bingung dengan pertanyaan Raka, yang seolah-oleh mereka pernah saling mengenal sebelumnya.


"Tante pernah bertemu saya dan Bunda saat Aluna hilang di taman hiburan"

__ADS_1


Setelah berpikir lama Ayunda ingat "Ahh benar saya ingat, jadi kamu raka, yang dulu menolong anak saya" seru Ayunda setelah mendapat ingatan nya.


"Tapi tante kenapa nama Panggilan Aluna diganti tante" Tanya Raka penasaran mengapa nama panggilan Dira diganti menjadi Aluna dan mengapa Aluna tidak mengingat sama sekali bahwa ia pernah mendapatkan nama panggilan Dira.


__ADS_2