Raluna

Raluna
Mengganti Nama Panggilan


__ADS_3

Dengan ligat Agung langsung menghubungi Hansel asistennya, "Hansel cairkan uang satu Miliar sekarang juga" ucap Agung setelah sambungan telpon terhubung.


"Maaf Pak itu terlalu banyak,, perusahaan tidak mungkin bisa mencairkan uang sebanyak itu," balas Hansel yang tidak bisa menuruti perintah atasannya.


"Sial,, lalu kemungkinan berapa yang bisa kita cairkan sekarang," Tanya Agung.


"Setengahnya dari itu masih mungkin kita cairkan pak" ucap Hansel yakin.


"Kalau begitu cairkan sekarang juga,"


"Maaf pak kalau boleh tau untuk apa,"


Agung tidak bisa memberitahu masalahnya jika Hansel tau dan dia melapor ke polisi anaknya akan dalam bahaya.


"Cairkan saja tidak perlu banyak bertanya," Agung berkata dengan tatapan tajam dan lurus kedepan.


"Bagaimana mas, apa perusahaanmu tidak bisa mengeluarkan uang satu miliar," tanya ayunda dengan tagisan masih membanjiri pipinya.


Agung menggelengkan kepalanya lemah "Tenanglah kita masih bisa meminjam dari yang lain sisanya"


Agung langsung mencari kontak teman-temannya untuk meminjam uang lima ratus juta menutupi kekurangan untuk menebus putrinya.


"Aku mohon Hans pinjamkan aku uang.."


"Tidak tidak perusahaanku tidak bangkrut aku hanya butuh uang cepat."


"Aku akan mengembalikannya secepatnya,, aku mohon."


"Hans... Hans.. sial" Agung memukul stir didepannya melampiaskan amarahnya, kenapa mereka tidak percaya dia belum bangkrut,,,


"Mas kita pinjam pada temanku saja bagaimana" usul Ayunda yang ingin membantu suaminya mencari pinjaman uang.


"Tidk usah aku akan menghubungi temanku yang lain,"


Namun nihil sudah puluhan orang yang Agung telpon tapi tidak ada satu pun yang memberikannya pinjaman.


"Mas biarkan aku pinjam pada temanku ya!!" Ayunda mengusap bahu suaminya, ia sungguh kasihan mendengar suaminya yang sudah mengiba pada teman-temannya.


"Hmmm," ucap Agung pasrah, dia sudah tidak memiliki kontak lagi untuk dihubungi.


"Hallo Bram.. aku.. aku bisa pinjam uangmu.. ahh lima ratus juta Bram.. bukan.. aku hanya ada perlu... terima kasih Bram.. aku pasti langsung bayar," Ayunda menutup telponnya dengan perasaan gembira.

__ADS_1


"Mas..."


"Kau meminjam dengan Bram.. apa tida ada teman yang lainnya yang bisa kau hubungi" ucap Agung kesal mendengar nama Bram disebut oleh istrinya.


"Mas hillangkan dulu egomu... ini semua untuk Dira.. teman-teman kita yang lainnya belum tentu mau meminjamkan uangnya pada kita.."


"Tolong ya untuk kali ini hmm" Ayunda memasang wajah memelas agar suaminya bisa mengerti ia juga tidak ingin meminjam dengan Bram jika saja ia tidak dengar teman-temannya mengira Agung bangkurt, berita ini pasti sudah tersebar di grup angkatan.


maka percuma ia menghubungi yang lainnya mereka juga akan sama tidak akan meminjamkan Ayunda uang barang sepeserpun karena takut tidak bisa dikembalikan.


Menarik nafas kasar agung pasrah ya untuk kali ini saja, ia akan menerima bantuan dari Bram walaupun dia tau kedepannya Bram akan semakin gencar mengusik rumah tangganya.


****


Malam hari Agung dan Ayunda telah tiba dirumah kosong tempat yang dijanjikan untuk membarter Dira.


"Mas kenapa mereka belum sampai," Ayunda yang sudah gusar menatap jam tangannya.


"Tunggulah mungkin sebentar lagi," ucap agung yang ikut melihat jam ditangannya.


Sudah hampir setengan jam mereka menunggu di luar tapi tidak ada satu pun yang datang menghampirinya, atau pun telpon masuk yang berisikan perintah.


Tok tok tok,, Tiba-tiba kaca mobil Agung di ketuk dari luar..


"Jalan" ucap penjahat itu yang memakai topeng sehingga Agung tidak dapat mengenali wajahnya sama sekali.


Ingin cepat bertemu dengan anaknya Agung langsung menuruti perintahnya, dengan pasrah ia berjalan sesekali didorong dari arah belakang.


Sampai didalam Agung dan Ayunda melotot melihat anaknya yang diikat dengan tali tambang.


"Lepaskan anakku,"


"Suttt tenanglah.. kau lihatkan anakmu kurawat dengan baik,"


"hmm hahahha tapi kau tau anakmu ini cerewat sekali telingaku sakit mendengarnya menangis.. papa.. papa hahaha,"


"Aku mohon lepaskan anakku,"


"Aku sudah bilang sabar aku pasti lepaskan anakmu yang cengeng ini... mana uangnya??"


"Ini.. ambil ini dan lepaskan anakku,"

__ADS_1


penjahat itu mengkode agar anak buahnya mengambil tas yang dibawa oleh agung.


Setelah itu mereka memeriksa apakah benar yang dibawa oleh agung itu uang sungguhan atau bukan.


"Bagus.. lepaskan anak itu"


Mereka melepaskan Dira dan mendorong Dira dengan kasar kedepan, dengan cepat Agung menangkap tubuh anaknya,,


"Papah.. hikss mereka jahat hikss"


"Tenang hmm papah disni jangan nangis sayang.. hmm papa sudah disini" ucap Agung memeluk tubuh putrinya yang masih bergetar ketakutan.


Ayunda juga ikut masuk memeluk tubuh putrinya mencoba memberikan kehangatan pada Dira "Mama juga disini.. jangan takut ya" Ayunda mengucup berkali-kali puncak kepala putrinya yang dipenuhi oleh keringat.


"Mas.. Dira pingsan mas" Teriak Ayunda histeris melihat anaknya pingsan dalam pelukannya.


Dengan sigap Agung menggendong tubuh putrinya dibawanya menuju mobil mereka.


Agung dan Ayunda begitu cemas karena sejak tadi anaknya terus mengigau dengan kata "Ampun.. sakit.. lepaskan Dira."


"Aku sudah bilang jangan sakiti anak ku," Agung menggebrak kursi ruang tunggu dengan kuat, ia sudah menuruti permintaan mereka, tapi kenapa mereka menyakiti anaknya.


Sementara Ayunda dia hanya bisa menangis mendengar teriakan anaknya dari dalam.


Dokter yang memeriksa Dira keluar,, "Maaf pak sepertinya anak bapak mengalami trauma yang sangat berat," ucap dokter.


"Dok saya mohon lakukan apa pun untuk membuat anak saya kembali seperti semula saya mohon dokter.. saya akan bayar semua biaya yang diperlukan.. tapi saya mohon sembuhkan anak saya"


"Ada satu cara pak yaitu dengan melakukan suges ingatan.. jadi kita bisa membuat ingatan anak bapak berubah keseluruhan"


"Namun untuk melakukan itu kita harus menyingkirkan memori yang berhubungan dengan kejadian hari ini" sambung dokter itu.


"Apa pun Dokter.. lakukan," Ucap Agung cepat, ia tidak perduli bagaimana pun caranya anaknya itu harus kembali sehat dan ceria seperti biasanya.


"Kalu begitu tolong nanti ke meja administrasi tandatangi berkas-berkas nya ya pa.. saya permisi dulu," sahut dokter lalu pergi meninggalkan Agung dan Ayunda.


"kamu jagalah Dira disini,, aku akan pergi mengurus surat-suratnya dulu," Perintah Agung pada Ayunda


"Iya mas," setelah mengucapkan itu Ayunda masuk keruang rawat putrinya


"Sayang.. maafkan mama ya nak.. kalau saja mama tidak telat menjemputmu semua ini tidak akan terjadi" Isak tangis Ayunda kembali terdengar berkali-kali ia mengecupi punggung tangan anaknya dan meminta maaf pada Dira.

__ADS_1


Karena nama Dira selalu disebutkan oleh penjahat itu akhirnya Agung dan Ayunda merubah panggilan Dira menjadi Aluna... semua ingatan Aluna berubah ia tidak mengenal Dira atau pun orang-orang yang sebelumnya dia temui hanya mama dan papa nya yang dia kenal.


Karena itu Agung memindahkan sekolah Dira agar tidak ada lagi teman-temannya yang memanggilnya dengan sebutan Dira,,


__ADS_2